Tadinya berjudul OTW Soleha- dibenarkan sesuai KBBI dan novel cetaknya Ayoo beli.
Hidup adalah pilihan, namun takdir adalah sebuah ketetapan. Bukankah kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita akan dilahirkan ? Begitulah yang selalu membuat Bening tidak pernah menyesali hidup yang di jalaninya
Dia besar dan tumbuh di pemukiman lokalisasi prostitusi, Jauh dari pendidikan moral,tata krama, apalagi agama. Yang dia tau, dia dan Ibunya adalah seorang Muslim. Tanpa dia pernah tau apa kegunaan agama itu sendiri hidupnya.
Dia selalu punya rumus berdamai dengan takdir, itu yang membuatnya mampu melewati lingkungan sosial yang menghina, mengucilkan dan selalu menganggapnya "Anak Haram".
Bening remaja mampu melewati badai kepahitan dan membalas semua hinaan dengan senyuman bangga. Bening berada di puncak karirnya sebagai seorang Fashion designer di usia belia.
Sampai pada satu titik balik yang membawanya jatuh dan hampa, sehingga dia mencari apa penyebabnya. Apakah takdir selalu berbaik hati mengiringi perjalanannya mencari jati diri ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETUGAS UPACARA
Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sebuah perjalanan. Walau dia tak terlalu menyadarinya, namun Bening sudah menapaki selangkah demi selangkah menuju impiannya. Hari ini dia sudah kembali pulang, tapi hakikatnya dia masih dan akan terus berjalan. Hingga sampai ke titik tujuan.
Entah benar ini perkataan Albert Einstein atau bukan, tapi orang-orang bijak sering menukilkan. Bahwa hidup kadang layaknya bersepeda, untuk terus seimbang kita tak boleh berhenti mengayuh pedalnya.
Suka-cita, gegap gempita menyambut. kepulangan sang jawara. Bagi Bening sendiri ini bukan hanya soal hadiah, tapi tentang rasa bangga yang bisa dia persembahkan untuk satu-satunya orang tua yang dia punya. Mami Sandra.
Kehidupan mereka kini berputar ke atas, Beberapa bulan setelah kembali dari LKS Nasional, usaha Bening dan Maminya mendapat suntikan dana dari apresiasi atas prestasinya mengharumkan nama daerah.
Dari hasil jerih payah mereka ditambah dengan perputaran modal yang ada, Kini mereka sudah menyewa satu unit ruko tiga lantai yang berlokasi di pinggir kota.
Lantai satu digunakan sebagai operasional butik, lantai dua adalah tempat produksi dan pengemasan, sedangkan lantai tiga dijadikan tempat tinggal dengan dua kamar tidur yang cukup nyaman untuk Mami Sandra dan Bening. Mereka tak lagi tinggal di rumah yang Bern kontrakkan tempo hari.
Neon Box besar yang bertuliskan nama Butik mereka sudah terpasang sempurna. Ivanka Mode. Beberapa meter dari ruko juga tampak jejeran papan bunga dari beberapa mitra yang sempat menjalin kerjasama dengan mereka. Ada satu papan bunga yang sedikit menarik perhatian Bening. Bening menghampiri papan bunga yang paling besar dan cantik itu.
"Hey, kamu disini rupanya?" ucap Bern menghampiri Bening. "Kenapa?" tanyanya heran saat melihat Bening kebingungan.
"Ini Florist dari Swadaya Grup, tempat aku magang nanti. Kok ngirim papan bunga sih? padahal kan...."
kalimat Bening terjeda oleh nada dering ponselnya. Panggilan dari Kak Humai.
"Assalamualaikum kak,"
"Waalaikumsalam, Ning. Barakallah ya untuk soft opening butiknya. Papan bunga kakak udah sampai kan?"
Bening mencari dimana papan bunga yang Kak Humai maksud, tampaklah sebuah papan bunga bertuliskan ucapan dari Lingkaran Cahaya.
Ohhhh itu ya??
"Ah iya sudah kak, Jazakillahu khayr,"
"Wa iyyaki, ukhti. Yasudah ketemu senin besok ya Ning sebelum kamu mulai magang, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam kak."
Panggilan itu berakhir, Bening kembali ke dalam bersama Bern membantu mami Sandra menyelesaikan beberapa pekerjaan lain.
Bern yang sedang fokus memperhatikan para pekerja yang sedang menyempurnakan instalasi listrik di toko, reflek melihat ke arah halaman parkir karena ada sebuah mobil mewah berhenti. Dia tau benar siapa pemilik mobil itu.
"Mami?" ucapnya dalam hati.
***
Hari senin di SMK Global, semua siswa kelas Sebelas kelompok A sedang disibukkan dengan persiapan dan pembekalan sebelum dilepas untuk menjadi siswa magang di tempat yang sudah ditentukan.
Satu lagi kesempatan berharga yang hanya dimiliki oleh siswa SMK. Praktek Kerja Industri. Pengalaman menguji kompetensi bidang masing-masing. Terjun langsung ke dunia usaha dan industri.
Pekan depan Bening akan menjadi anak Magang di salah satu perusahaan tekstil yang cukup besar dan terkenal. Swadaya Grup. Selain karena perusahaan ini dipimpin oleh seorang muslim, Bening juga bersyukur karna perusahaan besar produsen bahan pakaian ini bukanlah milik asing.
Hari ini pemilihan petugas untuk pelaksanaan upacara pelepasan siswa magang. Kelas tata busana terpilih sebagai petugas upacara. Mereka sedang lempar melempar tanggung jawab, saling menghindar untuk jadi petugas.
Kak Kristo sebagai tim pasus sekolah bertanggung jawab sebagai pelatih upacara. Kini dia sudah di depan kelas tata busana A untuk mendata petugas dan akan melatihnya langsung siang nanti.
"Eh ayo dong, gue bentar lagi ada kelas ini. Masa kalian ga ada yang mau jadi pengibar bendera sih, satu orang lagi!" keluhnya. "Gue itung sampe tiga nih ya, kalau ga ada yang mau, gue yang pilih, awas lu pada protes!"
Semua masih saling dorong, tak ada yang mau mengajukan diri sendiri.
"Satu... dua... tigaa, oke kalo gitu gue pilih Bening," ucapnya.
Mendengar namanya disebutkan, Bening terkejut. Matanya terbelalak tak terima melihat Kristo menuliskan namanya di atas papan tulis putih itu.
"Eeehh...ehh eh kak, kok aku sih? enggak enggak aku gak bisaa kak gak bisa, aku gak bisa jadi pengibar bendera,Donna aja Donna kak..." protes Bening.
"Eh, kok gue sih ih?" cebik Donna tak terima..
Kristo menghampiri meja Bening dan mengusap-usap kepala Bening.
"Nanti kakak ajarin sampe bisa Ning, tenang aja. Kamu tau kan kakak ini masih anggota paskibra? bendera aja kakak jaga, apalagi kamu," ucap lelaki bertubuh atletis itu penuh percaya diri.
"Woooooooooooooo," tak ayal mendapat teriakan dari siswa satu kelas. Bening hanya menggaruk-garuk kepala dari balik hijabnya.
Entah sejak kapan berada di balik pintu, Ahmad tiba-tiba masuk menarik tangan Kristo menjauh dari Bening. Seperti biasa setiap kali Ahmad masuk suasana seketika hening.
"Lo mau seleksi petugas upacara apa mau jadi dokter kecil? pake pegang-pegang kepala? emangnya Si Bening demam?" ucap Ahmad dengan wajah tak senang.
"Ya emangnya kenapa coba? Bening aja gak apa-apa gue beri sentuhan kasih sayang," seloroh Kristo yang membuat Ahmad semakin kesal.
Ahmad menarik tangannya semakin menjauh keluar dari kelas.
"Kasih sayang lo bilang? Nih kasih sayang dari gue sebagai teman," Ahmad memberi jitakan keras di kepala belakang.
"Sakit Tom, apaan sih lo? aneh deh. Oooo... gue tau, apa jangan jangan lo naksir eee sama si Bening?"
"Perasaan gue njitak cuma sekali deh, tapi kok otak lo gesernya udah jauh? lo gak liat sekarang Bening udah berhijab?"
"Iya liat, makin cantik kan Tom? MasyaAllah. kalau lo gak mau, tamat sekolah nanti gue lamar dah tu anak, beneran!"
"Woi! bukan itu maksud gue. Ya kan lo udah liat dia pake hijab sekarang. Itu untuk melindungi dirinya dari tatapan dan sentuhan sembarang lelaki, lah elo seenaknya kontak fisik ama dia, gak ngehargai perempuan banget sih lo?"
"Kok lo jadi sewot sih Tom? iya...iya... tau gue tau ah, bilang aja lo iri. Gengsi banget lo ngakui perasaan sendiri. Awas aja lo, Bening lulus nanti beneran gue lamar dia," ancam Kristo.
Ahmad berjalan ke depan meninggalkan Kristo dengan ocehannya. Hatinya bergedik sedikit. Entahlah kenapa dia sedikit takut ancaman Kristo benar-benar terjadi. Sehingga dia berbalik memundurkan langkahnya menyamai sahabatnya sejak SMP itu.
"Gue sleding lo kalo berani," ancamnya sambil sengaja menabrak bahu Kristo dengan bahunya.
"Takut lo kan. Ahahah.?" ucap Kristo sambil tersenyum melihat sahabatnya kembali berjalan meninggalkannya.
Begitulah Ahmad. Hanya Dia dan Tuhan yang berhak tau isi hatinya.
"Tom, bentar! gue kasi tau mereka dulu nanti latihan jam istirahat,"
Kristo kembali ke kelas Bening untuk menginformasikan mereka akan mulai latihan saat jam istirahat pertama nanti.
