"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
"Di mana kamu mengambil obat itu?" Tanya Marco yang saat ini ia mati-mati yang sedang menahan sesuatu pada dirinya.
"Di salah satu laci meja kerjamu, ini." Ruby memperlihatkan obat yang tadi ia ambil di laci meja kerja Marco.
"Kau tahu itu obat apa?" Tanya Marco dengan suaranya yang mulai parau.
"Obat deman, karena tadi aku mengatakan kepada Stive bahwa subu badan mu panas."
"Ohhh... Shit.!!" Jawab Marco yang mencoba berdiri dan melangkah untuk masuk ke dalam ruangan yang seperti kamar dalam ruangan kerja Marco tadi.
"Jangan ikuti aku!!!" Tegas Marco dengan sorot mata yang tajam dan datar, bahkan tatapan Marco itu seolah dapat menusuk jantung Ruby saat itu juga.
"Mengapa dia terlihat marah? Apa aku ada salah? Bukankah dia seharusnya berterimakasih kepada ku karena aku sudah mengobatinya?" Oceh Ruby dengan memutar bola matanya malas.
"Dasar pria tua mesum yang tidak tahu berterima kasih.!!" Decihnya lagi karena kesal saat Marco tak mengizinkannya untuk mengikuti Pria itu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Akhir kata Ruby hanya bisa berdiam dan duduk di sofa dimana tadi ia tidur, sedangkan Marco langsung menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu lalu menghidupkan shower dengan suhu air yang minus, agar air dingin itu segera membasahi tubuhnya dan berharap efek obat yang ia minum tadi segera menghilang.
Walaupun Marco tahu, jika cara yang ia pakai saat ini tidak terlalu ampuh, karena pil yang ia telan itu adalah pil dengan kadar keasliannya sembilan puluh sembilan persen. Marco sengaja menyimpan pil itu untuk dirinya sendiri, tapi walau begitu ia tak mau jika Ruby akan menjadi alat pelampiasan hasratnya, karena Marco tak ingin jika Ruby akan membencinya dengan mengambil kesempatan dari kesempitan. Atau bahkan lebih tepatnya Marco tak ingin Ruby alat uji coba.
Walau sebenarnya Marco memang sangat menginginkan Ruby saat ini.
"Mengapa pria itu lama sekali berada di dalam? Apa dia mati disana? Atau jangan-jangan dia akam bunuh diri?" Mengingat Marco mengigau untuk tidak meninggalkan dirinya belum lama tadi.
"Apa aku benar-benar harus masuk ke dalam? Tapi bagaimana jika dia semakin marah? Tapi bagaimana juga jika dia tiba-tiba mati dan aku berada disini? Bukankah aku akan menjadi tersangka?" Ruby menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan tanpa ragu lagi melangkah masuk ke dalam walau tadi ia sempat di kecam untuk tidak mengikuti Marco.
"Dimana pria itu berada? Kenapa tidak ada di ruangan ini?" Monolognya lagi dan mencoba mendengar suara air yang gemericik di salah satu ruangan lagi.
"Apa dia sedang mandi? Bukankah dia sedang deman? Bisa-bisanya dia mandi!! Apa dia benar-benar ingin mati? Ini konyol sekali bukan?"
Ruby pun segera melangkah ke arah dimana telinganya menangkap suara gemericik air, dengan pelan ia menggeser pintu tersebut dan akhirnya dia melihat Marco sedang terkulai lemah, seperti orang yang tidak berdaya.
Melihat itu, Ruby segera berlari lalu mematikan shower air yang sangat dingin itu.
"Apa kau sudah gila? Jika ingin mati setidaknya kau membiarkan aku pergi terlebih dahulu.!!" Tegasnya dengan menatap Marco kesal.
Marco tak menjawab dan malah mencoba untuk menyalakan agar air tetap mengalir dan terus membasahi tubuhnya.
Namun lagi-lagi Ruby mematikannya, lalu gadis itu walau ia terlihat sangat kesal dan marah kepada Marco. Tapi Ruby masih sedikit mempunyai empati kepada pria yang menurut sangt kasihan ini.
Ruby berjongkok dan akan menggendong tubuh besar Marco dengan tubuhnya yang kecil itu, tapi jangan salah, walau tubuh Ruby terbilang kecil, ia sanggup menggendong tubuh Marco sampai dimana gadis itu merebahkannya dia atas ranjang.
"Aaahhh... Kau sangat merepotkan!!" Decihnya dan akan mengambil mantel untuk selimut Marco. Tapi saat baru saja ia akan melangkah, lenganya di tarik oleh Marco sampai membuatnya tak seimbang dan jatuh ke samping tubuh pria itu.
Marco tak menyia-nyiakan waktu lagi dan langsung memeluk tubuh Ruby. "Don't leave me." Lagi-lagi Marco hanya mengatakan hal tersebut.
"Cihh.. bukankah kau tadi mengatakan untuk tidak mengikuti mu? Kenapa sekarang malah kebalikannya? Kau bahkan tidak punya pendirian!!" Jawabnya dengan kesal tapi Marco tak memperdulikannya.
Ia semakin menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya yang erat. "Dan sekarang kau ingin membuat ku mati karena sesak?" Dan saat itu juga Marco sedikit melonggarkan pelukan.
Tatapnya sendu ke arah wajah Ruby. Jemarinya mulai menelusuri garis wajah Ruby yang tirus, sampai dimana ibu jarinya tepat berada di antara bibir gadis di hadapannya ini.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya