Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 gosip
Awal Juni tiba, membawa hawa panas yang mulai menyengat Desa Wu. Di sepanjang hamparan sawah, bulir-bulir padi merunduk padat mendatangkan harapan panen raya bagi para petani.
Di bawah terik matahari, Nara berjalan beriringan bersama Yan Ning dan Nyonya Mu menyusuri pematang. Langkah mereka mendadak terhenti saat berpapasan dengan dua orang wanita paruh baya yang sedang membawa cangkul.
Salah satunya, Bibi Tini, langsung menghentikan langkah dan menatap heran ke arah ketiganya. Jam makan siang begini, kenapa ibu dan anak ini malah kelayapan di luar rumah?
"Nyonya Mu, sudah makan belum? Mau pergi ke mana siang-siang bolong begini?" tanya Bibi Tini penasaran.
Nyonya Mu meremas ujung bajunya cemas, lalu memaksakan sebuah senyuman kaku. "Eh, sudah kok, Bibi Tini. Ini kami... mau ke bukit sebentar, cari sayuran liar buat tambahan."
Nara dan Yan Ning kompak menyapa sopan, lalu kembali berdiri diam di samping ibunya.
Bibi Tini mengernyit heran, merasa alasan itu sangat janggal karena tidak ada petani yang mencari sayur liar di jam makan siang.
Melihat keraguan di wajah wanita itu, Nara sengaja memasang raut cemas. Dia menarik pelan ujung baju Nyonya Mu lalu berbisik, tetapi dengan volume yang sengaja dikeraskan.
"Ibu, ayo cepat jalan. Nanti kalau Ayah tahu kita mengobrol di sini, beliau pasti mengira kita sedang mengadu yang tidak-tidak," ucap Nara pelan namun tajam. "Bisa-bisa nanti malam kita dihukum tidak dikasih makan lagi."
Yan Ning yang tanggap langsung menyahut dengan wajah melas. "Iya, Ibu. Kalau kita telat, kulit pohon di bukit bisa habis diambil orang lain. Perutku sudah perih sekali, padahal nanti aku masih harus mencuci tumpukan baju milik Ibu Kedua."
Mendengar penuturan polos itu, dua wanita paruh baya di depan mereka langsung bertukar pandang dengan mata membelalak.
Wajah Nyonya Mu seketika memerah menahan malu. Dia buru-buru berpamitan kaku lalu menarik kedua putrinya untuk segera menjauh dari sana.
"Tega sekali si Yan Shong itu! Benar-benar tidak punya hati sampai membiarkan istri pertama dan anak-anaknya kelaparan!" cibir Bibi Tini begitu ketiganya menjauh.
"Iya, keterlaluan sekali. Padahal anak-anak dari istri keduanya semuanya gemuk dan terurus," timpal temannya menggelengkan kepala. "Mau sekutuk apa pun si Nara Jari Enam itu, perlakuan Keluarga Yan sudah kelewat batas."
Suara gunjingan yang perlahan memudar di belakang membuat sudut bibir Nara terangkat puas.
Nyonya Mu akhirnya menyadari siasat cerdas putri sulungnya itu. Dia menatap Nara dengan pandangan bimbang. "Ara..."
"Ibu, aku tidak berbohong atau menyebar fitnah, kok," kilas Nara sambil menjulurkan lidah dan mengeripkan matanya jenaka. "Mata warga desa itu sangat jeli."
Nara tidak memanipulasi apa pun, dia hanya menyampaikan fakta yang terjadi. Karena Keluarga Yan sangat gila hormat dan menjaga reputasi, Nara sengaja memberi mereka pelajaran kecil sebagai pengganti jatah makannya yang ditahan.
"Benar, Ibu. Biar semua orang tahu bagaimana tabiat asli orang-orang di rumah utama," dukung Yan Ning bersemangat.
Nara tersenyum lalu menggandeng erat tangan adiknya menanjak ke arah bukit. Nyonya Mu hanya bisa mengembuskan napas panjang melihat kekompakan mereka, pasrah dengan apa pun konsekuensinya nanti.
Sore harinya, dampak dari ucapan Nara langsung terasa di seisi desa. Begitu anggota Keluarga Yan keluar rumah, penduduk desa langsung menunjuk-nunjuk mereka sambil berbisik sinis.
Karena tidak tahan menahan malu akibat cibiran sosial, orang-orang dari rumah utama itu akhirnya buru-buru pulang dengan wajah merah padam.