Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Kemenangan Avily
Para penonton bersorak kegirangan. Biasanya pertarungan antar penyihir akan berlangsung dengan cepat, akan tetapi mereka saling adu strategi dan sihir. Hanya beberapa orang yang diam memperhatikan arena. Termasuk Satriaji mendapat kalau Avily jarang menggunakan sihir dengan daya hancur sebesar itu selama pertarungan, dia berpikir kalau mungkin itu sangat menguras energi.
Golem hancur. Sambaran petir dari Avily menghancurkannya berkeping-keping, dia melihat lawannya sudah kelelahan sama halnya dengan dirinya. Dia berdecak kesal tahu kalau lawannya menghalalkan segala cara untuk menang, sekalipun menjadikan Golem panggilan sebagai tameng.
"Sebagai pengguna sihir kuperintahkan!" Teriak Avily buat semua orang terdiam seketika. Para prajurit membuat pelindung berlapis. Dari kalimatnya, terdengar seperti ingin melakukan sesuatu yang berbahaya dan mantra yang diucapkannya itu seolah akan mengeluarkan sesuatu yang besar. Mendadak sebuah meteor besar datang dari angkasa.
Turun dengan lambat. Tapi ukurannya tidak main, selepas itu Avily menepuk tangan berulang kali melepaskan BilahAir ke arah musuhnya dan berniat menghancurkan penghalangnya. Dari apa yang dilakukannya, para penonton serta juri tahu kalau ingin menghancurkan pelindung musti memakai sihir yang mampu memotong atau menusuk. Jadi untuk BilahAir itu cukup tepat atau efisien.
"Seberapa banyak daya sihirnya ?" Ucap lelaki itu dalam hatinya menatap meteor yang hampir menyamai ukuran dari arena.
Memilih untuk tetap bertahan. Laki-laki ini mengambil botol dalam sakunya, meminum ramuan itu dan melakukan hal yang sama menggunakan sihir tingkat atas seperti yang dilakukan Avily. Lagi lagi semua orang melihat hal tidak biasa, sebuah semburan air yang menyembur ke atas menghancurkan meteor. Hancur menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah, menghasilkan kumpulan debu berterbangan, mengurangi pandangan.
"Apa ini ? Apa dia masih sanggup.." lawan Avily menghembuskan napas. "Dia benar-benar bisa menggunakan sihir lagi.. sementara aku tak punya daya sihir lagi," ujarnya menyadari situasi. Disekitarnya terdapat titik dimana energi sihir terkumpul. Yaitu tempatnya Avily, sekali lagi sebuah kejutan untuknya datang.
Bentuk bola-bola yang berisi udara. Gelembung muncul di sekitar Avily, untuk orang yang tidak tahu mungkin hanya terlihat seperti gelembung biasa tetapi untuk para penyihir. Sebuah ancaman yang sulit untuk dihindari, tanpa henti.
Avily memperhatikan sekeliling melihat gelembungnya sudah banyak dan berteriak, "Sebagai pengguna sihir kuperintahkan : Gynosida!"
Para gelembung berganda. Dalam hitungan detik semuanya berganda-ganda menjadi banyak, setelah beberapa detik setelah Avily menggunakan pelindung tebal semuanya meledak. Ledakan beruntun berada di arena. Mereka yang melihat dari bangku penonton melihat ledakan bagai kembang api, sedangkan mereka yang ada di arena serasa berada di neraka dengan telinga kesakitan.
"Apa-apaan itu ?!" Satriaji tercengang. Mau dilihat beberapa kali juga. Seperti meledakan puluhan granat setiap detik, dan letusan itu terus berlangsung hingga beberapa menit berlalu. Para prajurit tengah bersiap. Satu orang menggunakan sihir angin menghilangkan debu yang menghalangi dan memenuhi arena, saat itu juga terlihat Avily terkapar.
Sedangkan lawannya berdiri di hadapannya dengan luka bakar di sekujur tubuh. Dia mengangkat tangan kirinya kemudian berteriak, "menyerah!"
Tepuk tangan meriah serta sorakan terdengar keras seperti berada di festival. Tim penyembuh datang menyembuhkan luka para peserta, selama tiga puluh menit ini terjadi sesuatu hal yang heboh, meskipun demikian ini hanya perlombaan. Bukan pertarungan sungguhan dimana nyawa dipertaruhkan.
Satu jam kemudian, Penyihir kerajaan datang untuk memberikan hadiah upahnya kepada para pemenang. Hadiah pertama dia melangkah kepada Avily dengan senyum kecil. Saat Avily hendak menunduk dia melewatinya begitu saja, menghampiri lawannya dan memberikan hadiah pertama kepadanya.
"Eh ? Kenapa saya.."
"Anda menyerah saat Anda menang," ucapnya memberikan penjelasan singkat. Semua orang sadar akan hal itu. Kalau salah satu dari mereka pingsan atau tak sanggup lagi, maka pertandingan selesai lalu dinyatakan kalah. Waktu itu Avily tidak sadarkan diri dan kalah. Sekarang dia menerima posisi dua sebagai pemenang, hanya mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Padahal aku sudah berlatih empat tahun untuk melakukan sihir itu," keluhnya sembari menatap tiket untuk membeli serta menggunakan semua buku di perpustakaan kerajaan. Lawan sebelumnya datang. Dia mengambil tiket dari Avily memberikan hadiahnya, menukar.
"Saya berhak melakukan apapun menggunakan hadiah saya, bukan ?" Tolehnya melihat penyihir kerajaan memukul jidat. Sedangkan Avily terlihat gembira. Dia menerimanya dengan senang hati, setelah itu semua berakhir dengan cepat tanpa harus ada perayaan. Karena Avily memutuskan untuk pulang daripada menghadiri pesta.
Di jalan sebelum pulang ke penginapan Vlad datang memberikan ucapan selamat. Mereka berjalan berdua ke penginapan, mendapati dua anggota kelompoknya ada di ruang makan dan Satriaji berada di kamar mengurung diri.
"Dia mengurung diri lagi ?" Tanya Vlad tersenyum kecut tidak heran lagi. Avily menunduk menatap sekantong koin platinum di tangan.
"Avily.. jangan pikir Satriaji bisa menerima perasaanmu bila memberikan uang segitu, kalau mau yang lebih banyak!" Goda Ayri pada gadis yang memeluk kantong uang tersebut. Tak membutuhkan waktu lama dia memerah. Segera dia menghindari perkataan Ayri dengan pergi, kebetulan Satriaji keluar dari kamar Avily dan wajah mereka begitu dekat.
"Satriaji! Tidak, bukan begitu.. aku tak ingin mengajakmu kencan, sungguhan!" Ucap Avily tiba-tiba. "Ha ?" Bagi Satriaji yang baru keluar mendengar ucapannya merasa aneh.
Vlad duduk dan pura-pura tersenyum, sementara kedua orang ini mengalihkan pandangan pada piring di hadapan selepas tatapan Satriaji mengarah pada keduanya. Avily diam. Walau masih tidak paham dengan apa yang terjadi, dia menarik tangan Avily dan membawa semua kelompoknya ke SerikatPemburu mengambil misi.
Sembari berjalan Satriaji menjelaskan apa yang akan dilakukannya. Begitu mendengar kalau mereka akan melawan naga zombi semuanya terlihat terkesiap kaget, sadar tidak sadar Satriaji telah bicara demikian, maka takkan bisa dihindarkan. Tujuannya sekarang mendapatkan bahan untuk senjata.
"Kita bisa menggunakan uang ini," ujar Avily menoleh padanya. Satriaji menolak mengatakan alasannya jika uang itu bukan miliknya. "Tentu kalian akan kebagian jatah tubuh zombi naga itu.." Satriaji melihat ke arah Reay dan Ayri. Keduanya mengangguk, balik bertanya apa yang akan dilakukan olehnya karena tulang dari zombi naga bukanlah benda yang bagus untuk dijadikan senjata.
Sesampainya di SerikatPemburu juga Satriaji tidak menjawab pertanyaan, sesudah membeli penawar racun serta keperluan lain mereka pergi. Tempatnya tidak jauh dari sini. Dengan kemampuannya Satriaji bisa melawan, meski nantinya dia akan terkena racun atau babak belur. Demi menghindari itu memerlukan kerjasama tim.
"Vlad dan aku akan pergi ke negara lain.. Avily bila ingin kembali ke rumah atau melakukan hal lain bisa menggunakan uang itu untuk membebaskanmu dari sihir pengikat itu, sedangkan kalian berdua aku tak ingin kalian ikut."
"Memangnya kalian akan melakukan apa ?" Tanya Reay. Satriaji menatap langit melihat angkasa. Dengan tingkahnya yang sekarang, Reay merasa tak harus bertanya dan semuanya terdiam membisu akibat sikap Satriaji. Kebiasaanya untuk bicara merencanakan bagaimana mengalahkan musuh, kini tidak dilakukannya samasekali.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?