Valendro sebagai ilmuwan yang mencanangkan ide mencari time glitcher agar kembali ke dimensinya atau diatur di tempat yang tepat, memiliki kesempatan kedua untuk mengatur sekelompok pasukan yang siap berpetualang di berbagai galaksi dan berbagai alur waktu. Namun untuk merekrut pasukan yang hebat saja, dia harus banyak berputar otak.
Untungnya beberapa prajurit yang telah berdedikasi, telah menyetujui dan mengabdi untuk Kaunsel Sejarah, dengan imbalan mereka diperbolehkan beberapa waktu sekali pulang atau pergi menemui orang yang mereka kasihi, baik itu keluarga ataupun sekedar pacar.
Tak hanya masalah pasukan, Valendro juga harus secara rutin memperbaiki Kapten pesawat yang dikendalikan oleh robot AI! Lancarkah petualangan mereka? Atau lebih banyak kegembiraan daripada yang sudah-sudah?
Hint: Novel ini adalah Saga dari Novel lama Author. Silakan DM author untuk info mengenai novel lama yang dimaksud
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArmandArt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa?
< Holamia Restaurant, Main Ring City, Glowest, Ring'o'Dawn >
"Sebenarnya ga enak gue nanya begini tapi, kenapa muka lo sangat awet muda sih, Tan?!" celetuk Duweina ketika sahabat ayahnya itu tiba di restoran atas janji-temu makan siang bersamanya.
"Mck...kamu ini, udah mau pesen apa dulu? Tar ngobrolnya" cebik Sam sambil tersenyum, karena dia melihat waiter restoran tampak sudah menunggui mereka.
Setelah lima menit mereka selesai memesan makanan, minuman dan hidangan penutup (Karena mereka makan di restoran bintang lima cukup terkenal di kota itu), barulah mereka memulai obrolan.
"Kamu kalau didepan Kru Serenium, panggil saya Kakak ya" ucap Sam, nadanya biasa tapi terdengar seperti ancaman, karena dia membarenginya dengan senyuman berkedut di pelipisnya.
"Oh iya iya, Tan. Hehe...jadi...rahasianya apa? Yang tadi? Boleh tau...?" sahut Duweina sambil agak menggigit bibirnya sebelah.
Samantha mulai bercerita bahwa dahulu dia sebagai anggota dari Project pertama: Elysium. Pernah terlibat di satu Misi yang mengakibatkan dirinya terjangkit bakteri semacam Herpes namun lebih ganas, di planet yang dihuni manusia tikus.
Merry dan Duron kala itu akhirnya mengoperasi plastik total wajahnya dengan teknologi terkemuka di planet tersebut. Karena itulah wajah Samantha sangat awet hingga puluhan tahun, padahal dia seharusnya 30 tahunan diatas usia Duweina sendiri. Makaria dan semua kru Serenium tak mengetahui hal ini tentunya. Menurut Sam hal ini tak begitu penting dan bersifat pribadi.
"Hmmm....pengenlah suatu hari gue juga digituin...." celetuk Duweina setelah selesai mendengarnya, sambil tangannya mengusap wajahnya sendiri. Sam hanya menggeleng kepala sambil menepuk dua kali rambut atas Duweina sembari tersenyum.
"Itu musibah, Wein. Anyway, apa hal yang mau kamu bicarakan?" ujar Sam. Minuman mereka tiba tak lama kemudian.
"Eh? Oh iya..." sejenak Duweina lupa tujuan dia mengundang tantenya tersebut, "Jadi gini..." Duweina segera memaparkan sedikit kekhawatirannya akan keselamatan Valendro. Karena pria itu secara rahasia menyelipkan program Battle ke diri Berliana si Robot Maid.
"...hmm, soal itu saya tahu. Tapi ketakutanmu itu berdasar.... Baiklah, nanti coba saya pikirkan sedikit solusi soal itu anak" ucap Sam santai, ujung mulut Duweina agak berkedut tersenyum mendengar istilah 'itu anak' dari Tantenya. Seolah Valendro hanyalah bayi bagi Tantenya itu. Makanan mereka tiba, dan mulailah mereka makan siang.
Dalam pikiran Sam, saat ini dirinya sedang memutar otak bagaimana melindungi Valendro dari kecurigaan Kru Serenium. Sejujurnya, dia tak terlalu khawatir, ditambah lagi di pesawat itu terdapat Makaria. Yang notabene adalah anak dari anak asuh kerabat dekat Duron itu sendiri, yaitu Aoi Ortega. Ayah dari Makaria, Heru, adalah salah satu penerima Core Demigod Hercules.
Heru, dahulu berlatih dibawah pengawasan Aoi Ortega sebagai pimpinan utama Stable System Corp, yaitu nama baru dari GDI (Guardian Defense Incorp). Namun Sam ragu, apakah semua hal ini cukup meyakinkan Makaria bahwa tindakan Valendro dibenarkan?
