Menceritakan seorang gadis bernama Alisya yang begitu menyukai seorang cowok bernama Adrian secara diam-diam. Adrian sendiri tentu sudah memiliki kekasih bernama Tania.
Hingga Alisya mendapat kabar jika kedua orangtua mereka berdua akan menjodohkan mereka berdua dan menginginkan mereka segera menikah. Namun, dalam pernikahan itu hanya Adrian yang tak bahagia. Dikarenakan Adrian masih mencintai cinta pertamanya yaitu Tania..
Bagaimana dengan biduk rumah tangga yang hanya diisi rasa cinta sepihak dari Alisya? dan Apakah Adrian akan membuka hatinya untuk Alisya?
Bagi yang Penasaran silakan dibaca😁
Karena Saya masih seorang penulis pemula.. maaf jika banyak typo yang bertebaran di karya saya ini. Dan harapan saya sebagai penulis, saya harap kalian para pembaca menyukai karya saya ini. terima kasih😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Alisya dan Bunga memasuki sebuah cafe, sesuai dengan arahan Dafa yang kebetulan tadi menelfon. Di salah satu tempat duduk, nampak terlihat Daffa sedang duduk sambil melihat kameranya. Alisya dan Bunga menghampiri Daffa.
“Hai kak.” Sapa Bunga.
“Maaf ya kita telat datangnya.” Kata Alisya meminta maaf.
Daffa melihat mereka berdua sambil tersenyum. Daffa mempersilahkan mereka untuk duduk.
“Justru aku yang harusnya minta maaf. Maaf ya, aku beneran lupa tentang pertemuan kita hari ini.” Kata Daffa.
“Gak apa-apa kok kak.” Kata Alisya.
“Kalian mau pesan apa? Aku panggil pelayannya.” Kata Daffa.
“Sama aja deh kayak kakak.” Kata Bunga.
“Kalau kamu al?” Tanya Daffa pada Alisya.
“Sama aja sekalian.” Jawab Alisya.
“Sekali lagi maaf ya, pertemuan kita hanya di cafe ini. Rencananya mau ketempat lain juga.” Kata Daffa.
“Aku si gak masalah jika mau ke tempat lain juga. Emang kak Daffa sibuk yah?” Tanya Bunga.
“Aku bilang begitu takutnya kalian berdua sibuk, jadi gak ada banyak waktu untuk bermain di luar.” Kata Daffa.
“Kita berdua gak masalah kok.” Kata Alisya.
Pelayan datang menghampiri mereka bertiga.
“Jadi pesan gak nih?” tanya pelayan itu pada mereka.
Bunga dan Alisya melirik pelayan itu. Ingatan Alisya mulai teringat saat dirinya berkunjung sendiri di Cafe ini. pelayan inilah yang bersikap baik padanya. Alisya memperlihatkan senyum ramah kepada pelayan itu. Namun tidak dengan Bunga.
“Jadi pelayan kok gak ramah banget si sama tamu.” Kata Bunga kesal dengan pelayan yang sudah pergi setelah menulis pesanan yang mereka bertiga pesan.
“Hahaha. Maaf ya, dia itu teman ku. mungkin kalian lupa dia teman seangkatan denganku di SMA.
“Masa si! Kok aku gak pernah liat ya?” tanya Bunga lalu melirik kembali pelayan yang berdiri dekat kasir.
“Pantesan dulu dia kenal aku, ternyata satu sekolah.” Kata Alisya.
“Kamu juga kenal?” tanya Bunga kepada Alisya.
“Iya, ketemu di cafe ini juga.” Jawab Alisya.
“Tak semua kakak kelas, Kalian tahu termasuk temanku itu.” Jawab Dafa.
Pelayan itu kembali datang kemeja mereka dengan membawa mapan berisi pesanan yang sudah di pesan.
“Nih! Pesanan kalian bertiga. Selamat menikmati.” Kata pelayan itu.
“Gimana? Udah ramah belum?” tanya pelayan itu yang ternyata mendengar omongan dari Bunga.
“eumm. Udah kok kak. Makasih.” Kata Bunga gelagapan saat tahu omongan tadi di dengar oleh pelayan itu.
Mereka bertiga menikmati minuman serta cake yang sudah disediakan sambil mengobrol mengenai tempat yang akan mereka tuju selanjutnya.
“Jadi habis ini kita kemana?” tanya Bunga.
Belum sempat dijawab, terdengar dering ponsel di tas Alisya. Alisya segera mengambil ponselnya didalam tas. Dan lagi nomor tidak dikenal tertera dilayar ponsel.
“Siapa si, al?” tanya Bunga.
Alisya tak menjawab pertanyaan Bunga. Namun dilihat raut wajah Alisya, Bunga kembali menebak jika panggilan itu berasal dari nomor tak dikenal.
“Nomor baru lagi?” Tanya Bunga lagi.
