Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Hari itu, Fery sengaja datang ke sebuah Universitas ternama yang ada di kota S. Di sana, Fery memarkirkan mobilnya di parkiran khusus kampus. Namun, Fery tidak turun dari mobilnya, tapi memilih duduk di dalam.
Matanya, terlihat melirik kearah gerbang. Memperhatikan setiap orang yang masuk darisana. Fery membuka kaca pintu mobilnya, membiarkan segelintir udara berhembus masuk kedalam. Helaan demi helaan nafas kian berganti, menanti sang kekasih hati yang tak kunjung menampakkan diri. Fery kembali menatap dengan pasti, agar kekasih hati tak terlewat tanpa ia sadari.
Lima belas menit telah berlalu. Tapi, yang di tunggu-tunggu tak kunjung menuju. Perlahan Fery membuka botol air mineral yang ada di sampingnya. Meminum sisa air yang hanya tinggal beberapa teguk saja.
“Habis.”
Fery telah menghabiskan sebotol air mineral yang ia beli di pedagang asongan saat menuju kesana. Begitu juga beberapa bungkus kacang yang ia beli di pedagang yang sama. Semuanya habis tak tersisa. Fery, kini kembali
menatap kearah pintu gerbang, berharap Winda akan segera datang.
Tak berapa lama berselang, saat kesabaran Fery hampir hilang. Sosok Winda datang dengan manaiki sepeda motornya.
“Hmm, akhirnya kau datang juga sayang.” sebuah garis terlihat di sudut bibir Fery.
Gadis itu kemudian menuju lapangan parkir untuk memarkirkan motornya. Melepaskan helmnya, lalu kini hendak melangkah pergi darisana. Namun, belum sempat langkah itu di tapaki ke tempat selanjutnya. Tangannya di tarik
paksa, lalu di seret pergi oleh Fery dan masuk kedalam mobilnya. Kebetulan letak motor Winda dan Fery tak terlalu jauh. Sehingga Fery bisa dengan cepat membawa Winda masuk kedalam mobilnya.
Sadar jika tempat itu bukan tempat yang aman untuk beradu argument dengannya. Fery, lantas menghidupkan mesin mobilnya dan membawa Winda pergi darisana.
“Fery! Kau gila ya!” pekik Winda saat melihat mobil Fery melaju dan meninggalkan kampusnya.
Fery hanya diam, tak menggubris.
“Fery, hentikan mobilnya! Turunkan aku di sini sekarang juga.” Pekik Winda lagi.
Namun, sayangnya Fery lagi-lagi tak mengindahkannya. Pria itu malah semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota di pagi hari yang sarat akan pengguna.
“Fer! Apa kau benar-benar sudah tidak waras. Mengebut di pagi hari, apa kau ingin aku mati bersamamu!” Winda menjerit, bulu kuduknya bergidik, bersamaan dengan rasa takut yang kian menjepit.
Sementara itu Fery sama sekali tak menghiraukannya. Mobil semakin ia lajukan dengan sangat kencang, melewati keramaian kota, hingga akhirnya menepi di sebuah jalan kecil yang sangat jarang di lewati pengguna.
Ckiit!
“Kau benar-benar pria tidak waras!” Winda menggelengkan kepalanya, matanya mendelik sementara tangannya kini sudah memegang gagang pintu mobil untuk membukanya. Namun, tangannya tertahan saat Fery menariknya dengan paksa.
“Aku belum mengizinkanmu keluar darisini.” Tekan Fery.
“Apa hak mu mengurungku di sini bersamamu?” Winda mengernyitkan dahinya.
“Hakku, karena kau gadis pertama yang berhasil merebut hatiku.”
“Cih! Gadis pertama,” Winda mendengus kesal. “Terus, tadi malam kau anggap apa gadis yang datang bersamamu itu?” tatapnya dengan penuh amarah.
“Aku sama sekali tidak mencintainya, hanya menemaninya saja datang ke acara itu.” Jelas Fery, berharap Winda mengerti sekaligus percaya kepadanya.
“Bukan urusanku!” tapi sayangnya Winda sama sekali tak memperdulikan hal itu. Yang menjadi prioritasnya sekarang adalah, bagaimana caranya Winda bisa segera pergi darisana dan kembali ke kampusnya.
“Winda, aku mencintaimu.” tangan Fery mulai mencengkeram kuat lengan Winda. Membuat gadis itu merasa kesakitan.
