Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.
Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?
"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM'A_part 29
"Sudah berapa bulan?" langkah kaki tertutup gamis yang dilanjut kaos kaki panjang itu berjalan menyusuri jalanan komplek sore hari. Bukan, tepatnya seperti perkampungan, dengan banyak gang yang bikin pusing kalo ngga hafal-hafal banget!
"3 kak." jawabnya pelan, saking pelannya Aisya harus menjelikan pendengaran sampai ke hati nurani.
"Wah, sehat-sehat ya! Kira-kira, si utun mau aku beliin cilok engga?" tanya Ai mengusap perut Husna yang masih rata, ia juga menunjuk gerobak cilok yang tengah dikerubungi anak-anak kecil.
Senyuman hangat Ai meluruhkan air mata Husna yang sejak tadi menggelayuti pelupuk mata, ia tiba-tiba menghambur memeluk Ai dan menumpahkan tangisannya.
"Eh,"
Ai membiarkan Husna menangis meskipun kini ia diserang tatapan orang sekitar yang melihat keduanya keheranan, mungkin mereka akan menganggap jika Husna menangis karena lelaki, meskipun mereka tak sepenuhnya salah.
"Aku tuh salah, udah bikin malu keluarga, udah bikin malu mamah sama papah. Aku juga ngga nyangka Erja kaya gini....aku tuh udah ngikutin hawa nav suu. Aku mau-maunya merendahkan harga diri aku karena suka sama Erja..." tangisnya tergugu namun sampai sesenggukan, menandakan begitu dalam rasa penyesalan dan kekecewaan yang dirasakan Husna saat ini.
Aisya mengangguk dengan senyuman getir melihat tatapan orang-orang yang menatap keduanya heran.
"Cari tempat duduk yuk. Biar ngga pegel. Kasian juga si utun, katanya pegel..." kekehnya berkelakar, tak ayal selorohan itu diangguki Husna.
Ia menegakan badan dan segera menghapus air mata di wajahnya meskipun tetap saja mukanya terlihat memerah dan sembab.
Bahu jalan mereka gunakan sebagai tempat beristirahat sejenak sambil santai, dua cup minuman blender berperisa susu dan dua bungkus plastik cilok menjadi kudapan pengiring obrolan keduanya.
Jika Ai sudah menusukan tusukan ke arah bola-bola aci berbumbu kacang itu lalu melahapnya, maka yang dilakukan Husna hanya melihat nyalang seraya mengaduk-aduk saja.
"Mama....jangan cuma diliatin. Aku mau loh...bola-bola kenyalnya..." Aisya menirukan suaranya persis anak bayi, membuat lamunan Husna buyar dan gadis itu terkekeh kecil, "kak Ai.."
"Semua sudah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu, dan biarkan menyisakan hikmah yang kemudian kamu dan Erja petik." Tatapnya sambil mengulas senyuman.
Ai menyedot minuman susu rasa mangga yang gelas plastiknya meninggalkan embun dingin, "alhamdulillah seger...padahal minuman murah, ya?!" kekehnya terkikik dengan hal receh.
Aisya kembali melihat Husna yang belum jua keluar dari zona mendungnya, "tak akan ada manusia yang langsung sukses tanpa jatuh terlebih dahulu. Tak akan ada kata hidayah jika tidak melewati cobaan. Begitupun kamu dan Erja, aku dan Ernest."
"Sejatinya, manusia itu gudangnya kesalahan. Tapi, bagaimana Allah menguji akal pikiran yang telah ia berikan untuk makhluk se spesial manusia, dengan cara mengujinya. Apakah setelah kesalahan yang kamu perbuat, lantas kamu akan menutupi kesalahan dengan kesalahan lain? Apakah setelah kamu melakukan kesalahan, apakah kamu akan belajar untuk tidak mengulang?" Kini Husna menatap Aisya dengan redup.
Diusapnya punggung Husna oleh Ai, "bukan kamu yang paling berdosa di dunia ini. Belum terlambat untuk meminta ampun, pada zat yang Maha Pengampun...insyaAllah Allah akan permudah jalannya...kamu ngga sendiri,"
Husna tersenyum menghapus sisa-sisa air matanya.
"Udah coba di usg? Gimana, udah segede apa, pasti lucuuuu!" gemas Ai memancing tawa kecil Husna, ia menatap perut ratanya dengan sayang, "iyaaa...dia lucu kak, kecil banget. Fotonya masih ada di buku diary aku."
"Beneran? Boleh dong aku liat?!" seru Ai.
