NovelToon NovelToon
Ha Tan Wa

Ha Tan Wa

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romansa Fantasi
Popularitas:458.5k
Nilai: 5
Nama Author: Si_Ro

*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'

Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.

Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.

Hingga suatu malam...

Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.

Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.

Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.

Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HTW 29

“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Ayah?”

“Menunggu….”

“Menunggu? Menunggu apa?”

“Menunggu mereka menunjukkan maksud. Baru setelahnya, kita pikirkan jalan terbaik untuk bertindak.”

Ada tiga sepeda motor yang berhenti melintang, tepat di depan mobilku. Mereka semua berjumlah lima orang. Masing-masing motor berisi dua orang, satu pengendara dan satu penumpang. Hanya ada satu motor berwana hitam yang berisi satu orang, dan aku pikir dia adalah pemimpinnya.

Mereka semua menggunakan helm full face, dan tidak ada satu pun yang mau memperlihatkan wajah. Lalu sang pemimpin yang berbadan paling ceking, mulai bergerak turun dari motorbdan menatap lurus ke dalam mobil. Sementara aku dan Ayah, sama-sama masih duduk, untuk menunggu.

Dulu saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, Ayah pernah memasukkan aku ke dalam sebuah tempat pelatihan ilmu bela diri. Dan aku mulai mempelajari hal dasar, untuk pertahanan. Aku juga termasuk anak bandel yang suka tawuran.

Jadi melihat hal seperti ini, aku harus mulai bersiap. Karena orang-orang yang ada di depan sana, tidak menunjukkan sikap ingin berbicara baik-baik, melainkan gerak-gerik permusuhan secara terang-terangan.

“Dia mendekat, Ayah…,”

Nyatanya aku tetap tidak bisa bersikap setenang Ayah. Aku mengguncang lengan Ayah, saat pemimpin kelompok itu berjalan mendekati pintu penumpang depan dengan membawa tongkat besi. Atau lebih tepatnya, dia menjadikan Ayah sebagai target.

“Ck! Tidak perlu kamu beritahu pun, Ayah bisa melihatnya.”

“Terus kita harus bagaimana, Ayah?” ujarku, setengah berbisik.

“kamu harus tetap tenang, Tyo. Jangan gampang panik! Begitu musuh melihatmu panik dan ketakutan, maka kamu akan dengan mudah dikalahkan.”

“Iya, Ayah.”

Tok tok tok

Kaca jendela mobil telah diketuk. Memberi perintah pada Ayah untuk turun dan keluar.

Aku sempat meremas jemari Ayah, melarang beliau keluar mobil. Tapi Ayah malah tersenyum dan mengedipkan kedua mata padaku.

“Tenanglah… kita akan baik-baik saja,” seperti itulah yang bisa aku tangkap dari tatapan Ayah.

-

Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya mobilku bisa mencapai tempat yang kami tuju. Halaman luas rumah Nenek yang banyak dihiasi berbagai macam bunga. Dan aku sangat yakin, kalau ini adalah hasil dari tangan Ibu. Karena hanya Ibu yang sangat menyukai bunga-bunga.

“Ayah tidak apa-apa?” Tanyaku, saat melihat Ayah meringis.

Sejak perkelahian dengan para perampok di tengah jalan, Ayah menjadi banyak diam. Beliau berpindah tempat duduk di kursi belakang dan tidak lagi sebrisik semalam atau tadi subuh. Mobilku jadi terasa sangat sunyi, karena tidak ada obrolan apapun selama sisa perjalanan.

“Ayah tidak apa-apa, Nak. Ayah hanya takut, kalau Nuri malah akan berlari menjauh setelah melihat Ayah datang.”

Aku mengikuti arah pandang Ayah. Kami melihat Nuri yang sedang tertawa bersama teman-temannya di teras depan. Sepertinya mereka sedang mengerjakan tugas sekolah.

Aku menggeleng. “Nuri akan sangat bahagia melihat Ayah berkunjung. Tyo yakin itu,” hiburku pada Ayah.

Menyadari kedatanganku, Nuri langsung berdiri dan menatap dengan penuh tanda tanya. Teman-teman Nuri pun jadi ikut bangkit dari duduk mereka masing-masing. Semua mata tertuju pada mobilku dan juga mobil Ayah, yang terparkir sejajar.

Dengan jelas aku bisa melihat Ajeng, diantara anak-anak yang masih memakai seragam putih abu-abu itu. Ajeng mendekati Nuri, lalu berbisik. Entah apa yang dia tanyakan, tapi Nuri hanya menggelengkan kepala.

Aku masih diam dan menunggu Ayah. Menunggu beliau siap untuk bertemu dengan Si Cempreng.

“Ayo, Ayah? Anak gadis yang Ayah rindukan, sedang berdiri di sana,” aku menunjuk Nuri di tangga teras. “Apa Ayah tidak mau menemuinya?”

Ayah menunduk. Aku melihat beliau menghapus air mata.

Klek

Karena Ayah duduk di baris belakang, maka aku menekan power door locks, agar semua pintu bisa terbuka.

Ayah masih ragu-ragu. Dan sekali lagi, aku meremas jemari Ayah untuk meyakinkan. Sesaat kami bertukar pandang.

Aku memilih untuk menemui Nuri lebih dulu, dan meninggalkan Ayah yang merebahkan diri di jok belakang, sambil berpikir. Nuri langsung menghambur, saat melihatku turun dari mobil.

“Kakak!!” serunya, sambil berlari. Nuri memelukku erat tanpa rasa risih dengan pandangan teman-temannya.

