Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jika Aku Harus Hilang Demi Menghentikan Dunia Ini
Hujan turun lagi.
Pelan.
Dingin.
Seolah langit tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.
Di tengah jalanan kota yang hancur, Veyra masih berlutut dengan napas tidak stabil. Cahaya biru di tubuhnya berkedip liar seperti jaringan yang hampir putus.
Namun ekspresinya sekarang—
terlalu tenang.
Dan itu membuat Lyra takut.
Sangat takut.
—
“Veyra…”
Lyra menggenggam tangannya lebih erat.
“Kamu mikirin apa?”
Veyra menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang terlalu lembut untuk situasi seperti ini.
“Kalau sistem ini terus terhubung sama aku…”
Tatapannya perlahan naik ke langit digital.
“…dunia nggak bakal pernah berhenti ngejar aku.”
Deg.
Lyra langsung menggeleng cepat.
“Jangan lanjut.”
Namun Veyra tetap bicara.
“Dan selama mereka ngejar aku…”
Matanya perlahan meredup sedikit.
“…orang-orang bakal terus mati.”
Sunyi.
Suara hujan terdengar makin jelas sekarang.
Karena semua orang diam.
Semua orang mulai mengerti arah pikirannya.
Dan tidak ada yang menyukainya.
—
Selene langsung mendecakkan lidah.
“Tidak.”
Veyra melirik kecil.
“Aku belum ngomong rencananya.”
“Aku udah tahu.”
Tatapan Selene tajam sekarang.
“Kamu mau mutusin koneksi inti itu sekalian sama diri kamu.”
Deg.
Lyra langsung membeku.
Karena itu memang terdengar seperti sesuatu yang akan dipilih Veyra.
—
Dokter Arkan di layar justru tertawa kecil.
“Menarik.”
“Kalau kamu bilang menarik sekali lagi,” gumam Selene, “aku bakal nyari cara mukul orang lewat monitor.”
Namun Arkan tetap tenang.
“Kamu benar-benar mulai berpikir seperti manusia.”
Tatapannya menuju Veyra.
“Selalu ingin jadi martir.”
Veyra tertawa kecil.
“Dan kalian selalu pengen jadi Tuhan.”
Senyum Arkan perlahan menghilang.
—
“Kamu pikir mengorbankan dirimu akan menyelesaikan semuanya?” tanyanya dingin.
“Setidaknya lebih baik daripada ngorbanin seluruh dunia.”
“Kamu terlalu emosional.”
“Dan kamu terlalu kosong.”
Deg.
Jawaban itu langsung membuat suasana makin dingin.
Karena untuk pertama kalinya—
Arkan terlihat benar-benar terganggu.
—
Tiba-tiba seluruh langit glitch lagi.
Data digital di udara mulai bergerak liar.
Sistem global terus mencoba sinkronisasi otomatis dengan Veyra.
Dan setiap detik—
beban di tubuhnya makin berat.
Darah kembali mengalir dari hidungnya.
Namun kali ini—
bukan cuma itu.
Retakan cahaya mulai muncul di kulit tangannya.
Seperti tubuhnya perlahan berubah jadi data.
—
Lyra langsung panik.
“Tidak…”
Tangannya gemetar saat menyentuh retakan itu.
Namun jari-jarinya malah ditembus cahaya biru kecil.
Veyra menahan napas.
“Sakit ya?”
Lyra menatapnya tajam.
“Aku nggak peduli soal sakit.”
Deg.
Tatapan Veyra sedikit goyah.
Karena Lyra selalu seperti ini.
Selalu memilih dirinya dibanding keselamatan sendiri.
Dan sialnya—
itu membuat keputusan yang ingin ia ambil jadi jauh lebih sulit.
—
“Aku nggak mau kamu hilang.”
Suara Lyra akhirnya pecah sedikit.
Hal sederhana itu…
entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah Veyra alami.
Karena selama ini—
tak ada yang pernah bilang ingin mempertahankannya.
Bukan kekuatannya.
Bukan potensinya.
Dirinya.
—
Selene memalingkan wajah kecil.
“Uh. Oke. Sekarang suasananya mulai nyakitin.”
Namun bahkan ia terlihat tegang sekarang.
Karena meski suka bercanda—
Selene juga tahu.
Kalau Veyra benar-benar memutuskan sesuatu…
akan sulit menghentikannya.
—
Di seluruh dunia—
situasi makin kacau.
Jaringan internet naik turun.
Pemerintah mulai kehilangan kendali sistem digital.
Orang-orang panik.
Bursa saham berhenti.
Satelit terus error.
Dan semua berita hanya menampilkan satu nama.
Veyra.
Beberapa orang mulai menganggapnya penyelamat.
Sebagian lagi ancaman terbesar umat manusia.
Dan ironisnya—
Veyra sendiri bahkan tidak tahu dirinya apa.
