Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.
Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk
"Kamu sudah makan?" Tanya Bian pada Zena.
"Sudah," Sahut Zena.
"Minum obat?" Tanya Bian lagi.
"Sudah," Sahut Zena.
"Baguslah," Ucap Bian.
"Tumben macam wartawan!" Celetuk Zena.
"Bodoh amat!" Sahut Bian.
"Oh iya, bagaimana meeting hari ini?" Zena bertanya. Ia ingin tahu lancar atau tidak meeting hari ini.
"Ya begitulah," Sahut Bian. Sedangkan Zena mengerutkan alisnya karena agak bingung.
"Jangan dibahas. Aku lagi malas bahas pekerjaan," Sambungnya.
"Baiklah," Ucap Zena.
"Kamu kenapa kesini. Ini kan masih jam kerja. Apa tidak ada kerjaan di kantor?" Tutur Zena.
"Kan sudah ku katakan, jangan bahas kerjaan lagi," Ucap Bian. Zena hanya nyengir kuda.
"Oh iya, Ayah kamu kemana?" Tanya Bian.
"Ayah ku lagi kekantor, katanya mau bantu Kakak ngurus berkas kerja sama dengan perusahaan lain," Ucap Zena.
"Oooh," Sahut Bian.
"Ngomong-ngomong, kamu suka warna biru ya?" Tanya Bian. Zena mengangguk.
"Pantas saja, kamar mu serba warna biru," Ucap Bian.
"Tapi cantik kan," Ucap Zena.
"Cantikan lagi kamu," Sahut Bian seraya memandang Zena.
"Maksudnya?" Zena tidak paham.
"Kamu cantik. Aku suka sama kamu," Ucap Bian.
Zena terdiam sejenak, lalu ia mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sudah makan ?" Alibi Zena.
Bian hanya diam saja, ia tahu kalau Zena tidak mau membahas tentang perasaan. Lalu, ia tersenyum.
"Sekertaris ku yang paling imut," Ucap seraya mencubit pelan pipi kanan dan kiri milik Zena.
"Bian, sakit tahu!" Zena mengerucutkan bibirnya.
"Maaf," Ucap Bian.
Setelah itu, Bian dan Zena bercanda gurau bersama. Sudah tidak seperti atasan dan bawahan tetapi sudah seperti seorang pacar yang sedang asik bercanda dan tertawa bersama pasangannya.
*****
"Lagi asik bicara apa? Sepertinya asik kali." Ucap Ninda pada Bian dan Zena.
"Iya, Bunda," Sahut Zena antusias.
"Ini Bunda bawa buah yang sudah dicuci dan sudah dikupas," Tutur Ninda. Ia meletakkan buah itu diatas meja.
"Terimakasih Bunda," Sahut Zena.
"Yasudah, Bunda tinggal dulu ya. Bunda mau masak untuk makan siang," Tutur Ninda.
"Kenapa harus Bunda yang masak. Kan Bi Inem sudah pulang kesini," Ucap Zena.
"Entar siang Ayah dan Kakak makan siang dirumah. Jadi, Bunda ingin masak untuk mereka," Sahut Ninda.
"Oh iya, Nak Bian. Nanti makan siang bareng saja ya!" Sambungnya.
"Tidak perlu repot-repot, Tante," Sahut Bian.
"Tante tidak repot kok. Anggap saja ini tanda perkenalan keluarga saya dengan kamu. Dan tanda terimakasih saya karena kamu sudah membawa Zena pulang kesini waktu penyakitnya kambuh," Tutur Ninda.
"Baiklah, Tante," Sahut Bian. Ia pun menyunggingkan senyumannya.
"Kalau dilihat-lihat, Bian kalau lagi senyum manis juga," Batin Zena seraya memandang Bian.
"ekhem-ekhem," Ninda berdehem karena ia tahu kalau putrinya sedang memandangi Bian.
Lamunan Zena pun menjadi buyar. Lalu, ia senyum-senyum sendiri menahan malu.
"Yasudah ya, Tante mau ke dapur dulu," Ucap Ninda pada Bian. Bian pun mengiyakannya.
Ninda meninggalkan Bian dan Zena yang berada didalam kamar Zena.
"Kamu mau buahnya?" Tanya Bian.
"Mau," Sahut Zena. Bian pun menyuapi Zena.
"Buahnya segar," Celetuk Zena. Bian hanya tersenyum.
"Zena, cepat sembuh ya. Biar cepat masuk kerja. Kalau kamu tidak masuk kerja, aku di kantor tidak ada teman," Tutur Bian seraya menyuapkan buah ke mulut Zena.
"Disana kan banyak karyawan. Lagi pula ada Pak Han, masa masih ngomong tidak ada teman," Ucap Zena.
"Mereka kan sibuk dengan kerjaannya masing-masing," Ucap Bian.
"Baiklah, aku paham," Sahut Zena.
"Aku akan berusaha untuk cepat sembuh agar cepat masuk kerja," Sambungnya. Ia menyunggingkan senyumannya.
