Mungkin bagi kalangan banyak orang Bangku Sekolah Dasar merupakan tempat pertama yang akan menjadi sebuah kenangan berharga dalam lingkungan pertemanan. Tetapi tidak untuk gadis kecil ini, karena ia menganggap sekolah dasar adalah awal mentalnya di uji dan nyawanya dipertaruhkan. mengapa nyawanya di pertaruhkan? seorang anak kecil yang mendapat jajahan dari teman temannya sendiri di asingkan. di acuhkan. dan dinilai tidak mempunyai bakat apa-apa.
credit by isikerang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isikerang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Say Goodbye
Sukses terus Andara-ku,
Aku masih disini dengan perasaan dahulu,
Tak usah minta maaf,
Kamu pantas mencari yang baru,
Bukan kah kita harus menutup masalalu,
Jika membuka awal lembaran baru?
-Artiuma-
“Ar, liat deh kak Daviya jadi siswi terbaik di sekolah ini dan jadi pengantin perempuannya,” ucap Dilla mengarahkan jempolnya ke-arah acara kelulusan angkatan kakak kelasnya.
“May, mau foto bareng ga?” ajakan Kak Putra membuyarkan pandangan ketiga wanita itu yang sedang melihat kegiatan kelulusan.
“Eleuh, eleuh,, meni gagah pisan pangeran aku teh,” ucap Maya terpesona dengan style Kak Putra.
"Kalo kata orang sunda mah, meni kasep heem," Maya kembali memuji Kak Putra.
“Eh Dil, potoin dong,” Ledek Kak Putra kepada Dilla.
“Dia mau gue ajak foto bareng juga, noh si Ar nganggur tuh,” cetus Kak Akmal sembari menggandeng lengan Dilla.
“Hah,,, aku?” gadis kecil itu menunjuk dirinya memasang muka bingung.
“Dav,, potoin kita ber-enam ya,” suara Kak Andara tiba-tiba terdengar dari arah belakang, lalu merangkul pundak gadis kecil itu.
“Oh, boleh sini,” ucap Daviya sembari menatap benci gadis kecil itu.
Kak Andara segera memberikan ponselnya kepada Daviya, lalu merangkul pinggang gadis kecil itu,diikuti oleh Kak Akmal, Kak Putra, Maya dan Dilla.
“Thanks ya Dav,” ucap Kak Andara lalu memasukan kembali ponselnya kedalam saku jas hitam miliknya.
“Send ya An nanti,” ucap Kak Akmal sembari melirik Kak Putra.
“Iya, Bawel lu kayak cewe,” cetus Kak Andara.
"Eh May, nih buat lo, anggap aja ini kenang-kenangan dari gue." Kak Putra memberi gantungan kunci bertuliskan thanks for time May.
"Meni bagus pisan ih, makasih ya Kak Puput," ucap Maya, membuat Kak Putra mengingat satu kejadian mengajari Maya bermain bola basket hingga tubuhnya terpental oleh dorongan Maya.
"Dill, nih buat lo, kalo lo punya banyak masalah, lo bisa liat kotak musik ini," Kak Akmal memberikan sebuah kotak musik kecil kepada Dilla.
"Isi lagunya apa Kak?" tanya Dilla penasaran dan salah tingkah saat menerima kotak musiknya.
"Puter coba,"titah Kak Akmal kepada Dilla.
Dilla dengan berhati-hati membuka kotak musik tersebut karena takut rusak, ia memutar kotak musik itu pelan-pelan.
'Lengser wengii sliramu ...
"ANJ*NG" Kak Putra terkejut mendengar isi lagu Kotak Musik tersebut, sementara Kak Akmal tertawa puas menyaksikan muka Maya, Dilla, Kak Putra, Kak Andara dan gadis kecil itu.
Kak Andara tersenyum melihat gadis kecil itu, ia tidak menyangka harus dipisahkan kembali dengan wanita yang selalu mengincar dirinya.
“Baik-baik disini ya, jangan jadi siswa yang nakal, belajar yang bener, taun depan kamu bakal jadi alumni juga Ar,” ucapnya dan hanya dibalas anggukan oleh gadis kecil itu.
“Tapi Ar, kayaknya kita bakal ketemu lagi deh, Ijazah aja kan belum dibagiin,” ucap Kak Andara.
“Dan aku gatau berapa kali kita ketemu lagi disini,” ucapnya kembali.
