NovelToon NovelToon
Anak Kembar CEO Kaya

Anak Kembar CEO Kaya

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Genius / Anak Kembar / Tamat
Popularitas:203.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ame_Rain

Beberapa tahun yang lalu, Gallen pernah bertemu dengan seorang gadis yang meninggalkannya begitu saja setelah malam panas mereka. Dan setelah enam tahun berlalu, mereka kembali bertemu? Bahkan Zoya memiliki seorang anak laki-laki!

"Anakku, kan?"

"Bukan!"

"Kau pikir bisa membohongiku? Darimana bayi itu muncul kalau bukan karena malam itu? Kau pikir kau itu amoeba yang bisa membelah diri?!"

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ame_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Noah Mulai Ragu

..."Haruskah kita terus memaksakan Mama dan Papa bersama jika itu tidak bisa membuat mereka lebih bahagia dibandingkan sebelumnya?"...

...***...

"Mama!" Noah merengek untuk kesekian kali. Zoya hanya melanjutkan kegiatan masak-memasaknya, membiarkan sang putra bungsu memanggil-manggil dirinya sedari tadi.

"Heum, Mama! Kembalikan jam tanganku!" Pinta Noah kembali untuk kesekian kali.

Zoya melirik sekilas, kemudian kembali fokus pada wajah di depannya, "Kan Mama udah bilang. Selama di rumah nenek dan kakek, Noah enggak boleh menyentuh alat itu. Nikmati aja suasana di desa, jarang-jarang loh kita pulang." Bujuk Zoya.

Noah yang kesal langsung menyilangkan tangan di depan dada. Ini bukan masalah bersenang-senang di desa maupun di kota, tapi bagaimana Noah bisa mengabari Papa nya jika satu-satunya alat penghubung antara Gallen dan dirinya diambil?

"Ah, Mama tidak seru!" Bocah laki-laki itu merajuk. Noah kemudian pergi dari dapur, berjalan lurus tanpa melirik ke arah lain sedikitpun. Dia tidak akan berbicara dengan mamanya sampai Mamanya itu mengembalikan jam tangan pintarnya kembali. Jam tangan itu adalah miliknya, namun mamanya justru merebut paksa benda itu darinya. Pokoknya, Noah kesal sekali pada Mamanya sekarang.

Di teras depan, Noah bertemu dengan kembarannya yang sudah bersiap-siap dengan topi dan alat pancing di tangannya. Milo yang sadar akan keberadaan Noah pun menoleh. Bocah laki-laki berkulit eksotis itu mengangkat tangannya ke atas.

"Noah!" Milo memanggil adik kembarnya. Bocah laki-laki yang terlihat lemas itu menoleh, tak terlihat tertarik sedikitpun dengan semua peralatan yang dibawa Milo.

"Hei, kamu kenapa?" Tanya Milo. Kendati Noah tak menjawab sekalipun, Milo tentunya bisa menebak alasan dibalik tidak semangatnya sang adik, "Oh, apa karena Mama mengambil jam tangan kita?" Ujar Milo yang meskipun terdengar seperti pertanyaan, namun tampaknya itu juga merupakan pernyataan.

"Mama juga mengambil jam tanganku, tapi aku baik-baik saja." Milo berusaha mengembalikan semangat sang adik, namun sepertinya dia justru semakin memperparahnya.

"Kamu tidak akan mengerti." Ujar Noah.

Meskipun mereka sebenarnya mendapati masalah yang sama, sikap Noah dan Milo dalam menghadapinya sungguh berbeda. Noah kentara sekali ingin menyatukan kedua orang tuanya, sementara Milo tampaknya masih santai-santai saja. Sebagaimana yang pernah dikatakannya, Milo akan baik-baik saja selama itu bisa membuat Mamanya bahagia. Dengan demikian, Milo tak begitu ingin ikut campur, kendati dalam prosesnya turut membantu untuk membuka rahasia kelahiran mereka pada Gallen.

Namun perkataan Noah tadi, sepertinya tidak bisa diterima oleh Milo.

"Hei, Noah. Siapa bilang aku tidak mengerti?" Katanya.

Noah mengangkat wajahnya, melihat Milo menatapnya dengan serius, "Apa karena aku terlihat santai, jadi menurutmu aku tidak tahu apa-apa? Kamu benar-benar bodoh jika berpikir demikian." Katanya.

Dahi bocah laki-laki berkulit putih itu mengernyit. Noah boleh menyebut Milo bodoh, namun kakaknya yang hanya tahu menangkap ikan dan kodok itu juga menyebutnya sebagai bodoh?

"Kamu---"

"Sudahlah, lebih baik kamu ikut memancing denganku dan kakek saja!" Ajak Milo sembari merangkul adiknya.

Noah yang tidak suka dengan kegiatan di luar ruangan itu menolak, namun Milo sudah lebih dahulu memakaikan topi lain yang dirinya siapkan pada Noah.

"Ah, aku tidak mau pergi!!!"

***

"Huh." Noah menghembuskan napas panjang untuk yang kesekian kali. Dia menoleh ke samping, dimana kakaknya yang lahir lima menit lebih cepat itu terlihat serius dengan kolam yang ada di depannya.

"Berapa lama lagi kita disini?" Tanyanya. Awalnya dia pikir Kakek dan Milo akan membawanya untuk pergi ke sungai, namun ternyata mereka pergi ke sebuah kolam pemancingan.

Ikan yang didapat memang lebih banyak, namun Noah tidak suka berada di tengah-tengah keramaian.

Sedang Sang Kakek juga tampaknya tengah asik memainkan kail pancingnya. Noah kembali menatap pada Milo, berharap kakaknya itu akan mengerti tatapan matanya yang menginginkan untuk kembali.

"Noah," Ucap Milo tiba-tiba. Noah menghentikan ekspresi wajahnya yang dibuat-buat memelas, kembali menatap Milo dengan serius, "Apa kamu sebegitu inginnya Mama dan Papa untuk kembali bersama?" Tanyanya.

Noah menatap Milo tanpa ekspresi, "Tentu saja, bukankah aku sudah bilang padamu saat kita di kota?"

"Ya, aku ingat itu." Kata Noah. Bocah laki-laki yang selalu tampak riang dan tak pernah serius itu tiba-tiba berbicara dengan sangat serius, "Aku hanya ingin memastikan, sekaligus mengingatkanmu." Katanya.

"Selama ini, kita tidak pernah tahu siapa Papa kita. Kita hanya tahu bahwa Mama, Kakek, Nenek, Paman Dafa, Kakek Banu, dan Nenek Aini, adalah orang-orang yang selalu ada di samping kita. Kita juga selalu bahagia bersama mereka, kan." Katanya. Noah hanya mendengarkan, tak menjawab sepatah katapun.

Milo tampak menarik napas panjang, kembali melanjutkan kata-katanya, "Tapi sejak Papa muncul, aku lihat Mama sepertinya terus merasa sedih. Aku tidak tahu apa alasannya, karena Mama pun tidak mau menceritakannya padaku. Kamu yang selalu bersamanya mungkin lebih tahu dibandingkan aku yang selama ini tinggal bersama Kakek dan Nenek. Tapi, haruskah kita terus memaksakan Mama dan Papa bersama jika itu tidak bisa membuat mereka lebih bahagia dibandingkan sebelumnya?"

Percakapan ini tentunya terdengar sangat berat untuk anak usia lima tahun. Namun untuk mereka yang dinilai pintar untuk usianya, baik Milo maupun Noah dapat memahami dengan baik makna kata yang baru saja diungkapkan. Noah terus terdiam setelah mendapatkan nasihat tersebut. Tiba-tiba saja, dia menyadari sesuatu.

Bahwa tampaknya dia terlalu memaksakan kebahagiaannya tanpa melihat kebahagiaan orang lain.

"Sepertinya kamu benar. Aku --- "

"Kakek!" Milo memotong kata-kata kembarannya, "Umpannya dimakan ikan!"

Segera setelah itu, Kakek yang sebelumnya memasang pancing di tempat yang agak jauh berlari mendekat dan mengambil alih pancing tersebut. Meski agak sedikit kesulitan, seekor ikan mujair dengan ukuran yang lumayan besar berhasil diangkat ke atas permukaan. Milo dan Kakek sama-sama bersorak. Sedangkan Noah, hanya menatap tajam kembarannya karena membuatnya kembali menelan kata-kata.

"Dasar kakak bodoh." Ucap Noah mengata-ngatai Milo.

***

Sementara itu, Gallen tampak memejamkan mata di depan meja kerjanya. Sudah lebih dari tiga puluh menit sejak meeting berakhir, namun pria itu masih sama menegangkannya seperti tadi.

"Bos," Panggil Alby. Semua orang tampak mengeluhkan sikap bosnya ini saat meeting, dan sebagai sekretaris yang baik tentunya Alby memiliki tugas untuk mengingatkan Gallen kembali, "Semua orang akan ketakutan jika Bos terus memasang ekspresi seperti itu." Ujarnya.

Gallen tampak bergumam pelan, lalu bersuara meski dengan mata tertutup, "Sudah satu hari, dan masih belum ada kabar juga." Katanya.

Alby menepuk pelan dahinya sendiri. Tentu saja, Alby pun tahu tentang itu. Karena Gallen terus mengulang kata-kata itu berkali-kali.

