seorang gadis cantik yaang bernama Zaleta Zee yang tak sengaja bertemu dengan psikopat kejam bernama El Beethoven.Bagaimana kisah Meraka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eti Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang
El menggendong Zee menuju kamar. Zee mulai membuka mata, sedangkan El yang tengah memendam amarah.
"Kak El," kata Zee dengan suara lembut.
"Lo udh bangun?" tanya El dengan nada santai.
"Zee mau pulang, Zee gak mau disini," jawab Zee dengan nada sedikit kesal.
"Kita bakal pulang setelah Sky dan Rey bersihin mayat yang di belakang," kata El dengan nada serius.
"Kenapa Zee yang kena imbasnya?" tanya Zee dengan nada penasaran.
"Maksud lo apa?" jawab El dengan nada sedikit marah.
Zee merasa tidak nyaman dengan jawaban El dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. "Aku mau pulang, Kak El. Aku tidak mau terlibat dalam masalah ini lagi," kata Zee dengan nada tegas.
"Zee yakin orang yang neror Zee pasti itu musuh Kakak," kata Zee dengan nada yakin.
"Gue tau, dan sekarang gue lagi cari siapa orang itu," jawab El dengan nada serius.
"Kalo itu musuh Kakak, kenapa Zee yang diteror? Kenapa gak Lo? Gue udah muak!" Zee marah dan suaranya meninggi.
"Turunin nada bicara lo!" El memperingatkan Zee dengan nada tegas.
Zee merasa tidak puas dengan jawaban El dan memutuskan untuk menghadapi masalah itu sendiri.
"Aku tidak butuh perlindungan dari lo, Kak El. Aku bisa mengurus diriku sendiri," kata Zee dengan nada dingin.
"Semenjak gue ketemu sama Lo, hidup gue berubah. Walaupun kita ketemu baru beberapa kali, itu udah merubah hidup gue."
"Lo jangan mancing emosi gue!" El masih menahan emosinya.
"Lo yang mancing emosi gue duluan! Dan asal Lo tau, Lo adalah orang yang paling gue benci setelah pembunuh kedua orang tua gue!"
El menampar pipi Zee. Zee tersungkur. Rasanya, dunia seperti berputar. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Berikut adalah kalimat yang telah diperbaiki dengan tanda baca yang tepat:
"Segara-lah bersiap-siap, kita akan pulang," kata El dengan nada tegas.
Lalu, El pergi meninggalkan Zee yang masih terduduk di lantai dengan pipi yang terluka. Zee merasa kesakitan dan kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap ke arah El yang telah pergi.
**********************************************
"Ken, udah donk galau-nya dah 2 hari. Lo gak makan," kata seseorang dengan nada khawatir.
"Gak bisa, El udah merenggut semuanya dari gue. Gue gak bisa diem aja," jawab Ken dengan nada sedih.
"Terus, kenapa lo gak nyusul dia aja?" tanya seseorang lagi dengan nada penasaran.
"Gue gak mau rahasia gue terbongkar. Gue akan nunggu di saat yang tepat," kata Ken dengan nada misterius.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ken? Tidak ada yang tahu, hanya penulis yang tahu.
"Tapi sampai kapan, Ken? Lo harus kasih tahu Zee secepatnya," ucap Fero yang tiba-tiba datang.
"Kebiasaan lo sebelum masuk, ketuk pintu dulu!" Kael kesal karena Fero yang tiba-tiba datang tanpa izin.
"Ya udah, maap gitu doank. Marah, baperan lo," kata Fero dengan nada santai.
"Gue gak baperan, cuma lo kebiasaan," jawab Kael dengan nada sedikit kesal.
"Lebih baik lo berdua pergi," kata Ken yang mencoba menengahi.
"Gak, Ken, kita udah kok berantemnya," jawab Kael dengan nada mengelak.
"Iya, udah berantemnya kok. Janji deh," tambah Fero dengan nada meminta maaf.
Berikut adalah kalimat yang telah diperbaiki dengan tanda baca yang tepat:
"Tapi, kenapa El bawa Zee pergi jauh? Mereka ngapain?" tanya Kael dengan nada penasaran.
"Pasti ada sesuatu yang lagi El kerjain. Gak mungkin El pergi jauh tanpa tujuan," jawab Ken dengan nada yakin.