Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Genzo
Satu tahun sejak kejadian itu, Anna mulai bisa menjalani hidupnya kembali. Atas dukungan dan kasih sayang yang di berikan Dika padanya. Membuat jalinan persaudaraan di antara mereka semakin kuat. Dika menyayangi Anna seperti adik kandungnya sendiri. Bersama sama mereka membuka cafe tak jauh dari rumah Dika. Kenangan buruk itu memang tidak mungkin bisa Anna lupakan. Namun cukup di simpan rapi di dalam hatinya.
Senyum manis di bibir Anna, bisa Dika lihat lagi setiap hari. Dukungan terus mengalir dari bibir Dika dengan sebuah tindakan nyata. Perlahan tapi pasti, Anna memulai hidupnya yang baru.
Sementara pernikahan Rangga dan Tasya layaknya sayur tanpa garam. Setelah Tasya di vonis mandul. Keluarga Rangga mendesak Rangga untuk menikah lagi. Namun sampai saat ini, Rangga belum meluluskan permintaan orangtuanya.
Hari hari Tasya terasa membosankan dan tidak ada keharmonisan lagi. Apalagi Rangga belum bisa melupakan Anna. Meski ia kecewa tapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Anna.
"Ma, apa yang harus aku lakukan? aku terlalu mencintai Rangga. Tapi aku juga tidak mau di madu." Tasya menangis di dada Elama.
Elama hanya diam, ia teringat saat memberikan Anna pada Rahma sewaktu bayi. Ia sangat tidak menginginkan bayi itu, hanya demi harta tega memberikan bayinya yang masih merah. Kini, Tasya putrinya bergelimpangan harta. Namun hidupnya tidak bahagia dengan tidak adanya seorang bayi di tengah tengah mereka.
"Apa ini hukuman buatku? tapi kenapa harus Tasya?" ucap Elama dalam hati.
Tasya tengadaahkan wajahnya menatap Elama, air matanya turun membasahi pipinya. "Ma? Mama kenapa? tanya Tasya tidak mengerti.
" Maafkan Mama, ini hukuman buat Mama yang telah menelantarkan Anna. Kau pun kena imbasnya." Elama mengusap pipinya.
"Anna, Anna terus!
Elama dan Tasya menoleh ke arah Alan.
"Semua gara gara anak pembawa sial itu!" ucap Alan. Pria itu bukannya menyadari kesalahannya, tapi malah semakin gila menumpahkan semua kesalahan pada Anna.
"Cukup!" Elama berdiri menatap tajam Alan. "Ini semua salahmu, salahku! jangan salahkan Anna!" Elama terisak mengingat Anna yang entah ada di mana.
"Memang kenyataannya seperti itu, kau telah melahirkan anak Iblis! ucap Alan nyolot.
" Plakk!!
Alan melotot menatap Elama, ia tidak menyangka kalau Elama bisa semarah itu. "Kau?'
'Aku lelah mendengarkan kata katamu, aku menyesal telah membuang putriku. Sekarang kau lihat akibat perbuatan kita!" tunjuk Elama pada Tasya. "Putri kita hidupnya di ambang kehancuran, apa kau tidak punya hati. Hah?!"
"Ahhhk! Alan balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua. Elama duduk di kursi menangkup wajahnya. Tasya merangkul bahu Elama.
" Maafkan aku Ma..kalian jadi bertengkar."
"Tidak sayang, bukan salahmu." Elama membalas pelukan Tasya.
***
Senin pukul 13:30.
Anna tengah membereskan kursi dan meja, di bantu Dika. Hari pertama buka cafe lumayan ramai.
"Anna, sebaiknya kau istirahat dulu. Biar aku yang mengerjakan semuanya."
"Tidak apa apa, kau yang istirahat. Bukankah kau belum makan dari pagi?" Anna berdiri tegap, di tangannya memegang pena.
"Iya, ya sudah. Aku makan dulu."
Anna menganggukkan kepala, lalu kembali duduk di kursi. Meneruskan pekerjaannya membuat laporan. Setengah jam berlalu, Dika sudah selesai makan dan kembali bekerja membereskan kursi.
"Anna, kau masih mau menemui Ibumu?"
Anna melirik sesaat. Lalu kembali fokus bekerja.
"Ya Dik, aku ingin tahu kabar Ibu dan Tasya.'
" Bagaimana kalau mereka masih membencimu?" Dika berdiri tegap menatap Anna sesaat, lalu kembali membereskan kursi.
