Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Tak Berdarah
Adila menyeruput mienya dalam-dalam, menikmati jengkal demi jengkal panjangnya mie, seperti yang ada di iklan-iklan.
"Dir lu yakin nggak mau?"
"Nggak."
"Adila kembali menyeruput mienya," Hu dihet ya?"
"Kalau makan jangan sambil ngomong, famali."
Adila melahap habis sampai kuah terakhirnya, kemudian bersendawa," Euuu...."
"Ih jorok."
Adila nyengir kuda," Kenyang banget." Mengelus perutnya yang rata.
"Gimana nggak kenyang, makan dua porsi sekaligus."
"Ya tadinya kan buat dimakan berdua sama lu, daripada mubazir kan... trus tadi latihannya bikin otak laper."
"Otak apa perut?"
"Otak dulu trus lari ke perut."
Adila menarik pipi Adira," Lu kenapa... gue perhatiin dari kemaren bengong aja, kayak orang kena petasan, sawan mulu."
Adira menepis," Jauhin tangan kamu, bau mie."
"So perfect lu."
Adira mengerucutkan bibirnya.
" Dil..."
"Heemm..."
"Dil..."
"Heemm..."
"Dil...."
"Gue jitak juga lo... lu nggak perlu ngetes pendengaran gue, ini tuh masih ori jauh dari kata turun mesin." Gerutunya kesal.
"Ih galak bener deh."
"Lagian lu dari tadi manggil-manggil nama gue mulu, sekalian aja pake toa tuh dipinggir jalan kayak tukang kelontong."
"Serius nih Dil..." Rengek Adira.
"Gue lebih dari sepuluh rius, lunya aja yang senewen dari tadi."
Adira kembali diam, menimang-nimang apa ia harus mengatakannya atau tidak. Tapi kalau dia diam, dia juga butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya. Tapi kalau bicara, Adila pasti akan bersikap berlebihan, tahu lah bagaimana sifat absurdnya Adila, sangat barbar.
"Yeh malah ngelamun."
"Iya...iya... kemarin siang aku..." Adira kembali diam.
"Siang aku...?" Adila menjentikan dagu menunggu kata-kata selanjutnya.
"Aku..."
"Aku...?"
"Aku makan siang sama..."
"Sama rendang?"
Adira menggeleng.
"Sama sayur asem?"
Adira menggeleng lagi.
"Sama sambel terus lu sakit perut?"
Adila kembali menggeleng.
"Ya terus apa... lu mau gue ikutan kuis family seratus, tebak-tebak berhadiah... bingung gue." Geramnya.
Adira memberengut,"Kemarin aku makan siang sama Pak David."
Mata Adila membelalak, mulutnya menganga lebar. Inilah yang Adira takutkan, ekspresi Adila yang lebay.
"Serius...?"
Adira mengangguk,yang seketika membuat dia tertawa terbahak-bahak sambil menepak paha Adira sampai meringis kesakitan.
"Pantesan si Momon bilang kalau dia lihat lu turun dari mobilnya Pak David kemaren. Gue kira matanya udah bolor, eh ternyata bener... dosa banget gue nggak percaya sama dia."
"Momon siapa?"
"Ya elah, itu si Moly."
"Kok Momon?"
"Emang nama KTPnya Momon... eh tapi lu diem ya jangan banyak cincong ke orang-orang, tar gue lagi yang kena skak sama si Moly."
Adira mengangguk tanda mengerti.
"Suer lu hebat banget, bangga gue jadi kakak lu... diam-diam lu menghanyutkan bisa luluhin tuh gunung es... bawa obor lu ya?"
"Apaan sih..."
"Lu suka ya sama dia?"
Wajah Adira memerah," Ih nggak lah, dia kan atasan aku. Lagian aku cuma jadi batu loncatan sama dia, gara-gara dua wanita."
"Dua wanita, maksudnya?"
"Jadi ceritanya tuh...."
Belum Adira memulai ceritanya, suara bel pintu terus menjerit, memekikan indera pendengaran keduanya.
"Mboook... ada tamu." Teriak Adila.
"Berisik ih, Mbok Karni kan lagi keluar disuruh beli martabak sama Tante Dona."
"Bukannya tuh Mak Lampir lagi keluar?"
"Iya tapi cuma sebentar, cuma jemput Papah doang."
"Ya udah kamu bukain sana."
"Kamu aja lah, aku lagi males turun. Kamu kan bisa sekalian simpen itu..." Menunjuk mangkok yang tersimpan dikursi.
"Bilang aja lu mau lamunin tuh sih gunung es, ikut beku sekalian."
"Iiihh rese..."
Dengan langkah berat Adila mengayunkan kakinya, langkah demi langkah menuruni anak tangga, menyimpan mangkuk di meja dan kemudian menuju pintu utama.
Ting... tong... ting... tong....
"Sebentaaaaar...." Teriak Adila kesal.
Nggak sabaran banget sih nih orang, nggak tahu apa turun tangga itu butuh tenaga ekstra
Adila membuka pintu," Cari siapa ya?" Tanyanya pada seseorang yang berdiri membelakangi.
Orang itu berbalik, keduanya tertegun.
Adila buru-buru mengusap minyak mie yang masih menempel di bibir. Mendumel dalam hati, kalau saja dia tahu siapa yang akan datang mungkin ia bisa sedikit berbenah diri, tidak memakai piama doraemon yang sudah hampir luntur seperti ini, memalukan.
"Adila..."
"Pak Aditya..."
Adila menilik penampilan Aditya yang sudah rapi, berjas lengkap seperti akan menghadiri suatu acara.
Jangan-jangan dia mau ngajak gue ke....
Adila menunduk malu, tersenyum diam-diam. Jantungnya berpacu, berlari maraton dengan sangat cepat.
"Pak Aditya ada apa kemari?"
"Saya mau..."
Ayo bilang... saya mau ajak kamu ke...
"Aditya..."
Suara Moza menyentak khayalan Adila yang sudah terbang ke awang-awang, dan brugh... jatuh seketika.
"Kamu sudah lama, maaf ya tadi aku lagi dibaju."
"Nggak papa." Jawab Aditya.
Adila memperhatikan penampilan Moza yang sangat cantik. Mengenakan dress panjang dengan belahan depan hingga mencapai pahanya, sexy dan elegan.
"Kok ada disini?" Tanya Adila.
"Loh kamu nggak tahu, kan dari tadi siang Mbak sudah ada disini."
Adila tidak menjawab lagi, jawaban Moza sudah cukup untuk membuatnya tahu diri. Diam itu emas, semboyan yang cocok untuknya saat ini.
"Mau masuk dulu atau berangkat sekarang Dit?"
"Sekarang aja."
"Kalau gitu aku ambil tas dulu di kamar ya."
Aditya mengangguk, mengiyakan.
Nyeri, perih, sakit namun tidak berdarah. Adila membalikan badannya, tak ingin melihat lagi Aditya.
"Adila...."
Gue nggak mau lihat
"Adila...."
Jangan panggil gue
"Adila...."
Gue benci sama lo
"Diiil..."
Adila berlari menaiki tangga, tak menghiraukan panggilan Aditya. Adila membanting pintu kamar, menghempaskan tubuh di ranjang.
Dasar palyboy kabel, cowok genit, cowok sialan...
Perlahan pintu kamar Adila terbuka, Adira berjalan mendekati ranjang.
"Dil kamu kenapa banting pintu ampe bikin jantung mau copot sih."
Adila masih enggan membuka suaranya.
"Dil kamu kenapa?"
"Gue benci sama dia?"
"Maksudnya?"
Adila bangun, duduk menghadap Adira.
"Lu kenapa nggak bilang kalau si grandong ada disini?"
"Grandong siapa?"
Adila menggaruk kepalanya karena kesal," Si Moza."
"Ya ampun kamu ini ganti nama orang seenaknya aja.... Mbak Moza kan mulai hari ini akan tinggal disini."
"What... kenapa lu baru bilang?"
"Aku juga baru tahu tadi sore, itu juga dikasih tahu Mbok Karni."
Adila menekuk kedua lututnya," Emang apartemennya kemana, kena gusur... emang dia kira ini rumah sosial apa?"
"Ih kamu ini, dia juga pindah karena disuruh Papah, kasian katanya anak cewek tinggal sendirian."
Adila berdecak sinis," Terus dulu anaknya tinggal sendirian, dia nggak khawatir... aneh."
"Udah lah Dil..." Adira mengelus pundak Adila, menenangkannya.
"Ini pasti karena hasutan si Mak Lampir, gue yakin."
Adila berderap menuju lemari, mengambil satu pasang baju dan memakainya.
"Kamu mau kemana?"
"Ke Club."
"Ngapain."
"Baca buku."
"Ish kamu ini... jangan pergi lah Dil, ini udah malem."
"Sejak kapan ada club buka siang hari."
Adira menghela nafasnya,"Aku tuh udah seneng kemarin-kemarin kamu udah nggak ketempat kayak gitu lagi, aku khawatir Dil."
Adila hanya diam, fokus dengan kancing yang sedang dipasangnya.
Ada gurat kesedihan di mata Adila, tapi dia bukan tipe wanita yang bermuram durja, menangis, berurai air mata, berpeluh dan berpilu-pilu. Adira bisa menebak, apa yang menjadikan Adila seperti ini, perubahan yang sangat signifikan dari sikapnya tadi.
"Kamu kecewa ya sama Pak Aditya yang pergi sama Mbak Moza?"
Adila tidak menjawab, memalingkan wajah dengan mengambil sisir, memberi dempul di permukaan wajahnya dan terakhir mengoleskan sedikit livglos di bibir.
"Kamu cemburu?"
"Jangan banyak tanya."
"Dil...."
"Gue nggak akan percaya sama yang namanya cowok, habis manis sepah dibuang."
Adira menarik tangan Adila," Kamu beneran suka sama Pak Aditya?"
Adila membisu, tak ingin menjawab.
"Kalau kamu suka, kenapa kamu nggak perjuangin cintanya. Mana Adila yang aku kenal dulu, selalu mendapatkan apa yang dia mau. Kamu mau ngalah gitu aja sama Mbak Moza.... sekarang dia lagi berjuang merebut hati Pak Aditya, apa kamu juga tidak ingin merebut hatinya?"
"Mereka udah deket dari dulu, dan gue.... gue nggak mau naif."
"Apanya yang naif... kamu itu cantik, sangat cantik malah. Kamu punya karir bagus di dunia modeling. Bisa cari uang sendiri, hidup mandiri dan juga sangat berani. Kadang aku suka iri sama kamu, aku nggak bisa seperti kamu... aku bisanya hanya minta dan meminta. Kamu harus bangga sama hal itu."
Adila menundukan wajah.
Tapi dia nganggap gue wanita malam Dir... gue cuma barang bekas buat dia, lu nggak tahu itu....
"Gue cabut."
Adira berdecak," Jangan lupa pulang." Seru Adila mengingatkan.
❤❤❤❤❤
Maaf ya semuanya, dua hari kemarin nggak up, ada sesuatu hal yang mengharuskan author untuk rehat sejenak.
Makasih tetap setia menunggu, I Love All para reader & kakak author semua...❤❤
Jangan lupa like, coment& Votenya ya😆
Kita ketemu di up selanjutnya besok, okaayy...Muuaacch😙😙😙