“Hallo Si Cempreng…,” aku sudah terbiasa dengan sapaan seperti itu, dan tahu jelas apa akibatnya. Nuri mencubit pinggang sebagai tanda penolakan pada panggilanku untuknya.

“Kok tumben pulang cepet? Ini belum sebulan loh, Kak?”

“Jadi kamu ngga suka, kalau Kakak sering pulang?”

“Ish! Ya bukan begitu! Cuma ngga terbiasa saja,” Nuri mengerucutkan bibir.

“Kakak merindukanmu,” balasku sembari mencubit pelan hidungnya.

”Bibi Mira!” Seru Nuri melepas pelukannya padaku.

Kaca mobil yang gelap, menyulitkanku untuk mencari seluet Ayah yang masih belum mau keluar. Dan tanpa curiga, Nuri melewati mobilku untuk segera memeluk Bi Mira dan menyalami Paman Agus.

Aku tidak tahu, apakah Nuri melihat keberadaan Ayah atau tidak! Tapi yang jelas, Ayah harus cepat bertemu dengan Nuri. Karena memang itulah tujuan kami pulang.

“Ibu! Kakak datang! Ada Bi Mira dan Paman Agus juga!” teriak Nuri.

Ibu langsung menangis, ketika mendapati Bi Mira di depan pintu. Mereka saling berpelukan, melepas rasa rindu.

“Tunggu Nuri!” panggilku, saat Nuri hampir mencapai tangga teras dengan menarik tangan Bi Mira, mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Ada orang yang ingin bertemu denganmu.”

Aku meminta Nuri untuk tetap berdiri di tangga teras, menunggu seseorang yang aku ajak pulang.

Perlahan aku membuka pintu, dan cukup terkejut dengan posisi Ayah yang masih berbaring. “Ayah?”

Hati-hati aku mengguncang lengan Ayah. Entah kenapa, aku mulai merasa cemas. Ada sesuatu yang telah terjadi, tanpa aku tahu. Dan ada sesuatu yang akan terjadi, tanpa bisa aku cegah.

Tubuh Ayah bergerak dengan sangat lambat. “Erggh..,” aku mendengar suara erangan dari Ayah.

“Apa Ayah sakit?”

Ayah menggeleng.

“Nuri sudah menunggu, ayo kita temui dia…”

Kali ini, Ayah mengangguk. Lalu membiarkanku membantu menyanggah tubuh beliau yang tiba-tiba melemah.

“Jangan tidur di mobil, Ayah. Sebaiknya cepat masuk, dan beristirahat di dalam saja,” bisikku pelan.

Nuri membulatkan mata, kala melihatku memapah tubuh Ayah. Sepertinya dia tidak percaya, kalau kali ini Ayah ikut pulang bersamaku.

Teman-teman Nuri mulai berbisik, di belakang . Aku anggap wajar, karena selama ini mereka tidak pernah melihat sosok Ayah selama berteman dengan Nuri.

“AYAH!!”

Mendapati Ayah yang ambruk mendadak, aku dan Nuri menjerit bersamaan. Kami panik bukan main, tatkala melihat warna merah menodai baju yang Ayah kenakan.

“Ayah? Bangun Yah! Ayah kenapa?” Aku menepuk-nepuk pipi Ayah.

Nuri berlari mendekat dengan air mata yang sudah mengalir deras. Dia menggenggam tangan Ayah dan menatap penuh tanya padaku. “Kak? Ayah kenapa, Kak? Kenapa Ayah berdarah, Kak?”

.

.

.

Adegan ini cukup menguras emosi Si-Ro. Butuh 2 hari untuk menghilangkan rasa sedih, sebelum Si-Ro bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan.

2 bab lagi segera menyusul.

By Si_Ro

**

Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, dan dapatkan giveaway menarik.

***

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.

Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.

Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.

Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti anjuran pemerintah.

RAJIN CUCI TANGAN, JAGA JARAK DAN JUGA PAKAI MASKER

1
Nur Secha
lanjut thor,Q menunggu up nya lg,kpn nih d lnjut ceritanya....makin penasaran,💪💪 trs thor
Rinda_Rey
lanjuutt thor,sehat selalu.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
Rinda_Rey
aku juga😭😭
Bunda Silvia
kalo ajeng alias laras ibunya sekar mengapa bram membenci anaknya
Aishnina(✿ ♥‿♥)
blm smpe ke cerita tentang sekar knp sdh ga lanjut lg thor...
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
Ibuk Kumaiyah
lama gak liat ternyata masih stak di sini belum ending jugak/Smug/
Arieee
meninggal nanti yang hidup Sekar anak ke 2 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Arieee
benang merah mulai terlihat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Sri Yati
aku mampir author 🤗🤗 abis baca Serena lanjut kesini
Rendi
kenapa enggak dilanjutin padahal cerita sangat baguss, saya sangat suka ceritanya....
Komisah Izza
Luar biasa
Bayu Linggau
tulisanya kek gerak2😭
Bayu Linggau
lain kali tulisanya jgn kek gini kak mata ku pusing bacanya😭
Yuniar
kok ga mudeng ya ma alurnya
Rami Martha
Yaaaahhh
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦
Eline Yulistianti
lama banget gk up²... d lanjut khan cerita nya???
Ni Umayah
ak mampir lg
Rodiah Rodiah
semangat baca ceritanya Thor,seru bangeet
Rodiah Rodiah
semangat dan sehat selalu Thor💪🤲
Raffa&kaifa& Ibrahim
Thor apa kabar, cerita nya kenapa ga dilanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!