Kehidupan Kania yang tenang tiba2 harus berubah saat situasi mengharuskannya berperan sebagai orang lain.
Mendapatkan cinta dari pria asing saat dia tidak menginginkannya.
Namun Kania harus melepas cinta itu saat dia benar2 bisa membuka hatinya.
Akankah Kania bertahan dengan peran barunya, ataukah dia harus kembali pada kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan pria asing itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak diantara 2 pria
Sepeninggal Rian dari kamarnya, Kania masih berdiri terpaku bersandar pada dinding melihat ke arah tumpukan hantaran yang diberi keluarga Daniel untuknya.
Seketika tubuh Kania beringsut kebawah, kata2 Rian masih terngiang jelas di kepalanya.
Kania sadar telah melakukan hal yang pasti akan membuatnya menyesal suatu hari nanti.
Tapi untuk menghindarpun sudah terlambat saat ini, akan ada banyak hati yang akan terluka bila Kania nekat mengakui semua drama ini.
Air mata gadis itu menetes, perasaan kecewa pada dirinya sendiri membuat gadis ini merasa tak berdaya.
Bagaimana bisa dia jadi gegabah seperti ini, niat baiknya untuk menolong saudara kembarnya berakhir dengan mempertaruhkan masa depan dan impian gadis itu.
Tidak pernah terbayang sebelumnya dia akan menikah secepat ini, terlebih dengan pria yang tidak sedikitpun dicintainya.
Dulu dia berharap suatu saat bertemu dengan pria baik yang mau menikahinya dengan tulus dan mau menerima keluarganya, membina kehidupan rumah tangga yang didasari atas perasaan saling mencintai, sesederhana itu impian seorang Kania.
Tapi kini dia harus di hadapkan pada kenyataan hidup yang begitu rumit.
"Maafkan Kania ayah, maafkan kakak Rian, kakak sudah mengecewakan kalian dengan semua kebohongan ini" Kania memeluk erat kedua lututnya yang terlipat, gadis itu terisak, rasa bersalah kembali membuat Kania merasakan sesak yang luar biasa didadanya.
Malam pun berlalu meski di iringi dengan derai air mata, pagi ini seperti biasa Kania melakukan tugas rumahnya sebelum berangkat ke toko roti.
Cepat2 gadis itu mengompres matanya sebelum ayah dan Rian melihat matanya yang sembab.
"Duh yang udah mau jadi calon mantu, makin rajin aja" goda bi Lastri saat hendak mengambil alih membersihkan dapur.
"Apaan sih bi, biasanya juga gini kok" Kania menata meja makan untuk sarapan pagi hari ini.
Sayup2 terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Biar Kania aja bi" ucap Kania saat melihat bi Lastri hendak berjalan kedepan membuka pintu.
"Siapa yang bertamu sepagi ini, apa mungkin Reyhan? gumam Kania dalam hati sambil menarik gagang pintu.
"Permisi selamat pagi, apa non Kania nya ada? tanya Pria yang tidak di kenal di depan pintu sambil membawa seikat bunga.
"Iya dengan saya sendiri, ada perlu apa ya mas? Kania menatap heran pada pria yang terus tersenyum dan membungkuk sopan padanya.
"Saya asistennya pak Daniel, dan beliau meminta saya memberikan ini pada non Kania" kemudian pria itu memberikan sebuket bunga mawar berwarna merah pada Kania.
"Oh terima kasih banyak ya mas" ucap Kania sedikit canggung karena selama hidupnya tak pernah sekalipun gadis itu mendapatkan bunga dari seorang pria.
"Kalau begitu saya permisi dulu nona" pria itu kembali membungkukan sedikit tubuhnya sebelum pergi dari rumah Kania.
Kania bingung apakah dia harus merasa senang atau tidak mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Daniel.
Jujur sebagai wanita Kania merasa iri pada Tania, wanita mana yang tidak bahagia bila memiliki kekasih romantis dan perhatian seperti Daniel.
Gadis itu berjalan ke dapur, mencari vas bunga yang cocok untuk bunga mawar itu.
"Dari Daniel? tanya ayah yang tiba2 datang dan mengagetkan Kania.
"Ayah..ngagetin aja" Kania sedikit tersentak.
"Ha ha ha, fokus banget sama bunganya sampai gak ngeliat ada ayah disini" ejek pak Dedi menggoda anaknya.
"Ih ayah" pipi Kania sedikit merona menahan malu.
"Ayah senang ngelihat kamu bahagia seperti ini nak, dan ayah lihat Daniel adalah pria yang tepat buat kamu, ayah cuma minta jadilah istri yang berbakti pada suamimu, lakukan tanggung jawabmu sebagai seorang istri dengan sepenuh hati, maka rumah tangga kalian akan berjalan dengan baik dan bahagia. Ingat Kania..setelah menikah suamimu harus jadi prioritas utamamu, jangan lagi mengkhawatirkan ayah dan Rian.
Karena bahagiamu adalah bahagia kami nak" pak Dedi menatap Kania dengan penuh kasih, pria paruh baya ini benar2 berharap anaknya bisa menemukan kebahagiaannya bersama Daniel calon menantunya.
Setidaknya pak Dedi merasa lega, karena tugasnya sebagai ayah telah dilakukan dengan baik dengan mempercayakan anak gadisnya pada Daniel yang dia harap bisa menjaga Kania sepenuh hatinya.
" Ayah " Kania memeluk ayahnya erat, hatinya begitu berkecamuk, begitu berat rasanya menyadari dirinya akan meninggalkan ayah dan adiknya setelah menikah nanti.
"Kenapa menangis, harusnya kamu bahagia nak, udah dapet kiriman bunga juga" goda pak Dedi lagi.
"Ishh ayah" Kania menepuk pelan lengan pak Dedi sambil menyeka air mata di pipinya.
Adegan haru antara ayah dan anak itu seketika berubah menjadi canda tawa.
"Pagi ayah, pagi kak" sapa Rian dengan senyum manisnya.
"Eh adikku yang tampan, sarapan dulu sini" Kania menarik tangan Rian dan mengambilkan sarapan untuk ayah dan adiknya.
Setelah selesai seperti biasa Rian akan mengantarkan Kania terlebih dahulu ke toko roti.
Sudah begitu banyak pekerjaan yang menanti Kania, hari ini toko mereka mendapatkan banyak pesanan dari para pelanggannya.
Belum lagi menyiapkan beragam cake yang harus diantar ke kafe Kevin.
Gadis itu menghentikan kegiatannya saat mendengar suara ponselnya berdering.
"Ya hallo" jawab Kania tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Hallo sayang, apa kamu sudah menerima bunga yang aku kirim? tanpa bertanya pun Kania langsung bisa menebak kalau itu adalah Daniel calon suaminya.
"Mm..ya aku sudah menerimanya, terima kasih" ucap Kania sambil meneruskan pekerjaannya menghias kue.
"Apa kamu tidak menyukainya, suaramu terdengar begitu datar sayang" ucap Daniel di sebrang panggilan.
"Bukan begitu, aku menyukainya, hanya saja saat ini aku sedang ada di toko dan begitu banyak hal yang harus dikerjakan sekarang" ucap Kania sambil berbicara pada karyawan yang juga bertanya padanya saat ini.
"Bisakah kamu tidak mengabaikanku dan hanya fokus padaku saja saat ini sayang, sepanjang malam aku begitu merindukanmu dan kini aku harus mendengarkanmu berbicara dengan orang lain saat aku menghubungimu, itu benar2 membuatku kesal"
Tidak berbeda dengan Daniel, saat ini Kania benar2 merasa jengah dengan sikap manja pria itu, sementara situasinya saat ini tidak memungkin baginya untuk bermanja ria dan meninggalkan tugasnya pada karyawan yang juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing2.
Kania memutar matanya, menarik nafas dalam sebelum memikirkan bagaimana cara menenangkan Daniel.
"Maafkan aku sayang, tapi saat ini toko kami benar2 sedang sibuk karena kami harus menyiapkan pesanan para customer tepat waktu, bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik dan bertanggung jawab nantinya, bila aku sendiri tidak bisa bertanggung jawab dengan kepercayaan yang diberikan para pelangganku hmm? sumpah saat ini Kania merasa geli dengan nada bicaranya sendiri, kalau saja bisa memilih, pasti Kania lebih memilih mematikan ponselnya dan mengabaikan Daniel saat ini.
Namun gadis itu tidak punya pilihan lain, selain mengikuti alur cerita agar perannya sebagai Tania terlihat lebih meyakinkan.
"Sayang? kamu baru saja memanggilku sayang? sepertinya kamu sudah kembali menjadi wanitaku, taukah kamu aku sempat kesal karena beberapa hari ini kamu tidak memanggilku dengan kata itu, maukah kamu mengulangnya lagi, panggil aku dengan sebutan itu maka aku akan memaafkanmu kali ini"
"Ya ampun aku benar2 bisa gil4 meladeni pria ini" gumam Kania dalam hati.
Kania menarik nafasnya, menyetel nada bicaranya agar terdengar semanis mungkin sehingga pembicaraan ini segera berakhir.
"Sayang..aku sedang sangat sibuk sekarang, bisakah kita akhiri obroran ini, aku janji akan menelponmu lagi nanti, bagaimana? tanya Kania memberi penawaran.
"Itu belum cukup meyakinkan" ucap Daniel sengaja mengulur waktu.
"Aku mencintaimu Daniel, aku janji akan memberikan waktuku sepenuhnya hanya untukmu setelah kita menikah nanti, tapi bisakah hari ini kamu membiarkanku menyelesaikan pekerjaanku" ucap Kania sedikit lantang, gadis itu benar2 tidak punya ide lain lagi agar Daniel mau menyudahi panggilannya.
Namun Kania lupa kalau saat ini dia sedang ada di tengah2 karyawannya yang sedang menatapnya penuh arti ketika mendengar bosnya mengucapkan dengan jelas tentang pernikahan dan kata2 cinta yang tidak pernah keluar dari mulut gadis itu sebelumnya.
Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, Kania mencoba tersenyum getir menahan malu hingga dia memutuskan berlari menuju ke ruangannya.
"Aku juga sangat mencintaimu, baiklah aku akan menyudahi panggilanku, tapi kamu harus janji untuk menelponku nanti ok" suara Daniel terdengar penuh pengharapan.
"Iya aku janji" jawab Kania dengan suara yang melemah sambil membenturkan kepalanya berkali2 di atas meja kerjanya.
"Love you "
"Love you to" jawab Kania menahan perutnya yang tiba2 mual mendengar ucapan dari bibirnya sendiri.
Dan kini Kania harus memikirkan bagaimana caranya menghadapi para karyawannya yang sudah pasti akan memberikan banyak pertanyaan padanya.
"Arrgghh..ini semua gara2 kamu Daniel" Kania menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali untuk mengurangi rasa kesalnya.
Kania tidak bisa menghindar, dan benar saja beberapa dari mereka mulai menggoda bos mereka yang cantik ini dengan menyebutkan hal tentang pernikahan yang membuat mereka penasaran.
Namun Kania hanya menanggapinya dengan senyuman dan meminta pak Ujang segera mengantarnya ke kafe Kevin, itu adalah cara jitu untuk menghindari rasa penasaran dari para karyawannya.
Sesampainya disana Kania segera menyelesaikan pekerjaannya, namun sampai semuanya selesai Kania tidak melihat keberadaan Kevin di kafe itu.
"Lagi cari pak Kevin ya mbak? tanya salah satu karyawan saat menyadari Kania yang celingukan di dalam kafe.
"Eh..apa pak Kevin belum datang, aku tidak melihatnya dari tadi" jawab Kania sedikit malu karena merasa ketahuan.
"Kemungkinan pak Kevin tidak akan datang hari ini, karena saya mendengar orang tua pak Kevin masuk rumah sakit, kalau begitu saya permisi kebelakang lagi ya mbak" pamitnya sambil tersenyum pada Kania.
"Eh iya silahkan" Kania membalas senyuman karyawan itu dengan sopan.
"Apa aku harus mrnghubungi kak Kevin untuk menanyakan kabar orang tuanya atau..akhh, memangnya aku siapa sampai berhak tau apa yang sedang terjadi padanya" gumam Kania dalam hati.
Gadis itu pun memutuskan untuk segera berangkat ke kampus dan meminta pak Ujang mengantarnya sekalian kembali ke toko.
Kania berjalan perlahan memasuki halaman kampus.
Meskipun berulangkali dia mencoba mengabaikan berita tentang Kevin, tapi gadis itu tidak berhenti khawatir.
Dia mengerti bagaimana rasanya bila orang tua yang kita sayangi sedang terbaring sakit.
"Pasti kak Kevin sedang merasa sedih sekarang" gumam Kania sambil berjalan tanpa melihat sekitar.
"Lagi mikirin apaan sih, di panggilin juga" gerutu Reyhan yang menepuk punggung Kania dengan lembut.
" Eh..gak lagi mikirin apa2 kok" jawab Kania
sambil berjalan beriringan dengan Reyhan.
"Kemana aja sih kamu, di hubungi susah banget" tanya Reyhan dengan wajah heran.
"Memangnya kapan kamu hubungi aku? tanya Kania menautkan alisnya.
"Yaelah, coba deh kamu cek ponsel kamu, lihat berapa panggilan gak kejawab dari nomorku, ngechat juga gak dibales" sungut Reyhan cemberut.
"Ya maaf Rey, dari semalem itu aku sibuk jadi gak sempet ngecek ponsel"
"Sibuk apaan sih?
"Ada aja" Kania tersenyum jahil, tidak mungkin juga dia bilang ke Reyhan kalau semalam dia sibuk menerima lamaran Daniel.
"Kania!! Reyhan!! teriak Mila yang berlari menghampiri kedua sahabatnya.
"Eh pulang kuliah nanti kalian ada waktu gak? tanya Mila sambil mengatur nafasnya yang ngos2an .
"Memangnya ada acara apa Mil, kamu mau traktir kita? tanya Reyhan antusias.
"Giliran gratisan aja cepet" Mila memukul lengan Reyhan hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Aduh sakit Mila, tapi sory hari ini aku gak bisa" Reyhan menggosok lengannya yang kini terlihat merah karena pukulan dari Mila yang cukup kuat.
"Lagian siapa juga yang mau traktir makan, nanti itu aku mau minta kalian temenin aku ke rumah sakit, kalau Rey gak bisa gak masalah, tapi kamu mau kan Kania? bujuk Mila menarik lengan gadis itu.
"Memangnya orang tua kak Kevin sakit apa Mil? tanya Kania cemas.
"Eh kok kamu tau aku mau jenguk papanya kak Kevin? Mila dan Reyhan menatap Kania bersamaan dengan perasaan bingung.
"Mmm..tadi itu aku denger dari karyawan kafe, kebetulan aku gak lihat ada kak Kevin di sana, jadi aku iseng aja tanya kenapa kak Kevin gak datang ke kafe kayak biasanya" Kania mencoba menjelaskan karena kedua sahabatnya mulai menatapnya curiga.
"Oh..aku juga belum tau om Jimmy sakit apa, yang aku tau selama ini memang om aku itu rutin ngejalani chek up di rumah sakit" ucap Mila menjelaskan sambil menggandeng tangan Kania.
"Ya udah kalau gitu aku ke kelas dulu, sory nanti aku gak bisa temenin kalian,kamu hati2 ya Kania, kalau ada apa2 kamu bisa hubungi aku" Reyhan mengacak puncak kepala Kania dan berlalu pergi.
"Idih..tuh anak kenapa, kok jadi lebay gitu, kesambet apa yah" Mila menatap heran ke arah Reyhan yang sudah menghilang.
"Tau, udah ayo kita ke kelas" ajak Kania.
Setelah beberapa jam berlalu, kini kedua gadis itu sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk orang tua Kevin yang juga om nya Mila.
"Siang om, hai kak Kevin" sapa Mila yang di ikuti sapaan Kania dengan ramah pada Kevin dan papanya.
"Mila, itu teman kamu? tanya om Jimmy dengan senyum hangatnya.
Kevin yang melihat kedatangan Kania seketika tersenyum bahagia, seharian ini dia tak henti memikirkan gadis itu.
"Iya om, ini sahabat Mila"
"Nama saya Kania, bagaimana kabarnya om, saya harap kedatangan kami tidak mengganggu istirahat om" ucap Kania dengan sopan.
"Tentu saja tidak, seperti yang kalian lihat, om baik2 saja" jawab om Jimmy memperlihatkan tubuhnya yang terlihat cukup segar meski wajahnya masih sedikit pucat.
Namun pandangannya kini tertuju pada anaknya yang tidak berpaling menatap Kania sambil tak henti tersenyum.
"Ekheem, kalau boleh papa tebak apa Kania ini gadis yang mau kamu kenalkan ke papa?
Sontak Kevin merasa malu mendengar ucapan papanya, sementara Kania dan Mila juga tak kalah terkejut sampai melebarkan matanya tak percaya.
Tapi sepertinya kali ini Kevin punya ide untuk menghindari desakan papanya yang berniat menjodohkannya dengan anak dari kolega bisnisnya.
"Iya pa, sebenarnya Kania ini gadis yang sedang dekat dengan Kevin" ucap Kevin tiba2 sambil meraih jemari Kania dalam genggamannya.
Kania semakin terkejut, seketika tubuhnya membeku tak bersuara, bahkan gadis itu merasakan dingin di sekujur tubuhnya meski saat ini Kevin menatapnya dengan tatapan dan senyuman yang menghangatkan jiwa.
Meskipun Kania akui pesona Kevin sempat mencuri perhatiannya, namun hal ini sungguh di luar dugaannya.
"Cobaan apa lagi ini Tuhan" batin Kania merintih dalam hatinya.