****
< Hutan Boydria, 2 jam setelah proses pemurnian dan pembersihan makhluk aneh diluar batas selesai dilakukan >
"Kalian bertiga, terima kasih atas bantuan kalian..." ucap Ardan, karena mentornya tampak kaku dan lelah setelah menambah mantra perlindungan bersama Magnus. Diantara Makaria, Celia dan Audreena, hanya Makaria yang kelelahan. Gadis itu tak menyangka dengan kemampuan bertarung Audreena yang begitu elegan dan juga tampak seperti tarian sapuan kuas.
"Tak masalah. Ingat Ardan, antibodi yang kuberikan ke para....makhluk itu hanya bertahan beberapa tahun. Selama itu kalian usahakan carilah obat yang efektif membantu kemampuan pertahanan diri mereka, paham?" ucap Celia yang agak mendayu.
"Soal itu, tak masalah, Nona Celia. Aku dan...satu-satunya murid bandelku ini akan mengeksplorasi daerah selatan Yurrey. Kami dengar disana terdapat beberapa tanaman herbal yang punya khasiat spesial, walau kami belum tau pasti kegunaan utamanya" sahut Magnus dengan suara dalam dan dinginnya. Magnus sedikit mengingatkan Celia akan almarhum suaminya, dia mengeratkan pegangannya pada tombaknya sambil berusaha tersenyum.
Setelah itu, mereka bertiga berpamitan dan berjalan kembali ke titik teleportasi. Beberapa kali Makaria tampak goyah berjalan. Melihat itu Celia memeriksa sedikit nadi dan kesehatan manusia setengah Dewa tersebut.
"Hmm...Nona Ria agak sakit. Cepat, Ren bantu aku papah dia!" sahut Celia. Memang Audreena melihat Makaria sedikit pucat.
(20 menit kemudian, Serenium Bridge....)
"Nona Ria mengalami sedikit defisiensi energi saat ini. Nona Celia dan Ruby merawatnya. Jadi untuk beberapa Misi kedepan. Beliau mungkin tak bisa ikut..." ucap Neoron ke sisa Kru yang lain.
"Se-intens itu pertarungan di Misi tadi...?" tanya Hayate dengan wajah khawatir.
"Hmm...lumayan. Mungkin karena sudah lama Ria tidak menggunakan kekuatan Demigod-nya, Kapten?" ucap Audreena. Neoron mengiyakan dengan mengangguk. Walau Makaria telah berlatih sebelum Misi. Gadis itu, menurut feeling Neoron, lupa melatih tenaga dalamnya. Sebenarnya waktu tiga hari, adalah waktu yang kurang untuk menyimpan energi bagi Makaria.
"Bagaimana dengan Obat Penyembuh Darurat? Hadiah dari Misi tadi?" tanya Hayate, dia baru ingat hadiah itu mungkin dapat meringankan penyakit Makaria.
"Obat itu, hanya untuk penyakit yang disebabkan kekuatan eksternal, seperti luka, bakteri, virus, dan lain-lain. Sedangkan untuk energi defisiensi, itu adalah penyakit internal, yang bisa dialami semua orang..." jawab Neoron datar, seolah Hayate mempertanyakan sesuatu yang terlalu basic. Pemuda itu menjadi gusar, dia pun memutuskan kembali ke kamarnya.
"Penyakit internal, Kapten? Apakah itu berarti penyakitnya terjadi karena mental didalamnya?" tanya Osayr, yang agak membuat Neoron tertegun bahwa Dark Elf itu masih ada rasa khawatir, padahal biasanya dingin.
"Itu benar, Tuan. Kita saat ini hanya dapat berdoa, apapun yang Nona Ria impikan di alam bawah sadarnya? Dapat membantunya menuju kesembuhan. Atau setidaknya, itu teori saya, saya bukan tenaga medis..." jawab Neoron sambil mengangkat tangannya singkat, berusaha sedikit mencairkan suasana.
****
< Alam Bawah Sadar Makaria >
Seorang gadis berjalan di jalan setapak. Awalnya jalan itu hanyalah jalanan aspal dengan lebar sekitar tiga meter. Namun lama kelamaan pemandangan lain muncul perlahan. Gadis itu berjalan lanjut ke depan, pemandangan sekitarnya yang muncul adalah jalanan pedesaan yang belum pernah dia datangi sebelumnya.
Sekitar sepuluh meter kemudian dia berjalan, pemandangan itu semakin meluas ke arah yang dihadapannya. Arah itu menuju ke sebuah rumah kecil, atau paling tidak itu yang dia lihat di belakang pagar lebar rumah itu.
Gadis itu menggapai pintu pagar yang terbuat dari kayu, dan masuk ke dalamnya. Namun betapa kagetnya dia, rumah kecil yang tadinya hanya sebesar rumah petak dan kumuh itu berangsur berubah, dia berjalan kembali beberapa meter, rumah itu berubah menjadi rumah besar bertingkat tiga!
Dia mendekati rumah itu, baru disadarinya ada seseorang berbadan agak besar, namun tampaknya orang itu sudah tua. Terlihat dari sebagian besar rambutnya sudah putih dengan sedikit coklat di bagian ujung rambut. Orang itu tadinya berdiri menghadap rumah. Namun perlahan dia berbalik ketika menyadari kedatangan gadis tersebut.
"Hallo, Makaria. Bagaimana kabarmu...?" ucapnya santai.