NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 29 [Arc: Akademi Sirius]

Hampa— tak mengerti apapun. Tanganku ditariknya tanpa henti sambil berlari di tepian sungai yang indah dengan semilir angin yang menerpa kami. Tertawa dan bersenang-senang seolah hal yang biasa. Tapi, apa maksud semua ini? Dan siapa pula, orang yang menarik tanganku dan terus tertawa bersamaku ini.

"Kita akan terus bersama selamanya, Azura."

Aku tersadar— terbangun dari tidurku. Ku pegangi kepalaku sambil menggoyangkannya sedikit.

Di hadapanku ada seorang gadis half-elf yang terus menatapku dengan tatapan cemas. 

"Kau tidak apa-apa Azura? Wajahmu sedikit pucat."

"A— aku tidak apa-apa. Hanya sedikit mengalami mimpi yang aneh."

Gadis mungil ini kemudian mendekat ke arahku, lalu duduk tepat di sebelah kananku. Ia kemudian mendekap tanganku. Membuatku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

"Merasa lebih baikan?" Riri tersenyum lembut ke arahku.

Aku yang melihatnya tak bisa banyak berkutik di hadapan wajah manisnya. Rasanya, wajahku juga turut memerah. Untuk sesaat juga kupalingkan wajahku karena merasa malu.

"Terimakasih." 

"Nampaknya setelah dari penginapan hari itu, kalian jadi semakin dekat ya..." 

Aku hampir lupa, di kereta yang sedang kami naiki ini, bukan hanya ada kami berdua, tapi juga salah satu teman kami dari desa, Adi. 

Secara cepat Riri langsung melepaskan dekapan tangannya. Kami berdua saling melempar wajah karena teringat hal yang memalukan tersebut.

"Ahaha, jangan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Yah, aku tidak mau ikut campur urusan asmara kalian. Jadi anggap saja aku tidak tahu apa-apa." 

"Jika kau berkata seperti itu, rasanya malah semakin aneh." 

"Lupakan. Hei, Azura, aku penasaran. Saat kau terkena pengaruh lagu Siren, bagaimana caramu melepaskan diri? Seolah ada orang lain yang mengontrol tubuhmu saat itu dan membebaskanmu dari lagu Siren." raut wajah Adi menjadi penasaran, ia juga menatapku dengan tajam. Seolah orang lain yang ada di dalam diriku bisa menjadi berbahaya sewaktu-waktu.

"Aku juga ingin tahu..." gadis mungil ini juga terlihat begitu penasaran.

Tangan kananku mulai memegangi kepala. Aku sedikit terdiam sesaat karena bingung ingin memulai dari mana.

"Ceritanya panjang. Tapi, kalian tahu kan kalau aku kehilangan hampir semua ingatanku pada awalnya. Sebenarnya, itu bukanlah hal yang tidak di sengaja atau karena kecelakaan. Melainkan ada seseorang yang sengaja menghapus ingatanku." 

Adi dan Riri terlihat sedikit terkejut ketika mendengar ucapanku.

"Apa kau tahu siapa orang yang menghapus ingatanmu?"

Aku menggeleng pelan. "Hanya saja, orang itu meninggalkan sebuah hal padaku. Ia meninggalkan semacam kesadaran lain di dalam diriku yang bertugas untuk terus mengawasiku. Kesadaran lain itu kuberi nama El. Seperti yang kalian dengar, terkadang aku dan El berbicara di alam bawah sadarku. Ia juga seperti bisa melihat masa depan, dan ketika diriku berada dalam ancaman, ia akan memberitahuku. Kasusnya sama seperti saat di Kota Batavia. Aku sendiri juga baru tahu kalau El bisa mengambil alih tubuhku meski itu hanya beberapa detik. Hal itulah yang membuatku bisa bebas dari lagu Siren."

Adi kemudian memegangi dagunya dan seolah sedang berpikir. "Secara garis besar aku paham."

"Aku belum paham sepenuhnya." gadis mungil ini mengerutkan dahinya untuk berpikir keras. 

"Apa kau bisa bertemu dengan El setiap saat?" Adi kembali bertanya padaku.

"Tidak. Untuk saat ini, aku dan El hanya bisa bertemu dalam kondisi tertentu saja, seperti dia ingin menyampaikan informasi penting atau saat nyawaku dalam bahaya. Itu pun dia yang mengatur semuanya, aku sama sekali tidak bisa mengatur kemampuan untuk bertemu dengannya, meskipun itu di dalam alam bawah sadarku."

Adi menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya. "Begitu ya. Anggap saja El saat ini adalah rekan kita, karena ia bertugas mengawasimu Azura. Dan fakta bahwa ia juga melindungimu, kurasa itu sudah cukup meyakinkan. Tapi tetap saja kita tidak boleh lengah, terutama kau Azura. El adalah kepribadian yang ditinggalkan orang yang menghapus ingatanmu, mungkin saja akan ada waktu dimana El bisa mengambil alih tubuhmu sepenuhnya."

Aku mengangguk. "Aku paham." 

"Hei, anak-anak. Kita hampir sampai di tempat tujuan." seseorang yang ada di depan— sang kusir memberitahu kami.

Gadis mungil ini kemudian berdiri, mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta.

"Hei, lihat-lihat. Itu tembok kotanya!" gadis mungil ini nampak begitu bersemangat. 

Aku dan Adi hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakunya.

Kereta kami akhirnya berhenti sepenuhnya— tepat di depan gerbang Barat kota. Kami mulai turun untuk melakukan pemeriksaan, sama seperti saat di Kota Batavia.

Setelah melakukan pemeriksaan, kami masuk. Kami menengok ke kanan kiri, menikmati kedamaian kota yang begitu tenang. Berbeda dengan beberapa kota sebelumnya yang kami singgahi, di kota ini— Sirius, jauh lebih tenang. Kereta dagang sangat jarang terlihat. Bukan berarti kota ini sepi. Jalanan masih terlihat ramai orang, hanya saja kota ini terasa lebih tenang.

Riri berjalan di depan kami— melompat-lompat dengan riangnya. "Akhirnya kita sampai." ia menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya. "Kota Sirius! Aku tidak sabar bertemu orang yang akan kita temui." 

Aku merogoh saku bajuku, mengeluarkan dua lembar surat yang dititipkan pada kami. Pada surat itu sudah terdapat alamat dan pada siapa kami harus memberikannya.

"Akademi Sirius - Alhena Alfheim. Toko Pandai Besi Jotun - Sirdi. Apa kau tahu kedua tempat ini Adi?"

Adi memegangi dagunya. "Kalau Akademi Sirius aku tahu. Karena memang sedari awal tujuan utama kita adalah Akademi Sirius. Tapi, untuk toko pandai besi ini, aku tidak tahu. Sepertinya kita harus bertanya pada orang sekitar." 

Aku merogoh sakuku yang lain, mengeluarkan kantung uang dan melihat isinya.

"Mungkin ini terdengar membuang waktu. Tapi, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar. Kita masih punya enam keping emas. Kita gunakan satu atau dua keping, dan sisanya bisa kita simpan kalau ada keperluan lain." 

"Tidak masalah. Lagipula kita sudah sampai di kota tujuan kita. Sekalian kita berkeliling mencari lokasi toko pandai besi itu. Kalau begitu, kita pergi ke serikat terdekat untuk memecah koin emas itu."

Gadis mungil itu mendekat ke arahku— menggenggam lengan bajuku dengan erat. "Kau yakin Adi?" ia terlihat begitu gelisah.

Aku paham perasaannya. Riri mengalami tekanan mental yang jauh lebih besar dari kami berdua. Kami tidak bisa memaksanya jika ia tidak mau.

"Aku dengar Kota Sirius adalah kota yang damai. Tapi, jika kau tidak mau ikut, tidak masalah. Azura, jaga Riri. Aku akan pergi sendirian ke serikat."

"Kalau begitu..." aku kemudian memberikan dua keping emas kepada Adi. 

"Kalian tunggu saja di taman sebelah sana." sambil menunjuk sebuah taman tak jauh dari tempat kami, ia pergi dengan cepat.

Aku menatap ke arah Riri, ia masih terlihat gelisah. Padahal beberapa detik yang lalu ia terlihat begitu ceria.

Ia menggeleng pelan, menepuk kedua pipinya secara pelan dan kembali tersenyum ke arahku. "Ayo ke taman itu, Azura."

Entah ia hanya pura-pura bersikap tegar dengan melempar senyum ke arahku, atau itu memang senyuman tulusnya, aku tidak bisa membedakannya saat ini. Yang aku bisa lakukan hanya membalas senyumannya. Menunjukan kalau kita akan tetap baik-baik saja. 

Kami berdua berjalan ke arah taman tak jauh dari tempat kami. Sebuah taman yang tidak terlalu besar. Setiap kota sepertinya memiliki taman semacam ini. Beberapa orang terlihat sedang bersenang-senang. Kebanyakan dari mereka adalah muda mudi dan orang tua yang sedang menjaga anak mereka.

