Yi Xing dikirim bibi Ning kepada guru Mo untuk mempraktikkan keterampilan saint dewa. Namun di sisi lain, ada rahasia yang disembunyikan bibi Ning. Rahasia itu berkaitan dengan kedua orang tua Yi Xing. Untuk mengetahui rahasia itu, Yi Xing harus memenuhi syarat utama, yaitu mempraktikkan ilmu saint dewa. Dengan belajar menjadi kuat, Yi Xing bisa mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JOSEPH AL-IQBAL WANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 — Latihan Kesabaran
Yi Xing terbatuk dua-tiga kali. Malam itu dia sudah bangun. Malam bulan perak. Bulan bulat sempurna, tegak berada di atas langit. Guru berdiri di pinggir ranjang tidur.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya guru. Balik badan, menatap anak itu.
“Aku baik-baik saja, guru. Hanya sedikit kelelahan.”
“Ambilkan dia minum.”
“Baik, guru.” Wei Lin mengangguk. Gadis itu meninggalkan kamar. Keluar mengambil air di dapur.
Selepas Yi Xing pingsan, Wei Lin tidak keluar dari kamar itu berjam-jam. Dia menunggu anak itu sadar, supaya Wei Lin tidak khawatir lagi. Sebab ulahnya semua ini terjadi.
“Aku tidak membenarkan kalian pergi ke reruntuhan kuno itu.” Guru berbicara lagi. Suaranya rendah.
Yi Xing sempat menatap guru Mo. Tapi kemudian malah memilih menundukkan pandangannya. Dia salah. Yi Xing sadar itu. Dia takkan membantah apa kata guru.
“Maafkan kami, guru.”
“Kalian kembali dengan selamat, aku bisa memaklumi itu.” Guru balik badan lagi. Satu tangannya dilipat di belakang punggung. Mata menatap keluar jendela, memerhatikan sinar rembulan yang indah. “Ceritakan padaku apa yang kalian temui di sana.”
Yi Xing menelan ludahnya. “Kami bertemu kelompok ular iblis dan melawan rajanya.”
“Kalian membunuh raja ular iblis itu?”
Yi Xing menggeleng. “Tidak, guru.”
Guru Mo mendeham pelan. “Kau tahu berapa battle ranking raja ular iblis?”
Yi Xing menggeleng lagi. “Tidak tahu, guru.”
“Tiga ratus ribu.” Guru Mo memberitahu.
Yi Xing terbelalak. Dia kaget. Raja ular sekuat itu? Dia bahkan sudah menjadi saint level perunggu. Mereka mengalahkan level saint sekuat itu. Yang benar saja?
“Kau tahu bagaimana peluang orang-orang setelah menghadapi ular iblis itu?” Guru bertanya lagi.
“Tidak.”
“Mereka akan buta saat melihat matanya. Jika tidak buta, mereka akan mati, tidak bisa keluar dari reruntuhan kuno hidup-hidup. Satu-satunya yang bisa mengalahkan raja iblis ular itu adalah dengan memiliki battle ranking di atas mereka. Akan merepotkan menghadapai kelompok iblis binatang itu.”
“Jadi, kami ....”
Guru Mo melirik Yi Xing cukup tajam. “Bagaimana kalian bisa keluar dari sana?”
“Yi Xing yang melawannya, guru.” Wei Lin menyahut. Dia datang. Gelas berisi air diletakkan di atas meja.
“Tunjukkan pada guru.” Pria itu meminta.
Yi Xing mengangguk. Tangannya diletakkan di kepala. Membuat sebuah panggilan tertentu untuk memunculkan tanda di dahinya. Sama seperti yang dilakukannya tadi, beberapa saat lalu ketika menghadapi si raja ular iblis.
“Tehnik pesona dewi?” Guru bergumam.
Udara di sekitar ruangan menjadi sejuk. Ada aura besar tercipta dan muncul. Guru Mo memerhatikan. Tidak ada yang aneh dengan tehnik milik Yi Xing ini. Guru sudah melihatnya berkali-kali menggunakan tehnik ini dalam pertempuran para calon saint.
