Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.
Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.
Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.
Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.
Selamat Membaca !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LB - 29
Rana memperhatikan Rian yang sesekali menatap Zevan. Gadis itu memegang kedua pipi adiknya, "Kenapa? Mau ngomong sama Zevan?". Tentu saja si pemilik nama itu menoleh, Zevan yang baru saja selesai membayar makanannya, menghampiri Rana dan duduk dihadapannya. Rana memberitahu Zevan jika adiknya terus saja memandanginya, seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun Rian menyangkal hal itu, dan berdalih hanya menatap sekitar.
"Mungkin mau bahas.." ucapan Zevan terpotong oleh Rian yang mengajak Rana pulang. Hari sudah semakin larut dan Rian ingin pulang kerumah bersama kakaknya. Rana pun mengajak serta anak-anak lain untuk pulang kerumah masing-masing. Ia juga meminta Zevan untuk langsung pulang saja, karena gadis itu sudah memiliki para prajurit kecil yang akan melindunginya sampai kerumah.
"Besok aku jemput ya" pinta Zevan untuk kesekian kalinya. Dan jawaban yang sama, Rana selalu menolak permintaan itu. Rana ingin berangkat bersama Dean, selalu seperti itu, ia tak ingin ada jarak lebih dengan Dean. Zevan sedikit cemburu mendengar penjelasan Rana, tapi ia yakin tidak ada perasaan apapun diantara mereka, sejauh yang ia ketahui.
Rana berjalan pulang bersama Rian dan yang lainnya. Sesekali para anak-anak itu bertanya pada Rana, bagaimana sekolahnya, suasana sekolah, pelajaran yang membosankan dan hingga membicarakan bagaimana bisa mengenal Zevan. Rian yang tiba-tiba bertanya pada Rana mengenai perundungan, namun Rana tak merasa curiga sama sekali. Ia hanya berpikir anak-anak ini sudah cukup umur untuk mengetahui beberapa hal. Rana bercerita betapa mengerikannya perundungan atau bullying itu. Sebab akan menimbulkan rasa trauma yang mungkin akan terbawa hingga dewasa. Dan membuat mereka jauh dari dunia luar, serta takut untuk berdiri dihadapan banyak orang.
Pertanyaan demi pertanyaan Rana dapatkan dari adik-adiknya itu. Rana juga semakin antusias menjelaskan apa yang ia ketahui dan pelajari. Ia kembali mengambil sebuah contoh seorang anak laki-laki yang dirundung hanya karena berat badan yang berlebih dan tgak cerdas, sebab ia lebih suka bermain daripada belajar. Namun pada akhirnya anak laki-laki itu bisa berubah menjadi seseorang yang dikagumi, banyak yang ingin menjadi dirinya. "Kok bisa gitu Kak Ran?" tanya seorang anak. Rana kembali menjawab, kejahatan tidak harus dibalas dengan kejatahan. Tapi bisa dikalahkan dengan pembuktian. Apa bedanya kita dengan mereka jika melakukan hal yang sama, pembuktian akan membuat mereka terdiam dan bahkan tak akan berani menatap kita.
"Kalau kalian mengalaminya, atau hanya melihat kalian harus memberitahukannya pada orang dewasa, atau kalian bilang aja ke gue. Semuanya akan beres bersama Rana." hibur Rana dengan sombongnya didepan para bocil. Seketika wajah para bocil menjadi redup dan lesuh, ada rasa bersalah disana.
Tak terasa, Rana dan Rian sudah sampai didepan rumah mereka, Rana menyuruh adiknya masuk karena ia akan mengantarkan anak-anak ini pulang. Karena jika tidak diawasi, 80% kemungkinan mereka akan kembali lagi ke pos ronda.
Selesai mengantar kelima anak itu, Rana pulang kerumahnya dan langsung menuju kamar. Ia mandi dan kemudian berbaring di ranjangnya, sembari membaca novel yang baru saja ia beli. Baru saja gadis itu membaca satu halaman, ada panggilan video dari Zevan. Gadis itu mengangkatnya, mendapati Zevan yang sudah berada dirumah. "Cantik banget sayangnya aku" gombal Zevan pada kekasihnya. Rana tersipu malu, menanyakan alasan Zevan menghubunginya malam itu. "Hanya rindu" jawab Zevan singkat.
Mereka berdua berbincang cukup lama. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun tak ada satupun dari mereka yang ingin menutup panggilan lebih dulu. Mereka berdua berdebat kecil hanya karena saling meminta untuk menutup telepon lebih dulu. "Yaudah aku yang tutup, tapi kamu tidur dulu gih." ucap Zevan.
