Kecelakaan yang terjadi pada Abian Reegan membuat sebagian ingatanya menghilang. Dan hal tersebut membuat Zahira harus berjuang mati-matian untuk membuktikan kepada Sang Suami, Abian bahwa dia adalah istrinya. Dia bahkan terpaksa menjadi pembantu di rumah suaminya sendiri untuk bisa membuktikan hal tersebut dan membuat Abian mengingatnya.
Dikelilingi oleh ibu dan adik tiri yang manipulatif membuat Abian semakin lupa siapa itu Zahira.
Bagaimana cara Zahira untuk membuat Sang Suami mengingatnya ketika ibu dan kakak tiri Abian menghadirkan cinta masa lalu pria itu? Dapatkah Abian mengingat tentang istrinya kembali?
Yuk, terus ikuti kisah rumah tangga Abian dan Zahira. Jangan lupa, like, komen, vote, dan giftnya.
Follow juga akun media sosial author
- IG: samudra_lee_19
- Samudra Lee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Abian sudah dibawa pulang ke rumah dan sekarang sedang beristirahat di kamarnya.
Zahira memang sedih karena ternyata Abian belum mengingat semuanya. Dan kini dokter bahkan menganjurkannya untuk tidak membahas tentang masa lalu yang Abian lupakan untuk sementara. Tapi, disisi lain, Zahira cukup bahagia karena menurut dokter kesehatan fisik Abian cukup baik.
Devita dan Inge saat ini sedang duduk di ruang tamu. Keduanya tampak kesal, karena meski ingatan Abian belum kembali, pria itu masih dalam kondisi sehat wal afiat.
"Tan, sampai kapan kita akan terus begini?" tanya Inge ketus. Dia sudah lelah harus terus berpura-pura menjadi wanita baik.
"Maksud kamu apa, Nge?" tanya Devita tak ketus.
"Maksudku, meski ingatan Abian belum kembali. Tapi, kalau aku dan Abian belum bisa menikah juga untuk apa? Aku tetap cuma bisa ngandelin uang yang dikirim sama Tante. Mana Tante makin pelit lagi ngasih uangnya," protes Inge.
"Heh, masih untung aku mau ngasih uang ke kamu. Padahal kerjaan kamu aja nggak becus. Bisa-bisanya kamu keceplosan dan memberitahu Abian bahwa dia dan Zahira sudah menikah," jawab Devita tak mau kalah.
"Tante kenapa bahas itu mulu sih? Aku kan udah bilang, aku keceplosan."
"Karena kamu juga terus membahas soal uang," jawab Devita enteng.
Inge menghela napas panjang. Kalau hubungannya dan Abian tidak segera mengalami kemajuan, bisa-bisa dia kehilangan kesempatan untuk morotin Abian.
"Tan," panggil Inge.
"Hm."
"Bagaimana kalau kita percepat rencana kita?"
"Maksud kamu?"
"Kita masukkan obat itu ke minumannya Abian sekarang saja, Tante. Gimana? Mumpung Si Abian sedang tidak sehat? Aku yakin, dia nggak akan curiga kalau kita masukin sesuatu ke minuman dia," jawab Inge. Dia sudah tidak sabar, ingin menjalankan rencana mereka.
Devita tampak berpikir.
"Ayolah, Tan! Kalau aku bisa tidur dengan Abian malam ini. Pasti si Zahira itu akan meninggalkan Abian dan meminta cerai. Dengan begitu, semua rencana kita bisa berjalan lancar kan?"
Lagi. Inge menyampaikan keinginannya untuk segera menjebak Abian segera.
"Sepertinya, rencana itu memang harus dipercepat. Apalagi, si tua itu belum bisa ditemukan sampai sekarang. Sebenarnya kemana sih Si Tua itu pergi?" batin Devita.
Ibu tiri Abian itu, terlihat gelisah dan tidak fokus.
"Tan, gimana? Kebetulan, aku udah bawa obatnya lho." Inge menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Berapa lama obat itu akan bereaksi setelah diminum?" tanya Devita.
"Udah deh, Tan. Gak usah pura-pura gak tahu. Aku tahu kok, Tante berhasil menikah dengan papanya Abian, juga karena obat itu kan?"
Devita melotot.
"Aku tahu semua hal tentang masa lalu Tante," tambah Inge dengan senyum smirknya.
"Baiklah. Lakukan itu sekarang! Aku akan suruh Si Zahira itu pergi ke pasar bersama Bik Darsih. Kamu harus secepatnya selesaikan misi itu. Usahakan, saat Zahira dan Bik Darsih pulang dari pasar, kamu sudah selesai menangani semuanya," jawab Devita.
Inge mengacungkan jempol, sebagai jawaban.
Diam-diam, ada seseorang yang mendengarkan rencana jahat mereka.
***
Sesuai dengan hal yang sudah direncanakan, Devita menyuruh Bik Darsih dan Zahira untuk pergi berbelanja.
"Ma, apa tidak bisa Bik Darsih saja yang pergi? Mas Abian sedang sakit, aku ingin mengurusnya meski cuma sebagai pembantu!" pinta Zahira. Dia tidak tega harus meninggalkan Abian yang dalam keadaan lemah. Apalagi, Zahira tahu, Inge tidak bisa diandalkan untuk membantu Abian.
"Kali ini Bik Darsih bawa belanjaan banyak, dia nggak mungkin kuat kalau sendirian," jawab Inge beralasan.