“Pesona dewi tipe hipnotis ini memiliki daya pikat yang cukup kuat. Tetapi mengingat lawan kalian adalah raja ular iblis, rasanya ada yang salah.” Guru mengurut dagunya. Otak itu sedang bekerja keras, memikirkan sesuatu. “Raja ular iblis memiliki mata mematikan dari ratapan kesengsaraan Medusa. Mata Medusa adalah tehnik raja ular yang tak terkalahkan. Mereka kebal terhadap berbagai macam tipu daya entah itu pesona dewi maupun pesona iblis. Aku merasa ada yang janggal.”
“Yi Xing melakukannya hanya dengan sekali kendali, guru.” Wei Lin memberitahu.
Guru Mo masih berpikir. Apa yang baru saja dilewatkannya. Apakah dia melupakan sesuatu?
“Guru belum memahami semua ini dengan benar. Tetapi jika Yi Xing berhasil mengalahkan tehnik kekebalan hipnotis milik raja ular iblis dengan tehnik bawaannya, maka guru hanya bisa bernapas lega sekarang. Kalian kembali dalam keadaan baik-baik saja, setidak itu adalah berita bagus.” Guru Mo menghela napas panjang.
Yi Xing kembali ke tempat tidurnya. Percakapan mereka tidak panjang. Guru Mo meninggalkan ruangan tidur Yi Xing. Menyisakan dua anak tadi.
Yi Xing dan Wei Lin akan tidur dalam satu ruangan. Guru menyiapkan tempat tidur lain di sini. Kamar Yi Xing sangat besar. Dulunya ini milik anak guru Mo, sebelum dia tiada. Ada dua tempat tidur di sana. Di lantai dua rumah kayu.
“Kau istirahatlah. Kau kelelahan.” Wei Lin berkata lirih.
Gadis itu sudah duduk di tempat tidurnya. Yi Xing mengangguk. Tidak banyak bicara. Balik badan, segera menarik selimut. Dia tidur miring. Wei Lin menelan ludah. Memandang belakang punggung Yi Xing sejenak. Pikirannya kalut. Tetapi lima menit berikutnya, Wei Lin ambil posisi, tidur menyamping, membelakangi Yi Xing.
“Kau sudah tidur?” tanya Wei Lin beberapa saat kemudian. Gadis itu tidak bisa memejamkan matanya. Tangan meremas baju.
“Belum.”
“Lukamu masih sakit?” tanya Wei Lin lagi. Gadis itu belum mengubah posisinya. Kedua anak tadi masih tidur saling membelakangi.
“Tidak. Sekarang lebih baik.”
“Terima kasih untuk tadi.” Wei Lin sempat menoleh ke arah anak itu sekilas.
Yi Xing mendeham. Jawabannya cukup pendek. Wei Lin menelan ludah lagi. Tangan memegang dada kembali, dia merasa gugup dan bergetar. Berbicara dengan Yi Xing seperti ini membuat Wei merasakan hal lain.
“Ayah bicara padaku sebelum mengizinkanku datang ke desa saint jiwa ini.” Wei Lin melanjutkan ucapannya.
“Apa?”
“Besok, ayah meminta kembali ke ibukota kekaisaran. Juga ..., kau!”
Yi Xing membalikkan badannya kali ini. Wei Lin menutup matanya rapat-rapat. Dia semakin gugup mengatakan hal tadi.
“Ada apa? Apakah aku melakukan sebuah kejahatan kepada Patriak Wei?”
Wei Lin menggeleng. “Tidak.”
“Lalu?”
“Ayah hanya penasaran. Berita kau memenangkan tempat pertama dalam turnamen tahun ini membuatnya ingin bertemu denganmu sesekali. Selain kau dan aku adalah murid guru Mo, kau juga sudah dikenal oleh keluarga para bangsawan di kota Guiyang. Namamu sudah diingat baik-baik oleh keluarga bangsawan Tian Heng.” Wei Lin menjelaskan cukup singkat.
