Cantika sudah hancur. Dia tidak punya apa-apa lagi setelah suaminya diambil oleh adiknya, bahkan nama baiknya pun tercoreng.
Berat untuk menjadi sosok baru, bahkan membuatnya menyerah. Namun, Hanafi membantunya untuk bangkit.
Sayangnya, masalalu pria itu datang dan membuat semua impiannya kembali hancur.
Haruskah dia bertahan atau lebih baik dia pergi mencari ketenangan diri.
Cintaku memang hanya untuk-Mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
Secara mengejutkan tamu tidak pernah berhenti datang selama tiga hari ini. Mulai dari pejabat daerah setempat walau itu tingkah Kecamatan, kepolisian dan yang paling banyak adalah orang berpakaian preman dan mafia. Padahal tidak ada undangan disebar, Cantika bertanya dalam hati 'Sebegitu 'kah dihormatinya lelaki itu di masyarakat banyak? Walau sosoknya terlihat biasa saja dan tampil apa adanya.'
Sesekali, Cantika melempar pandangan pada Hanafi yang terlihat santun menerima para tamunya. Cara perlakukan pada orang-orang itu berbeda, kalau pada orang biasa dia lebih cenderung bebas, ya dia selalu mengikuti gaya orang yang dia temui.
Pria itu tidak ingin Cantika kerepotan untuk urusan ini. Jadi dia memanggil Savitri dan Ryan untuk mengurus konsumsi dan semuanya. Hanafi pun menolak untuk memberitahu Farida jika butuh bantuannya untuk urusan konsumsi, mereka lebih memilih memesan penjual makanan di sekitar untuk melayani para tamu yang datang. Seperti penjual bakso, soto, kwetiau dan ketoprak.
Aneh menurut Cantika karena rumah mereka sekarang lebih mirip seperti deretan stand makanan di pinggir jalan. Namun, dia suka dengan ide Hanafi. Katanya agar semua orang kebagian rejekinya.
Alisha terlihat senang bermain dengan Faza, anak balita dari Savitri. Walau Alisha hanya bisa duduk di tempat karena belum boleh banyak bergerak, tapi Faza terlihat tenang. Sesekali tawanya terdengar keras ketika Alisa menggodanya.
Baru saja selesai sholat duhur bersama dengan pedagang yang berjaga di stand makanan depan. Dia memilih duduk di kursi makan sambil melihat Alisha yang sedang asik bermain bersama dengan anak Savitri.
"Makan dulu ini Lae (kakak ipar), Uda yang menyuruhku membawa ini," kata Savitri menyerahkan semangkuk bakso panas di depan Cantika. "Katanya Lae belum makan dari tadi pagi."
Cantika tersenyum, pria itu terlihat diam tapi memperhatikan semua hal. Bahkan tahu jika dia belum makan sama sekali dari pagi tadi.
"Sepertinya Lae, harus membuat adik dengan cepat untuk Alisha," ujar Savitri.
"Aku belum memikirkan itu, biarkan semua mengalir apa adanya dulu," jawab Cantika.
"Tapi harus cepat Lae karena umur Uda sudah banyak."
"Aku wanita dan aku hanya menerima dan semua tergantung pada yang memberi," jawab Cantika.
"Memberi apa Lae? Malam pertamanya sudah atau belum?" tanya Savitri.
Cantika terlihat bingung untuk menjawab.
"Karena tamu banyak hingga malam serta kami berdua lelah dan juga kau tahu aku tidak bisa meninggalkan Alisha tidur sendiri di kondisi kesehatannya yang belum pulih benar. Jadi Uda menyuruhku untuk tetap tidur dengan Alisha." Cantika tersenyum hambar sambil menaikkan bahunya sedikit.
"Oh!" Hanya itu tanggapan dari Savitri seperti tidak terkejut sama sekali.
"Lae, aku akan keluar dulu, ya? Memeriksa apakah makanan masih aman, tapi tamu sepertinya mulai sepi. Sepertinya masih cukup persediaannya," kata Savitri pergi.
"Adek, Alisha, titip Faza sebentar ya, Boru mau keluar, melihat tamu."
"Okey," jawab Alisha.
"Lae, aku titip anakku dulu ya."
"Kau tenang saja, nanti akan ku bawa padamu kalau dia menangis," jawab Cantika.
Savitri lalu pergi keluar. Cantika lalu mendekat ke arah Alisha sambil membawa mangkuk bakso.
"Kau mau?" tawar Cantika.
"Ehm, tadi sudah 'kan?" ujar Alisha.
