Sebagian dari kisah ini adalah cerita kisah nyata dari kehidupan seorang wanita yang bekerja di dunia malam.
Tapi ingat, hanya sebagian!
Seorang gadis yang berusaha tetap mempertahankan keperawanan di tengah-tengah hingar-bingar gemerlap dunia malam yang harus dilaluinya.
Kisah ini turut menceritakan sisi lain dari wanita dunia malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisha A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29 Party Martin Chou
Blue Light Restaurant
Setelah seharian disibukkan dengan melakukan berbagai pertemuan penting, Akhirnya Benzie dan Alex berujung di sebuah restoran mewah milik Benzie. Sudah pukul 10 malam dan mereka baru sempat makan malam saking sibuknya.
"Hari yang cukup melelahkan." Celetuk Alex tersandar di kursi saat baru selesai menghabiskan makan malam nya.
"Jika kau lelah, suruh lah orangmu untuk menjemputmu disini dan pulanglah! Jangan minta aku untuk mengantar mu." Ucap Benzie enteng sembari memotong steak miliknya.
"Apa? Pulang katamu? apa kau bercanda?" Tanya Alex melotot.
"Dalam hidupku, kata bercanda sudah ku hapuskan sejak usiaku 17 tahun dan kuyakin kau juga sudah tau itu." Jawab Benzie yang terus melahap tenang makanannya tanpa melirik Alex.
"Tidak kah kau ingat malam ini malam apa?" Tanya Alex mencoba mengingatkan.
"Malam Minggu. Lalu kenapa? apa yang special dari malam Minggu?" Tanya Benzie datar sembari meneguk minumannya.
"Dasar kau manusia payah, malam ini kita di undang oleh Martin Chou, dia mengadakan party di club' mu, tidak kah kau ingat?"
Mendengar itu Benzie terdiam dan berfikir sejenak.
"Kau saja yang mewakilkan aku, aku sedang tak berminat kesana." Ketus Benzie sembari menghabiskan minumannya.
"Oh come on man, hidupmu terlalu datar dan membosankan, gunakanlah sedikit waktumu untuk menikmati hidup. Hidup ini cuma sekali dan tidak melulu dilewati hanya dengan bekerja. Bukankah kau sudah punya segalanya? Hanya dengan jentikan jari, kau bahkan bisa memiliki apa yang kau mau. Jadi ayolah bersenang-senang." Ucap Alex lagi yang mulai meracuni pikiran Benzie.
"Pembahasan mu ini seperti orang yang sudah paling mengerti tentang kehidupan saja." Ketus Benzie.
"Ayolah Ben, tunjukan rasa solidaritas mu sebagai teman." Pujuk Alex lagi.
"Baiklah, kau menang! Aku sedang malas berdebat." Jawab Benzie yang langsung melangkah pergi.
Alex dan Benzie pun langsung pergi meninggalkan restoran miliknya, sebelum menuju ke club' Benzie menyuruh Alex untuk membelikan ia setelan baju yang lebih santai untuk dipakainya ke club' karena Benzie merasa akan sangat aneh jika masuk ke Hall dengan memakai jas yang sangat formal. Sebagai tangan kanan Benzie, Alex otomatis memiliki kuasa untuk membuka butik bahkan yang sudah terlanjur tutup sekali pun.
Benzie dan Alex bergegas mengganti bajunya di butik tersebut, dan setelah dirasa pantas, mereka pun langsung pergi menuju Blue Light Club dengan mobil sport Benzie. Kini mobil sport itu telah terparkir dengan sempurna di depan gedung club tersebut.
Alex
Blue Light Club
Benzie dan Alex langsung masuk ke Hall, masih Jam 11 malam, namun Hall sudah mulai dipadati pengunjung karena malam Minggu.
Di panggung megah di depan Benzie berdiri sedang beraksi grup band yang telah di kontrak untuk menghibur di club' itu selama 3 bulan lamanya. Grup band itu memiliki 3 vokalis sekaligus. 2 vokalis wanita yang cantik dan berpakaian tak kalah sexy, satu lagi vokalis lelaki yang tampan. Lagu yang dinyanyikan pun bukan lagu slow, melainkan lagu-lagu yang bisa membuat para tamu bersemangat dan terus bergoyang.
Benzie memilih berdiri tegak di depan pintu masuk menuju Hall, sembari menatap puas ke arah club' miliknya karena semakin hari semakin bertambah ramai. Sementara Alex terus bergerak menyusuri Hall yang luas untuk mencari dimana Sofa milik Martin Chou.
"Selamat malam Tuan muda, sangat senang sekali melihat anda berkunjung ke Hall malam ini." Sapa seorang Manager yang ditugaskan khusus untuk menangani bagian Hall.
"Ya, sudah sangat lama aku tak berkunjung melihat lantai satu ini." Ucap Benzie sembari memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Ya benar tuan muda, biasanya anda akan lebih memilih untuk minum di ruang karaoke VVIP karena lebih privasi, maka dari itu saya sangat tersanjung melihat anda kembali mengunjungi Hall." Ucap Manager sambil tertawa kecil.
"Ya kau benar, aku tidak suka minum ditempat yang terlalu ramai seperti ini, malam ini aku kesini karena temanku Martin Chou mengadakan party dan mengundang ku datang ke Club' miliku sendiri. Bukankah itu terdengar aneh ?" Jawab Benzie tersenyum kecil.
"Oh iya hehehe, tuan muda Martin memang sudah membooking sebagian Hall ini untuk party ulang tahunnya tuan muda. Kalau begitu selamat menikmati pestanya tuan muda, saya akan kembali bekerja" Ucap Manager sambil membungkukkan badan.