Yi Xing menghela napas. Ambil posisi, tidur lagi seperti semula. Saling membelakangi. “Apakah itu akan bermasalah?”
“Ya. Keluarga bangsawan yang dikalahkan oleh orang desa tidak akan menerima kekalahan mutlak ini. Apalagi menciptakan MVP. Tian Heng adalah putra kedua keluarga bangsawan. Dia jenius nomor satu. Dia adalah harapan berikutnya dari keluarga Tian. Dengan kau mengalahkan anak itu, artinya kau sudah membuat sebuah masalah besar. Kau menghina keluarga besar itu.”
Yi Xing menelan ludah tertahan. Rasanya berat dan menyakitkan. “Aku harus bagaimana!”
“Datang temui ayah. Dia akan membantu. Ayah takut jika kau menimbulkan masalah karena telah menyinggung keluarga bangsawan Tian. Setidaknya kau akan aman jika diakui sebagai salah satu anggota keluarga Wei dan bisa diakui sebagai anggota sekte Wei.”
Yi Xing terdiam. Dia sedang memikirkan kata-kata Wei Lin. Apakah benar apa yang dikatakan oleh anak ini? Yi Xing sempat ragu. Tapi kemungkinan ada benarnya, pikir anak itu. Siapa yang tahu akan jadi apa hari esok.
••••
“Potong kayu dengan benar. Harus rata, tidak boleh besar sebelah dan tidak boleh ada yang kecil sebelah.” Guru memerintah tegas.
Siang itu Yi Xing ditugaskan guru Mo membelah kayu bakar menggunakan kapak. Setiap tebasan Yi Xing harus sempurna, tidak boleh cacat. Anak itu berusaha. Dia patuh melakukan apa yang guru perintah.
Guru Mo giliran memerhatikan Wei Lin. Dia sedang meningkatkan kultivasinya. Anak itu duduk bersila tidak jauh dari tempat Wei Lin memotong kayu. Sembari itu, di tangan guru ada buku yang sedang dibacanya.
“Rasakan lingkungan di sekitarmu. Nikmati setiap alunan alam. Jangan berhenti fokus jika aku tidak menyuruhmu berhenti.” Guru Mo berkata cukup keras.
Wei Lin mendengarkan. Dia tidak menjawab apalagi membantah. Cukup pejamkan mata, tangan terlatih, diletakkan di atas lipatan tulang paha. Aura kekuatan muncul. Kupu-kupu roh yang guru ajarkan mulai muncul. Taman bunga di belakang rumah guru Mo rasanya akan bersatu dengan tehnik kupu-kupu roh.
Guru Mo mengurut dagunya lagi. Mata memerhatikan lekat-lekat cara Yi Xing dan Wei Lin bekerja keras.
“Anak-anak sudah semaju ini dalam meningkatkan kultivasi. Entah mereka berhasil atau tidak, aku harap apa yang aku ajarkan setiap hari pada mereka bisa membuat mereka jauh lebih hebat dari sekarang.”
Guru Mo melirik Yi Xing. Sekali anak itu mengusap peluh di wajahnya. Keringat jatuh di atas kayu yang dibelah.
“Belajar memotong kayu dengan tingkat potongan yang sempurna dan tepat, itulah cara terbaik melatih kesabaran, keuletan dan kerja keras. Anak itu berhasil melewati setiap latihan yang diterimanya.” Guru Mo menatap Wei Lin lagi, kemudian. “Dan latihan yang paling efektif untuk melatih tingkat keras kepala putri bangsawan ini adalah dengan merasakan sentuhan alam. Semakin dia merasakan kekuatan alam, maka dia bisa mengontrol emosi dan hawa nafsunya. Sifat anak itu perlahan-lahan sudah mulai berubah. Anak-anak berbakat di kekaisaran Guiyang mulai mengalami peningkatan.”
Guru Mo menelan ludah. Dia bergumam pelan. Ada rasa bangga saat melihat kerja keras tanpa mengeluh dari dua muridnya ini.
bikin malas baca novelnya.
jgn lupa di update crazy up sampai selesai novelnya
update weeeeee...