“Iya nih.” Jawab Alisya kemudian kembali memasukan ponselnya kedalam tas.
“Nomor Baru?” Tanya Dafa yang terlihat kebingungan.
“Iya, dari tadi Alisya ditelpon sama nomor yang tak dikenal gitu.” Jawab Bunga.
“Oh gitu, nanti ditelpon lagi biar aku saja yang angkat.” Kata Daffa.
“Jadi gimana mau lanjut kemana kita setelah ini?” tanya Bunga lagi.
“Terserah kalian saja deh.” Jawab Alisya.
“Keliling Mall aja yuk, sekalian main.” Usul Bunga.
“Okelah. Bagaiman kita langsung ke sana aja.” Kata Daffa .
Mereka bertiga berdiri dari kursi dan hendak keluar dari cafe. tiba-tiba Bunga meminta izin ke toilet sebentar. Di depan cafe berdirilah Daffa dan Alisya saja.
Adrian tengah duduk di sofa sambil memegang ponselnya, dari raut wajahnya dia nampak terlihat kesal.
“Dimana si tuh cewek! Dihubungi kagak pernah diangkat! Dia sebenarnya simpan gak si nomor aku!” Kata Adrian kesal.
Adrian mengambil jaketnya, dia memilih keluar mencari cafe yang enak untuk meredakan kekesalan kepada Alisya. Adrian mengendarai mobilnya menuju Cafe. saat telah sampai di sebuah cafe, yang menurutnya pas untuk healing. Dia tak sengaja melihat istrinya Alisya berdiri dengan Kakak kelas mereka dulu. Dilihat mereka berdua tengah asyik mengobrol, sesekali gadis itu tertawa. Melihat pemandangan itu, Adrian merasa kesal. Adrian mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menarik tangan Alisya. Kendati tak mau hubungan mereka terbongkar, Adrian memilih tetap berjalan didepan mereka tetapi seolah tak mengenal.
Alisya yang tengah asyik bercanda dengan Daffa menunggu kedatangan Bunga dari toilet, tiba-tiba saja terdiam. Daffa yang yang melihat Alisya terdiam, akhirnya mengikuti arah mata Alisya. Adrian berjalan cuek dan tak memperdulikan orang yang berdiri tepat didepannya itu. Adrian melewati dafa dan Alisya, Alisya hanya menatap suaminya yang tak menyapa dan bahkan tak menoleh kepadanya.
Bunga yang berjalan menuju pintu keluar, melihat adrian yang masuk kedalam Cafe menyapa lelaki itu. Namun, respon lelaki itu berbeda dengan di kantin. Adrian hanya menolah tetapi tak menyapa,tatapan matanya cuek tak sama seperti saat berada di kantin.
Dafa yang menyadari cueknya Adrian terhadap Alisya, membuatnya merasa kasihan terhadap gadis itu.
“Al, seandainya kamu mencintaiku mungkin kamu tak akan menerima perlakuan seperti ini.” kata Dafa dalam hati sambil menatap Alisya yang terlihat sendu.
Hanya ungkapan yang diutarakan dalam hatinya, tak berani dia mengungkapkan langsung kepada gadis yang dicintainya itu. Gadis itu sudah menjadi milik orang lain, Dafa tak berani mengungkapkan perasaaan. Daffa hanya menatap dan menyimpan perasaan itu secara diam-diam.
“Al, kamu gak apa-apa?” tanya Daffa melihat keadaan Alisya yang sendu.
“Gak apa-apa kok kak. Udah terbiasa dengan kebiasaannya yang seperti itu.” Jawab Alisya berusaha memperlihat senyum.
Daffa tahu meski Alisya mengatakan tidak apa-apa namun hati Alisya berkata lain. Meski Alisya menampakkan senyum manisnya, namun itu hanya sekedar pura-pura. Mendengar jawaban Alisya, Dafa tak lagi berkomentar dan memilih diam. Bunga keluar dari cafe menghampiri mereka berdua.
“Si Adrian kenapa si! Barusan aku nyapa dia, eh dianya malah cuek banget gitu. Beda banget sama di kantin tadi.” Kata Bunga yang sedikit kesal dengan sikap Adrian.
“Gak usah dipikirin, bukan urusan kita. Jadi jalan kan?” tanya Alisya.
Mereka bertiga berjalan menjauh dari area Cafe. Karena Daffa hanya membawa motor, Alisya dan Bunga memilih menaiki taksi sedangkan Daffa mengendarai motornya.
Adrian hanya menatap tajam ketiga orang itu dari dalam cafe. Namun, aksi tatapan itu berhenti saat pelayan datang menawarkan pesanan kepada Adrian.
Alisya dan Bunga menaiki taksi menuju ke Mall, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Alisya menatap keluar jendela mobil. Sakit hati akan sikap cueknya Adrian kepadanya masih terasa.