NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal yang Abadi

Enam bulan telah berlalu sejak hari itu—hari di mana kebenaran terungkap, keadilan ditegakkan, dan sebuah janji suci diucapkan di tengah lorong sepi namun penuh makna itu. Kota Meksiko kini bersinar lebih terang, seolah ikut merayakan kebahagiaan dua jiwa yang telah melewati badai besar demi menemukan satu sama lain. Nama Mario Whashington kembali berdiri tegak, namun maknanya kini berbeda. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai orang terkaya atau pengusaha paling berkuasa. Ia kini dikenal sebagai pria yang berani menanggalkan segala kemegahan demi mencari cinta sejati, dan yang akhirnya menemukannya.

Kisah mereka telah menjadi legenda di kota ini. Kisah tentang raja bisnis yang menjadi pendamping bayaran, tentang pengacara cerdas yang jatuh hati pada pria yang ia kira tidak punya apa-apa, tentang kebohongan yang berujung pada kebenaran, dan tentang cinta yang mampu menaklukkan segalanya. Banyak orang terkejut, ada yang kagum, ada yang tidak percaya, namun tak satu pun yang bisa menyangkal kebahagiaan yang memancar jelas dari kedua mata mereka setiap kali mereka terlihat bersama.

Siang itu, di taman luas di kediaman pribadi Mario—tempat yang dulu sepi dan dingin, kini penuh dengan warna-warni bunga dan tawa—persiapan sedang berlangsung sibuk namun gembira. Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Bukan pernikahan megah dan boros yang biasa diadakan kalangan elit, melainkan pesta yang hangat, intim, dan penuh makna. Hanya orang-orang terdekat yang hadir: keluarga, sahabat, dan rekan kerja yang setia. Tidak ada wartawan, tidak ada kamera berkedip tanpa henti, tidak ada intrik politik atau bisnis. Hanya cinta, kebahagiaan, dan perayaan atas penyatuan dua hati.

Valerie berdiri di depan cermin besar di kamar yang disiapkan khusus untuknya hari ini. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih, sederhana namun mempesona, dengan rambut panjangnya terurai indah di bahu. Wajahnya bersinar, mata cokelatnya berkilat bahagia, namun ada sedikit getaran gugup yang menyenangkan di dadanya. Ia memikirkan perjalanan panjang yang telah ia lalui sejak malam itu di Vela Nera. Siapa sangka, pertemuan yang ia kira sekadar pelarian sesaat, ternyata adalah takdir yang telah disiapkan semesta untuknya.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Javier Ruiz masuk sambil tersenyum lebar, membawa sekeranjang bunga mawar putih. Pria itu adalah salah satu saksi pernikahan, dan tak henti-hentinya menggodanya sejak pagi.

"Cantik sekali, Nona Nyonya Whashington," goda Javier lembut, mendekat dan membenarkan sedikit letak kerah gaun Valerie. "Siapa sangka? Dulu kau yang selalu mengomeliku karena terlambat atau ceroboh, sekarang kau akan menjadi wanita paling berkuasa sekaligus paling bahaya di negara ini. Kau berhasil menaklukkan raja bisnis paling sulit didekati di benua ini. Beri tahu aku rahasianya, apa jurus andalanmu? Apakah dengan bersikap ketus dan tidak terkesan sama sekali saat pertama bertemu?"

Valerie tertawa renyah, menampar pelan lengan temannya itu. "Jangan ngaco. Semua ini bukan karena jurus apa pun. Ini karena kejujuran, Javier. Meski awalnya penuh kebohongan, tapi pada akhirnya kami berdua jujur pada perasaan kami sendiri."

Wajah Valerie berubah sedikit lebih serius namun penuh kelembutan saat menatap bayangannya di cermin. "Aku dulu takut sekali, kau tahu. Takut bahwa semua ini hanya mimpi, takut bahwa suatu saat topeng lain akan muncul, takut bahwa aku tidak cukup kuat hidup di dunianya yang besar dan berbahaya itu. Tapi Mario... dia mengajarkanku bahwa dunia besar itu tidak menakutkan selama kita berjalan bersama. Dia mengajarkanku bahwa harta paling berharga bukanlah yang ada di bank, tapi yang ada di hati."

Javier mengangguk setuju, menatap temannya dengan pandangan haru. "Dia berubah, kau tahu. Sejak dia bersamamu, sejak dia membuka topengnya... Mario terlihat lebih hidup. Dulu, namanya selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kekejaman, dan kesepian. Sekarang? Namanya dikaitkan dengan senyum, kebaikan, dan cinta. Kau tidak hanya memenangkan hatinya, Val. Kau mengubah seluruh dunianya menjadi lebih indah."

Di sisi lain taman, di bawah naungan pohon besar yang dihiasi ribuan lampu kecil berkilauan, Mario berdiri menunggu di samping pendeta. Ia mengenakan jas hitam elegan yang pas di badan, namun rambutnya sedikit berantakan seperti biasa, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa. Ricardo De La Vega berdiri di sampingnya sebagai pendamping, sesekali menepuk bahu Mario yang terlihat gelisah—sangat gelisah.

"Tenanglah, kawan," bisik Ricardo sambil tertawa kecil. "Kau sudah menaklukkan bisnis raksasa, mengalahkan musuh bebuyutan, dan menghadapi ribuan orang. Tapi sekarang, menunggu satu wanita saja kau sudah berkeringat dingin?"

Mario tersenyum malu, mengusap wajahnya dengan tangan gemetar sedikit. "Ini berbeda, Ricardo. Semua hal lain itu... itu soal strategi, soal kekuatan, soal hitungan. Tapi ini... ini soal hati. Ini soal menghabiskan sisa hidupku dengan satu orang. Ini satu-satunya hal yang paling penting, satu-satunya hal yang tidak boleh aku buat salah sedikit pun."

Ia menatap sekeliling taman yang indah, tempat yang telah ia persiapkan sendiri dengan sangat teliti. Setiap bunga, setiap hiasan, setiap nada musik yang akan mengalun, semuanya dipilihnya sendiri, mengingat hal-hal kecil yang pernah diceritakan Valerie padanya saat masih menjadi pendamping di klub malam dulu. Kenangan-kenangan sederhana itu kini menjadi bagian terindah dari hidup mereka.

"Aku pernah berpikir aku gila," gumam Mario pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Meninggalkan semua kemewahan, menyamar menjadi orang biasa, mengambil risiko kehilangan reputasi dan segalanya... demi mencari seseorang yang mencintaiku. Tapi saat aku melihat Valerie berjalan masuk ke hidupku... aku sadar itu bukan kegilaan. Itu adalah keputusan paling bijak yang pernah aku buat dalam hidupku. Jika aku tidak melakukannya, jika aku tetap menjadi Mario Whashington yang angkuh dan tertutup... aku tidak akan pernah bertemu dengannya. Aku akan hidup kaya raya tapi sepi sampai tua."

Ricardo menatap sahabatnya dengan penuh rasa hormat. "Kau menemukan apa yang tidak bisa dibeli oleh uang, Mario. Dan itulah sebabnya kau jauh lebih kaya dari siapa pun di dunia ini."

Suara musik lembut mulai mengalun perlahan. Semua tamu bangkit berdiri, menatap ke arah jalan setapak yang dipenuhi kelopak bunga mawar putih. Di sana, di ujung jalan itu, tampak Valerie berjalan perlahan. Diapit oleh sinar matahari sore yang lembut, wanita itu berjalan dengan anggun, wajahnya bersinar indah, matanya terkunci lurus ke arah Mario.

Bagi Mario, dunia di sekelilingnya mendadak menghilang. Tidak ada tamu, tidak ada taman, tidak ada apa pun. Hanya ada Valerie. Wanita yang menjadi awal dan end dari segalanya. Jantungnya berdegup kencang, mata cokelatnya berkaca-kaca karena haru. Ia merasakan air mata bahagia menetes di pipinya—air mata yang belum pernah ia keluarkan sejak lama, air mata yang hanya pantas untuk wanita ini.

Valerie sampai di hadapannya. Di bawah naungan pohon besar itu, di hadapan orang-orang terkasih, mereka berdiri berhadapan, saling menatap dalam diam sejenak. Di mata mereka, terbaca seluruh perjalanan panjang yang telah dilalui: rasa penasaran, kekaguman, kemarahan, kebingungan, ketakutan, perjuangan, hingga akhirnya ketenangan dan kepastian mutlak.

Pendeta memulai upacara dengan suara tenang, namun kata-katanya seolah tenggelam dalam tatapan mereka berdua. Saat tibanya saat untuk mengucapkan janji suci, Mario maju selangkah, menggenggam kedua tangan Valerie erat di tangannya yang besar dan hangat.

"Valerie..." suaranya terdengar sedikit serak namun jelas dan tegas, terdengar oleh semua yang hadir namun seolah hanya ditujukan untuk satu telinga itu saja. "Aku pernah berjanji padamu dulu, saat kita masih berjalan dalam kegelapan dan kebohongan... bahwa aku akan mencintaimu apa adanya. Dan hari ini, di bawah cahaya matahari ini, dengan segala kebenaran dan kejujuran, aku mengulangi janji itu. Aku Mario, baik sebagai pria sederhana yang pernah mendengarkan ceritamu di klub malam, maupun sebagai pria yang memiliki segalanya di dunia ini... menyerahkan seluruh hidupku padamu."

Ia mengangkat tangan Valerie, mencium punggung telapak tangannya.

