NovelToon NovelToon
Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan

Status: tamat
Genre:Dosen / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:552.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red Lily

(Elsa & Erlangga Adhiatama)

Mengejutkan itu ketika tiba tiba dipaksa menikah oleh ibunya sendiri. Elsa terpaksa harus menikahi pria yang tidak dia kenal sama sekali. Mereka hanya bertemu saat hari pernikahan saja. Ditambah lagi, perbedaan umur mereka yang jauh membuat Elsa menjadi pesimis terhadap pernikahannya yang tidak akan bertahan lama.

Apalagi sebulan setelah menikah, pria bernama Erlangga Adhiatama itu meninggalkannya karena ada tugas di luar negara. Satu bulan lamanya sang suami pergi. Bahkan ketika Elsa akan mulai kuliah, suaminya belum pulang.

Sampai hari pertama OSPEK, Elsa terkejut karena sang suami memperkenalkan dirinya sebagai dekan fakultas Hukum tempatnya kuliah.

Bagaimanakah akhir cerita mereka? Dimana Elsa menikahi pria yang merupakan Dekan-nya sendiri yang terkenal dingin dan juga killer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih misteri

Kali ini Elsa benar-benar ingin menjadi seorang istri dari Tama. Bagaimana dia bisa menolak apabila tamak selalu memberikan perhatian yang lebih padanya.

Seperti sekarang pria itu memaksa Elsa untuk pergi ke perpustakaan bersama dengan dirinya, Tama memberikan pelajaran pada Elsa supaya istrinya itu memahami dengan baik apa yang akan dihadapinya.

"Paham kan? Katanya mau jadi advokat kayak papa kamu?"

Elsa mengangguk dengan kuat. "Aku pengen Jadi pengacara biar bisa bantu orang kayak papa."

Tangan Tama terulur mengusap rambut Elsa dengan penuh kasih sayang. "Makanya harus belajar dengan rajin aku bantu tiap malam. Ada juga beberapa kenalan pengacara. Mau ketemu nggak sama mereka?"

"Nanti aja ah, aku juga baru masuk kuliah Masa udah langsung ke sana. Belum tahu apa-apa juga, nanti malu mau ngomong apa sama mereka."

"Kan ada Mas, seenggaknya kamu bisa tahu ranah pengacara itu kayak gimana."

"Belajar aja kayak gini sama kamu."

"Ya udah iya kayak gini aja." Tama mencium Puncak kepala Elsa dan membuat perempuan itu tersipu.

Sama juga sadar Elsa sekarang sedikit lebih pendiam, mudah memalu dan pipinya memerah. Namun sayangnya belajar lama-lama membuat Elsa penat juga, dia menguap dan meminta Tama untuk menghentikannya.

"Satu bab lagi kita selesai kok. Tadi aja kamu semangat menggebu-gebu."

"Tadi kan masih segar Sekarang udah capek. Mana tadi masak juga lama, Mas pulangnya lama juga."

"Kok jadi marah-marah sih cantik?"

Seketika api kesal itu padam. "Cantik-cantik apanya, sering disebut kribo juga."

"Kan itu daya tariknya, kamu itu berbeda. Cantik banget."

Elsa memilih untuk membaringkan kepalanya di atas meja, posisi mereka itu duduk di depan meja kerja milik Tama. "Udah ngantuk." Elsa pura-pura memejamkan matanya karena tidak kuat.

Tama terkekeh melihat kelakuan Sang istri, dia akhirnya memindahkan Elsa dengan cara menggendongnya dan membaringkan di atas ranjang. Menarik Elsa ke dalam dekapannya ketika mereka sudah berada di atas kasur.

Kenyamanan Ini baru pertama kali dirasakan oleh Elsa. Dia sebelumnya belum pernah memiliki pasangan, dan Tama seolah pengganti dari ayah dan juga kekasih hati yang sebelumnya kosong.

"Ya udah sekarang tidur. Besok kan masih ada kuliah."

Elsa mengadahkan kepalanya. "Besok aku mau ke rumah Mama nggak papa?"

"Nggak papa dong cantik, mau mas antar?"

Nggak usah. Besok itu cuma ada satu mata kuliah soalnya yang satu lagi dosennya nggak masuk. Jadi mau pulang duluan."

"Kalau ada apa-apa di kampus, ada yang bully atau memojokkan kamu langsung bilang. Bukan maksud kamu mengadu, tapi hal-hal yang kayak gitu juga harus di minimalisir. Kalau mau cari aman jangan deket-deket sama Rizky, orang itu emang punya banyak fans."

Pipi Elsa semakin memerah, Apakah Tama tahu kalau Rizky itu beberapa kali mendekatinya? Apa pria itu cemburu padanya?

"Ngerti nggak? Suami kamu ini dekan loh."

"Iya Mas dekan. Udah ah mau tidur." Elsa mencoba untuk terlihat tidak peduli.

Tama meraih dagu sang istri. "Biar tidur nyenyak," ucap Tama sambil mendekat dan mengecup pelan bibir Elsa. "Terima kasih buat makanannya istriku."

Sederhana tapi mampu membuat jantung Elsa berdebar-debar.

****

Kini yang ada di dalam pikiran Elsa hanyalah bagaimana menjadi istri yang baik untuk Tama. Karena pria itu adalah pilihan dari sang ibu, maka Elsa akan menerimanya dan mengharapkan Tama adalah satu-satunya pria yang akan menemaninya sampai akhir.

"Lu mau ke mana?" tanya Ira melihat Elsa yang buru-buru. 

"Mau pulang nih, ada yang harus gue kerjain."

"Nggak mau hangout dulu sama kita?"

"Enggak soalnya ini lebih penting demi masa depan gue."

Mengabaikan bujukan teman-temannya yang mengajak Elsa pergi ke mall. Seperti biasa Elsa menunggu taksi online menjemput dirinya, entah itu kebetulan atau apa karena Rizky selalu muncul dan menawarkan diri, "mau kakak anterin?"

"Nggak usah, Kak. Aku udah pesen."

"Kenapa nggak bilang aja sama kakak teman kakak kan juga pengendara taksi online? Nggak harus nunggu kayak gini loh."

Elsa ingin mempertegas kalau dirinya akan memilih Tama, Dekan Fakultas Hukum itu telah meraih hatinya dengan memberikan perhatian-perhatian yang menghangatkan hati. "Nggak deh, Kak, akhir-akhir ini pasangan aku sensitif banget. Padahal jalan sama teman juga suka disangka yang aneh-aneh."

"Oh ya ampun maaf, Kakak selalu lupa kalau kamu itu udah punya pasangan."

"Nggak apa-apa, Kak."

Pula dengan Rizky itu banyak sekali rintangannya, dimulai dari para fans dan juga anggota BEM yang mengaguminya.

Begitu Elsa sampai di rumah mamanya, dia langsung membuka pintu dengan keras hingga membuat dua wanita paruh baya di dalam rumah terkejut.

"Mama Elsa pulang!"

"Udah murtad kamu?!" Mama Wina menatap dengan tajam.

"Hehehe. Assalamualaikum." Elsa terkekeh dan mendekati sang mama, memeluknya dengan erat.

"Kemarin mertua kamu nelepon sama mama, kamu mau jadi istri yang baik ya?"

"Mama mau Elsa jadi istri yang durhaka?"

"Ya nggak gitu juga, samijan." Mama Wina memutar bola mata malas dan melepaskan pelukan sang anak. "Mama mau bikin pesanan tetangga dulu, kamu jangan ganggu."

"Elsa ke sini ada tujuan, Ma, pengen belajar masak dan lain-lainnya juga."

"Ganti baju dulu sana kamu bau asem. Gimana mau jadi istri yang baik Kalau kamu aja kayak gini."

Kalau dulu Elsa tidak pernah memasukkan kritik orang lain pada hatinya, sedangkan sekarang dirinya langsung pergi ke kamar dan berdandan sewangi mungkin, secantik mungkin supaya bisa merubah pandangan sang mama.

Mama Wina meninggalkan pekerjaan itu dengan sang pembantu karena ingin melihat, apa yang sedang dilakukan sang anak.

Elsa sepertinya tidak menyadari Mama Wina yang berdiri di ambang pintu dan sedang menatapnya.

"Mas Tama suka nggak ya kalau gue kayak gini? Atau harus dilurusin aja?"

"Nggak usah ubah diri kamu buat dikagumi orang lain. Mending disukai apa adanya."

"Mama kayak jin aja suka tiba-tiba muncul."

"Eh Emang kamu suka lihat jin!" tatapan lembut Mama Wina langsung berubah seketika, datang mendekat pada Elsa kemudian mencipta kepala anaknya. "Jangan ngomong sembarangan kamu."

"Sakit tahu, Ma."

Mengambil duduk di bibir ranjang dan menatap sang anak yang kembali menyisir. 

"Elsa itu pengen jadi istri yang baik, sekarang nggak usah sembunyi-sembunyi lagi juga nggak apa-apa. Ditambah lagi Elsa pengen mas Tama betah di rumah. Terus akhir-akhir ini Elsa ngebayangin kalau kita punya anak loh. Gemes banget tahu." membayangkannya membuat kepala Elsa menggeleng-geleng, dan itu menyebabkan rambut kribonya bergetar.

"Kenapa tiba-tiba pengin jadi istri yang baik?" suara Mama Wina melembut. "Tama udah cerita emang?"

"Cerita apa?" Elsa jadi kebingungan.

Mama Wina langsung mengalihkan pandangan. "Cerita kalau kamu itu kribo."

"Ih Mama! Daripada ledek aku mending bantuin aku deh."

"Dulu siapa yang nggak pengen sama aki-aki."

"Ya kalau aki-akinya modelan Mas Tama yang selalu perhatian mah, mau gimana lagi. Mana dia Dekan Fakultas Hukum, paket sempurna pokoknya mah." senyuman Elsa melebar.

Mama Wina tersenyum kecil melihat sang anak. "Iya kita harus bersyukur dan kamu juga harus berbakti sama suami kamu, karena Tama yang membuat kita selamat."

Akhir kalimat itu dikatakan oleh Mama Wina tanpa suara, mengelus dadanya yang terasa sesak kalau mengingat apa yang terjadi di masa lalu. "Cintai Tama ya," pinta Mama Wina.

1
Ray Aza
dr awal eps sampe mau kelar nama tama sll typo.. 😅
Tamirah Spd
Istri mana yg gak sakit hati kalau suami nya masih mencintai wanita masa lalunya,apa
Tamirah Spd
Mending nabung emas dr pada gelang kaki.Gak ada ceritanya emas turun harga yg ada logam mulia itu harga naik terusss 😄😄😄😄
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: Halo kak, mampir juga dinovelku 𝙄𝘽𝙐 𝙎𝙐𝙎𝙐 𝙎𝙀𝙇𝙄𝙉𝘼 atau klik akun profilku ya. trmksh😌
total 1 replies
Tamirah Spd
Yah nama nya cerita novel jauh panggang dari api yang baca
Tamirah Spd
Maklum punya istri masih usia belia ya harus super sabar,memberikan bimbingan kayak guru dan murid.Saya dulu juga menikah masih usia 19 th .
Tamirah Spd
visual wanita kurang sreg,model rambut bergelombang pakai bando busana kembang kembang keramaian kurang anggun. lebih anggun kalau pakaiannya simpel make tipis-tipis rambu rapi.
Rahma Lia
🤣🤣🤣🤣
Rahma Lia
🤣🤣🤣🤣🤣
Sagitarius
🤣🤣
apajalah
🍂🍁🍂🍁🍁
apajalah
🍁🍂🍁🍂
UMM
ngakakk telur barbie 🤣🤣🤣 aslii ini kaya momong anak deh si tama
UMM
ngakakkk elsaa 🤣🤣🤣
UMM
akibat tidur sore jd linglung kann 🤣
UMM
wkwkkw miskin bikin halusinasi yaa elsa 🤣
Ulin Dadi
/Heart/🥰🥰🥰🥰👍👍👍👍
Endang Sulistia
tau aja si mama..kayak ibuku dulu
Gabriella Rhina
lah aq jg pernah kyk gitu bangun tidur sore syok liat jam takut telat kesekolah 😅😅
Si Memeh
bagus thor..lucu banget elsa nya
Kartini Azka
kak novel judul "istri bayaran CEO" kok ga ada ya? baca di mana kak?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!