NovelToon NovelToon
Azka: The Basketball Captain Ghost

Azka: The Basketball Captain Ghost

Status: tamat
Genre:Spiritual / Tamat
Popularitas:89.4k
Nilai: 5
Nama Author: Puput

Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

"Kalian berdua gak ngapa-ngapain kan di dalam?" tanya Azka yang curiga pada Ezra dan Vania karena penampilan mereka berdua.

"Kak, di dalam gudang itu nakutin banget, yang ada dipikiran kita itu cuma gimana caranya keluar dari gudang yang gelap," kata Vania. Dia kini melepas jaket Ezra dan mengembalikannya pada Ezra. "Kak Ezra pakai aja biar gak salah paham."

"Lo pikir gue cowok gak bener! Gila apa gue mikir kotor di tempat kayak gitu. Gue bisa pulang sendiri! Gak usah lo antar!" Ezra memakai jaketnya dan berjalan cepat menuju tempat parkir. Dia sangat kesal dengan tuduhan Azka.

"Kak Azka, bahu Kak Ezra itu sakit. Kalau gak ada Kak Ezra pasti aku yang luka. Biar aku pulang sama Kak Amira. Kak Azka antar Kak Ezra dulu berobat," kata Vania. Dia tidak tega jika membiarkan Ezra pulang sendiri. "Atau biar aku yang antar Kak Ezra. Kak Azka pulang aja sama Kak Amira."

"Iya, iya, duh, cerewetnya mirip kayak Mama." Azka melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh adiknya. "Kamu cuma pakai cardigan tipis, kamu pakai jaket aku saja."

"Tapi Kak Azka gak dingin?"

"Aku gak papa, udah biasa." Azka segera berlari menyusul Ezra. Setelah sampai di tempat parkir, dia melihat Ezra yang sedang menahan stang motornya dengan satu tangan. "Gue antar pulang." Azka duduk di motor Ezra tanpa menunggu persetujuan Ezra. Dia segera menghidupkan motor itu, karena jika dia memakai motornya sendiri, Ezra tidak mungkin mau naik ke atas motor itu.

"Gak usah, aku bisa!" Ezra menarik stang motor itu tapi tangan kirinya terasa sakit. "Aduh!"

"Ayo! Daripada Vania ngambek sama gue!"

Ezra akhirnya naik ke boncengan Azka. "Langsung pulang aja."

"Nggak! Lo gue antar berobat dulu." Azka menoleh adiknya yang sekarang sedang membonceng Amira. "Pelan-pelan saja di jalan."

"Iya, Kak." Dia masih melihat motor Vania yang melaju meninggalkan tempat parkir sekolah. Kondisi sekolah mulai ramai setelah polisi dan mobil ambulance datang. Azka buru-buru keluar dari tempat parkir daripada urusannya menjadi panjang, yang terpenting baginya kasus itu sudah terungkap. Dia tidak ingin menjadi saksi.

Beberapa saat kemudian Azka menghentikan motornya di depan klinik. "Dokter di sini bagus kok. Nanti kalau butuh rontgen tulang lo, besok gue antar," kata Azka.

Mereka berdua kini masuk ke dalam klinik itu dan mendaftar. Untunglah klinik malam itu sepi dan Ezra bisa segera ditangani.

"Tidak apa-apa, tulangnya tidak sampai keseleo atau retak. Tapi hati-hati saat bergerak. Saya balut lukanya biar bahunya bisa tegak dan tidak terlalu sakit," kata Dokter yang menangani Ezra

Azka hanya menemani Ezra di dalam ruang pemeriksaan itu. Selama ini dia tidak tahu tentang kehidupan Ezra karena Azka yang asli tidak dekat dengannya.

Setelah selesai ditangani dan mendapatkan obat, Azka membayar semua biaya pengobatan Ezra.

"Azka, gue masih gak punya uang. Nanti uang lo pasti gue ganti," kata Ezra.

Azka hanya tertawa sambil memakai helmnya. "Ngapain lo bingung sama uang gue? Lo udah nolong adik gue, harusnya gue bisa kasih lebih dari itu." Dia kini menaiki motor Ezra. "Rumah lo dimana?"

"Di dekat stasiun, gang flamboyan."

Azka menganggukkan kepalanya lalu segera melajukan motornya menuju gang yang dimaksud setelah Ezra naik ke boncengannya. Beberapa saat kemudian, Azka masuk ke dalam gang itu lalu menghentikan motornya di depan rumah yang sederhana sesuai aba-aba dari Ezra.

"Ini rumah gue." Ezra turun dari motornya lalu masuk ke dalam teras yang kecil itu.