"Tentang yang aku minta kemarin," Gallen akhirnya membuka matanya. Mata elang itu menatap tajam Alby, membuat pria yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Gallen itu pun sempat menelan air liur. Sedikit takut, "Apa kau sudah bertemu dengan pemilik rumah kontrakan itu?"

Alby mengangguk. Tak sulit untuk melaksanakan tugas itu, Alby sudah berhasil melaksanakannya sejak kemarin, "Ya. Sekarang hanya menunggu bos untuk memberikan penawaran yang akan diajukan untuk rumah itu. Itu tidak akan terlalu sulit." Ujar Alby. Lagipula mereka adalah orang-orang yang terkenal sangat andal untuk urusan tawar-menawar, tentu tak akan sulit untuk bisa membeli rumah kontrakan kecil itu.

Namun anehnya, Gallen justru mengibaskan tangannya di udara dan kembali berkata, "Tidak perlu. Langsung beli saja. Bahkan kalau mereka menolak, naikkan sepuluh kali lipat dari harga pasaran normal rumah itu." Katanya.

"Sepuluh kali lipat---" Alby hampir saja berteriak, "Bos, itu hanya sebuah rumah kontrakan kecil. Nilai investasinya tidak akan melebihi harga yang kita berikan. Kita akan rugi." Peringat Alby. Saat membeli sesuatu, tentu pembeli berharap mendapat harga yang lebih murah dengan menawar. Namun Gallen justru ingin menaikkannya menjadi sepuluh kali lipat? Yang benar saja!

"Aku serius," Ujar Gallen lagi. Pria itu menatap ke depan, tidak tahu sedang memikirkan apa, "Aku punya investasi yang lebih besar dengan melakukan ini."

Oke, Alby tidak akan bisa menahan bosnya lagi kali ini.

***

1
Ameee
Aku ada di KBM. Mampir kesana ya sayang-sayangku 😘
Addb_Rh
si Zoya mah, kelamaan mikir, keburu anak mu minta di sunat🤣

Udah ada buntut dari Gallen, tinggal iya in aja. Dia mo tanggungjawab dr dulu, lu yg kabur😮‍💨
Addb_Rh
gitu aja terus sampai gajah bertelor😌

dasar Zoya🤣
Addb_Rh
Zoya mah malu-malu kucing. Bilang iya aja, kebanyakan alasan yg di pikir.. 🤣
Addb_Rh
kirain bakal bilang "bangun sayang" sama si Zoya😌
Addb_Rh
lanjutkan saja sandiwaranya Gallen.. sampai di ijab si Zoya🤣
Addb_Rh
gak usah di ingetin bang, di lakuin aja lagi
biar nambah personil🤣
Addb_Rh
dan akhirnya y Zoy🤣
Jan kabur kuburan lagi makanya😅
Addb_Rh
makanya jan kabur-kaburan mulu Zoy, 😅😅
Addb_Rh
🤣🤣🤣 polahe polahe bos mu iku
Addb_Rh
berkeliaran, emangnya hantu apa. 🤣🤣
Addb_Rh
si Zoya pen ku getok pake tutup panci deh, orang mau tanggung jawab pake kabur-kaburan lagi, 😌
Addb_Rh
Si Zoya main petak umpet mulu, gemes deh pen ku cubit😅

Rencana apa yg kamu punya Gallen🙄🙄
Addb_Rh
si Alby nge lag, di kata terakhirnya🤣

Gallen, kalo Zoya masih ragu udah culik aja, kelamaan
😌😌
Addb_Rh
lagian elu ngelamar gak Romantis bgt bang, bikin trust issue lho🤣🤣
Addb_Rh
jangan bandel lagi Zoy. Gallen dah mo tanggung jawab lho.
drpd lu yg rugi, udah di icip, besarin anak sendiri. pilihan sendiri emang, susah sendiri. 😩😩
Addb_Rh
datanglah satu lagi😌
apa gi speechless si Gallen

kalo kata ku mah, ambil rambutnya aja satu, buat tes DNA deh.
Zoya keras kepala soalnya, gak bakalan mau ngaku dia kalo gk di.. ancem mungkin, 🙄
Addb_Rh: "gak" maksudnya, bukan "gi" 🤣
total 1 replies
Addb_Rh
ngakak wehh🤣 dr yg kaya amoeba membelah diri, lanjut ayam sakit, abis ini apa? kucing berenang? 🙄🙄
Addb_Rh
Zoy, ngapa gak ngaku aja dah. Si Gallen kek nya mau kok nerima. Tinggal minta nafkah seratus juta tiap bulan😌🤣
Addb_Rh
daaaan, finally... ketemu deh..

Kira-kira Gallen curiga gk ya sama bocil itu, anak Zoya. anaknya juga bukan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!