Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BFF
Best Friend
Matahari bersinar cerah dengan setia kepada semua penduduk bumi tanpa sekalipun menuntut balik atas apa yang terus menerus diberikannya. Sangat berbeda dengan sifat manusia yang terkadang masih suka mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan. Terutama, jika orang itu tak lagi ada di pihak yang sama.
Begitu juga yang terjadi pada Jona dan Livi. Dulu, kedua gadis itu saling menyayangi dan saling bantu sebelum salah satu dari mereka melakukan apa yang dinilai oleh lainnya kesalahan besar tak termaafkan. Kesalahan yang membuat keduanya berada di pihak yang berseberangan, lalu seolah-olah rasa kasih sayang yang ada, hilang begitu saja bak tertelan rekahan bumi dan tak hendak muncul lagi.
Kesetiakawanan benar-benar diuji dengan hal di luar kemampuan keduanya dan pecahlah sudah hubungan baik di antara merekaa menjadi semacam permusuhan. Persabahatan yang dibangun dari balok-balok kebersamaan, kini runtuh oleh sebab jalinan asmara yang bagi Livi benar-benar terlarang, namun jutsru asmara yang tidak mudah tergoyahkan oleh apapun. Tidak termasuk juga ketika dirinya mengigau bahkan hingga demam.
Livi, menjadi sangat benci sahabatnya itu. Di sisi lain, Jona merasa sangat kehilangan dan sekaligus beruntung karena cinta, yang sepertinya selalu berpihak padanya. Sejauh ini, itulah yang dia rasa. Bahkan, Jordy tak segan-segan melamarnya. Menunjukkan betapa serius perasaan pria itu pada Jona.
Keputusan Jona memutuskan tali cinta ternyata menyakitkan bagi dirinya, yang ditemukan tak sadarkan diri di balik pintu ketika Mbah pulang.
Saat Jona mengajukan permohonan berpisah lalu Jordy seolah menyetujui, seketika dada gadis itu merasakan hantaman yang luar biasa kuat. Tak hanya rasa sakit yang dibawa serangan tak kasat mata itu melainkan perasaan dingin serta kosong yang mengerikan dan terus merongrong kewarasan dirinya.
Jona merasa bagaikan tubuh yang kosong. Berjalan hanya mengikuti arus tanpa sedikit pun hasrat diri yang tersisa....
Ketika berjalan di koridor sekolah, dia tidak memperhatikan apapun selain dari matahari yang bersinar begitu cerah. Andai... andai saja hatinya bisa secerah itu atau setidaknya bisa tertular sedikit dari sifat matahari yang menghangatkan, pasti kekelaman yang dialaminya akan berangsur sirna. Tetapi, di sisi lain, dia juga percaya bahwa waktu adalah penyembuh yang jitu dan mungkin Jona akan terus menunggu dan terus menunggu saat itu. Saat di mana dia berada dalam keadaan bahagia tanpa kehadiran Jordy dan mendapatkan pemaafan dari sahabatnya, Livi.
Diri sendiri bisa berbohong, bahkan hati bisa memanipulasi rasa apalagi dibantu dengan kerja otak. Sesuatu yang sangat menyakitkan tidak begitu perih tatkala kinerja keduanya mampu memberi sugesti baik, bahwa semuanya tidak seburuk yang semula Jona kira. Tetapi apa daya, tubuh tak bisa berbohong. Tubuh amatlah jujur dalam mengungkapkan sesuatu, sama seperti ketika ditemukan pingsan, saat ini pun demikian. Dalam perjalanan dari toilet menuju ruang kelas, tubuhnya tiba-tiba melemah.
Jona merasakan sesuatu yang terasa sangat berat sehingga dia memelankan langkah. Pandangan matanya kabur. Kepala Jona bagaikan terhimpit dalam sesuatu yang terus mencengkeram. Dunia seolah berputar lebih cepat. Dadanya seketika merasa sakit teramat sangat. Gadis itu menghantam sesuatu dalam ketidakberdayaannya.
Sebuah hantaman yang terasa sangat keras. Jona terjatuh di lantai dan samar-samar dia meliahat selembar kertas putih bertuliskan 'Surat Rekomendasi' diikuti kata beasiswa dan entah apa lagi selanjutnya. Dengan sisa tenaga, dia mengedarkan pandangan dan menangkap samar-samar papan nama ruangan bertuliskan ruang guru. Sesosok lelaki keluar dari pintunya.
"Kamu nggak pa-pa?"
"Enggak, Pak. Terima kasih."
