Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura tidak perduli.
Dua minggu sudah berlalu sejak mereka kembali dari Kota Medan. Sarah menyadari perubahan sikap Demian yang sepertinya bener-benar serius dengan perkataannya perihal 'membuat batasan yang jelas' diantara mereka. Pria itu dengan sengaja mengurangi waktu berduaan dengannya, baik di rumah maupun di kantor. Demian juga membatasi sentuhan fisiknya kepada Sarah. Kecupan selamat pagi, selamat malam dan pelukan selama tidur, hanya itu yang mereka lakukan. Tidak ada lagi pelukan serta ciuman-ciuman panas seperti sebelumnya.
Demian juga sudah tidak pernah menanyakan soal Grasian. Saat sedang berduaan, mereka lebih banyak membahas pekerjaan kantor, bahkan saat akan tidur sekalipun. Seakan-akan waktu di kantor belum cukup bagi Demian untuk memikirkan semuanya.
Sarah sebenarnya sedikit kehilangan. Alasan dia cepat move on dari Grasian adalah karena kenyamanan yang diberikan Demian padanya di awal-awal dulu. Terutama sentuhan-sentuhan fisik dari pria itu. Sekarang pria itu ibarat tidak tersentuh. Bahkan datang bulannya sudah lama berakhir, namun Demian seperti tidak berniat untuk menjamahnya. Sekarang pun pria itu sedang pergi ke Padang untuk proyek lanjutan Gottardo tanpa mengajak dirinya. Jelas sekali dia menghindari Sarah.
Di apartemen mereka Sarah merasa kesepian. Demian memang rutin mengabarinya tentang apa yang sedang dia lakukan di Padang. Bahkan jika akan ke toilet pun dia permisi supaya Sarah tidak kecarian. Namun gadis itu sebenarnya merindukan sosok pria itu ada di sisinya. Ingin memeluknya, ingin bercumbu sampai pagi. Ingin membuat hari-hari mereka berwarna lagi.
Sarah menatap langit-langit kamarnya dan Demian. Dia membaca satu kata kasat mata di plafon kamar yang menjadi akar perubahan sikap Demian padanya. Cinta.
Bukan tidak mungkin Sarah akan merasakan cinta kepada Demian. Pesona suaminya itu terlalu sempurna untuk ditolak. Sentuhannya, perhatiannya, kehangatan yang dia berikan. Tapi bagaimana jika kontrak mereka dengan Gottardo Group berakhir? Apakah setelah itu Demian akan melepaskannya? Jika Sarah sudah terlanjur cinta, tentu saja sakitnya akan melebihi kasusnya dengan Grasian sekarang. Sarah tidak ingin terluka untuk yang kedua kalinya. Dia sangat sulit mempercayai kata cinta sekarang. Apalagi hubungannya dan Demian masih sangat sangat baru. Impossible pria itu sudah menetapkan hati hanya untuknya. Salahkah dia karena melarang Demian mencintainya?
Namun sejauh ini, Sarah sukses mengatasi dan meresponi sikap Demian dengan baik. Meski pun terkadang dia tidak rela Demian melepaskan ciumannya disaat dia masih ingin, atau saat dia memeluk pria itu namun hanya dibalas dengan tepukan di pundak tanpa memeluk balik, Sarah mencoba untuk bersikap seakan dia tidak kehilangan. Dia tidak ingin Demian mengetahui hatinya yang kesepian. Dia ingin Demian tahu bahwa dia menghargai batasan yang sedang mereka jalani.
*****
Siang hari menjelang jam makan siang, Sarah sedang berada dalam ruangannya ketika Jessica, si resepsionis, menelepon dan memberitahu jika ada tamu untuknya di loby kantor.
"Siapa, Jess?"
"Katanya namanya Grasian. Cakep banget, Mba. Pacarnya Mba Sarah ya?"
Sarah menghela napas. Grasian cukup nekat datang ke kantor. Mungkin karena Sarah tidak pernah mau diajak ketemuan. Huft, palingan dia baru dari apartemen Desty, ejek Sarah dalam hati.
"Aku masih sibuk, Jess. Bilang saja kalau dia mau nunggu, tunggu setengah jam lagi," balas Sarah dengan berat. Sebenarnya dia sangat malas bertemu lagi dengan Grasian. Mau membahas apaan coba?
"Baik, Mba. Saya temanin ngobrol nggak apa-apa, Mba?"
