Semua cerita yang ada di dalam adalah hasil imajinasi dan kecerdasan penulis,harap bijak dalam membaca.
Ketika alena masih kecil, ibunya selalu di pukul oleh ayah tirinya hingga bercucuran darah, namun ayah tirinya tidak pernah di penjara walaupun sudah beberapa kali ibunya melapor ke polisi, kini alena sudah tumbuh dewasa dan ia melihat bahwa mantan ayah tirinya tidak berubah sama sekali. Alena mengambil tindakan sendiri dan memukulinya dengan brutal.Setelah menjalani kehidupan nya di kampus sebagai mahasiswi teladan fakultas seni Alena akan kembali ke apartemen nya dan di malam hari ia akan mulai menjalankan misinya, melakukan keadilan ketika hukum tidak menghukum dengan adil, akankah Alena bisa melakukannya? Apakah sisi gelapnya tidak akan pernah di ketahui oleh orang lain? Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Livi Neghe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Sidang
Kini di kantor polisi Zean sedang di interogasi oleh detektif Vernon, kakaknya sendiri. Dari balik kaca dua arah, Hakim Kian Natan dan Juga Alena bersama kepala Polisi sedang memantau situasi di dalam ruangan interogasi tersebut.
"Apakah kamu akan mengakuinya sekarang? Keputusan yang kamu buat bisa menentukan seberapa ringan dan berat hukuman kamu nanti" ujar Detektif Vernon
"Tentu saja, karena adikmu ini bukan pencundang" ujar Zean sambil tersenyum ke arah kaca dua bayang
"baiklah, persidanganmu akan di adakan besok pagi, istirahatlah yang cukup" ujar Vernon lalu keluar dari ruangan itu
Kini Vernon kembali ke ruangan pengawas, dia menemui Alena dan juga Natan, setelah mengucapkan terima kasih, Hakim Kian mengantar Alena dan Natan untuk pulang, sementara Detektif Vernon akan mengawasi Zean di kantor polisi.
Alena dan Natan kini memasuki mobil Hakim Kian, Hakim Kian pun mengucapkan terima kasih atas bantuan dan usaha Alena dan Natan untuk menangkap Zean, mereka pun memulai perjalanan, setelah sampai di depan Apartemen tempat tinggal Alena, Hakim kian pun memberikan kotak hadiah kecil kepada Alena.
setelah mengucapkan terima kasih untuk tumpangannya, Alena pun turun dan melambaikan tangan kepada Hakim Kian dan Natan. Kini di dalam mobil hanya Natan dan Hakim Kian, setelah menujukan alamat apartemennya, hakim kian terkekeh pelan yang membuat Natan bingung.
"Kamu tidak perlu memberitahuku alamatnya, bukankah aku pernah berkunjung ke sana bersama Detektif Vernon?....argh benar kamu tidak melihatku, saat detektif Vernon datang, aku menunggu di halaman luar, aku melihat mu berlari" ujar Hakim Kian sambil tersenyum
"benarkah? maafkan aku" ujar Natan sedikit gugup
"menurutmu apakah di persidangan nanti Zean akan meminta pembelaan?" tanya Hakim Kian
"entahlah, dia memiliki sikap keras kepala" ujar Natan
"kamu benar, tapi jika dia benar-benar akan melakukan hal itu, tidak ada yang akan membelanya, termasuk ayah dan ibuku" ujar Hakim Kian
Natan yang mendengar perkataan Hakim Kian terkejut, dia ingin bertanya namun tiba-tiba mobil itu berhenti, saat Natan menoleh ke arah luar itu adalah gedung apartemennya, setelah mengucapkan terima kasih Natan pun turun namun Hakim Kian kembali memberikan kotak kecil sebagai hadiah untuk Natan, sama halnya dengan Alena. Setelah turun Natan pun sedikit membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
Setelah mobil Hakim Kian pergi, Natan pun masuk ke dalam apartemennya, setelah pintu terbuka Natan masuk namun betapa terkejutnya dia saat melihat apartemennya yang begitu rapi, pasalnya terakhir kali dia meninggalkan apartemennya barang-barangnya berserakan karena dia berusaha lari.
Natan pun masuk menuju ruang tamu, saat duduk di sofa Natan melihat secarik kertas di atas meja, dia pun mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan di atas kertasnya itu.
"Terima kasih sudah ingin bekerja sama, ayo hidup lebih semangat lagi, Hakim Kian"
"Hakim Kian membereskan tempat ini? sangat profesional" ujar Natan sambil tersenyum
"hmmm akhirnya, kerja sama kita berhasil, aku tidak sabar untuk kembali masuk kelas besok" monolog Natan sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa
Di sisi lain, di ruang interogasi Detektif Vernon masuk sambil membawa satu nampan berisi makanan, setelah duduk Detektif Vernon pun meletakkan nampan itu di atas meja di depan Zean.
"makanlah" ujar Detektif Vernon
"tidak bisa" ujar Zean sambil mengangkat kedua tangannya yang di borgol
"aku akan menyuapimu" ujar Detektif Vernon lalu mengangkat kursinya dan meletakkannya di samping Zean
"tidak perlu, cukup buka saja borgol ini" ujar Zean menolak
"Kamu pikir aku bodoh, menurut saja jika ingin perutmu terisi" ujar Detektif Vernon
Detektif Vernon pun mulai menyuapi Zean, di sela makannya, Zean sering tersenyum ke arah Detektif Vernon, kakaknya yang merasa tatapan Zean cukup aneh pun tidak melihat matanya lagi dan hanya fokus menyuapi nya. Apakah Zean merencanakan sesuatu?
mari kita saling support author baru
tq
jgn lpa feedback baiknya di secretly sorry mksh kakak.
jgn lpa mmpir jg ya d secretly sorry 🙏
jgn lpa mampir di secretly sorry
thx