Laki-laki itu membantu murid kesayangannya berdiri. Lalu menatap dengan jijik ke arah Jona yang kini duduk di lantai. Livi memungut kertas itu dan pandangan mereka bertemu. Kebencian menusuk hati Jona seketika.
"Lain kali hati-hati," pinta Livi bersimpati atau setidaknya pura-pura begitu. Tetapi dia sama sekali tidak berniat membantu Jona, meskipun jelas terlihat bahwa pacar ayahnya itu butuh bantuan. Sama juga dengan Pak Juki, yang hanya meninggalkan keduanya setelah mengetahui Livi baik-baik saja. Bukankah Jona juga muridnya? Yang artinya dia juga adalah anak titipan selama jam sekolah?
"Baiklah Bapak masuk dulu," pamit laki-laki itu.
Livi bermaksud untuk beranjak pergi meninggalkan Jona, tetapi gadis itu ditahan oleh tangan bekas sahabatnya.
"Tunggu, Liv."
Livi menghela napas, keberatan tapi juga tak mampu menolak. Gadis itu berjongkok di samping Jona.
"Jadi, benar kamu akan kuliah di luar negeri? Seperti yang kamu cita-citakan?"
"Ya. Tapi itu bukan berarti bahwa kamu bebas menikah dengan ayahku. Sebagai catatan saja, bahwa aku tidak akan pernah setuju," terang Livi mengultimatum.
"Haha. Aku dan ayahmu sudah putus, kok. Ini terimalah."
Jona melepas cincin rose gold dari jari manisnya dan menaruh itu di telapak tangan Livi, bahkan membantu gadis itu menggenggamnya.
"Aku kembalikan apa yang seharusnya jadi milikmu, Liv. Juga ayahmu. Aku tidak akan mengambilnya. Kamu berhak bahagia."
"Jona...."
"Nggak pa-pa. Mungkin jodohku bukan ayahmu. Ayahmu orang yang hebat, dia berhak berdampingan dengan orang yang jauh lebih baik dariku."
"Jona, aku... aku nggak nyangka—"
"Udahlah, Liv. Mungkin ini yang terbaik buat kita semua."
"Jona!"
Livi meraih paksa tubuh sahabatnya dan air mata menetes dari kedua pasang mata masing-masing.
"Terima kasih, Jona," bisik Livi. Lalu cepat-cepat Jona menghapus air matanya di balik pelukan itu, berharap Livi tak melihat kesedihannya. Tepat ketika Livi melepas tangannya Jona segera memasang wajah bahagia, meskipun itu hanya pura-pura. Kesedihan Jona, biarlah menjadi rahasia. Sementara kebahagiaan Livi saat ini, gadis itu pun dapat melihat dan merasakan. Seketika itu, tubuh Jona bagai batre yang baru saja disambungkan ke sumber daya. Dia merasa sedikit lebih baik.
Kedua gadis itu pun bangkit dan bersama-sama berjalan menuju ruang kelas mereka....
***
Jordy tampak sibuk di ruang kerjanya ketika Livi pulang. Laki-laki itu sedang merencanakan perusahaannya sendiri. Perusahaan Jordy akan bergerak di bidang yang tak jauh-jauh dari bidang finansial. Jordy berencana membuka jasa perencana keuangan dan akan membuat start-up berbasis aplikasi.
Usai memindahkan pekerjaan ke Bekasi, semuanya memang tidak mudah. Tetapi sedikit demi sedikit bisa teratasi. Hanya ada satu masalah besar sekarang, yaitu hatinya yang terasa berlubang!
"Ayah."
"Sudah pulang?" sapa Jordy mengalihkan pandangan sejenak dari layar monitor.
"Tebak apa yang kudapat hari ini?"
"Apa? Ayah tak pandai menebak."
"Oh, ayolah, Ayah," rengek Livi memaksa ayahnya berhenti dari apapun yang sedang dikerjakan dan beralih perhatian pada putrinya.
"Mh, baiklah. Ayah akan tebak. Beasiswamu di-ACC?"
"Close enough! Tapi bukan itu, Yah. Itu belum terjadi. Hari ini aku mendapatkan surat rekomendasi dari guru Matematika. Itu akan menjadi nilai tambah, Yah."
"Wah, bagus! Sepertinya kamu bersemangat sekali meninggalkan Ayah?"
"Ayah!"
Livi merangkul ayahnya, lalu menempelkan kepalanya di kepala Jordy. Dua kepala berisi pemikiran-pemikiran cerdas dan terkadang sedikit ambisius. Mereka menyadari bahwa ada semacam kesamaan di antara keduanya, mengingat bagaimana cara kedua manusia itu berusaha mencapai tujuan. Mewujudkan cita-cita dan harapan.