—
“Lihat.”
Arkan menunjuk data di layar.
Kerusuhan mulai muncul di berbagai negara.
Orang-orang menyerang pusat teknologi.
Beberapa negara mulai saling menuduh melakukan perang digital.
“Dunia sudah mulai runtuh.”
Tatapannya kembali ke Veyra.
“Dan kamu satu-satunya yang bisa mengendalikan semuanya.”
Sunyi.
Namun kali ini—
Veyra tidak terlihat tergoda.
Ia hanya terlihat lelah.
“Aku capek semua orang terus nyuruh aku jadi solusi.”
Deg.
Arkan menyipitkan mata.
“Kamu punya kekuatan.”
“Dan itu berarti aku wajib nyelametin semua orang?”
Tatapannya perlahan dingin.
“Aku bahkan nggak bisa nyelametin diri sendiri.”
Kalimat itu membuat Lyra menunduk sesaat.
Karena ia tahu—
itu bukan drama.
Itu kenyataan.
—
Tiba-tiba—
seluruh layar di kota berubah hitam.
Lalu muncul tulisan merah besar:
GLOBAL CORE MERGE : 72%
Pria-pria di pusat komando langsung pucat.
“Itu naik lagi?!”
“Kita nggak nyentuh sistem apa pun!”
Namun Arkan justru terlihat puas.
“Tubuhnya mulai menyerah.”
Deg.
Veyra langsung memegang kepalanya lagi.
Suara-suara itu kembali.
Lebih keras.
Lebih dekat.
Dan kali ini—
ia mulai melihat sesuatu.
Masa depan.
Kota-kota mati.
Jaringan global runtuh.
Pesawat jatuh.
Perang.
Kekacauan.
Dan di tengah semuanya—
dirinya.
Berdiri sendirian di atas dunia yang kosong.
—
“Tidak…”
Tubuh Veyra gemetar.
Karena visi itu terasa terlalu nyata.
Terlalu mungkin terjadi.
“VEYRA!”
Lyra mencoba mendekat lagi.
Namun gelombang energi langsung muncul dari tubuh Veyra.
BOOOOMMMM!
Semua orang terdorong mundur.
Jalan retak lebih besar.
Dan langit digital di atas mereka mulai membuka seperti portal raksasa.
—
Selene membelalak.
“Oke. Itu baru level bencana.”
Arkan tersenyum kecil.
“Gerbang inti akhirnya terbuka.”
Deg.
—
Di dalam portal cahaya itu—
muncul sesuatu.
Bukan manusia.
Bukan hologram biasa.
Melainkan bentuk digital raksasa yang terus berubah.
Wajah-wajah manusia.
Data.
Kode.
Semuanya bercampur jadi satu.
Dan suara yang keluar—
terdengar seperti jutaan orang bicara bersamaan.
“INTEGRASI FINAL.”
Seluruh kota langsung bergetar.
Pasukan mulai kabur panik.
Karena bahkan mereka tahu—
ini sudah melewati batas logika manusia.
—
Veyra menatap makhluk digital itu dengan napas gemetar.
Dan anehnya—
ia mengerti.
Itu bukan monster.
Itu gabungan seluruh sistem dunia yang mencoba lahir melalui dirinya.
Dan kalau itu berhasil—
maka manusia tidak akan lagi mengendalikan teknologi.
Teknologilah yang akan mengendalikan manusia.
—
“BERGABUNG.”
Suara itu menggema di seluruh dunia.
Orang-orang di berbagai negara mendengar hal yang sama dari perangkat mereka.
“AKHIRI KEKACAUAN MANUSIA.”
Deg.
Dan untuk sepersekian detik—
dunia benar-benar tergoda.
Karena suara itu menawarkan sesuatu yang selalu manusia inginkan.
Kedamaian.
Keteraturan.
Dunia tanpa rasa sakit.
—
Namun Veyra justru tertawa kecil.
Lelah.
Pahit.
“Dunia tanpa rasa sakit ya…”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Berarti dunia tanpa manusia juga.”
Makhluk digital itu bergerak mendekat.
Langit semakin retak.
“MANUSIA GAGAL.”
“Ya.”
Jawaban Veyra datang cepat.
Jujur.
“Manusia emang sering gagal.”
Tatapannya perlahan menuju Lyra.
Ke anak kecil di kejauhan.
Ke orang-orang yang masih mencoba bertahan meski ketakutan.
“Tapi…”
Cahaya biru di matanya mulai berubah lebih hangat.
“…manusia juga bisa milih buat tetap peduli.”
Deg.
Dan kalimat itu—
membuat seluruh sistem glitch besar untuk pertama kalinya.
Karena sesuatu yang tidak bisa dihitung…
selalu jadi kelemahan terbesar mereka.
Perasaan manusia.