Aku akan membalaskan dendam siapa pun yang dulu pernah menindas ku, tak kubiarkan jiwa ku yang terbangkit kembali menjadi lemah.
Mereka yang berani menindas tubuh ku, maka mereka akan mengalami yang lebih kejam dan sadis dari yang aku alami.
Jangan main main dengan ku, karna aku bukan Anna yang dulu lagi.
Karna Jiwa asli ku adalah Jennifer Bransteto.
Seorang wanita paling sadis dan kejam di dunia Mafia, itu lah aku Jennifer Bransteto Sang Queen Mafia Black Blue Reagers.
Tugas ku tidak hanya di satu reingkarnasi dunia pembalasan demdam, namun aku akan membalaskan dendam tubuh yang akan aku singgahi kelak, ini adalah misi ku, dan ini adalah hukuman ku.
Happy Reading..
Salam Hasanah 💓💓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasnatul Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Saat Anna sudah kembali ke tempat duduk nya.
Kakao menatap Anna dengan tatapan butuh penjelasan.
" kau berguru dengan siapa hingga bisa menari seperti itu? " Ucap Kakao dengan tatapan bingung.
" ayo lah kak.. aku tidak berguru dengan siapa pun, ini murni bakat ku.. bakat yang sedaru dulu aku pendam " Ucap Anna santai walau kesan nya bohong.
" benar kah? kau sangat aneh Anna " Ucap Kakao dengan tatapan menyelidik.
" sudah lupakan, apa kalian segitu terkejut nya melihat ku menari? seperti tidak pernah melihat ku menari saja " Ucap Anna ketus.
Kakao menaik kan kedua alis nya bingung, " kami emang tidak pernah melihat mu menari Anna, karna kamu itu terkenal lemah dan tidak bisa apa apa " Ucap Kakao masih dengan tatapan yang sama.
" hmm.. aku mengerti, pantas saja mereka semua menyoraki ku seperti itu tadi, ternyata mereka tidak pernah melihat ku menari, hal wajar mereka kagum terhadap ku " Ucap Anna dengan wajah angkuh nya.
" cih, baru seperti itu saja kau sudah sombong adik kecil " Ucap Kakao terkekeh.
" jangan bicara dengan ku! urus saja tunangan mu itu, berani nya dia menatap ku dengan tatapan seperti itu tadi " Ucap Anna yang kembali kesal saat Putri Mao menatap nya dengan tatapan meremeh kan.
" dia sama sekali tida berniat Anna, jangan salah faham dengan calon kakak ipar mu " Ucap Kakao cemas menatap kekesalan sang adik kepada tunangan nya.
" kalo aku sudah faham bagai mana? aku tidak menyukai nya, lalu apa? aku harus diam saja? aku paling benci saat ada wanita menatap ku dengan tatapan remeh seperti itu, kau tau aku itu pendendam " Ucap Anna dengan tatapan tajam nya.
Kakao kaget dan menatap Anna tak percaya, " sejak kapan kau berubah Anna? ini bukan lah diri mu.. Kakak tidak pernah mengajarkan mu untuk dendam " Ucap Kakao kesal.
" ohh.. lalu? bukti nya banyak sekali yang harus aku lkukan di dunia ini atas dasar dendam " Ucap Anna tanpa sadar karna sudah terlalu emosi.
" apa yang kau kata kan! " Ucap Kakao mengernyitkan alis nya bingung sekali gus kesal melihat tingkah emosional adik nya itu.
" diam! dan jangan urus urusan ku mulai sekarang Kakak " Ucap Anna kemudian berjalan keluar Aula yang kini mulai menyepi karna istirahat dan acara nya akan di sambung besok pagi.
Putri Mao berjalan mendekati Kakao yang kini terkihat sangat kesal.
" ada apa dengan mu dan Anna Kaka? seperti nya kalian bertengkar " tanya Putri Mao bingung.
" akhir akhir ini Anna tidak seperti adik ku yang dulu, Anna yang pendiam dan pemalu berubah menjadi pemberani dan juga pemarah, sering kesal, pembantah, dan juga pendendam, aku khawatir melihat nya yang seperti itu " Ucap Kakao sambil memijat pelipis nya.
" apa Anna seperti itu? ahh.. tidak mungkin " Ucao Mao dengan tatapan tak percaya nya.
" dia juga tidak menyukai mu karna saat kau menari tadi, kau sempat menatap nya dengan tatapan remeh " Ucap Kakao berhasil membuat Putri Mao terkejut.
" apa? bagai mana bisa? ahh tidak.. aku tidak ingin bermusuhan dengan adik ku " ucap Mao dengan nada getir.
" minta maaf lah dengan dia, aku yakin dia mau memaafkan mu " Ucap Kakao yang langsung di angguki oleh Putri Mao.
________
Di dalam kamar Anna.
" hufff.. emosi ku malam ini benar benar di kuras habis, untung ni badan gk punya riwayat penyakit darah tinggi, kalo iya.. aku tidak tau bagai mana nasip ku sekarang " Ucap Anna sambil terkekeh.
Tok tok tok..
" masuk " ucap Anna sambil tiduran di kasur nya.
" malam putri " Ucap Ela sambil membungkuk kan tubuh nya hormat.
" ya, ada apa Ela? apa aku harus menghadiri acara lagi? ayo lah.. ini sudah malam.. " Ucap Anna sambil pura pura nguap.