Kasih sayang seolah mengalir lewat udara di sekitar mereka. Memenuhi rongga-rongga dada untuk kemudian bercampur dalam darah yang mengalir ke segenap anggota tubuh.
"Oiya, Yah." Livi meraih sesuatu dari dalam sakunya.
"Tadi Jona memberikan ini."
Sebuah ketukan terdengar ketika, Livi menaruh cincin di meja kerja. Ketukan pelan yang dirasakan Jordy sebagai hantaman palu gada tepat di jantungnya. Menghentikan seketika arus pikirnya. Ayah Livi terdiam beberapa saat, seolah membatu.
"Tadi," hati-hati Livi menjelaskan, "Jona bilang kalian sudah putus. Jadi dia mengembalikan cincin ini."
Kalimat itu tidak berhasil Jordy tangkap dengan baik sehingga dia kebingungan memberikan respon.
"Ayah...."
"Ya, Livi. Baiklah biar ayah simpan cincin ini."
Tergeragap, segera Jordy meraih cincin itu dan menyimpannya. Sementara itu Livi masih penasaran. Gadis itu belum merasa puas sebelum kabar putus itu terkonfirmasi dari kedua belah pihak. Bahkan, sebenarnya Livi belum memutuskan apakah dia akan merasa bahagia atau sebaliknya terkait hubungan asmara sang ayah. Skeptis!
"Jadi benar ayah dan Jona sudah putus?"
Jordy mengangkat wajah, menatap sendu putrinya lalu berkata, "Ya begitulah, Livi."
Sama seperi respons Livi kepada Jona, sekarang pun gadis itu melonjak gembira dan segera memeluk sang ayah sambil tak henti-hentinya berterima kasih.
***
Dalam keremangan kamar tidur yang serupa ruang hatinya saat ini, Jordy memutar-mutar cincin pemberiannya yang telah dikembalikan oleh sang kekasih. Bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat kekasihnya itu menyerah pada keadaan? Tidak cukupkah pembelaan dan perlindungannya selama ini?
Jordy merasai luka menganga di hatinya. Luka serupa, tentang kehilangan. Luka yang diakibatkan kenangan demi kenangan yang kembali terulang, dalam benaknya semata. Tanpa ada kejelasan bahwa dia benar-benar bisa mengulangnya kembali dalam kehidupan nyata.
Hari-hari terakhir yang dijalaninya bersama Jona, semua rintangan yang menghalangi hubungan mereka, semua bersatu pada menjadi arus spiral yang menyerang kepala Jordy seketika. Dalam hatinya yang kemarin penuh dengan bunga-bunga, kini tumbuh duri-duri dalam gelap, yang siap menelannya kapanpun dia lengah.
Jordy melemparkan cincin itu dengan kasar sehingga mengenai cermin dan keesokan harinya cermin itu telah retak, sebagai citra dari perasaanya. Di tempat lain yang tak begitu jauh, Jona memeluk erat luka-lukanya, membalutnya dengan senyuman dan tetap meyakinkan diri bahwa dia akan baik-baik saja.
Kemarin, dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana rona bahagia begitu indah di wajah Livi. Dia sangat menyukai itu dan tak ingin merusaknya. Terlebih, Jona tak ingin merenggut kebahagiaan siapa pun agar dirinya bahagia. Cukuplah dirinya yang terluka.
Usai mandi, Jona menyilangkan kedua tangan di depan tubuhnya. Dia menekan kuat-kuat silangan tangan itu berusaha untuk menghangatkan hatinya sendiri dan menguatkan diri. Menjaga agar dia tak hancur bersama hubungan cinta yang telah direlakannya berakhir paksa.
"Jona, kamu kuat. Yakin pasti bisa."
Pagi itu benar-benar terasa seperti hari yang baru, dengan pribadi baru yang lebih siap menghadapi apapun, termasuk ujian akhir sekolah. Jona menyapa semua orang yang ditemuianya tak terkecuali Rudian. Livi menyambutnya dengan hangat seperti sedia kala.
Jona benar-benar merasa siap menyambut masa depan yang mungkin tak melibatkan Jordy di dalamnya, sembari terus memeluk luka-luka, menyembunyikannya serta berharap dapat menguburnya bersama kenangan-kenangan manis tentang Jordy dan dirinya.
Hai, Sobat Gorgeous! Semoga yang puasa ibadahnya lancar ya, aaamiiin. Terima kasih vote, like dan dukungannya. Ada saran masukan? Sampaikan di komen. Sukses selalu untuk kita semua dan terima kasih.... &
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta