NovelToon NovelToon
Tambatan Hati

Tambatan Hati

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa / Teen School/College / Slice of Life / Tamat
Popularitas:93k
Nilai: 4.7
Nama Author: Rahma AR

Kisah cinta remaja yang manis

Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.

Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.

Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.

Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.

Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelas yang seru

Ngga lama kemudian bel masuk pun berdentang. Mereka pun mulai duduk di kursi masing masing.

Bu Mela, sang wali kelas memasuki kelas membuat suasana yang tadi kasak kusuk berubah jadi tenang.

"Selamat pagi."

"Pagi Buuu....." bagai koor mereka pun menjawab.

Ternyata wali kelas mereka masih muda dan dandanannya tampak modis tapi tetap berkesan sopan dan berwibawa.

Tapi selanjutnya terdengar suara Mario yang memberi komando teman temannya.

"Selamat Pagi Bu Melaaa....!"

Gubrak!

Bu Mela sampai berjengkit saking kagetnya karena gemuruhnya suara yang menyambut dirinya.

Kemudian mereka pun sama melebarkan senyum, bahkan ada yang tertawa kecil melihat ekspresi shock Bu Mela.

"Untung Ibu ngga sakit jantung," komen Bu Mela sambil mengelus dadanya agar jantungnya kembali berdetak dengan normal.

GEERRRR

Suara tawa bagai koor kembali tedengar.

"Kamu ketua kelasnya, ya?" tanya Bu Mela sambil menunjuk Mario yang sempat membuatnya hampir terkena serangan jantung.

"Bukan Bu," sangkal Mario kalem.

"Lantas siapa?" tanya Bu Mela heran.

Seisi kelas berpaling pada Gibran yang duduk di sebelah Mario. Bahkan Mario, Revi langsung menunjukan jempolnya pada Gibran. Gibran mengulaskan senyum polosnya.

Aninda tersenyum melihatnya.

"Lantas kamu siapa?" tanya Bu Mela sambil menggelangkan kepalanya sambil menudingkan telunjuknya pada Mario yang hanya cengar cengir.

"Saya wakilnya bu," ucap Mario masih dengan lagak cengar cengirnya

GEERRRR

Kembali kelas riuh oleh suara tawa. Bu Mela, yang sepertinya belum berusia tiga puluh tahun itu memijat kepalanya. Ngga disangka akan diminta kepsek menjadi wali kelas anak anak yang cukup ekspresif tapi sangat berprestasi.

Bayangkan saja, hampir semua gelar juara diraih kelas ini dalam lomba kemarin. Sehingga mereka mendapat predikat juara umum.

"Siapa nama kamu?" tanya Bu Mela setelah suara tawa mulai reda.

"Saya bu?" tanya Mario pede.

"Ya, kamu dulu ngga apa," ucap Bu Mela sudah terserah saja. Pusing dia harus mendebat anak didiknya yang terlihat senang mengganggunya.

"Mario Rajapati, Bu. Wakil ketua kelas," katanya lantang.

"Lanjut," titah sang guru.

"Lanjut kemana bu?" tanya Mario usil.

Revi kembali ngakak melihat keberanian Mario menggoda bu Guru yang masih muda dan cantik itu.

Bu Mela kembali memegang keningnya, bahkan mulai memijitnya.

"Kamu udah. Sekarang siapa ketua kelas, sekretaris sama Bendahara," titahnya lagi

"Ooo... Oke bu," senyum Mario yang langsung membuat teman teman yang duduk di sekitarnya tertawa kecil.

"Gibran Mahendrata. Ketua kelas," ucap Gibran sambil berdiri.

"Aninda Mayura. Sekertaris," lanjut Aninda setelah Gibran duduk.

"Kirana Putri. Bendahara," sambung Kirana.

"Oke. Sekertaris kemari," titah Bu Mela.

Aninda pun bangkit dan menghampiri Bu Mela.

"Ketua kelas, sini juga," ujar Bu Mela.

"Cih, langsung didekatin," ledek Mario berbisik.

Gibran hanya tersenyum tipis. Dia pun maju dan berdiri di samping Aninda.

Jantung Aninda kembali berdetak ngga normal ketika Gibran sudah berada di sampimgnya.

"Aninda, ya. Kamu ngurus absen kelas, ya. Gibran, kalo sudah habis kertas absennya, kamu minta ke TU ya," titah sang bu guru.

"Siap bu," sahut Gibran sambil memberikan kertas kertas absen yang diberikan bu Mela pada Aninda.

Keduanya bersitatap sebentar.

"Oke. Kita bisa mulai kelas," kata Bu Mela membuat keduanya memutuskan pandangan dan kembali ke tempat duduk.

Tapi terjadi insiden kecil. Aninda yang grogi ngga sengaja menginjak sepatu Gibran dan hampir oleng. Gibran cepat menarik bahu Aninda agar ngga jatuh.

"Suit suit."

"Suit suit."

"Suit suit."

Mario dan Revi paling keras melakukannya. Senyun lebar tampak di wajah keduanya.

Kembali kelas heboh oleh adegan ngga sengaja dan nampak mesra itu.

Kirana tersenyum kecut. Dia seperti sedang ditampar dengan sangat keras.

"Maaf," ucap Aninda dengan wajah meronanya sambil menjauhkan dirinya dari tubuh Gibran.

Gibran tersenyum dengan melepas pegangannya.

Bu Mela kembali memijat keningnya melihat kelakuan dua siswa tadi yang tepat di depannya.

Kalian masih kecil, masih jauh. Sekolah dulu yang benar. Saya aja yang udah S tiga belum juga dapat suami, batinnya miris.

"Ciee...," goda Laras ketika Aninda sudah duduk di sampimgnya.

Vina yang duduk di depannya sampai menoleh ke belakang dengan wajah yang sama usilnya dengan Laras.

Aninda hanya tersenyum berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang ngga pernah tau diri saat bersama Gibran.

"Kapan mau diresmikan?" bisiik Laras kemudian terkekeh pelan.

"Ssttt," cegah Aninda karena wajah Bu Mela sudah kembali nampak tegang.

Kelas pun sudah berangsur tenang kembali dan Bu Mela pun membuka materi pelajaran yang beliau ampu.

MATEMATIKA

Kembali terdengar gerutuan kesal dan stres karena Bu Mela langsung meminta mereka mengerjakan soal soal sebanyak sepuluh soal dan wajib dikumpulkan segera.

Seakan masih kesal dengan Mario, Bu Mela meminta siswanya mengejakan soal nomer satu di depan kelas.

Dengan santai Mario maju dan mengerjakan soal itu dengan lancar.

"Bener ngga bu?" tanya Mario setengah meledek.

Bu Mela memperhatikan jawaban siswanya.

Ternyata benar, batinnya gedek tapi senang juga. Ternyata walau kurang ajar tapi otaknya ada isinya.

"Yak, benar. Kamu boleh duduk," .kata Bu Mela.kembali menatap para siswa yang lain untuk dipanggil maju ke depan

"Bu, udah punya suami belum?" tanya Mario dengan raut cengengesannya.

Alis Bu Mela sampai nyatu dan matanya memicing galak.

"Kamu nanya?" sarkas Bu Mela judes.

Teman teman satu kelas kembali ada yang tersenyum dan ada pula yang tertawa kecil. Terutama Revi.

"Semangat bro," celutuknya membuat Bu Mela menatapnya galak.

"Ampun bu..." respom Revi cepat sambil menyatukan kedua tangannya ke atas kepalanya.

"Kamu nomer dua," tukas Bu Mela dengan suara sadisnya.

"Siap!" jawab Revi seperti prajurid yang dapat perintah untuk menyelamatkan seorang nenek yang habis dijambret.

Dia pun maju dengan gagah diiringi kekehan Gibran dan Mario. Bahkan teman teman sekelasnya pun ngga henti hentinya melebarkan senyum mereka.

"Nanti saya mau kenalin ibu sama abang saya. Itu kalo bu Mela belum nikah," sambung Mario pantang menyerah, pantang mundur walaupun harus menghadapi reaksi Bu Gurunya yang tetap memancarkan aura galaknya.

"Aarrrgghhh... Sudah sana kamu duduk," usir Bu Mela mulai frustasi melihat keberanian siswanya. Ini tahun kedua dia memegang kelas. Tapi ini yang paling absurd dan gokil menurutnya. Kelas sebelumnya sangat teratur dan kalem. Mimpi apa dia harus menjadi wali kelas ini selama setahun. Semoga jantungnya bisa baik baik saja sampai akhir.