"Maaf, Nya. Bukannya, baru beberapa hari yang lalu, Nyonya menyuruh saya belanja bulanan untuk dapur?" tanya Bik Darsih.
Wanita yang sudah lama bekerja di Keluarga Reegan itu tahu betul watak Nyonyanya yang satu ini, Devita tidak akan sudi mengeluarkan satu rupiah pun, jika masih ada barang di dapur-barang yang dibutuhkannya di dapur.
"Dua hari lagi, perayaan ulang tahun putraku Armand. Jadi, pasti banyak barang-barang yang diperlukan. Kasihan dia, pesta ulang tahunnya terpaksa ditunda gara-gara Abian kecelakaan dan hilang ingatan," ujar Devita.
"Kamu belanja semua yang saya tulis di kertas ini, ini uangnya." Devita memberikan kertas bertuliskan barang-barang yang harus dibeli beserta sejumlah uang kepada Bik Darsih. "Sana buruan berangkat!" suruhnya.
"I–iya, Nya," jawab Bik Darsih. "Ayo!" Bik Darsih mengajak Zahira untuk ikut serta.
"Tap–"
"Non, ayo!" potong Bik Darsih. Dia menyuruh Zahira untuk segera mengikutinya.
Zahira menghela napas panjangnya. Ntahlah, dia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh mertuanya dan Inge.
"Sudah sana ikut Bik Darsih! Lagian kalau Abian butuh sesuatu kan ada Inge!" suruh Devita. Dia menoleh pada Inge yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Inge, tersenyum lebar. "Iya, Hira. Sana temani Bik Darsih, biar aku yang akan menjaga Mas Abian," jawab Inge.
Meski berat, Zahira tetap pergi bersama dengan Bik Darsih. Dia berharap, semoga hal buruk apa pun yang sedang direncanakan oleh mertuanya dan Inge, Allah akan melindungi suaminya tersebut.
Devita dan Inge tersenyum senang saat melihat Zahira sudah mehilang dari pandangan. Buru-buru, Inge menyiapkan minuman untuk diberikan kepada Abian. Tak lupa ia mencampurkan sesuatu pada minuman tersebut.
"Kamu yakin takarannya sudah pas?" Devita memastikan.
"Yakinlah, Tan. Segitu aja udah bisa bikin cowok kehilangan kendali. Tante lihat saja nanti," jawab Inge penuh percaya diri. "Tante juga pergi, gih dari sini. Biarkan aku dan Abian menikmati waktu berdua!" jawab Inge, sekaligus meminta Devita untuk pergi.
"Kamu yakin, bisa menjalankan rencana ini sendiri?"
"Tante tenang saja. Aku yakin bisa kok. Lagian memangnya Tante mau, dengerin aku teriak keenakan?"
Devita memutar kedua bola matanya. "Baiklah. Tante, pergi. Tante sudah suruh Armand untuk tidak pulang hari ini. Jadi, silakan puas-puasin tuh nikmatin tubuh Abian."
"Pasti, Tan," jawab Inge.
Devita pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Dia mempercayakan soal Abian kepada Inge. Selain itu, dia masih ada urusan lain. Yakni, mencari keberadaan Reegan. Bagaimanapun, ia harus segera menemukan pria itu sebelum pria itu menemui Abian ataupun Armand.
***
Tok! Tok! Tok!
Inge mengetuk pintu kamar Abian.
"Masuk saja, pintunya tidak dikunci!" suruh Abian dari dalam.
Inge pun masuk ke dalam kamar milik Abian tersebut.
"Mas, ini aku bawain minuman buat kamu," ucap Inge sambil menaruh gelas berisi jus jeruk itu di atas nakas.
Inge duduk di tepi tempat tidur milik Abian itu.
"Aku tahu kamu masih marah soal Zahira. Nanti, aku akan minta maaf langsung sama dia. Kalau perlu di depan kamu," ucap Inge. Dia ingat, terakhir kali Abian marah pada dirinya karena persoalan Zahira.
"Ayo diminum jusnya, jus baik lho untuk kesehatan!" bujuk Inge. Dia mengambil gelas yang ditaruhnya di atas nakas tadi dan menyodorkannya kepada Abian.
Abian menerima jus tersebut dari tangan Inge.
"Mas, ayo dong diminum. Aku udah buatkan itu penuh cinta lho!" bujuk Inge lagi.
Abian menatap Inge sebentar. Dia kemudian menempelkan bibir gelas tersebut di mulutnya. Tentu saja hal itu membuat Inge tersenyum lebar karena rencananya sebentar lagi akan terlaksana. Jadi, meskipun ingatan Abian kembali nanti, semua itu tidak akan lagi menjadi masalah.
to the point dan g bertele-tele.. 🥰🥰🥰
makasih banyak udah mau namatin kisah ini..
walopun aku jg bukan reader yg baik buat kakak, tapi aku tetap mendoakan kakak semoga tetap sehat selalu..
terus semangat berkarya dimanapun kakak berada dan semoga sukses selalu.. 💪🏻😘😍🥰🤩
semoga masih mau nerusin cerita yg belum selesai..
atau bikin cerita baru sampai tamat apapun hasil yg diterima..
aamiin.. 🤩🤩🤩
eh tau ding takut salah nnti dikatain sok tau ma kak othor 🤣🤣🤣