NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekretaris yang Hilang

Malam H-3. Pukul 20.39 WIB.

​Suara ketikan keyboard laptop yang cepat dan kasar memenuhi ruang tengah kediaman keluarga Taravindra. Seorang pemuda sedang duduk di sofa, matanya terpaku pada layar sejak tadi.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Dia membawa segelas air, lalu berdiri di samping sofa tempat adiknya duduk.

​"Gimana, Nas? Udah dapet info soal orang itu?" tanya Azka pelan.

​Jari-jari Annas berhenti menari di atas keyboard. Tapi dia tidak menoleh.

​"Sorry, Bang. Gue lagi pusing," jawab Annas datar, matanya tetap lurus ke layar. "Acara tinggal dua hari. Gue harus revisi dokumen-dokumen persiapan acara itu."

​"Nas, ini penting. Lo bilang—"

​"Bang, please," potong Annas tajam. Dia memijat pelipisnya. "Jangan ganggu gue dulu. Gue nggak bisa mikir yang lain sekarang."

​Azka terdiam sejenak. Dia menatap punggung adiknya yang kaku, lalu menghela napas pendek. Tanpa bicara lagi, dokter muda itu mengangguk dan kembali naik ke kamarnya.

​Dari arah dapur, Fadhil muncul dengan wajah sumringah sambil membawa piring besar. Aroma manis pisang goreng cokelat langsung menguar darinya.

​"Wuhuu! Cemilan buat begadang nih, Bos! Sore tadi Bunda yang—"

​Langkah Fadhil terhenti di tengah jalan. Dia melihat punggung Annas yang tegang dan Azka yang baru saja naik dengan wajah masam. Aura di sekitar sofa itu terasa sangat tidak enak. Gelap. Suram. Dan nyeremin.

​Fadhil menelan ludah. Dia melirik piring pisang goreng di tangannya, lalu melirik Annas.

​Tanpa suara, Fadhil memutar tumitnya 180 derajat. Dia berbelok cepat menuju ruang TV yang letaknya agak jauh, menyalakan televisi dengan volume kecil, dan memakan pisang gorengnya sendirian.

​Annas kembali mengetik. Cepat. Keras. Seolah sedang melampiaskan sesuatu pada tombol-tombol laptopnya.

​Pukul 21.17 WIB. Di Rumah Febby.

​"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

​Ani membanting tubuhnya ke sofa. Ponselnya masih menempel di telinga, tapi lagi-lagi suara operator yang menjawab.

​"Satria... angkat dong!" ujar Ani memohon.

​Dia mencoba lagi. Kali ini menekan kontak Ziko.

Tut... Tut... Tidak diangkat.

Bayu.

Tut... Tut... Tidak diangkat juga.

​"Ke mana sih preman-preman itu?! Tumben amat jam segini nggak ada yang megang hape?!" pekik Ani. Dia menjambak rambutnya sendiri.

​Jam dinding terus berdetak. Jarum pendek sudah hampir menyentuh angka sepuluh. Pintu depan masih terkunci rapat. Motor Fadhil masih diam di garasi. Dan Febby belum pulang sama sekali.

​Ani menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih. Tangannya gemetar saat mencari satu nama terakhir di kontaknya. Nama yang paling dia harapkan.

​Tuuut... Tuuut...

​Panggilan tersambung.

​"Halo?"

​"Nas! Annas!" Ani langsung berteriak, air matanya tumpah seketika mendengar suara manusia. "Febby, Nas! Febby belum pulang!"

​Hening sejenak. Hanya suara kertas dibalik di seberang sana.

​"Belum pulang gimana?" Suara Annas terdengar sangat datar. "Ini udah malem."

​"Iya gue tau ini malem! Makanya gue panik!" Ani terisak. "Tadi sore dia pergi jalan kaki, ninggalin kunci rumah sama kunci motor ke gue. Katanya ada urusan bentar. Tapi sampe sekarang hapenya mati! Gue telpon Satria nggak diangkat, anak-anak yang lain juga ilang! Gue takut dia diculik atau kenapa-napa, Nas!"

​"Hm."

​Jawaban singkat itu membuat tangis Ani tertahan di tenggorokan.

​"Hm doang?! Nas, lo denger gue nggak sih?! Febby ilang!"

​"Gue denger, An. Gue juga lagi repot di sini," jawab Annas, nadanya terdengar tidak sabar. "Kerjaan Febby numpuk. Dia ngilang dari sore, jadi gue yang harus ngerjain semua rekap absensi sama vendor sendirian malem ini."

​Ani membelalak. Ponselnya nyaris terlepas dari genggaman.

​"Lo..." Suara Ani bergetar karena marah. "Lo lebih peduli sama kerjaan daripada nyawa temen lo sendiri?"

​"Gue cuma berusaha profesional. Acara lusa, An. Kalau gue nggak kerjain ini, satu sekolah yang kena imbasnya."

​"PROFESIONAL?!" jerit Ani histeris. "Gue kira lo beda, Nas! Gue kira lo peduli sama Febby! Ternyata lo cuma peduli sama citra lo sebagai Ketua OSIS biar nggak disalahin kan?!"

​"Terserah lo mikir apa. Gue sibuk."

​Klik.

​Sambungan diputus sepihak.

​"DASAR COWOK BR*NGSEK!" Ani melempar ponselnya ke lantai karpet dengan kencang. Dia meraung, menangis sendirian di ruang tengah yang luas itu.

​Lima menit kemudian, dengan sisa tenaga, Ani memungut ponselnya lagi. Layarnya retak sedikit. Dia menekan nomor 110.

​"Halo? Polisi? Pak... tolong Pak... Teman saya hilang..." ucap Ani terbata-bata di sela isakannya.

"Selamat malam, Mbak. Tenang dulu. Hilangnya sejak kapan?"

"Tadi sore, Pak... sekitar jam empat..."

"Baik, sebenarnya laporan bisa langsung dibuat, tapi kami butuh data lengkap. Mbaknya bisa datang ke kantor sekarang?"

"Saya... saya sendirian, Pak... saya takut..."

"Kalau tidak bisa sekarang, buat laporan besok pagi ya, Mbak. Kami tidak bisa mengirim anggota tanpa data lengkap."

"Pak, tolong... ini darurat..."

Tuuut—

Telepon terputus.

​Ani merosot ke lantai, memeluk lututnya. Dia menangis sejadi-jadinya.

Pukul 23.00 WIB. Di Kamar Annas.

​Lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari layar laptop yang masih menyala di meja belajar.

​Annas duduk di kursinya, tidak lagi mengetik. Dia hanya diam, menatap layar yang menampilkan sebuah peta digital dengan satu titik merah yang berkedip pelan di pinggiran kota. Titik itu diam, tidak bergerak.

​Di samping laptop, ada sebuah map berisi proposal asli yang selama ini dia sembunyikan.

​Annas menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajahnya separuh tertutup bayangan kegelapan kamar. Tidak ada ekspresi sedih atau panik di sana. Hanya tatapan dingin. Sangat dingin.

​"Sorry, Feb."

​Tangannya kemudian bergerak menutup layar laptop.

​Kamar itu pun gelap gulita.

​-BERSAMBUNG

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!