Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Sang Penyemangat
"Besok insya Allah bagi Rapor, Kita ke rumah Farisya ya?". Ajak Enta kepadaku.
Aku hanya hening tanpa sepatah katapun dari mulutku. Aku terdiam, Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri.
"Aku mau pulang..". Ucapku.
Aku langsung berdiri dan berjalan pelan melewati Enta yang sedang berdiri didepanku.
Berlalu begitu saja.
Enta hanya terpaku melihat Aku melewatinya.
"Ria, maafkan Aku tak bisa membantumu, tak bisa berbuat apa-apa". Kata hati Enta.
Aku langsung pulang menuju rumahku. Sesampai dirumah, Ada Ibu di ruang tamu sedang duduk bersama Kakak dan Adikku.
"Kak Ria, ada hadiah dari Ibu untuk Kakak, tapi nanti Ibu berikan saat Kakak ulang tahun". Beritahu Adik bersemangat.
"Alhamdulillah, apa Bu hadiahnya???" Sergahku kepada Ibu.
Kakak tersenyum melihat tingkahku.
"Sabar dong Kak Ria...". Ledek Ibu.
Aku hanya manyun, memonyongkan bibirku lalu masuk kamar untuk mengganti pakaian sekolahku dengan pakaian rumah.
Selesai makan siang, Aku shalat dan hendak tidur siang. Ada kakak dan adikku juga di dalam kamar. Kami masih sekamar bertiga.
Ku rebahkan pelan-pekan tubuhku diatas kasur. Aku sering tidur dibagian tengah, antara kakak dan adikku.
"Gimana tadi lombanya Ria?". Serdik kakak.
"Alhamdulillah lancar kak, besok insya Allah pengumumannya".
"Kak Ria, Ibu beli Hp loh untuk Kakak". Beritahu adik yang tidak mau kalah ingin bicara dengan kakaknya.
"Alhamdulillah.. ayo bobok ah". Jawabku yang sudah sangat mengantuk.
Sabtu, hari pembagian rapor.
Tidak seperti biasanya, Aku datang sekolah agak terlambat hari ini. Agak malas memang.
Aku memang kurang bersemangat.
Sesampainya disekolah, ada Farisya yang sudah menanti.
Dengan malas, Aku duduk dikursiku tepat disebelah Farisya.
"Ria.... kamu kenapa? semangat dong kan mau bagi rapor". Hibur Farisya yang tahu kalau aku tidak perduli dengan rangkingku. Karena Dia yakin kalau Aku pasti rangking pertama lagi.
Aku teringat, kalau Ibu mau memberi Aku hadiah Hp. Aku mulai membuka suara.
"Far.... ada bawa Hp?".
"Ada nih, tapi aku gak ada pulsa". Tunjuk Farisya sambil memberikan Hp nya seraya berbisik.
"Aku cuma mau mencatat nomor Hp teman-teman kita saja kok Far, mana tahu suatu saat nanti Aku akan memerlukannya". Jelasku panjang lebar.
Enta duduk terdiam melihat tingkah sahabatnya disebelah meja kelasnya.
"Semua siswa harap berkumpul di halaman sekolah, karena pengumuman juara kelas akan segera diumumkan". Seorang Guru sedang memanggil semua siswa dengan pengeras suara di dekat lapangan sekolah.
"Yok Ria..". Ajak Farisya.
Dengan malas Aku mengikuti langkahnya.
Aku berbaris tepat dibelakang Farisya.
*****
"Kamu kenapa Ria, Aku tahu Kamu sedang tidak baik-baik saja". Kata hati Enta.
Dia terus memperhatikan Aku dari barisan laki-laki tepat di sebelah barisanku.
Setelah semua siswa telah rapi berbaris di lapangan, Ibu guru pun mulai memanggil juara kelas di setiap kelas. Dan selalu dimulai dari kelas 1.
Lalu dilanjutkan dengan kelas 2 dan terakhir kelas 3.
Tiba giliranku kelasku 3 IPA 1 yang dipanggil juara kelasnya. Jantungku mulai berdegup kencang.
"Bismillah Ya Allah". Ucapku di dalam hati.
"Juara 3 diraih oleh Farisya, juara 2 diraih oleh Saputra dan juara 1 masih diraih oleh Ariani Putri". Sebut Ibu guru itu dengan penuh semangat.
Aku dan Farisya saling memandang, Dia tersenyum manis sedangkan Aku hanya pucat pasi.
Lalu Kami semua kembali ke kelas, karena rapor dan hadiah akan dibagikan didalam kelas masing-masing.
"Selamat ya Ria, jadi juara bertahan". Ucap Farisya yang berjalan sambil memeluk pinggangku dari samping.
Aku hanya menoleh melihat ke arahnya. Lalu tersenyum dan berkata:
"Kamu juga juara 3 Far". Sambil ku kedip sebelah mataku ke mata Farisya.