“Fer, sakit!” Winda mencoba melepaskan lengannya, dari cengkraman tangan Fery.
Melihat Winda yang merasa kesakitan karena dirinya. Perlahan Fery melepaskan tangannya.
“Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja.” Terlihat wajah Fery penuh sesal.
Winda tak menggubris. Sesal Fery, ia sungguh tak peduli. Karena keinginan terbesarnya sekarang adalah segera pergi darisana. Di pegangnya lagi gagang pintu mobil, lalu coba membukanya. Namun, lagi-lagi tangannya tertahan karena Fery sama sekali tak membiarkannya.
“Bukankah sudah ku bilang, jika tak ada izin dariku maka kau tak akan bisa pergi darisini.” Fery kembali mencengkeram tangan Winda kasar. Membuat gadis itu tak bisa berkutik sekarang.
“Apa yang kau inginkan?!” mencoba memberontak, tapi sayangnya tak bisa. Kekuatan Fery sangat mendominasi sehingga membuatnya tak dapat bergerak.
“Aku ingin kau menjadi pacarku.” Jelas Fery lagi dengan nada menekan.
“Kau pria gila, dan aku tak akan pernah bisa menerimamu.” ucap Winda.
“Kenapa? Kenapa kau tak bisa menerimaku? Haruskah aku melakukan sesuatu dulu terhadapmu, agar bisa bersamamu?” Fery semakin mencengkeram kuat kedua tangan Winda, sementara wajahnya kini kian mendekat ke
wajah Winda.
Deg!
Jantung Winda berdegup kencang. Kebrutalan Fery membuatnya takut.
“Feri, kau mau apa?” Winda mengerutkan dahinya, berusaha mundur, menjauh dari Fery.
“Aku akan memberikan sesuatu yang akan membuatmu mau tak mau akan menerimaku.” Fery kian mendekatkan wajahnya.
“Fery, kau jangan gila!” kecam Winda, yang kian merosotkan tubuhnya berusah menghindar.
“Ini semua karena kau Winda.” hampir dekat, bahkan sekarang jarak antara keduanya hanya tinggal beberapa centi saja.
Merasa jika cengkeraman tangan Fery mulai melonggar. Winda mengambil kesempatan itu untuk melepaskan tangannya. Saat Fery hendak mendaratkan bibirnya ke bibir Winda, gadis itu dengan cepat menghempaskan telapak tangannya dengan keras.
Plaak!
Sebuah tamparan dengan tekanan yang teramat dahsyat berhasil mendarat di pipi kanan Fery. Pria itu memegang pipinya, sementara Winda dengan sigap mendorongnya ke belakang lalu segera pergi darisana. Winda keluar dari
dalam mobil Fery, berlari kearah jalan raya untuk menyelamatkan diri. Namun, saat tiba di sana, sebuah mobil yang melaju dengan kencang mengarah kearahnya.
Bruuk!
Si pemilik mobil berhasil menginjak rem mobilnya, berhenti tanpa sempat melukai Winda. Namun, gadis itu sudah terlebih dulu terjatuh, karena syok saat melihat mobil yang mengarah kearahnya.
“Aku tidak apa-apa,” lirihnya. Winda memperhatikan seluruh tubuhnya. Merasa tidak ada yang terluka, gadis itu kemudian bangkit darisana dan segera masuk kedalam mobil yang hampir menabraknya itu. “Tuan, tolong segera jalankan mobilnya.” titahnya dengan wajah pucat.
Sang pemilik mobil menatap dingin kearah Winda yang terlihat berantakan. Namun, melihat wajahnya yang pucat, penuh dengan ketakutan. Pria itu lantas menjalankan mobilnya membawa Winda meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Fery.
“Oh, Tuhan… apa yang harus aku lakukan sekarang. Bukannya mencari simpati dari Winda dan membicarakan baik-baik tentang hubunganku dengannya. Malah kini, aku membuatnya ketakutan seperti itu.” Fery meremas
rambutnya dengan kedua tangannya. “Jangankan untuk berbicara, melihatku saja, aku yakin Winda sudah tidak sudi.” desahnya lagi.
Fery menyesali perbuatannya. Emosi sesaat yang ia lakukan, membuat semuanya kacau tak tekendali. Niat ingin membuat Winda yakin kepadanya, tapi kini malah membuat gadis itu ketakutan. Sungguh Fery amat-sangat menyesalinya.
TBC.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.