*****
Siang harinya, Raka dan Bram sudah pulang dari kantor.
"Bunda, kami pulang!" Ucap Raka setelah membuka pintu rumah.
"Iya," Sahut Ninda.
"Sayang, banyak kali masakannya," Ucapnya. Ia melihat sudah banyak jenis masakan diatas meja makan.
"Iya dong. Kita kan mau makan bersama," Ucap Ninda.
"Tapi tidak biasanya sebanyak ini," Ucap Bram.
"Kita kedatangan tamu. Jadi aku masak banyak untuk kita makan bersama," Sahut Ninda.
"Siapa yang datang, Bunda?" Tanya Raka.
"Bian," Sahut Ninda.
Raka dan Bram mengangguk paham.
"Sekarang Bian nya dimana?" Tanya Bram.
"Dikamar Zena," Sahut Ninda.
"Kok Bunda izinin mereka berduaan begitu?" Tanya Raka. Ia sudah berfikiran aneh-aneh.
"Tenang saja. Bian orangnya baik. Tadi saja, Adik mu kelihatan senang," Tutur Ninda.
"Yasudah. Kamu panggil mereka!" Perintah Ninda.
"Baiklah, Bunda," Sahut Raka.
Raka menuju kamar milik Zena. Sesampai depan kamar, Raka langsung nyelonong masuk kekamar Zena.
"Eh, Kakak sudah pulang," Ucap Zena.
"Iya, sayang," Sahut Raka.
"Kak, saya Bian," Ucap Bian memperkenalkan diri. Ia menjabat tangan Raka. Karena usia Raka lebih tua dari Bian.
"Oooh jadi kamu Bian. Bosnya Zena itu kan?" Tanya Raka. Bian mengangguk.
"Awas kamu kalau macam-macam dengan Adikku," Ucap Raka.
"Kakak, apaan sih," Ucap Zena.
"Kakak tenang saja, aku tidak akan melakukan hal negatif terhadap Zena," Ucap Bian.
"Yasudah. Ayo kita turun. Kita makan siang baring," Ucap Raka.
"Hmmm," Sahut Zena.
*****
Zena, Bian, dan Raka menuju meja makan.
"Ayo sini duduk!" Ucap Ninda. Raka, Zena dan Bian duduk di kursi yang sudah disediakan.
Bram, Ninda, Raka, Zena dan Bian mulai acara makan siang bersama dengan hening. Beberapa menit, mereka selesai makan siang.
"Bian, kamu Bosnya Zena?" Bram membuka pembicaraan.
"Iya, Om," Sahut Bian.
"Berarti kamu anak nya Dirga Wirawan?" Tanya Bram lagi. Bian mengangguk.
"Pantesan mirip," Tutur Bram.
"Dulu waktu kamu masih kecil, saya dan orang tua mu pernah bekerja sama dalam berbisnis. Tetapi, hanya beberapa tahun saja," Sambungnya.
"Oh iya, Om?" Bian sedikit tidak percaya. Bram mengangguk.
"Tapi kenapa Papa tidak pernah bicara pada saya ya," Ucapnya.
"Mungkin Papa mu sudah lupa," Ucap Bram.
"Sekarang Papa kamu masih mengurus perusahaannya?" Tanyanya.
"Tidak Om, sekarang saya yang menggantikan Papa mengurus perusahaan," Sahut Bian. Bram mengangguk paham.
"Usia kamu berapa tahun?" Tanya Bram.
"27 tahun, Om," Sahut Bian.
"Kamu sudah punya pacar?" Bram bertanya lagi.
"Ayah, aku kan sudah pernah cerita pada Ayah tentang Bian. Kenapa Ayah bertanya lagi padanya. Ayah ini lama-lama seperti wartawan, semua-semua ditanya," Celetuk Zena.
"Kok kamu yang sewot. Bian saja biasa saja," Ucap Bram. Bian hanya tersenyum melihat tingkah Zena. Sedangkan Zena mendengus kesal.
"Saya belum punya pacar, Om," Sahut Bian.
"Kamu cepat cari pasangan hidup. Usia kamu sudah matang. Jangan sampai seperti laki-laki yang ada disebelah mu itu, usianya sudah 29 tahun tetapi belum menikah juga," Tutur Bram. Ia melirik kearah anak laki-lakinya.
"Apaan sih, Ayah. Cari calon istri itu tidak mudah dan harus tahu sifatnya, bibit, bebet, dan bobotnya," Ucap Raka. Ia sedikit kesal pada ayahnya. Bram hanya menyengir kuda.
"Cepat menikah lah, Nak. Jangan sampai jadi lajang tua loh. Lagi pula, Ayah dan Bunda sudah ingin menimang cucu," Ucap Ninda pada Raka.
"Biarin saja jadi lajang tua. Tapi lajang tua yang berkualitas," Sahut Raka.
"Dan kalau Ayah dan Bunda ingin cepat menimang cucu, suruh saja Zena cepat menikah," Celetuk Raka.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote
Bersambung...
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!