"Sudah biasa, tidak aku pikirkan lagi." Anna mendesah. Lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Dika sendirian.
Dika menggelengkan kepala sambil terus bekerja. Ia tidak habis pikir dengan orangtuanya yang begitu tega terhadap putrinya sendiri. Padahal, yang di inginkan Anna tidak berlebihan. Disayangi dan di akui. Tapi itu semua begitu sulit bagi Anna, hingga berujung malapetaka buat Anna sendiri. Baru saja Dika selesai, dari arah pintu seorang ptia masuk. Dika berdiri tegap lalu menoleh. Matanya melebar, mulutnya menganga saat mengetahui pria itu adalah Genzo.
"Genzo?" ucapnya pelan.
Dika melirik ke arah dapur, perlahan mundur dan bergegas pergi untuk memberitahu Anna. Namun sebelum Dika sampai ke pintu dapur. Genzo mengetahuinya. Pria itu berlari mengejar Dika.
"Dika!"
Dika menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang, matanya menyipit menggigit bibir bawahnya.
"Aduh celaka, dia tahu."
"Dika!"
Genzo menarik bahu Dika hingga mundur ke belakang menghadapnya. Matanya menyipit menatap Genzo.
"I, iya Tuan."
"Di mana Anna?"
Genzo bertanya tanpa basa basi, terakhir bertemu Dika saat di rumah sakit dan Genzo yakin kalau Dika mengetahui keberadaan Anna.
"Anu, eh, anu."
Dika menjawab dengan gugup, ia takut Anna tahu dan tidak ingin membuatnya sedih lagi.
"Anu, anu, bicara yang jelas!"
Genzo membentak Dika, ia sudah tidak sabar menunggu jawaban pria gendut di hadapannya.
"Katakan di mana Anna?!"
"Dika, ada apa?"
Dika menoleh sambil menepuk keningnya saat melihat Anna sudah berdiri di belakangnya. Sementara Genzo langsung balik badan dan menghampiri Anna.
"Genzo?"
Anna menatap tajam Genzo langsung memutar tubuhnya dan berlari. Namun Genzo mengejarnya lalu menarik tangan Anna dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Jangan pergi lagi, aku mohon Anna."
Anna berusaha lepas dari pelukan Genzo.
"Lepaskan aku, dan pergi mrnjauh dariku! pekik Anna.
" Tidak akan kulepaskan lagi, Anna mengertilah, aku mencintaimu."
Anna langsung terdiam mendengarkan semua kata rindu yang Genzo ucapkan. Tak terasa air mata Anna menetes.
"Dengar Anna, kembalilah padaku. Hiduplah bersamaku. Aku terima kau apa adanya, aku berjanji. Kalau kau mau, aku tinggalkan semua kemewahan yang kumiliki dan kita mulai dari nol lagi. Bagaimana?"
"Tapi, Aku-?"
Genzo meletakkan satu jarinya di bibir Anna.
"Jangan katakan apapun lagi. Katakan padaku, apa kau mau hidup bersamaku?"
Anna terdiam sesaat, lalu tengadahkan wajahnya menatap kedua bola mata Genzo. Mencari kesungguhan di matanya. Perlahan, Anna menganggukkan kepalanya.
"Aku mau."
"Sungguh?"
Anna menganggukkan kepalanya lagi.
"Iya, aku mau."
"Terima kasih sayang, terima kasih."
Genzo memeluk erat Anna. Hatinya yang sepi ditinggalkan Anna kembali ceria. Sementara Dika yang sedari tadi memperhatikan dari belakang, berjalan mendekati Genzo dan Anna.
"Jika yang kau ucapkan itu benar, apa kau sanggup bekerjasama membangun cafe ini?"
Genzo melepas pelukannya, menatap Dika.
"Tentu aku mau, demi Anna. Apapun akan aku lakukan."
"Oke, aku percaya padamu Tuan."
Dika tersenyum menatap Anna. "Dia adikku, jangan sakiti dia lagi."
"Aku berjanji."
Genzo semakin mengeratkan pelukannya, lalu mencium kening Anna. Usia mereka yang terpaut jauh, bukan halangan untuk mencintai Genzo yang memiliki hati yang tulus. Menerima Anna meski sudah tidak perawan lagi.
"Baik, sekarang kita ke depan dan ngopi bersama untuk merayakan hari bahagia ini."
Anna menganggukkan kepala, lalu menarik tangan Genzo. Mengikuti langkah Dika yang sudah terlebih dahulu pergi.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