Alena merupakan putri dari pasangan Abimanyu dan Zahra. Abimanyu merupakan pengusaha yang sangat sukses. Kekayaannya tidak main-main. Mungkin sampai tujuh turunan kekayaan itu tidak akan habis.
Alena merupakan anak tunggal. Dia selalu dimanja dan dilimpahi kasih sayang yang berlimpah. Meski begitu tidak membuat Alena menjadi sombong.
Kehidupan Alena berubah seratus delapan puluh derajat semenjak tragedi yang menimpah keluarganya.
Kedua orang tua Alena terbunuh saat mereka sedang merayakan ulang tahun Alena yang ke tujuh belas tahun. Keduanya di tembak di depan matanya.
Alena sendiri berhasil selamat dari kejaran pembunuh, karena loncat kedalam jurang. Beruntung nyawanya masih bisa terselamatkan.
Bagaiamana Alena melanjutkan hidupnya?
Akankah ia berhasil membalas orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Aditya dan Cahya
Arka meninjau proyek pembuatan hotel yang baru saja dibangun. Hotel itu rencananya mempunyai tujuh belas lantai. Kini pembangunannya masih tahap dua lantai.
"Selamat datang di Bandung Tuan, " sapa klien Arka yang bertanggung jawab dalam pembangunan hotel.
"Bagaimana proses pembangunannya, apa ada masalah? " tanya Arka.
"Alhamdulillah semua lancar Tuan. Insya Alloh pembangunannya akan sesuai yang sudah anda tetapkan."
"Bagus. Aku percaya dengan Anda. Kalau ada masalah apapun , Anda harus langsung membicarakan denganku."
"Tentu. Mau melihat-lihat ke dalam Tuan? "
"Tentu saja."
"Mari! "
Alena dan sekretaris Diana berjalan di belakang Arka dan rekannya. Keduanya menggunakan pelindung kepala untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.
Setelah memantau perkembangan pembangunan hotel, Arka mengajak kedua karyawannya untuk makan siang terlebih dahulu. Tidak lupa dengan sang sopir. Keempatnya memasuki restoran yang tidak terlalu jauh dari proyek.
Saat sedang menikmati makanan, ada dua orang yang mendatangi mereka. Salah satu dari mereka saudara sepupu Kevin yang sebelumnya ingin bekerja menggantikan Alena.
"Halo Ka... tidak menyangka kita akan bertemu di sini, " sapa Bella dengan genit. Gadis itu tidak menghiraukan keberadaan Alena dan yang lain.
Namun yang di sapa cuek bebek. Jangankan untuk menyahut, menoleh saja enggan. Bella sampai canggung sendiri.
"Kamu masih ingat dengan ku, kan? "
"... "
"Aku Bella sepupu kevin. Kamu tidak lupa kan? "
Arka tidak menghiraukan Bella sama sekali. Dia menikmati makanannya seolah tidak ada siapapun di sampingnya.
Sahabat Bella sampai malu sendiri. Dia langsung menggeret Bella menjauh dari sana. Sekretaris Diana hampir saja tidak kuat menahan tawa. Untunglah keduanya segera meninggalkan meja mereka.
Tidak hanya Sekretaris Diana saja yang menahan tawanya sopir Arka yang bernama Bobi pun berusaha agar tawanya tidak sampai keluar. Sedangkan Alena tidak jauh beda dengan Arka. Dia hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan makanya.
Bella memarahi temannya yang dengan sengaja menariknya pergi. Padahal ia masih ingin melakukan pendekatan pada Arka.
"Kok kamu malah menarikku kesini sih! "
"Aku masih punya rasa malu Bel! "
"Kamu pikir aku tidak tahu malu! "
"Buktinya kan memang begitu, " sindir teman Bella dengan telak. Bella mendengus sebelum pergi dari sana.
Selesai makan Alena meminta waktu untuk menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu sebelum kembali ke Jakarta. Arka meminta Bobi untuk membawa mereka ke masjid terdekat.
Tidak menyangka Alena bisa bertemu dengan Rahma. Rahma berjalan sambil menuntun gadis kecil yang berusia sekitar dua tahunan. Alena sangat sengat senang bertemu dengannya. Untuk pertama kalinya Arka bisa melihat senyum Alena.
"Rahma! " panggil Alena sambil berlari kearahnya.
"Rara! "
Rahma tak kalah senangnya. Keduanya berpelukan dengan erat. Si kecil menatap mereka dengan polos.
"Akhirnya kita bisa bertemu kembali. Kamu kemana saja selama ini? " tanya Rahma setelah pelukannya terlepas.
"Ceritanya panjang. Si cantik ini putrimu? " tanya Alena sambil menatap gadis kecil di samping Rahma.
"Benar. Cantik tidak?"
"Cantik banget! " seru Alena dengan riang. Kemudian ia berjongkok agar sejajar dengan gadis kecil itu meski masih tinggi Alena. Alena tersenyum pada gadis kecil itu.
