Apa jadinya jika niat balas dendam mu menyimpang dan menumbuhkan perasaan cinta?
Ikuti kisah Aurel si Penyamar dengan Nathan sang Rival
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon herlia ia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Nathan marah besar kala mengetahui Aurel pergi karena kehadiran Angel di rumah itu.
Dia bahkan tak menghiraukan tangisan Ethan yang ketakutan melihat emosi sang ayah karena baru pertama kali melihatnya.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk tinggal disini, hah?" salah satu kemarahan Nathan sebelum dia memutuskan pergi juga dari rumah itu sendirian selain karena Ethan menolak ikut dengannya sebab takut padanya juga karena Angel bersikukuh akan tinggal bersama sang anak dimanapun dia tinggal.
"Saya titip Ethan, bu" ucapnya pada Aminah saat berpamitan.
Dia ingat baru membeli mansion dan berencana tinggal disana untuk sementara sampai Angel pergi.
Toh Ethan juga siapapun belum mengetahui keberadaan mansion yang tadinya dia beli untuk dia hadiahkan untuk orang spesial. Dan itu adalah Aurel kala dia baru mengenalnya.
Entahlah.
Saat dia baru bertemu dengan Aurel, lalu melihat iklan penjualan rumah, dia seketika membayangkan akan menghadiahkannya pada seseorang yang dalam bayangannya saat itu terlintas wajah Aurel yang berkeringat karena berpanas panasan.
Tak sia sia dia membeli rumah mewah itu, meski harus tinggal seorang diri.
Beruntung rumah itu tetap dirawat meski tak ditinggali, dan kini dia memutuskan untuk tinggal di sana dalam waktu yang belum bisa ditentukan.
"Aurel.. kamu dimana..." lirihnya sambil menatap cincin yang ia rampas dari jemari Angel atas aduan Ethan yang sebelumnya mempertanyakan mengenai cincin untuk Aurel.
Dia mempertanyakan mengapa pengasuhnya itu tak memakai cincin pemberiannya. Apakah dia tak mau menjadi ibu Ethan? tanyanya dengan sendu.
Nathan justru tak menyangka jika Aurel menemukan dan menyimpan cincin yang sempat akan ia gunakan untuk melamarnya sebelum insiden tersedak itu.
Dan ia mengira cincin itu hilang.
Namun kini, saat ia melihat dan mengetahui jika selama ini Aurel menyimpannya, dia yakin jika Aurel pun menyimpan rasa untuknya.
"Bersabarlah nak. Dady akan benar benar membuatnya menjadi momy mu" monolognya seraya memasangkan cincin itu di jari kelingkingnya lantas tertidur dengan melengkungkan bibir.
Keesokan hari.
Nathan mendadak mengambil cuti karena ingin mengenal seluk beluk rumah barunya itu.
Nathan terkejut saat membuka laci lemari kayu yang berada di ruang tengah.
Dia lantas berlari ke kamarnya di lantai 2 dan mencari surat pemindahan kepemilikan rumah itu dan menyandingkan dengan foto yang dia temukan di laci, dimana di bagian belakang foto tertera sebuah nama bertuliskan..
A. Alma MK
"Aurel..." lirihnya menatap nanar foto wanita yang dicintainya itu.
Dia lantas menghubungi sebuah nomor
"Alfred, siapa sebenarnya pemilik mansion yang saya beli?" tanya Nathan langsung mencecar Alfred yang terdengar bergeming.
"Kamu... " Nathan menahan kekesalannya pada pengacara yang diyakini mengetahui keberadaan Aurel.
"Dimana dia sekarang?" akhirnya pertanyaan itu yang terlontar alih alih memarahinya.
"Datanglah ke PT. SUN CORP" dan hanya itu pula yang diucapkan sang pengacara.
Membuat Nathan ingin meremukkan benda pipih keluaran terbaru itu.
"Aaaaarrrrgggh.... pengacara sialan..." Nathan melampiaskannya dengan meninju udara.
"Tunggu.. SUN CORP? bukankah itu perusahaan Baron Mc Kenzie?" monolognya kala terfikir akan sesuatu.
Dia lantas kembali melihat nama di belakang foto remaja Aurel.
"A. Alma MK... Aurelia Alma Mc Kenzie... whoaa... I'll be damned.." Nathan menepuk jidatnya tak percaya dengan temuan itu.
"Ini akan semakin menarik" pikirnya.
Hari ini adalah hari pertama Aurel bekerja di perusahaannya sendiri.
Banyak yang harus dia benahi selepas Baron mengundurkan diri dari jabatannya.
Kekacauan itu Aurel tebak pastilah dikarenakan oleh si nenek lampir yang haus akan materi.
Hampir tiba waktunya makan siang, suara sekertaris melalui sambungan interkom terdengar.
"Maaf bu, ada tamu"
"Siapa?" tanya Aurel. Seingatnya tak ada yang mengetahui tentang kondisi internal perusahaan jika itu adalah kolega perusahaan.
"Beliau bilang jika dia adalah... majikan anda" jawab sang sekertaris sedikit menjeda.
Aurel mematung, seketika menghentikan kegiatannya.
"Bilang saya gak punya majikan"
jegrek
Jawaban Aurel tak membuat Nathan gentar. Dia langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan larangan dari sekertaris Aurel.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk mundur dari pekerjaanmu?" ucapnya tiba tiba.
Aurel sedikitnya terkejut dengan kedatangan Nathan.
Terutama sekarang dia mengeluarkan aura dinginnya dengan kedua tangan berada didalam saku celana.
"Saya sudah memberikan surat pengunduran diri, bukan?" jawab Aurel membuat sang sekertaris mengernyitkan dahi.
"Lihat? Dia memang karyawan saya" ucapnya pada sang sekertaris yang masih mencerna situasi membingungkan itu.
"Hh... kamu boleh keluar" titah Aurel pada sang sekertaris seraya menghela nafasnya frustasi.
"Karena kamu mangkir dari tugas, saya kasih kamu penalty-"
"Mana bisa begitu? saya sudah bikin surat pengunduran diri untuk kedua pekerjaan-" potong Aurel yang tak percaya dengan sikap Nathan yang bersikukuh.
"Saya menolaknya" potong Nathan membuat Aurel menghentikan perkataannya dalam posisi menganga.
"I can't believe it" keluhnya lantas menjatuhkan diri di kursi kebesarannya. Namun Nathan hanya mengedikkan kedua bahunya dengan tangan masih didalam saku celananya.
Dia lantas menarik kursi di seberang meja dan duduk tanpa dipersilahkan.
"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?" tanya Aurel karena Nathan tampak bersantai saat perusahaannya sedang sibuk mempersiapkan beberapa proyek.
"Menunggumu pulang" jawab santai Nathan yang memainkan cincin di jari kelingkingnya.
"Yang benar saja.. bukankah anda banyak pekerjaan? jangan bilang kalau anda mengabaikan pekerjaan anda demi mengejar pengasuh anak anda" cibir Aurel. Namun Nathan lagi lagi bersikap cuek dengan mengedikkan sebelah alis dan bibirnya.
"Justru itulah saya kemari. Pengasuh itu membuat kekacauan dengan kabur begitu saja dan membuat saya mengabaikan pekerjaan saya. Tentu saya harus mengejarnya karena dia mencuri sesuatu dari rumah saya" jawab Nathan masih memainkan cincin yang kini Aurel perhatikan.
"Bukankah anda sudah mendapatkannya?" tunjuk Aurel pada cincin yang dikenakan Nathan. Dia sedikitnya merasa tersinggung dianggap mencuri.
Seharusnya dia tak memungut cincin itu pikirnya.
"Maksudmu ini?" Nathan mengangkat telapak tangannya dan menunjukkan cincin yang tersemat di jari kelingkingnya.
"Ada yang lebih berharga dari ini" lanjutnya.
Aurel semakin dalam mengerutkan dahi.
"Hatiku"
tp mmg hrs tahan sp halal dl ya/Smile/