Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebersamaan
Hari ini untuk pertama kalinya Nara bolos sekolah. Ia hanya titip absen pada Mia. Karena Nara ingin menemani Daffin yang masih babak belur dan tidak mungkin sekolah.
Nara masih tertidur bersama Daffin di sampingnya padahal matahari sudah merangkak naik, tapi tak membuat keduanya terganggu. Karena mereka baru tidur dini hari tadi.
Drettt Drettt
Daffin mengambil ponselnya di atas nakas samping tempatnya tidur saat ini.
"Oi.. Kagak sekolah elo berdua?" sebuah pesan grup masuk dalam ponsel Daffin. Yang isinya hanya mereka bertiga.
"Gue mau ngabisin waktu berdua sama cewek gue," balas Daffin.
"Ah s*al. Tapi selamat menderita menahan sesuatu deh." Remon.
Daffin bangun dengan iseng ia memotret Nara tapi Nara keburu menyadari ia menutup sebagian wajahnya.
"Berisik elo berdua, cewek gue masih tidur noh! Kelelahan semalaman nemenin gue." Daffin.
"Anjay.. Semalam kalian ML." Tama.
"Berhasil juga elo bobol si Nara, ampe tepar gitu?" Remon.
Tanpa sadar Daffin tertawa dengan kecang, sehingga membuat Nara terbangun. Gadis itu melemparkan bantal tepat di wajah Daffin.
"Boy berisik." pekik Nara.
"Sory, Jen." Daffin meletakan kembali ponselnya "Nih anak berdua rusuh."
"Engghh, Jangan dekat-dekat geli." karena Daffin dengan iseng menelusupkan wajahnya di tengkuk Nara.
"Jen, bangun yuk! Kita makan gue lapar, sejak kemarin gue belom makan." sahut Daffin masih dengan posisi yang sama.
"Ada bibi 'kan yang masak. Gue masih ngantuk." jawab Nara kembali menarik selimutnya dan berniat melanjutkan tidurnya.
"Baru tau gue. Elo ternyata perfect kalo di luar tapi kalo di rumah aslinya elo malas banget." Daffin bangkit lebih dulu.
"Enak aja." Nara membuka selimutnya, ia kembali melempar bantal pada Daffin yang lebih dulu sudah berlari masuk ke kamar mandi.
"Gak kena, weekkk." Ledek Daffin.
"Badboy!!" pekik Nara kesal.
~
Menjelang sore kedua sahabat Nara yang mencemaskan keadaannya datang ke rumah Daffin. Sesuai petunjuk orang tua Nara tentunya, yang mana sebelumnya mereka sempat datang ke rumah orang tua Nara lebih dulu.
Ting Nong Ting Nong
"Bi, tolong bukain pintunya ya!" seru Nara yang tengah duduk di sofa bersama Daffin sambil menonton tv
Nara saat ini ia tengah bersandar di dada bidang daffin dan tangan Daffin yang melingkar di pundaknya.
Tidak berapa lama bibi kembali masuk di ikuti dua orang di belakangnya. Nara dan Daffin yang masih belum menyadari kehadiran mereka berdua masih terus bercanda dan tertawa dengan sesekali Nara menyuapi cemilan yang pada Daffin.
"Ehm." Nara dan Daffin menoleh bersamaan.
"Baim, Mia. ucap Nara spontan ia membenarkan duduknya. Daffin memutar bola matanya malas, terpaksa ia melepaskan tangannya dari pundak Nara.
"Ra. Elo gak pa-pa 'kan?" Mia mendatangi Nara dan duduk di sampingnya, Nara mengangguk sambil sesekali melirik Baim.
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Daffin ketus.
"Ra." Baim mengabaikan pertanyaan Daffin ia duduk di sofa singgle sebelah Mia, "kita khawatir sama elo. Tadi kita ke rumah elo kata mama lo. Elo tinggal di sini."
"Iya Ra.. Kenapa elo tinggal di sini kan gak aman?" imbuh Mia.
"Maksud elo apa, bilang Nara gak aman tinggal di sini?" pekik Daffin kesal.
"Maksud, Mia. Ya gak aman aja cewek ama cowok tinggal serumah." potong Baim cepat, Nara menunduk ini pasti bakal ribut lagi kalo begini terus.
"Kenapa gak aman? Gue_"
"Fin. 'Kan kita udah mau kelas XII jadi gue di tugasin buat membantu Daffin belajar." Nara mencegah Daffin mengatakan yang sebenarnya. Ia lebih memilih mencari alasan lain.
"Tapi gak perlu tinggal serumah juga 'kan, Ra." sahut Baim masih tak terima, kalau Nara tinggal serumah dengan Daffin.
"Kenapa gak boleh, gue pacarnya? Orang tua kita aja gak masalah kenapa kalian yang ribet." Daffin tersenyum sinis pada keduanya.
"Udah, udah. Kenapa pada ke sini?" Nara menghentikan perdebatan itu.
"Kita mau ngasih beberapa tugas diberikan, Bu Susi." Mia mengeluarkan buku dari tasnya. "Sekalian mastiin keadaan elo."
"Gue baik-baik aja Mi. kalian gak usah khawatir oke."
"Iya sih. kayaknya elo baik banget malah di sini."
"Apaan sih elo." wajah Nara merona mendapat godaan dari sahabatnya itu.
~
Maaf jika chapter ini membosankan ya
padahal kan Nara tokoh sentralnya.