Dia hanya tersenyum lebar bahagia.
"Tapi, perlombaan ekstrakurikuler kok tidak diumumkan sekalian ya?"
Aku hanya terdiam tanpa jawaban atas pertanyaan Farisya.
Aku duduk dikursiku dan Farisya dikursinya.
Kami sedang asyik bermain game di hp Farisya.
Tiba-tiba wali kelas Kami Bu Suriani masuk ke kelas dengan membawa kantong plastik besar dan meletakkan di atas lantai sebelah kursi guru. Dan meminta Enta dan Putra mengikutinya.
"Putra dan Enta, tolong ikuti Ibu ke ruang guru".
Lalu Putra dan Enta kembali ke dalam kelas dengan membawa banyak rapor di tangan mereka.
Kami terdiam, dan mulailah jantung berdebar kencang melihat rapor yang tersusun rapi di atas meja. Dan Ibu juga sengaja meletakkan beberapa hadiah diatas meja guru.
"Baiklah anak-anak Ibu semuanya, ini ada hadiah untuk 3 juara kelas kita juga ada hadiah untuk pemenang yang ikut lomba saat ekstrakurikuler yang diadakan sekolah beberapa hari yang lalu".
Lalu tanpa basa basi, Ibu langsung memberikan hadiah kepada 3 juara kelas beserta rapor juga ikut dibagikan kepada seluruh siswa.
Setelah rapor selesai dibagikan. Dengan santai Ibu Suriani juga mengumumkan pemenang beberapa cabang lomba yang berhasil diraih oleh siswa-siswinya.
"Cabang lomba baca puisi, Ariani Putri mendapatkan juara 1, juara 2 dan 3 diraih oleh kelas lain. Ayo Ria ambil hadiahnya". Jelas dan panggil Ibu kepadaku.
"Cabang lomba Tilawatil Qur'an, juara 1 adalah Hariadi Enta dan juara 2 adalah Ariani Putri, silahkan ambil hadiahnya Nak". Panggil Ibu kembali.
"Terakhir ada lomba pidato, Ariani Putri mendapatkan juara 2, sini Nak ambil lagi hadiahnya".
Lagi-lagi Aku berdiri dan berjalan menuju meja guru untuk mengambil hadiahnya.
Aku langsung duduk, dan terdiam. Aku menjadi tidak enak dengan teman-teman yang lain.
"Ibu harap, anak-anak Ibu yang lain juga harus teta bersemangat. Ibu akhiri Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh". Lalu Ibu pergi keluar kelas meninggalkan Kami di ruangan.
Aku masih terdiam, entah apa dalam pikiran teman-temanku. Hadiah-hadiah ini, malah membuatku merasa bersalah.
"Ria, kok cemburut sih, senyum dong..".
"Begitu rakusnya aku Far".
"Siapa bilang? Mereka iri tanda tak mampu". Ucap Farisya menyemangatiku.
"Anjing menggonggong kafilah berlalu sayang".
"Makasih Farisya sayang, Kamu Penyemangatku". Ku peluk Farisya dengan erat.
Saat itu tidak ada lagi siswa di dalam kelas, hanya ada Aku dan Farisya. Tiba-tiba Enta masuk kelas dan mendekati meja Kami.
"Pada ngapain sih serius amat? Besok sore jalan-jalan yok Aku jemput dengan mobil ". Ucap Enta.
Aku dan Farisya saling berpandangan.
"Sekalian aja kita foto bertiga untuk kenang-kenangan". Imbuh Farisya sambil tersenyum sangat manis.
"Jam berapa?". Tanyaku mulai bersemangat.
"Jam 4 ba'da ashar Aku jemput Ria dulu lalu Kami jemput Farisya". Jelas Enta.
Aku dan Farisya setuju sembari mengacungkan jempol ke arahnya.
Akhirnya Kami pulang kerumah masing-masing. Di dalam kamar, Ku keluarkan semua isi dari dalam tasku.
Ada 4 hadiah yang Aku keluarkan.
"Masya Allah Dek Ria, ini hadiah siapa?".
"Hemm Alhamdulillah Aku juara kelas lagi Kak, juga dapat juara 1 puisi, juara 2 pidato dan mengaji". Beritahuku.
"Alhamdulillah, Kawan yang lain pada tidak ikut ya? Kok Ria semua yang dapat juara?".
"Iya.. Mereka tidak ada yang mau ikut". Jelasku.
"Enta dan Farisya juga?".
"Farisya tidak ikut, Enta juara 1 Tilawah". Beritahuku kembali kepada Kakak.
Lalu Kakak berlalu masuk kekamar mandi.
"Kak...!". Panggilku.
Saat Ku menoleh kebelakang, sudah tidak ada Kakak lagi dibelakang.
Aku mendengus kasar lalu pelan-pelan Ku buka hadiahku yang berisi buku semua. Lalu Ku susun rapi-rapi sambil Ku hitung jumlahnya.
"Banyak ya bukunya.." Sentak Kakak sambil memukul pundak ku dengan pelan.
"Astaghfirullah Kakak..". Jeritku sambil memegang dada.
"Tadi menghilang, sekarang muncul lagi, bikin copot jantung orang saja. Kalau copot beneran gimana hayo???". Aku mulai marah-marah kesal.
"Kalau copot, ya dipasang lagi pakek lem nasi".
"Ishh.. Kakak ni, enggak lucu tau". Aku mulai bete.
Lalu Kakak keluar kamar sambil menjerit.
"Bu.. Ria jualan buku".
Aku hanya memoncongkan bibirku dan langsung beristighfar didalam hati.
Malam harinya, Aku sengaja masuk ke kamar Ibu yang sedang mengaji selepas shalat Maghrib.
"Bu, selesai ashar Aku besok dijemput Enta dengan mobilnya ya, Kami mau ke rumah Farisya".
"Iya boleh, Ria ini hadiah nenek untuk Kamu. Karena Kamu sudah dapat juara 1 di kelasmu lagi".
Ibu menyerahkan 2 lembar uang berwarna merah.
"Alhamdulillah dua ratus ribu". Mataku berbinar-binar.
"Dan ini hadiah dari Ibu untuk Kamu, besok Kamu ulang tahun kan. Tapi Hp second ya Nak".
Aku langsung memeluk Ibu.
"Makasih Ibu".
"Uangnya, simpan sama Ibu saja dulu".
Ku berikan kembali uang itu kepada Ibu.
Minggu
Jam 15.00, Aku sudah siap berpakaian dengan rapi. Sengaja Aku berwudhu langsung saat selesai mandi, jadi ketika azan tiba, Aku langsung bisa shalat
Jam 15.40 azan pun tiba, Aku segera menunaikan shalat ashar dengan khusyu'.
Selesai shalat, Aku langsung memakai jilbab berwarna coklat susu yang cukup panjang hingga sampai ke bagian paha belakang.
Jam 16.00. Enta sudah sampai di depan pagar rumah dengan mobil Papanya.
Aku langsung menghampirinya, dan duduk di kursi bagian belakang tidak disampingnya.
Saat itu rumah sedang sepi, jadi Aku tidak berpamitan lagi.
Aku dan Enta langsung melesat menuju rumah Farisya. Di dalam mobil Aku hanya diam. Entapun begitu.
Aku merasa malu juga kaku di dalam mobil berama dia. Dan tahu tidak Sahabat, Aku jarang sekali naik mobil. Karena saudara ku hampir semuanya tidak memiliki mobil. Hehehe... 🤭🤭🤭
Rumah Farisya cukup jauh dari rumah Kami. Rumahnya hampir sampai Blang Bintang daerah Bandara Iskandar Muda Aceh Besar.
Sedangkan rumah Kami daerah Neusu Banda Aceh. Akhirnya sampai juga rumah Farisya, Aku langsung keluar dari mobil dan masuk ke rumah Farisya tanpa menunggu Enta.
"Assalamu'alaikum Farisya".
Aku langsung masuk kerumah Farisya, tanpa menunggu jawabannya. Aku bisa masuk karena pintunya sengaja dibuka lebar seperti sedang menunggu Kami.
"Wa'alaikumussalam.. masuk Ria, Aku di dalam kamar".
Saat sampai dirumah, rumahnya sedang sepi.
"Umi mana Far?".
"Umi pergi arisan". Ucap Farisya sambil berjalan dari pintu kamarnya menuju ruang tamu dimana Aku sedang duduk bersama Enta.
"Selamat ulang tahun sahabatku". Bisik Farisya di telingaku sambil memelukku.
"Eh.. makasi Farisya sayang". Jawabku terharu.
"Hari ini Aku traktir deh, karena ada yang lagi ulang tahun". Imbuh Enta.
Aku hanya tersenyum didepan Enta.
"Tapi kita foto dulu ya, biar Aku yang bayar deh". Sergahku.
"Wah... enaknya yang sedang ultah". Ledek Farisya sangat senang.
Aku dan Enta saling pandang dan bersama-sama melihat ke wajah Farisya.
Lalu Kami bertiga langsung pergi keluar rumah menuju mobil sedan milik Papa Enta yang berwarna Silver.
💖💖💖💖
Ditunggu kelanjutannya ya Sahabat Novel "My Soulmate" 🤗😘🥰
Jangan lupa favorit, rate 5 🌟, like dan komentar dan vote poin sebanyak-banyaknya kirim ke Saya 🤩🤗🌹⭐
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
💖💖💖💖💖
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