Faza mendekat ke arah Cantika, ingin meraih mangkuk di tangannya.
"Mamam ... mamam .... mamam...."
"Lihat Ibu, Faza ingin ikut makan," tunjuk Alisha.
"Dia belum boleh makan ini, Sayang," terang Cantika. Dia lalu meletakkan mangkuk jauh dan pergi mengambil roti yang dirasa aman untuk balita.
"Kau makan ini dulu saja, ya." Bukannya senang, Faza malah mulai rewel.
"Aduh, Bu adiknya menangis, digendong biar diam."
Cantika yang dulu lebih sering menitipkan Alisha pada pengasuh bingung untuk mengatasi anak kecil yang rewel. Dia merasa tidak enak kalau membuat anak orang menangis.
Akhirnya dia mencoba menggendong Faza dengan menggoyangkan tubuhnya seperti pengasuhnya dulu melakukan itu pada Alisha ketika menangis. Bukannya berhenti malah semakin keras suara tangisannya.
Wajah Cantika seketika memucat. Savitri terlihat berlari kencang mendekati mereka dan meraih Faza dengan cepat serta sedikit kasar.
"Tenang, Sayang," kata Savitri menenangkan putranya.
"Lae apakan dia sampai menangis seperti ini?" tuduh Savitri dengan mimik muka tidak senang.
"Aku ... dia ...," ucapnya panik dan bingung.
"Kalau tidak mau kutitipi bilang saja, aku akan bawa dia tadi!" potong Savitri dengan raut kesal.
"Ada apa ini?" tanya Hanafi yang sudah masuk ke ruang tengah.
"Entah apa yang istri Uda lakukan hingga Faza menangis seperti ini. Padahal baru saja aku tinggal keluar melihat persediaan makanan untuk para tamu. Uda tahu kan mengurus ini tidak mudah!"
Mata Cantika sudah memerah dan berkaca-kaca. Bibirnya mengatup rapat.
"Cantika! Apa yang terjadi? Mengapa Faza bisa menangis sekencang itu?" perintah Hanafi.
"Orang jahat tetap saja jahat!" gumam lirih Savitri, tapi masih terdengar semua orang.
"Savitri! Jaga bicaramu! Dia istri Uda, kau harus menghormatinya."
"Aku tidak tahu Uda menikahinya karena apa? Namun seekor ular tidak mungkin akan menjadi kupu-kupu yang cantik!" tegas Savitri.
"Cantika, minta maaf pada Savitri."
Tenggorokan Cantika seperti tercekat. Dia menatap tidak percaya pada Hanafi. Tanpa bertanya terlebih dahulu apa permasalahannya, pria itu malah menyuruhnya minta maaf.
"Cantika!" sorot mata Hanafi mulai menanam.
Sulit sekali mengatakan Maaf untuk sesuatu kesalahan yang tidak kita lakukan. "Maaf, Dek." Hanya itu yang Cantika katakan. Dia langsung membalikkan tubuh, memilih menggendong Alisha naik ke atas. Alisha yang menghadap ke belakang Cantika, menatap bengong ke arah orang-orang itu.
Cantika sendiri mengusap air mata yang terlanjur menetes tanpa bisa dia cegah. Dadanya terasa panas dan sesak. Ini hari ketiga pernikahan mereka, tapi dia sama sekali tidak bahagia, malah beban di hatinya semakin bertambah banyak.
"Mengapa semua orang menjadi jahat pada kita, Bu?" tanya Alisha ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
"Bukan jahat, hanya saja mereka tidak tahu apa yang terjadi."
"Ibu tidak salah kenapa harus meminta maaf pada Tante itu?"
Setengah mati, Cantika mencoba terlihat tersenyum di depan Alisha.
"Mungkin Abi tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Lagipula mereka tamu, kita harus bersikap baik pada mereka.
"Tapi tamu tidak seharusnya memarahi Ibu 'kan?"
Helaan nafas keras terdengar, Cantika lalu duduk di sebelah Alisha.
"Tante itu tidak sengaja memarahi ibu karena dia tidak mengerti apa yang terjadi. Sekarang kau istirahat dulu di sini karena di luar sangat bising."
"Bu, aku tidak suka tempat ini karena tidak seperti kemarin."
Cantika memeluk dan mendekap putrinya.
"Besok juga akan kembali seperti semula, kau tenang saja ya, kita pasti bisa melalui ini dan hidup tenang serta bahagia."
"Apakah Abi akan sama baik dengan Ayah, Bu?" lontar Alisha membuat Cantika bingung untuk menjawabnya.