"Aku berjanji akan selalu menjadi pendengar setiamu, seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku berjanji akan selalu melindungimu, seperti saat aku berani menghadapi bahaya apa pun demi keselamatanmu. Aku berjanji akan selalu jujur padamu, tidak ada lagi topeng, tidak ada lagi rahasia. Aku berjanji akan mencintaimu bukan karena apa yang kau berikan padaku, tapi karena siapa kau—wanita yang berani, cerdas, hangat, dan yang mengajarkanku arti kehidupan yang sebenarnya. Kau adalah harta terbesarku, Valerie. Lebih berharga dari seluruh kekayaan, tanah, dan nama besar yang aku miliki. Dan aku akan menjagamu selamanya."

Air mata mengalir deras di pipi Valerie, namun senyumnya begitu indah hingga membuat suasana di sekitar terasa lebih cerah. Ia membalas genggaman tangan Mario dengan kekuatan penuh cintanya.

"Dan aku, Mario..." jawabnya dengan suara lembut namun bergetar karena emosi yang meluap. "Aku yang dulu mengira kau hanyalah pria biasa yang tidak punya apa-apa, aku yang sempat marah dan kecewa saat tahu siapa kamu sebenarnya... hari ini berdiri di sini dengan penuh rasa syukur dan bangga. Aku berjanji akan selalu bersamamu, menemanimu melewati dua duniamu—baik saat kau ingin menjadi pria sederhana yang berjalan-jalan santai, maupun saat kau harus menjadi pemimpin besar yang bertanggung jawab atas banyak hal."

Ia mengusap wajah tampan itu dengan penuh kasih sayang.

"Aku berjanji akan menjadi pasangan setaramu, pendamping setiamu, dan rumah tempatmu selalu pulang. Aku berjanji tidak akan pernah memandangmu hanya dari apa yang kau miliki, tapi selalu dari apa yang ada di hatimu yang baik dan jujur. Kau mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak melihat pangkat atau harta, Mario. Kau membuktikannya dengan cara yang paling gila namun paling indah. Dan aku berjanji akan mencintaimu, menghargaimu, dan tetap setia padamu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun sederhana, sampai maut memisahkan kita."

Saat cincin dipakaikan satu sama lain, saat bibir mereka akhirnya bertemu dalam ciuman suci yang penuh janji, tepuk tangan dan isak tangis bahagia meletus di sekeliling mereka. Di bawah pohon itu, di tengah taman yang indah, dua jiwa yang pernah terpisah oleh identitas dan rahasia kini bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh dan abadi.

Matahari mulai terbenam, melukis langit dengan warna jingga dan ungu yang mempesona, seolah melukis akhir kisah indah sekaligus awal dari perjalanan panjang mereka. Mario merangkul pinggang Valerie, memeluk istrinya itu erat sambil menatap ke luar jendela taman yang luas dan terbuka. Tidak ada lagi dinding pembatas, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan.

"Maukah kau berjalan-jalan denganku, Nyonya Whashington?" bisik Mario di telinga istrinya, nada bercandanya kembali muncul namun penuh kelembutan. "Mungkin suatu saat kita bisa kembali ke tempat itu, ke Vela Nera. Bukan untuk menyamar lagi, tapi hanya untuk mengingat kembali dari mana semuanya bermula. Mengingat kembali bagaimana aku jatuh cinta padamu saat kau dengan galak menasihatiku agar tidak terlalu sok tahu."

Valerie tertawa renyah, bersandar nyaman di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang kini menjadi detak jantungnya juga.

"Boleh saja," jawabnya sambil mendongak menatap wajah Mario. "Tapi kali ini, kau yang akan menjadi pendampingku sepenuhnya. Kau yang akan mendengarkan semua ceritaku, kau yang akan menemaniku ke mana saja, dan kau yang akan tetap di sisiku selamanya. Tanpa bayaran apa pun, hanya dengan cintamu saja."

Mario mencium kening istrinya dalam-dalam, menatap masa depan yang terbentang cerah di depan mereka—masa depan yang penuh cinta, kebenaran, dan kebebasan.

"Tentu saja," jawab Mario lembut dan penuh kepastian. "Selamanya, Valerie. Selamanya."

Dan di sana, di tengah kemegahan yang kini terasa indah karena cinta, Mario Whashington sadar sepenuhnya: bahwa menjadi orang terkaya di Meksiko tidak ada artinya dibandingkan menjadi orang yang paling dicintai oleh wanita yang paling berharga di dunia. Dan kisah mereka—kisah tentang topeng yang dilepas dan cinta yang ditemukan—akan terus hidup, menjadi bukti abadi bahwa cinta sejati memang ada, dan ia akan selalu menemukan jalannya, apa pun rintangan dan kebohongan yang ada di antaranya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!