***
Semua petugas sudah berkumpul di lapangan. Siswa-siswa lain bercanda riang menikmati jam istirahat. Ahmad mengambil posisi duduk di tribun yang menghadap langsung ke lapangan upacara. Sambil memangku laptopnya berteduh dibawah rindangnya pohon akasia diantara siswa lain. Dia memperhatikan gerak-gerik Kristo yang melatih para petugas upacara.
Di lapangan para petugas sudah di posisinya masing-masing. Kristo mulai memberikan instruksi dengan pengeras suara. Sebelum gladi bersih dimulai, Kristo terlebih dahulu melatih petugas penggeret bendera.
"Emm.. Kak Kris, aku... aku beneran ga bisa PBB kak," ucap Bening gugup.
"Ah gak percaya, secara kamu pemenang LKS Nasional, udah biasa jalan di catwalk memeragakan busana, Masa jalan di lapangan upacara gabisa?"
"Bedaaa pokoknya beda...yaudah nanti jangan salahin aku ya kalau malah malu-maluin,"
"Mana mungkin kakak ngetawain Bening sih, ayo dicoba dulu biar kakak liat."
Bening mulai memperagakan gerakan sesuai instruksi. Luruskan, lurus, jalan di tempat. Walau sangat kaku Kristo masih memakluminya.
"Langkah tegak majuuu...jalan!" ucap Kristo memberi istruksi.
Dengan tampang datar dan tidak peduli apapun, Bening maju mengikuti hentak langkah kedua temannya yang lain. Siswa yang berada di tengah tidak tahan untuk tidak tertawa saat melihat gerakan Bening mengayunkan tangannya.
Kristo tidak ingin semakin banyak yang melihat gerakan aneh Bening segera menghentikannya sebelum semakin banyak yang tertawa.
"Eehh.... stop... stoooop! Bening.. gak gitu.. " ucapnya lemah lembut. "Perhatiin kakak Kristo ya."
Dengan malas Bening memperhatikan gerakan Kristo yang hampir sempurna. Tapi apa daya, sejak kecil PBB memang jadi semacam momok menakutkan baginya. Dia tidak suka segala kegiatan yang berhubungan dengan baris berbaris.
"Lurus ning, lurus... tangannya dilurusin begini, bisa kan?" ucap Kristo sambil meluruskan tangan Bening.
Dari atas tribun Ahmad berdecak sebal melihat kelakuan Kristo yang seperti mencari-cari kesempatan. Dia mengambil ponselnya dan membuat panggilan dari atas sana.
"Apasih Tomy?" saut Kristo malas.
"Lo beneran mau gue sleding ya Kris?" suara Ahmad pelan dan berbisik.
"Gue lagi melatih ini melatih, sini turun lo aja yang latih!"
"Latihan ya latihan aja gausah pegang-pegang kan bisa!"
Bening bingung melihat Kristo kesal mematikan ponselnya.
Karna hari sudah semakin panas, Bening semakin malas berdebat. Dia mencoba sekali lagi melakukan gerakan langkah tegak maju semaksinal mungkin.
"Langkah....tegak...majuu....jalan..."
Prak...prak...prak...prak...
suara yang timbul dari serentaknya hentakan kaki. Tapi kini bukan hanya siswa pembawa bendera, semua petugas dan para siswa yang berlalu lalang ikut tertawa melihat ayunan tangan Bening. Tak terkecuali Ahmad yang memperhatikan dari atas sana.
Bening tidak berubah sedikitpun ekspresinya tetap datar dan malas seperti tidak ada kejadian. Dia sama sekali tidak merasa malu karena ditertawakan satu lapangan. Akhirnya langkah dihentikan.
"Yaampun kamu nggemesin gitu sih Ning?"
kalau ga ada Ahmad udah gue cubit hidung lo beneran deh.
"Ya kan udah aku bilang dari awal, aku gak bisa PBB kak, gak bisa!" tegas Bening.
"Yaudah... yaudah kalau gabisa, Ahahaa. Yaudah kamu istrahat dulu deh, nanti aku beneran di sleding calon suami mu," ucap Kristo asal.
"Hah? apa kak?" Tanya Bening heran.
"Ah, ng.. nggak enggak.. sorry. Yaudah kita istirahat, nanti cari yang lain aja petugasnya,"
"Huh, apasih gak jelas banget kak Kris," keluh Bening.
Orang yang memperhatikan Bening dari atas masih tersenyum lebar melihat tingkah gadis yang hanya bisa dia lihat dari kejauhan kemudian menuliskan sesuatu di laptopnya.
Ku serahkan semua rasa ini kembali kepada pemiliknya. Untuk sementara waktu sampai aku pantas mengambilnya.
Nangis terharu aku kak enka baca novel terindahmu, serasa aku diposisinya, semoga bisa menjadikan kita hamba yg selalu mencari jalan untuk selalu taat kepada Sang Pemilik Jiwa&Raga ❤
bern kakanya bening? 😯