Kami duduk di salah satu bangku taman. Menikmati semilir angin sambil memandang orang sekitar. 

Tidak ada yang memulai topik pembicaraan. Kami berdua hanya diam— meninggalkan atmosfer canggung di antara kami.

"Kalian mau bunga?" seorang nenek yang sudah beruban datang, menyodorkan sebuah bunga putih beserta tangkainya kepada kami. Ia menenteng sebuah keranjang yang berisi penuh akan bunga putih itu.

"Maaf nenek. Tapi kami tidak punya uang untuk membayar bunga ini." sebenarnya kami punya. Tapi dengan kepingan emas itu, nenek ini pasti kesulitan memberi uang kembalian. Jadi aku menolaknya dengan halus.

"Tidak perlu membayarnya. Ambil saja." ia sedikit terbata-bata saat berbicara.

Gadis mungil ini menerima bunga pemberian nenek itu. "Te— terimakasih nek."

"Bolehkah nenek duduk bersama kalian?"

Kami segera menggeser duduk kami agak menepi. Membiarkan ruang yang cukup bagi sang nenek untuk beristirahat. 

"Silahkan."

"Terimakasih ya." sang nenek mulai duduk secara perlahan. "Apa kalian seorang pelancong?"

"Iya. Kami datang dari sebuah desa terpencil di daerah Java."

"Ya ampun. Apa yang membuat kalian datang ke kota ini? Apa nona cantik ini berniat mendaftar ke Akademi Sirius? Karena itu satu-satunya alasan orang dari tempat jauh mau datang kemari."

Riri menggoyangkan tangannya. "Tidak nek. Tujuan kami memang pergi ke Akademi Sirius. Tapi bukan untuk mendaftar, melainkan menemui seseorang." 

Masuk ke sebuah akademi, membuatku teringat perkataan Bu Vega sebelum desa di hantam kehancuran. Ia memintaku untuk masuk ke salah satu akademi besar di kekaisaran. Mungkinkah salah satu akademi itu adalah Akademi Sirius? Jika itu benar, aku bisa sekalian melatih sihirku di tempat ini.

"Benarkah? Sepertinya dia orang yang sangat penting."

"Ahaha mungkin."  

Obrolan kami berakhir dan atmosfer canggung mulai menemani kami lagi. Sang nenek hanya diam menata bunga yang ada di keranjangnya. Sementara kami berdua hanya memperhatikan orang-orang sekitar. 

Tak lama berselang, Adi datang dengan terengah-engah.

"Haaah… haah… maaf membuat kalian menunggu lama." nafasnya semakin tidak beraturan. Aku tidak tahu dia lari secepat apa sampai nafasnya terengah-engah seperti ini.

"Adi, istirahatlah terlebih dulu." Aku tidak enak melihatnya yang masih kelelahan malah berdiri. Aku kemudian berdiri dan mempersilahkan dia untuk duduk. Gadis mungil ini malah ikut-ikutan sepertiku.

"Seharusnya kau tidak usah tergesa-gesa seperti itu. Lagipula kami berdua baik-baik saja." Riri kemudian memberikan sebotol air pada Adi.

Adi menerima botol air itu dan mulai meneguknya. "Terimakasih. Aku hanya sedikit khawatir dengan kalian."

Aku pikir kekhawatirannya sedikit benar. Kami terjebak dalam suasana canggung yang cukup lama sebelumnya, dan itu membuatku sedikit tidak nyaman.

Setelah istirahat sebentar, Adi kembali berdiri. "Sepertinya sudah cukup. Ayo kita lanjutkan kembali perjalanan kita."

"Kenapa terburu-buru. Kau terlihat masih kelelahan." seru sang nenek.

Adi yang melihatnya sedikit terkejut. "Ah—! Maaf nek, aku tidak menyadari keberadaan nenek karena kelelahan. Meskipun aku ingin beristirahat lebih lama, aku tidak bisa melakukannya. Sebelum kami sampai ke tempat tujuan, kami tidak boleh terlalu santai nek."

Sang nenek menghela nafas panjang. "Begitu ya. Nenek tidak tahu masalah apa saja yang kalian lalui sebelum sampai disini. Nenek harap, kalian baik-baik saja." Nenek ini kemudian memberikan dua tangkai bunga kepada kami— kepada Aku dan Adi tepatnya. "Ini, hadiah dari nenek."

Aku dan Adi menerima bunga itu. "Terimakasih nek." 

Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Akademi Sirius— meninggalkan sang nenek di bangku taman sendirian. Ia melambai kecil yang dibalas oleh gadis mungil ini.

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!