"Sebelum kau pergi, tolong kau print kan laporan income khusus bagian Hall dalam Minggu ini dan berikan pada Alex. aku ingin melihatnya malam ini juga." Perintah Benzie.
"Baiklah tuan muda"
Tak lama Alex pun kembali menyusul Benzie yang masih berdiri tegak di depan pintu masuk Hall.
"Ben, Martin Chou ada di sofa sebelah sana. Ayo kita kesana." Ajak Alex.
Benzie dan Alex pun bergegas berjalan menuju sofa Martin, untuk menuju ke sofa itu dia harus melewati beberapa meja bundar yang sudah dipenuhi oleh para tamu. Sebagian tamu-tamu itu adalah wanita yang memandang kagum ke arah Benzie Lim.
"Kau lihatlah Ben, kau baru berjalan beberapa meter saja para wanita sudah seperti orang gila melihatmu. Apa kau sanggup melewatkan moment emas seperti ini." Bisik Alex sumringah.
"Justru tindakan mereka seperti itu sangat menjijikan bagiku. Wanita murahan tidak layak mendapat simpatiku." Ketus Benzie dengan wajah dingin.
Benzie dan Alex melanjutkan langkah menuju sofa VIP milik Martin. Mereka pun tiba di sofa itu dan langsung menghampiri Martin yang sedang terduduk dengan beberapa rekan nya.
"Wah, lihatlah siapa yang baru saja datang. Seorang Benzie Lim pemilik club' malam terbesar sekaligus pengusaha muda yang sedang bersinar di dunia bisnis." Celetuk Martin yang langsung berdiri saat melihat Benzie datang.
Martin mengulurkan tangannya, mereka berjabat tangan dan Martin memeluk Benzie singkat.
"Berhentilah bersikap berlebihan." Ucap Benzie saat melepas pelukan mereka.
"Ah kau ini, sudah sekian lama kita tidak bertemu tapi kau masih saja datar seperti ini. Ayo duduklah." Ajak Martin ramah sembari merangkul Benzie untuk membawanya duduk di sofa.
"Selamat bertambah tua, dan berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Masalah kado, mintalah apa saja, Alex akan mengirimnya ke rumahmu nanti." Ucap Benzie enteng.
"Baiklah, saat ini aku belum butuh apapun. Aku akan memintanya nanti." Jawab Martin tertawa kecil sembari mendudukkan kembali tubuhnya di sofa.
Benzie dan Alex pun duduk, beberapa rekan Martin yang berada di sofa itu pun memilih pindah dan duduk di sofa sebelahnya. Setiap Sofa VIP memiliki sekat besi dengan tinggi 1 Meter yang menjadi pemisah antara sofa satu dengan sofa yang lainnya.
Tak lama Martin pun berbisik pada seorang pelayan dan dijawab anggukan oleh pelayan tersebut yang kemudian langsung pergi.
Martin dan Benzie berbincang ringan mengenai perjalanan hidup mereka saat mereka sudah tak saling bertemu. Sementara Alex fokus menikmati saat salah satu vokalis wanita dari band itu sedang bernyanyi di atas panggung sambil bergoyang sexy.
Sofa VIP milik Martin sangat dekat dengan panggung megah itu, Bahkan saat duduk di sofa, mata mereka bisa langsung melihat jelas ke para penghibur seperti band, DJ, bahkan sexy dancer saat tengah beraksi di atas panggung.
Tak lama Pelayan yang dibisikkan oleh Martin tadi kembali datang bersama beberapa rekannya dengan barang bawaan mereka masing-masing. Ada yang membawa botol minuman beserta gelasnya, ada yang membawa piring berisi potongan buah-buahan segar dan makanan manis lainnya, juga ada yang membawa tisu beserta wadah stainless berisi pecahan es batu.
Dan juga disusul oleh Nensy yang juga datang dengan sudah membawa para Ladies nya.
Para ladies pun berbaris di hadapan mereka, namun Martin dan Benzie mengernyitkan dahi saat melihat tak ada sosok Yuna di antara para ladies itu. Martin pun bergegas memanggil Nensy untuk mendekatinya. Nensy datang sembari mendekatkan telinganya. Suara musik yang menggelegar di ruangan besar itu membuat orang-orang yang ada disana harus berbicara di dekat telinga lawan bicaranya.
"Dimana Yuna? Aku ingin dia yang menemaniku." Bisik Martin pada Nensy.
"Yuna belum datang tuan muda, dia memang punya kebiasaan selalu datang paling lama diantara yang lain. Hanya mereka yang ada saat ini." Jawab Nensy sembari menunjuk ke arah para ladies nya.
"Tidak, aku ingin menunggu Yuna saja, suruhlah temanku yang lain yang memilih ladies mu ini,." Bisik Martin lagi.
Sementara Katy yang melihat tak ada Yuna di jajarannya membuat senyumannya berkembang sempurna, di tambah lagi kini dihadapannya sudah terduduk dua tuan muda tampan yang dia yakini salah satu dari mereka dipastikan akan memilihnya.
"Ben, kau pilih lah satu dari mereka! Ini acara ulang tahunku dan hari ini pertama kita berjumpa kembali setelah 3 tahun tak bertemu, kuharap kali ini kau tak membuatku kecewa." Bisik Martin pada Benzie yang duduk disampingnya.
Bersambung...
❤❤❤❤🤣🤣🤭🤭
favorit
👍❤