"Terserah aja, Jess. Bungkus aja sekalian... "
"Ahh, Mba Sarah nggak sayang? Cakep gini loh, Mba," Jessica yang cool itu sepertinya sudah terhipnotis oleh ketampanan Grasian, sampai tergila-gila seperti itu. Kalau dia tahu bagaimana aslinya Grasian, pasti dia menyesal.
"Sudah-sudah. Setengah jam lagi aku turun."
"Baik, Mba. Ditunggu..."
Setelah Jessica mematikan telepon, Sarah langsung teringat Demian. Beberapa hari terakhir dia selalu memberitahu suaminya itu jika Grasian mengajaknya ketemu, namun dia selalu menolak. Meski pun Demian tidak terlalu memberi respon, setidaknya Sarah sudah beritikad baik untuk memberitahunya. Siang ini pun dia ingin memberitahu pria itu lagi. Tidak peduli Demian akan bosan mendengarnya.
Sarah mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau persis di nomor kontak Demian.
"Halo, Sar?" baru saja nada sambung berbunyi, Demian sudah mengangkat teleponnya dan membuat senyum di wajah Sarah mengembang.
"Aku mengganggu, Sayang?"
"Hm, enggak kok. Lagi ngopi sama Pak Gunawan aja. Udah makan siang?"
"Belum. Sebentar lagi. Gimana tadi pagi? Lancar agendanya?"
"Semuanya lancar. Berkat dukunganmu."
Sarah tersenyum lagi, "berarti besok jadi pulang?"
"Hm-m. Kenapa? Kau sudah merindukanku?"
"Sangat. Sampai rumah mau makan apa? Biar ku masakin."
"Hm, nanti kupikirkan. Kau bersiap saja. Pokoknya apa yang kuminta harus kau masakkan,"
"Siap, Sayang."
Sarah dan Demian berbagi tawa. Sebelum akhirnya Sarah menyampaikan maksudnya menelepon pria itu.
"Dem..." panggilnya lagi.
"Hm?"
"Grasian datang ke kantor... "
"Oh? Ngapain dia? Mau bertemu denganmu?"
"Iya. Sepertinya dia nekat karena akhir-akhir ini ajakan makan malamnya aku tolak terus... "
"Ohh... " seperti biasa, respon Demian hanya itu saja.
"Aku izin ya, ngobrol sama dia di kantin. Bentar doang... "
"Iya. Hati-hati ya. Makan yang kenyang."
Sarah hanya mendehem, sedikit kecewa dengan tanggapan Demian yang jelas-jelas seperti tidak peduli. Padahal dia sudah mencoba untuk terbuka tentang semuanya agar Demian tidak salah paham. Tapi pria itu sudah begitu jauh darinya.
"Kau... tidak marah sama sekali?"
"No... i have no reason. Sudah dulu ya sayang, kami mau kembali ke hotel."
"Hm. Baiklah. I miss you... "
"I miss you too, Sayang."
Klik.
Sarah berdiam diri sebentar. Dadanya kembali sesak seperti biasa. Hidungnya berkedut-kedut, matanya berkaca-kaca. Begitulah dia setiap kali Demian bersikap dingin padanya. Jika bisa dikatakan, dua minggu ini dia sangat tersiksa dengan situasi mereka. Andai bisa, dia ingin melampiaskan kekecewaannya dengan memarahi laki-laki itu. Bagaimana bisa dia sanggup menjauhi Sarah hanya karena dilarang untuk jatuh cinta?
Ah, dia hampir lupa kalau Grasian sedang menunggunya di bawah.
Sarah pun memperbaiki riasannya agar Grasian tidak menaruh curiga. Setelah itu dia keluar dari ruangan. Diliriknya sebentar pintu ruangan kerja Demian. Dia rindu lagi. Sudah empat hari ruangan itu kosong. Setiap pagi dan sore dia akan masuk kesana untuk membersihkan meja Demian dari debu. Juga untuk sekedar merasakan kehadiran Demian dengan duduk di kursi kebesarannya.
Saat pintu lift terbuka di loby, Sarah langsung bisa melihat Grasian yang sedang berdiri di meja resepsionis. Dia masih asyik mengobrol dengan Jessica. Pasti dia tergoda karena body Jessica yang bohay.
"Gras?" Sarah menghampiri. Membuat pria itu berbalik dan sedikit gugup. Mungkin malu karena kepergok mengobrol terlalu akrab dengan perempuan lain. Padahal Sarah tidak peduli sama sekali.