"Halo cantik. Siapa namanya?" tanya Alena sambil tersenyum.
Putri kecil Rahma nampak malu-malu. Dia bersembunyi di belakang tubuh Rahma.
"Jangan takut sayang. Ini Tante Aurora tieman mama. Sapa dong, " pinta Rahma dengan lembut.
"Namaku aleca tante, " kata Alesha dengan suara kecilnya.
"Ehm... katanya mau sholat. Kita harus segera kembali ke Jakarta, " ucap Arka datar. Sebenarnya ia senang melihat interaksi Alena dengan Rahma, Namun ia juga tidak ingin perjalanan mereka terhambat. Alena memaklumi nya.
"Maaf ya Ma. Lain kali kita sambung lagi. Aku pergi dulu, " ucap Alena dengan berat hati. Tetapi mau bagaimana lagi.
"Padahal Aku masih kangen banget , " keluh Rahma cemberut.
"Lain kali kali pasti kita akan bertemu. Nanti aku kenalkan dengan keluargaku."
"Beneran loh ya? "
"Insya Alloh. Boleh minta nomer ponselmu.Lain kali kalau ke Bandung lagi Aku hubungi."
Rahma memberikan ponselnya. Alena mengambil ponsel itu dan menyimpan nomernya. Setelah itu ia melakukan panggilan ke nomer miliknya. Setelah panggilan terhubung ia langsung mematikan panggilan kemudian mengembalikan ponsel itu pada Rahma.
"Sudah aku simpan. Sekarang Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Alena berjalan dulu kearah masjid. Arka mengikutinya dari belakang.
Sebenarnya Alena merasa heran dengan Arka. Bukankah ia bisa sholat terlebih dulu. Kenapa harus menunggunya. Namun ia tidak ingin memikirkannya terlalu jauh.
Selesai sholat Alena lansung menuju mobil yang sudah terparkir di samping masjid. Ternyata Arka dan Bobi sudah berada di dalam mobil. Namun tidak dengan sekretaris Dinda.
"Loh, Sekretaris Diana kemana?" tanya Alena bingung. Seingatnya tadi Sekretaris Diana menunggu mereka di dalam mobil.
"Dia akan kembali Jakarta lebih dulu, " jawab Arka.
"Kok tidak bareng kita? "
"Kita tidak jadi pulang. Bang Daffa meminta kita untuk mampir ke mansion miliknya."
"Oh, jadi Saya boleh ketempat Saudara sebentar? "
"Nanti kita bicarakan lagi. Jalankan mobilnya Bob!"
"Siap! "
Alena berencana mengunjungi kediaman Aditya dan Cahya. Kalau bisa Alena juga ingin menginap di rumah mereka. Sejak Cahya dan Aditya kembali ke Bandung, ia belum pernah menginap disana.
Kedatangan Arka dan Alena memang sudah ditunggu oleh Daffa. Namun yang membuat Alena kegirangan yaitu saat melihat keberadaan Cahya beserta suami dan juga kedua buah hatinya.
"Kak Cahya! " teriak Alena dengan riang. Arka sampai terkejut melihatnya. Dia mengingat saat dulu Alena masih mengejarnya. Arka kembali mengingat masa abu-abunya yang penuh warna.
"Aku kira kamu nggak jadi kesini. Aku sudah dari tadi menunggumu disini," keluh Cahya dengan cemberut.
"Kok kakak tahu aku akan kesini? " tanya Alena sambil memeluk tubuh Cahya dengan erat.
"Tadi Abangmu di telpon Daffa untuk kesini. Dia bilang kamu akan kesini. Jadi karena Abangmu sedang libur, kami langsung kesini, " jawab Cahya.
"Terimakasih bos, " ucap Alena pada Daffa yang sedang duduk dengan sang istri.
"Hemm... tapi tidak gratis. Kamu harus melakukan sesuatu untuk kami, " jawab Daffa sambil menyeringai.
"Maksudnya? "
"Aku membutuhkan bantuanmu."
"Tidak masalah. Asal aku masih bisa membantu."
"Tentu saja kamu bisa melakukannya. "
"Apa itu? "
"Kamu harus memasak rendang buat kami. "
"Ha??? "
"Tidak bisa! " bukan Alena yang menjawab. Namun Arka yang tidak mengijinkan.
"Kami baru selesai bekerja. Ale masih butuh istirahat! " lanjut Arka.
"Lah... kalau kamu mau istirahat ma istirahat saja. Aku kan tidak menyuruhmu. Aku meminta Alena yang mem_"
"Sama saja. Biarkan kami istirahat dulu."
Tiba-tiba Arka langsung menggendong Alena, membuat gadis itu kaget. Alena memberontak ingin turun. Sayangnya Arka mendekapnya dengan erat. Dua pasang suami istri hanya bisa melongo melihat tindakan Arka.
"Dasar anak muda! " pekik Daffa dengan keras.
"Memangnya kamu sudah tua?"
"Sama-sama tua tidak usah saling menyalahkan!"
"Ha ha ha ha ha ha. "