Rana membereskan semua bukunya, mematikan lampu dan bersiap untuk tidur. Ia menaruh ponsel diatas meja menghadap dirinya, panggilan itu masih tersambung, Zevan memperhatikan kekasihnya yang hendak tertidur. Setelah mengucapkan selamat malam, Rana pun memejamkan matanya dan terlelap. Zevan tak langsung menutup panggilan itu, ia masih memperhatikan Rana yang tidur dengan lelap. "Gimana aku bisa marah Ran, semenjak mengenalmu aku sudah tidak bisa mengendalikan perasaanku." gumam Zevan sebelum menutup panggilan itu.
Zevan menaruh ponselnya dimeja, ia melihat fotonya dan Rana disana. Ia benar-benar telah dibuat jatuh cinta, hanya ada cinta antara dirinya dan Rana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Zevan terbangun dari tidur lelapnya, segera ia mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Zevan keluar kamar mendapati Mamanya sedang memasak sarapan, dan Ayahnya yang sedang duduk dimeja makan sembari membaca koran. Seperti biasa Zevan menyapa kedua orang tuanya dengan ceria.
Mama Zevan bertanya mengapa anaknya sering pulang malam, dan lebih suka menghabiskan waktu diluar rumah. Padahal sebelum pindah, ia sangat sedih dan marah, berkata tak menyukai kota tempat tinggalnya yang baru. "Suka kok Ma, apalagi cewek-ceweknya. Hehehe" canda Zevan dengan gaya playboynya. Ayah Zevan mengelus rambut putranya itu dengan gemas.
"Loe, apa'an nih, ngapain ngasih gue bunga mawar, ada dua pula." celetuk seseorang yang baru saja keluar dari kamarnya. Zevan menoleh keasal suara, ia hanya tertawa cengengesan. Seseorang itu duduk disamping Zevan, merangkul Zevan seolah ingin mengajaknya bertengkar. Mama segera memisahkan kedua putranya itu, "Julian udah ah, kasihan adiknya"
Julian adalah Kakak Zevan, Kakak tiri lebih tepatnya. Ayah dan Mama Zevan menikah ketika Zevan duduk dikelas 1 SMP. Awalnya sulit bagi Zevan untuk menerima orang baru dalam hidupnya, namun Mama sambungnya begitu menyayanginya, juga Kakaknya yang selalu membela dan melindungi Zevan. Usia Zevan dan Kakaknya terpaut 2 tahun. Julian baru saja lulus SMA dan sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi ditempat mereka tinggal. Mereka sangat dekat layaknya Kakak dan Adik, Zevan selalu bercerita pada Kakaknya apapun yang ia alami. Namun tidak lagi semenjak Kakaknya yang sibuk dengan urusan perkuliahannya.
"Sorry Kak, gue beli buat cewek gue, eh lupa ngasih. Yaudah gue kasih loe" jawab Zevan dengan santainya. Kalimat singkat Zevan itu membuat Ayah, Mama dan Kakaknya terkejut hingga tersedak makanan. Bagaimana hal itu bisa terjadi, mereka baru tiga bulan tinggal disini, dan sekolah baru saja dimulai dua bulan yang lalu, dan dalam waktu singkat itu bagaimana Zevan sudah memiliki kekasih. Zevan hanya tertawa lalu berpamitan untuk pergi ke sekolahnya. Julian juga berpamitan dan bergegas untuk berangkat kuliah.
Didepan rumah, Julian dan Zevan berbincang singkat. Julian mencoba mencari tahu seperti apa kekasih Zevan. Bukannya menjawab Zevan malah kembali bertanya, apakah Kakaknya tidak melihat sosial media miliknya? Ataukah mereka tidak saling berteman di sosmed? Segera Julian membuka ponselnya dan melihat akun adiknya itu. Ia melihat setiap postingan yang terlewat olehnya. Dan disebuah postingan terakhir, foto seorang wanita yang sedang tertawa mengenakan seragam SMA. Iya itu adalah foto yang Zevan ambil saat mereka sedang mengerjakan tugas di perpustakaan luar ruangan.
"Cewek ini, Rana Anandita, anak SMA Gentar kan? Pemenang lomba melukis itu?" Tanya Julian sembari menatap kearah Zevan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Zevan sudah tidak ada disampingnya. Zevan sudah pergi tanpa Julian sadari, karena ia terlalu fokus pada ponselnya.