"Jangan mau bu. Kakaknya dingin kayak es," cetus Revi yang sudah melewati Mario dan kini tepat berada di sampingnya.

"Sudah. Sana kamu kejain," pelotot Bu Mela semakin galak.

"Tenang, tenang bu. Akan segera saya selesaikan," jawab Revi ngga kalah konyolnya dengan Mario.

Kembali Bu Mela memijat keningnya. Rasanya isi kepalanya mau dia tumpahkan saat ini juga di atas meja.

Aninda ngga henti hentinya tersenyum. Dan masih tersenyun ketika melihat ke arah Gibran yang sedang mematapnya juga dengan senyum.di bibirnya.

1
Qaisaa Nazarudin
Lha gitu aja ENDINGNYA
.CKK kegantung nih...😭😭
Qaisaa Nazarudin
DASAR isteri nya aja yg gak.sadar diri,Mending anak angkat dari menantu,Kalo MENANTU SAAT DICERAIKAN AKAN JADI MANTAN,LHA KALO ANAK ANGKAT TETAP AJA STATUSNYA ANAK WALAUPUN BUKAN ANAK KANDUNG..
Qaisaa Nazarudin
Udah ku duga kalo dari awal Zaky emang udah jatuh cinta pada pandangan pertama ke Fathia,Zaky nya aja yg sok.gengsi..😄
Qaisaa Nazarudin
Aku dari awal sempat takut kalo om Thomas dan Daby sama JAHAT nya kayak isteri/ibunya nya,eh ternyata kagak,Daby dengan sepupu yg lain malah kompak banget dengan Aninda..👍👍
Qaisaa Nazarudin
Nah itu kamu tau...

Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Ya salam..lama2 aku gedeg dengan nih maminya..🙄🙄🙇🙇🙇
Qaisaa Nazarudin
HERAN deh orang kaya tapi kolot,Suka banget jodoh jodohin anak,kayak anak2 mereka gak laku aja,Gibran masih belasan tahun,perjalanan hidupnya masih panjang,ngapain maksa dewasa sebelum waktunya .ckk🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Gibran gak Tegas sebagai COWOK,Katanya udah putus,ngapain lagi di ladenin si Marshanya..aneh..
Qaisaa Nazarudin
Ninda ini terlalu BAPER harusnya sadar diri ajalah,disenyumin dan dipandang udah Baper aja ckk...
Qaisaa Nazarudin
Kok aku lama2 gak suka ya sikap Risma, Kayaknya dia yg suka tuh cowok tapi malah jadiin Aninda kambing hitamnya🤦🤦🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Biasalah,Sepupu2 ku dari bokap juga gitu,depan2 kita baik tapi belakang nyinyir kayak lambe turah,Tapi dgn ku mereka kayak gak berani gitu,karena aku suka melawan,dan suka balas omongan mereka..
Qaisaa Nazarudin
kedua ortunya guru sekolah swasta, pasti gaji nya gede,Gak mungkin lah gak mampu beliin Aninda motor ya gak,kok jalan kaki terus..
Qaisaa Nazarudin
Ya udah kalo gitu cuekin aja,ngapain juga dibikin ribet,kalo suka juga sama dia,jangan keliatan banget,Jatohnya kayak cewek Murahan,Mending jual mahal,dan jaga harga diri sebagai cewek..Gak semua cowok suka sama Cewek yg ganjen,yang ada mereka akan ilfil...
Qaisaa Nazarudin
Kenapa disini si Risma yg kayak berlebihan,Kayak maksa gitu..

MAMPIR THOR 🙋
Pujierde
janganlah terpaku pada perhatian seorang cwok sebelum dia menyatakan suka ke kamu ninda jangan biar rasa baper menghuni hatimu
Pujierde
semoga semua sepupunya pada tulus baik sama anindia
Pujierde
Luar biasa
Pujierde
kasihan para guru honorer yang belasan tahun masih honorer padahal keluarga mereka juga butuh untuk keseharian😭😭
💟노르 아스마💟
Luar biasa
💟노르 아스마💟
2 gls kopi buat kak rahma lah ...biar bayikk no.2
hihihi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!