Kedua manusia yang kini menjadi sorot utama para keluarga yang hadir itu menikah secara sederhana. Meskipun sah di mata agama masing-masing, dan harus dua kali mengucap janji setia.
"Alhamdulillah," Ernest terlihat komat-kamit melafalkan kalimat syukurnya, begitupun Aisya, namun entah....ada rasa mengganjal di hati Ai untuk ini, apakah Erja akan menjadi imam yang benar untuk Husna, tentunya tidak, mengingat perbedaan keyakinan keduanya.
"Bby, terus yang mau bimbing Husna siapa?" tanya Aisya berbisik mengalihkan pandangan Ernest, "ibu guru.." jawabnya memancing Aisya untuk mendaratkan pukulan telak di bahunya.
"Serius ih!" kesal Aisya, Ernest tertawa renyah lalu berdehem dan mengubah air mukanya, "apa segini kurang serius?!" wajahnya mendekat dan alisnya naik sebelah, kembali itu memancing pukulan telak di bahunya, "hubby!" bentaknya, sontak saja adegan itu membuat orang-orang menoleh pada keduanya. Aisya ikut terkejut dan langsung membekap mulutnya sendiri, "kamu mah ih!" bisiknya mendelik pada Ernest.
"Iya ibu guru, ibu gurunya itu wanita-wanita yang mengerti, pihak keluarga yang juga paham, mereka wajib membimbing Husna, selama Erja masih berbelok....do'akan saja dia dapet hidayah kaya aku dulu, biar bisa bimbing istrinya till jannah secepatnya...." ucap Ernest kini beranjak ingin mengambil potret kebersamaan keluarganya dan pasangan pengantin.
Ai sedang mengambil potongan buah untuk Ernest, ketika tak sengaja ia melihat pasangan pengantin baru "Aku mau tinggal di rumah ayah, Ja."
Erja hanya menggidikan bahunya acuh, dengan lengkungan mulut yang menandakan jika ia tak peduli, "serah lo. Tapi gue tetep di rumah grandpa." Jawabnya.
Husna menunduk dengan sorot mata getir, mungkin matanya masih kuat menahan butiran air panas, namun ia tak tau mampu sampai kapan.
"Udah gue bilang kan, mau lo gimana pun gue udah ngga peduli. Dan pernikahan ini cuma karena gue ngikutin mau abang sama keluarga gue, jadi jangan berharap lebih sama gue..."
Double kill, jangankan Husna...Aisya saja yang mendengar merasa hatinya teriris, jika sampai itu terjadi padanya dan dilakukan Ernest.
Erja berlalu meninggalkan Husna ke arah lantai atas, padahal di ruang depan sana masih banyak anggota keluarga berkumpul termasuk keluarga Husna.
Aisya terpaksa menaruh piring kecil berisi potongan buah di meja, lalu menghampiri Husna.
"Na, lagi ngapain? Yang lain masih rame loh di depan...ke depan yuk!" ajak Ai tersenyum, netra bening itu terlihat berkaca-kaca, dan sejurus kemudian gadis itu tak dapat membendung lagi rasa sedih dan kecewanya.
Tubuhnya menghambur memeluk Ai, "mungkin ini hukuman Husna ya teh..." ucapnya sesenggukan.
Aisya membalas pelukan itu, "bukan hukuman. Tapi ujian, Allah tuh mau nguji kamu sama Ernest...seberapa kuat tekad kamu untuk meluluhkan Erja, dan seberapa kuat Erja bertahan dengan sikap kerasnya, semoga Allah melembutkan hati Erja...."
"Aku percaya, Erja itu manusia, hatinya bukan terbuat dari batu...maka lambat laun pasti akan lembut jua...hanya butuh usaha dan do'a."
Sebuah kecupan mendarat di kepala Aisya, membuat wanita itu terkejut begitupun Husna ketika mendongak pelakunya.
"Maaf, kalau saya belum bisa mendidik Erja dengan benar....insyaAllah kita usaha sedikit-sedikit. Bukan hanya kamu, tapi kita semua," ucap Ernest. Aisya menatap meminta penjelasan, tanpa berniat menjawab, Ernest meminta keduanya kembali ke ruang tengah bergabung dengan yang lain.
"Dari tadi aku ngga liat Ersa, by...kemana dia?"
Ernest mengangguk setuju, begitu sibuknya mereka mengurus pernikahan Erja sampai lupa dengan Ersa.
.
.
.
.
penasaran ending nya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin