Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap
Megan mendengar suara pintu dibuka, ia belum meninggalkan rumah lamanya. Masih disana menunggu Boby yang belum juga pulang sejak sekolah.
"Itu pasti Boby," pikir Megan dan segera melangkah cepat menuju pintu depan.
Raut wajahnya sudah berubah mengerikan dan siap untuk marah. Memarahi adiknya yang pulang terlambat. Langkah besarnya membuat Megan sudah berada di depan pintu dalam sekejap.
"Bob....!" ucapan Megan terhenti karena yang datang bukanlah Boby melainkan Dalton
Dalton tersenyum dan langsung mendekat untuk mencium istrinya serta memberikan pelukan hangat.
"Oh.. sayang... aku pikir kau Boby," Megan langsung menghamburkan diri kepelukan Dalton sebelum Dalton mendekat.
"Kau terlihat marah dan kesal, ada apa dengan Boby?" ucap Dalton seraya mengendus rambut istrinya yang wangi
"Dia belum pulang sejak jam pulang sekolah. Aku tidak bisa menghubunginya, ini sudah hampir larut," jawab Megan melepaskan pelukannya. Ia tidak bisa menyembunyikan sikap marah juga paniknya.
Dalton mendengarkan ocehan Megan, seraya menyentuh pipinya. Setelah wanita itu berhenti mengoceh Dalton menutup mulutnya dengan sebuah cumbuan.
"Hmmh.. aku cemburu kau memikirkan pria lain," ucap Dalton kemudian menciumnya lagi
"Konyol, dia Adikku," ucap Megan
"Tetap saja dia seorang pria," ucap Dalton kemudian mengecupnya lagi dengan gairah yang lama ia pendam sedari tadi hingga menyeretnya masuk kedalam kamar.
"Sayang... jangan sekarang. Pikiranku sedang tak karuan,"
"Justru dengan begini, apa yang kau pikirkan akan hilang sejenak. Rasakan dan nikmati saja," ucap Dalton melemparkan Megan ke atas ranjang dengan perlahan.
"Haha.. baiklah.. tapi tutup dulu pintunya," pinta Megan
"Hmm okay, jangan menghindar setelah ini," ucap Dalton kemudian pergi untuk menutup pintu.
Pintu telah tertutup namun matanya melihat sesuatu yang menempel di dibalik pintu tersebut. Sebuah foto yang amat ia kenal terpasang di balik pintu yang sebelumnya ia tidak lihat.
"Foto ini?" Dalton menatapnya lekat dan mulai berpikir
"Sejak kapan foto ini ada disini," gumamnya pelan namun terdengar oleh Megan
"Kau kenapa berdiri di situ?" tanya Megan kemudian menghampiri Dalton yang masih terpaku, menatap foto itu dengan amarah dan dendam
Ia memeluk Dalton dari belakang dan ikut melihat apa yang Dalton lihat.
"Dia Ayahku," ucap Megan
Brak
Dalton memukul pintu dengan tenaganya yang kuat, hingga pintu itu bergetar dan sedikit retak karena sudah lapuk.
"Hah" Megan terkejut kemudian melepaskan pelukannya
Ada api yang seakan-akan keluar dari mata Dalton,
"Anak pembunuh.. astaga! Apa yang kulakukan? Menikahi anak. pembunuh!!" batinnya
Tentu saja Dalton tidak. mengetahui keberadaan foto tersebut sebelumnya karena tertutup dengan jaket Megan yang tergantung. Namun hari ini Megan berencana meninggalkan rumahnya itu dan mengemasi semua pakaiannya. Sehingga tidak ada lagi yang menggantung di pintu tersebut.
Dalton berbalik menatap Megan dengan penuh dendam. Satu persatu ingatan akan masa lalunya kembali. Bayangan tentang Ayah dan Ibunya yang mati terbunuh tepat di depan matanya datang secara klise. Mengotak-atik pikiran Dalton menjadi tak sehat dan tidak berpikir jernih. Soal perasaan cintanya yang tiba-tiba menghilang.
Ia melayangkan tangannya kedepan, meraih leher Megan dan mencekiknya dengan penuh tenaga. Urat-urat nadinya terlihat semakin menonjol saat tangannya menekan kuat.
"Arghh....ahh..," Megan terkejut dan kesakitan ia mencengkeram tangan Dalton berusaha untuk melepaskannya.
Bola mata Megan semakin membesar ketika ia mulai kesusahan bernapas. Dalton tidak bersuara, tidak berkata-kata hanya menatapnya sinis penuh dendam.
""Kau... kau ingin mem..bunuh ku?..," ucap Megan
Ia mulai merasakan pusing karena tidak ada oksigen yang mengalir ke otaknya. Selain tercekik, kulitnya juga merasakan sakit karena tusukan dari kuku Dalton. Padahal kukunya tidak panjang, tetapi Dalton menekannya dengan sangat kuat
"Sa-yang...," ucap Megan dengan matanya yang memerah menahan air mata.
"Apa yang ku lakukan?" pikir Dalton yang tiba-tiba sadar tapi ia masih membenci Megan.
Kemudian dia melepaskan tangannya dengan melemparkan tubuh Megan hingga terjatuh ke belakang.
Bersamaan dengan itu, ada seseorang yang membuka pintu kamarnya secara tiba-tiba. Dalton dengan cepat mengambil pistol yang ada dibalik bajunya dan membidik kearah orang yang membuka pintu kamarnya.
Sang pembunuh bayaran itu datang dengan penampilan kusut dan penuh luka. Ia terkejut karena didalam kamar tersebut ada Dalton yang sedang membidikkan pistol ke arahnya dan Megan yang terduduk seperti sedang mengatur napas.
"Hah... sang pembunuh datang," ucap Dalton dengan senyum sinisnya
Mark tak ada daya untuk menyerang, ia sudah berpikir hal ini pasti akan terjadi jika Megan menikahi Dalton.
Pria itu langsung berlutut dengan segera dan memohon pada Dalton
"Bunuh aku saja...! Dia... Dia tidak bersalah," ucap Mark
Megan kebingungan
"Kau... yang menyerangku baru-baru ini kan?"
"Haha..membunuhmu didepan anakmu? Ide yang bagus," ucap Dalton
Seketika Megan menggabungkan apa yang pernah dilihatnya seseorang yang postur tubuhnya mirip Ayahnya telah menyerang Dalton dan menjadi buron, ia pun membelalakkan matanya terkejut.
"Jangan!! Jangan bunuh Ayahku...," pinta Megan dan berusaha berdiri tetapi Dalton langsung menembakkan pelurunya ke lantai.
Dorr
"Arghh," Megan berteriak karena takut sekaligus terkejut. Tak menyangka Dalton akan berbuat seperti itu. Ia pun mengurungkan niatnya dan langsung berlutut memohon pada Dalton
"Kau pikir mu dan memaafkannya?"
"Aku mohon jangan bunuh Ayahku..," pinta Megan berlutut dan membungkukkan badannya
"Aku akan pastikan dia mati di depan matamu,"
Mark masih dalam posisi berlutut dan menunggu Dalton untuk menembak dirinya. Demi Megan dan keluarganya.
Dalton melangkah menuju Mark tetapi Megan dengan cepat menangkap kakinya dan memeluknya erat. Entah apa yang dilakukan Megan dia juga tidak ingin Ayahnya terbunuh meski apapun alasannya, pria itu tetaplah Ayahnya.
Namun yang terjadi, Dalton mengayunkan kakinya dengan keras hingga Megan terlempar. Suaminya itu sungguh kejam dia lupa akan cintanya dan pikirannya dipenuhi oleh dendam