“Aku juga gatau sampai kapan perasaan ini berlabuh kak, aku gamau maksa kamu harus jadi milik aku, aku bukan peramal, tapi aku yakin, kamu bakal berpaling dan mencari perempuan lain” gadis kecil itu berbicara didalam hatinya.
“Kita balik lagi ke lapangan yaa, jaga diri baik-baik kalian bertiga,” ucap Kak Andara.
“Aman brother,” balas Maya dengan cepat sembari mengacungkan dua jempolnya.
“Secepat itu ya kenal mereka, berawal dari si Maya keselek cilok,” ledek Dilla tanpa dosa.
“Iya, kalian harusnya berterimakasih kepada diriku” ucap Maya memegang rok nya, cosplay jadi Princess di dunia kartun.
“Najis,” ucap Dilla meninggalkan Maya sendiri, sembari menggandeng gadis kecil itu pergi.
“Awas aja ya Dil,” ucap Maya mengikuti langkah mereka.
Disisi lain, Andara melihat tingkah laku ketiga adek kelasnya yang selalu mengisi masa smp dan sma nya.
“Ar, aku ga janji, tapi aku pastiin perasaan ini bakal tetep ada dikamu. Ar, maaf ya aku usil. Aku cuman pengen kamu tau perasaan yang selama ini aku simpan” gumam Kak Andara didalam hatinya.
"Ayo An," Lamunan Kak Andara dibuyarkan oleh ajakan Daviya yang menggandeng lengan Kak Andara kedepan podium untuk mengambil merpati, karena Kak Andara dan Daviya menjadi siswa dan siswi terbaik di sekolah itu.
Kak Andara dan Daviya melepaskan dua burung merpati di sekolahnya, diiringi tepuk tangan siswa dan siswi lain, yang mengikuti acara kelulusan tersebut.
"Serasi banget ga sih, si An sama Daviya?" celetukan salah satu siswi rumpi menembus telinga Daviya, membuat dirinya tersipu malu dan salah tingkah memegang tangan Kak Andara. Sementara Kak Andara merasa risih mendengar rumpian siswi-siswi dibelakangnya.
"Tapi sis, biasanya kalo kayak gini suka jodoh loh, soalnya tante sama om gue juga pernah ngalamin ginian," ucap siswi lain mengompori percakapan siswi rumpi dibelakang Daviya dan Kak Andara.
"Iya bener biasanya cinlok juga nih salah satunya naruh perasaan hahaha," ujar salah satu siswi lain yang ikut nimbrung di percakapan geng rumpi.
"Apaan sih anj*ng nih geng rumpi," cetus Kak Andara tidak menerima ucapan geng rumpi kepada Kak Akmal dan Kak Putra.
"Sabar An, tapi biasanya emang bener kenyataan sih kebanyakannya," Kak Akmal ikut mengompori Kak Andara agar amarahnya tak terkendali.
"Perasaan gue cuman buat Ar aja! gak yang lain," tindas Kak Andara meninggikan suaranya agar terdengar oleh geng rumpi
"Halah dusta anj*ng, taun depan juga ganti lagi," cetus Kak Putra sembari menepis lengan Kak Akmal memberi sinyal.
Acara kelulusan itu telah selesai, anak kelas dua belas sah menjadi alumni dihari itu juga, mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, ada yang melanjutkan kuliah, nikah sah, nikah sirih, kerja enak, dan kerja rodi.
"Lanjut kemana nih An?" Daviya membuka obrolan diruangan sesi poto studio, karena mereka memiliki kegiatan poto kelas.
"Malang, Brawijaya mungkin," ucap Kak Andara sembari memalingkan muka ke pintu luar, ia tidak ingin melihat muka Daviya karena sempat hilang respect sejak Daviya kehilangan attittudenya saat debat analisis dengan gadis kecil itu.
"Kamu gamau nanyain aku daftar kemana An?" tanya Daviya berharap diberi pertanyaan seperti itu oleh Kak Andara.
"Daftar kemana emangnya?" tanya Kak Andara terpaksa menanyakan hal itu kepada Daviya.
"Ke Brawijaya juga An kayak kamu," ucap Daviya menyunggingkan gigi memperlihatkan gigi kelincinya.
"Biasain punya pendirian sendiri yaa cantik, jangan ngikutin orang lain," ucap Kak Andara sembari menepuk pundak Daviya Halus, lalu pergi kearah cermin membenarkan jasnya.
Daviya yang mendapat perlakuan Kak Andra terkejut, karena ia baru pertama kali mendengar Kak Andara menegurnya dengan cara halus, tidak seperti pada umumnya.