Sejak Ayahnya meninggal 2 tahun lalu, ia hidup berdua dengan ibunya. Dengan uang peninggalan Ayahnya, ia masih bisa bertahan hidup. Sampai pada suatu hari Ia menemukan tawaran di internet untuk menjadi "Rahim Pengganti", dengan bayaran 1Miliar.
Diusia yang masih sangat muda, 19 tahun Lea Shen memutuskan untuk ikut dalam pemilihan rahim pengganti.
Pada saat waktunya melahirkan, tanpa sepengetahuan pihak pertama Lea ternyata mengandung Anak kembar dan dokter kandungan yang menangani persalinan Lea, membantunya untuk menyembunyikan salah satu bayinya.
Setelah beberapa bulan melahirkan, Lea Shen menjalin hubungan dengan Presdir Muda yang tampan. Tidak disangka, pria itu adalah Ayah bologis anaknya.
Akankah Ibu dan Anak itu bisa berkumpul kembali?
(Ini adalah perjalanan cinta Lea dan Willy)
Follow IG author: @rymatusya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersandiwara
Sejenak ada keheningan disana.
Pura-pura kaget, Willy tergagap bertanya "Ka... kamu? sedang apa kamu di tempat tinggal kakaku?"
Lea terbodoh sejenak, menatapi pria yang ada didepannya.
Tidak mendapat jawaban dari Lea, Willy berkata kembali
"Apa yang kamu lakukan dikamar hotel seorang pria?" dengan tidak sabar ia menerobos masuk kedalam.
Lea menutup pintu dan mengikuti Willy, mereka duduk disofa.
Lea masih tidak bersuara, Willy berteriak "Kakak... Kakak... kamu dimana?"
Tumben Tuan Willy memanggil Rendra dengan sebutan Kakak, biasanya juga Rendra.
Melihat Willy yang terus berteriak memanggil kakaknya, Lea tidak tahan dan membungakam mulutnya dengan telapak tangannya.
Takut mengganggu keharmonisan Rendra dan Emily, Lea mencoba menahan agar Willy tidak berteriak lagi.
Alih-alih diam, Willy malah semakin kencang memanggil kakaknya. Masih dalam bungkaman tangan Lea dan Lea semakin menempelkan badannya dibadan Willy berusaha meredam suara teriakan Willy.
"Kakak... Kakak... Apa yang sedang kamu lakukan"
Lea yang tidak tahan langsung menekan tangannya didada Willy, masih membungkam mulut Willy dengan telapak tangannya. Posisi mereka sangat dekat, mata mereka saling pandang, seolah sedang bertegur sapa satu sama lain. Sejenak otak Lea menjadi kosong. Ia teringat tatapan mata ini, badan hangat ini.
Willy merebahkan badan yang ditekan Lea ke sofa. ia terlentang lurus diatas sofa itu, diikuti Lea yang berada di atasnya.
Sejenak Lea tidak fokus dengan tindakannya. Sampai terdengar suara yang sangat merdu berucap
"Apa kamu merindukanku?"
Lea tersadar dari lamunannya. Menyadari posisi ini tidak baik, ia melepaskan tangannya dari mulut Willy dan berusaha bangun dari tubuh nya.
Dengan susah payah Willy menciptakan omen ini, tidak akan semudah itu ia lepaskan.
Willy memeluk badan Lea dengan erat, tidak ingin melepaskannya dan tidak ingin ia melepaskan diri.
Lea berkata tanpa ekspresi
"Willy apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan aku"
"Kenapa... Bukankah kamu mau membungkamku? Dengan cara tadi tidak bisa... Kalau mau membuatku diam harus dengan cara ini"
Tanpa aba-aba, dengan satu tangannya ia menekan kepala Lea, mendaratkan bibir Lea ke bibirnya. Seolah memaksa bibir Lea untuk menyentuh bibirnya.
Lea memberontak dan menolak. *J*elas kita sudah selesai, ini tidak dibenarkan dan Willy sudah menjadi milik wanita lain.
Hati dan otaknya terus beradu.
Walau getaran itu masih ada saat bersentuhan dengannya, tapi ini tidak benar, Lea terus mengingatkan dirinya sendiri.
Menyadari Lea yang terus berontak dan ini tidak akan berhasil, Willy merubah posisinya, berbalik badan dan menekan Lea dibawah. Tersirat senyum jahat dari bibirnya.
"ini... Baru benar... Wanita ini tidak akan bisa kabur"
"Lea... Mengapa kamu begitu acuh kepadaku, aku sudah bilang, jangan menyerah akan diriku, tunggu aku dan aku akan menyelesaikannya" Suara Willy bergetar, tersirat kesedihan dan ketidak berdayaan disana.
Menyadari tidak ada jawaban dari Lea, Willy lanjut berkata
"Aku menerima kamu dan anakmu, tidak perduli apa yang terjadi dimasa lalu antara kamu dan ayah bayi itu, aku menerimanya"
Willy diam sejenak, menatap lekat pada wanita yang ada dibawah tubuhnya.
Ia melanjutkan "apakah ini tidak cukup?"
Lea merasa hangat dihati.
Ya... Memang itu yang ia butuhkan, ketulusan Willy akan masa lalunya. Tapi keluarganya? Tidak bisa menerima masa lalunya. Pada akhirnya ketulusan Wily hanya akan berakhir sia-sia.
"Tidak Willy, itu tidak cukup" ucap Lea dengan banyak pertimbangan.
Willy terheran "mengapa?"
"Keluargamu tidak bisa menerima masa laluku. Itu yang tidak bisa dirubah" ucap Lea sedih
Ia merasa berat dalam hati, dua sisi yang berlawanan ia terjebak diantara keduanya.
"Lea, aku akan menyelesaikannya, bersabarlah... oke?" ucap Willy lembut, ada makna membujuk disana.
Otak Lea menjadi kosong, entah apa yang ia inginkan saat ini. Bersamanya? Atau menjauh darinya?
Willy mencium lembut bibir itu, berbeda dengan ciuman sebelumnya yang kasar, ini lembut penuh kasih sayang.
Benteng pertahanan Lea yang selama ini ia bangun, roboh dalam sekejap.
biarlah seperti ini, saat ini ia hanya ingin merilekskan diri, melakukan apa kata hati, menyingkirkan semua rasa kecewa dan rasa sedih akan kehilangan. Yang ia inginkan saat hanya bersama denganya. Willy....
Malam yang dingin terasa hangat saat ini, aura kemesraan menyebar kesetiap sudut ruangan.
Entah sejak kapan bajunya tergeletak dilantai, dibadan Lea hanya tersisakan Bra berwarna hitam yang menutupi dadanya, dan celana jeans yang masih utuh melekat pada kaki rampingnya.
Sampai terdengar suara pintu terbuka dari kamar.
Emily dan Rendra kaget melihat pergulatan sengit disofa, walau badan putih Lea tidak terlihat karena tertutupi badan besar Willy, tetap saja Emily dan Rendra merasa malu sendiri melihatnya.
Emily buru-buru menutup rapat pintu itu dan berteriak. "Lea... Cepatlah, kita harus pulang besok penerbangan pagi ke kota C"
Mendengar ucapan Emily yang membicarakan penerbangan ke kota C, wajah Willy membeku, ia mengerutkan kening dan menatap penuh tanya pada Lea.
Lea yang merasa canggung dan malu karena kepergok bermesraan dengan Willy, ia buru-buru mendorong Willy dan bangun, memungut bajunya kembali dan memakainya.
Ia merapikan rambut yang berantakan dan berkata kepada Emily "Ayo kita pulang"
Willy yang masih membeku di sofa, tidak dihiraukannya.
Sampai suara berat Willy terdengar "Besok berangkat ke kota C lagi? Ada apa? Jangan bilang akan menemui Evan disana" ucapnya penuh kecemburuan.
Lea hanya diam tidak menjawab, karena itu memang benar. Tujuannya untuk menemui Evan.
"Jangan memaksaku melakukan penguntitan lagi kepadamu" ucap Willy mengancam.
"Coba saja kalau kamu berani" jawab Lea acuh tak acuh.
Emily keluar dari kamar dan mereka segera pergi setelah berpamitan pada Rendra.
Diruang itu tinggalah dua kaka beradik.
"Aku sudah membantumu, apakah kamu puas?" ucap Rendra kepada sang adik yang terlihat murung.
"Apa kamu tidak melihatnya, dia masih acuh kepadaku? Bagaimana aku bisa puas" ucap Willy kesal. Kesal karena Lea tidak jujur kepadanya.
Ia bergumam dalam hati "Apa mungkin, Lea besok ke kota C benar-benar akan menemui Evan?"
"Bukankah barusan kalian bergulat dengan sengit? Mengapa masih belum baikan?" ucap Rendra, ada nada mengejek disana.
"Pokoknya kamu masih harus membantuku" ucap Willy tegas.
"Masih ada lain kali? Willy... Willy... Sejak kapan kamu mengejar wanita sampai sesusah ini? Seorang Willy yang tampan dan kaya, mengejar wanita sampai harus bersandiwara. Ck... Ck... Ck" Rendra terus mengejek. ia menambahkan "Wanita yang namanya Lea itu memang sangat hebat, aku jadi penasaran dan ingin mengejarnya juga"
Willy marah dan melemparkan bantal yang ada disofa kepada Rendra "Coba saja kalau kamu sudah bosan hidup" Ia berdiri, merapikan bajunya dan pergi.
____________________________________________________
para pembaca yang setia. jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, Like dan komentarnya kalau bisa.. hehe komentar yang membangun juga boleh... kalau ada kesalahan dalam penulisan dan bahasa, mohon di maafkan ya..😊
Vote dan bintang 5 nya ditunggu😊😊😊😊
terimakasih... salam dari Willy dan Lea untuk kalian😘😘😘