Rumah sederhana itu mengingatkan Azka dengan masa lalunya. Iya, dulu saat dia hidup penuh dengan perjuangan. Pasti apa yang dirasakan Ezra sekarang hampir sama dengan dirinya dulu. Sekolah hanya mengandalkan beasiswa dan ada saja orang yang akan menjatuhkannya.

"Ezra, kamu dari mana saja. Mama sangat khawatir sama kamu," kata Emil, mamanya Ezra yang masih terlihat muda.

"Tadi ada sedikit masalah di sekolah," kata Ezra. Dia masuk ke dalam rumah tanpa mempersilakan Azka yang sedang menjagrak motornya di teras rumah untuk masuk.

"Ezra, temannya suruh masuk dulu."

Azka tersenyum dan mendekat. Dia memberikan obat Ezra yang dari tadi menggantung di motor. "Ini obat Ezra. Diminum sesuai tulisan yang tertera."

"Ezra, kamu kenapa? Terluka karena main basket lagi?" tanya Emil. Dia kini masuk ke dalam rumah dan melihat Ezra yang sedang duduk sambil membuka sepatunya dengan satu tangannya.

Azka juga masuk ke dalam rumah Ezra untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. "Ezra sudah menolong adik saya. Bahunya terpukul balok dengan keras. Sudah saya bawa ke klinik. Tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu."

"Coba Mama lihat." Emil membuka kaos putranya dan melihat bahu yang terbalut perban berwarna coklat itu. "Pasti sakit."

"Tidak apa-apa, Ma. Aku sudah ke Dokter."

"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih karena Ezra sudah menolong adik saya," kata Azka lagi.

"Iya. Tidak apa-apa. Ezra, kamu makan dulu lalu istirahat," kata Emil pada Ezra. "Kamu juga."

Ezra hanya menganggukkan kepalanya tanpa beranjak dari tempatnya.

"Saya mau pulang saja, Tante. Tapi apa saya boleh menumpang ke kamar mandi dulu?" tanya Azka karena dia sudah tidak bisa menahan buang air kecilnya.

"Iya. Kamu masuk saja dan lurus. Kamar mandi ada di dekat dapur."

Azka segera melangkah jenjang ke kamar mandi. Dia masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dekat dapur. Setelah selesai membersihkannya, Azka keluar dari kamar mandi. Langkahnya berhenti di ruang tengah saat melihat sebuah foto yang terpajang di dinding.

"Ini kan ...."

💞💞💞

Like dan komen ya...

1
Rizky Rahma Aulia Akbar
kok sedih gini sihhh
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒂𝒈𝒖𝒔 👍👍👍👏👏👏😘😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝑨𝒛𝒌𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒖𝒌 𝒌𝒆 𝒋𝒂𝒔𝒂𝒅𝒏𝒚𝒂 𝒀𝒖𝒅𝒉𝒂 😉😉
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒎𝒊𝒓𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒃𝒊𝒌𝒊𝒏 𝒏𝒂𝒏𝒈𝒊𝒔
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝑨𝒎𝒊𝒓𝒂 𝒚𝒈 𝒉𝒓𝒔 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒊𝒔𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝑨𝒛𝒌𝒂 𝑾𝒂𝒉𝒚𝒖𝒅𝒊
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊 𝑨𝒛𝒌𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒈𝒐 𝒃𝒂𝒔𝒌𝒆𝒕
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒘𝒂𝒉 𝑬𝒛𝒓𝒂 𝒅𝒍𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒅𝒊𝒉 𝒑𝒂𝒓𝒕 𝒊𝒏𝒊 😭😭😭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒂𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒛𝒌𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝑨𝒅𝒂𝒎 𝒅𝒂𝒏 𝑹𝒆𝒏𝒅𝒊
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒚𝒂𝒓𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒂𝒅𝒊𝒂𝒏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒚𝒖𝒌𝒖𝒓𝒍𝒂𝒉 𝑹𝒆𝒗𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒑𝒂 𝒚𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝑨𝒊𝒓𝒊𝒏 𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒂𝒏 𝑹𝒆𝒗𝒂𝒏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒆𝒏𝒂𝒑𝒂 𝒅𝒏𝒈𝒏 𝑨𝒛𝒌𝒂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝑨𝒛𝒌𝒂 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒖 𝒑𝒂𝒑𝒂 𝒎𝒖 𝑹𝒆𝒗𝒂𝒏 𝒍𝒆𝒑𝒂𝒔 𝒅𝒓 𝒈𝒖𝒏𝒂"
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑹𝒆𝒗𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒏𝒂 𝒔𝒂𝒏𝒕𝒆𝒕 𝒏𝒊𝒉
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝑹𝒆𝒗𝒂𝒏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒂𝒔𝒕𝒊 𝑬𝒎𝒊𝒍 𝒚𝒈 𝒎𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍 𝑻𝒐𝒎𝒊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!