" apa putri mengantuk? putri bisa saja istirajat sekarang.. nanti saya akan beritahu Putri Syifa bahwa putri sudah tidur " Ucap Ela kembali membungkuk.
Mendengar kata Syifa membuat Anna langsung terduduk dari tidur nya dan menatap Ela seksama.
" apa yang akan di lakukan manusia itu lagi? bukan nya malam pertamaan malah mancing aku " Ucap Anna dengan nada frustasi.
Ela menahan senyum nya dan membungkuk.
" maaf putri, kalau putri tidak istirahat? mari ikut saya ke taman belakang istana, karna Putri Syifa menunggu putri di sana " Ucap Ela menjelaskan.
Anna mengangguk kan kepala nya mengerti dengan ucapan Ela, " baik.. ayo antar aku ke sana, aku sudah lupa tempat nya " Ucap Anna yang langsung di angguki oleh Ela.
Mereka berjalan ke arah taman belakang istana di tengah malam, dingin nya malam tidak membuat Anna terpengaruh.
Bahkan karna dingin nya malam ini lah yang membuat Anna kembali mengingat masa moderen nya saat mengerjakan misi rahasia.
" andai aku di beri kehidupan selanjutnya itu di masa moderen, mungkin aku tidak akan repot seperti ini membalaskan dendam raga yang aku tempati, walau jaman ini tidak sepenuh nya kudet, tapi ya sama aja balik ke jaman dulu ini.. " Ucap Anna dalam hati merasa kesal namun bersyukur juga.
" apa dia akan membunuh ku malam ini Ela? karna tadi aku berhasil merebut perhatian semua orang " Tanya Anna santai.
" a' apa yang putri kata kan? itu tidak mungkin putri.. putri saat ini sudah berubah, dan juga semakin pemberani, kalau pun putri Syifa ingin membunuh putri? sedikit kemungkinan kalau putri tidak melawan, putri sangat hebat.. hamba yakin putri akan bisa menangani nya " ucap Ela sambil tersenyum.
Anna mengangguk kan kepala nya, sebenar nya hal itu emang benar nyata nya, tidak ada yang bisa membunuh Seorang Jenifer Bransteto, terkecuali racun.
Semua manusia tidak akan bisa mencegah racun apa pun saat sudah menyerang organ tubuh manusia, seperti raga nya saat ini.
Jeni sampai sekarang masih merasakan organ tubuh nya sebagian tidak berfungsi, mungkin karna racun itu.
Sesampai nya di taman.
Anna menatap wanita yang kini sudah berganti pakayan, setelan seperti baju tidur namun sedikit ribet bagi Anna.
" Ada apa kau memanggil ku " Ucap Anna langsung to the poin.
" apa itu harus di jawab? kau kembali membuat kesalahan, apa kau tidak bisa menebak apa yang akan aku lakukan? " Ucap Syifa dengan tatapan tajam nya.
Anna menghela nafas kasar, " apa kesalahan ku? apa aku merebut suami mu? apa aku merebut posisi mu? tidak kan? bisa kah kau berhenti berfikiran kotor? otak mu itu penuh dengan ke angkuhan, gila dengan tahta.. kau kira dengan kau yang lebih hebat dari ku bisa menggapai tahta? tidak Syifa.. aku Putri Anna, putri bungsu dari keluarga Law Saki, walau kau membunuh ku sekali pun nama ku tidak akan terhapus, asal kau tahu itu " Ucap Anna penuh penekanan.
" ohh.. tapi aku tetap lah putri bungsu keluarga Low saki, setelah kau tiada.. maka hanya aku lah putri bungsu di kerajaan ini " Ucap Syifa dengan senyuman licik.
" haiss.. sudah lah, mending kau tidur, atau malam pertama dengan suami mu, dari pada kau ingin membunuh ku di sini gk ada faedah nya, ujung ujung nya juga kau yang akan mati " Ucap Anna dengan raut muka ngeselin.
" kau! barni nya?! " teriak Syifa yang langsung mengambil belati yang tersimpan di balik gaun tidur nya.
Anna yang sedari tadi sudah menduga langsung mengkap belati itu, Syifa kaget melihat respon Anna yang sama sekali tidak merasa sakit walau kini belati itu sudah mengalir darah dari tangan Anna.
Ting!
Anna langsung mematahkan belati itu dan membuang nya ke sembarang arah.
" ingat Syifa, yang kau hadapi ini bukan lah adik bungsu mu yang lemah seperti dulu, kau salah mencari musuh kawan, Aku tidak akan membiarkan mu begitu saja karna sudah melukai tangan ku, tunggu tanggal main ku " Ucap Anna dan langsung pergi dari hadapan Syifa.
Syifa terdiam sambil menatap belati yang sudah patah itu.
" siapa dia? dia bukan lah Anna " ucap Syifa menatap tajam punggung Anna yang semakin menjauh dari pandangan nya.
...
jaman dl itu biasa. kedewasaan seseorang bukan di liat dari umur. pliis jgn salah kaprah!
jaman dl umur 11th pun banyak yg dah menikah. hal yg udh biasa.
makanya selain buat novel hrsnya baca sejarah jaman dl jg.
udah selesai ya
raja zein dah baikan sm permaisuri
karena itu memang raga permaisuri
jiwa anak dlm raga permaisuri gpp lah msh tetap perawan toh
jangan lah di tolak kyk gitu thor