"Eh, Sar," jawabnya sambil cepat-cepat menjauhi meja resepsionis dan mendekati Sarah, "kamu sudah makan siang?"
"Kamu mau ngobrol?"
"Sudah makan belum? Kita makan siang bareng yuk? Aku mau ajak kamu ke restoran Thailand baru di dekat-dekat sini."
"Ehm. Di kantin kantor saja. Aku nggak bisa lama soalnya."
"Oh, gitu... Oke deh. Yuk... "
Saat keduanya berada di loby, hingga keluar dari pintu utama kantor, banyak mata yang tidak berhenti memandang sambil menelan ludah. Gosip bahwa pria tampan yang baru pertama kali muncul di kantor itu adalah kekasih Sarah, sekretaris Direktur Utama, berhembus begitu cepat bak hembusan angin tornado. Memporak-porandakan hati para lelaki pemuja Sarah juga kaum hawa yang sedari tadi tidak berhenti mengagumi Grasian.
Foto-foto mereka keluar dari loby pun tersebar dengan cepat di grup-grup kantor. Gosipnya semakin panas karena ditambah bukti foto saat terlihat Grasian yang tanpa sengaja memegang pundak Sarah karena gadis itu hampir saja menubruk seseorang.
Foto itu pun sampai di ponsel Gunawan dan si Project Manager cukup terkejut melihatnya. Dia melirik bosnya yang sedang fokus terhadap gadget di hadapannya. Sebenarnya sejak tadi mereka masih di kafe, belum kembali ke hotel seperti yang Demian katakan ke Sarah.
"Ehm, Pak... " Gunawan mendehem.
"Ya?"
"Bapak sudah lihat ini belum?" Gunawan dengan takut-takut menyerahkan ponselnya kepada Demian.
Demian memperhatikan foto yang ditunjukkan Gunawan. Dahinya sempat berkerut, namun segera ia atasi.
"Kenapa bisa sampai di Pak Gunawan?"
"Lagi rame di kantor, Pak. Sepuluh grup WhatsApp yang saya punya, semuanya lagi bahas ini. Ibu Sarah dan kekasihnya."
"Oh... "
Ekspresi datar Demian membuat Gunawan tidak bisa menebak apa yang ada dalam benak bosnya itu. Bukankah mereka suami istri? Kenapa reaksinya malah santai begitu? Batin Gunawan penasaran. Akhirnya Gunawan memilih untuk diam saja.
"Pak Gunawan, sudah menikah berapa tahun?" tau-tau Demian mengajaknya bicara lagi.
"Saya baru menikah lima tahun, Pak."
"Pak Gunawan dan istri, dulunya menikah karena cinta?"
"Pada dasarnya menikah memang karena cinta, Pak."
"Kalau cuma salah satunya yang cinta, apa rumahtangga bisa bertahan?"
"Hm... pernikahan bisa bertahan dengan perjuangan kedua belah pihak, Pak. Kalau cuma salah satu yang berusaha, biasanya nggak akan bertahan lama."
.
"Hm... I see... "
.
"Pak Demian dan Ibu Sarah, baik-baik saja kan?"
"Kelihatannya bagaimana?" tawa kecil Demian terdengar seperti sebuah nada skeptis yang menunjukkan jika dia sedang putus asa. Gunawan pun langsung menangkap arti dari perkataan itu. Barusan gosip yang beredar di grup-grup chat itu adalah Ibu Sarah dijemput kekasihnya untuk makan siang. Gunawan menduga jika dalam pernikahan bosnya itu, ada cinta yang bertepuk sebelah tangan dan pihak itu adalah Demian sendiri dan itu membuatnya merasa iba.
"Hm... saya harap baik-baik saja ya Pak. Hehehe..." dan Gunawan pun berharap jawabannya adalah kalimat terbaik untuk mengakhiri pembahasan itu. Karena sesungguhnya dia merasa tidak layak untuk membahas permasalahan pribadi bersama Demian.
"Hope so... " untungnya respon Demian juga menunjukkan bahwa dia pun tidak ingin memperpanjang pembicaraan mereka lagi. Dia kembali menatap gadget-nya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Entahlah dia masih bisa fokus seratus persen. Karena sekarang yang menari-nari di dalam pikirannya adalah foto yang ditunjukkan Gunawan barusan.
"Shit!" Demian tidak bisa menahan emosinya. Dia pun bangkit dan meninggalkan Gunawan tanpa sepatah kata pun.
*****