Kisah seorang gadis yang demi menyelamatkan orang lain harus rela kehilangan ingatannya termasuk identitas dirinya namun justru membuatnya mendapatkan identitas baru yang kemudian merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipik sukirno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 28
"Hemm... The smell.. So make me hungry. Let's eat it!!" Seru Putri begitu Dani membuka wadah tempat sup iga yang baru saja dibelinya.
Karena Putri selalu meminta makanan dari luar, pada akhirnya Lin Fengyin harus menyediakan peralatan makan didalam kamar Putri.
"What is this?" Tanya Dani bingung saat Putri menyodorkan mangkuk kepadanya.
"A bowl." Jawab Putri enteng.
"I know. But.." Kata Dani terpotong.
"Eat."
"For me?" Tanya Dani menunjuk dirinya sendiri.
"Yap."
"With you?"
"Hem.. Hem.."
"No, thak's." Tolak Dani kikuk.
"Put it and eat quickly!" Perintah Putri sembari melotot.
"O.. Okey.. Thank you." Jawab Dani ketakutan
Mereka berdua pun melahap makanan yang ada dihadapan mereka dengan cepat. Tidak sampai 20 menit untuk menghabiskan semuanya.
"Hey, your name is Dani, right?" Tanya Putri sambil merentangkan kedua tangannya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Ya." Jawab Dani sambil merapikan peralatan makan yang baru saja mereka pakai.
"Your name are like Indonesian's name." Kata Putri lagi.
Dani cukup terkejut mendengar perkataan Putri, namun ia tetap tenang dan melanjutkan pekerjaannya.
"You know Indonesia?" Tanya Dani kemudian.
"I'm not sure, i can speak bahasa, and i'm here now, but.. I can't speak chinese." Jawab Putri yang tampak sedih.
Kemudian Putri bangun dan berjalan ke sisi jendela menatap jauh keluar jendela.
"Actually, i don't know who i am, i don't know where i come from, who are my family, and where are they now." Ujarnya pilu.
Kemudian Putri beralih memain-mainkan bunga didalam vas yang tampak segar dan cantik.
"Every day there are always someone who sends flowers for me. But there was never a sender's name. Suster said this is from the person who helped me. I think, i have to meet him." Ujarnya lagi.
Setelah hari itu, Dani selali datang dan menemani Putri bahkan menginap dirumah sakit untuk berjaga. Tentunya menjaga dari orang-orang yang ingin mencelakai Putri. Beberapa kali Dani sudah mendapati orang-orang yang selalu mengawasi keberadaan Putri. Tentu saja ia segera membereskan mereka tanpa sepengetahuan Putri.
Setelah seminggu selalu bersama, mereka sudah semakin akrab seakan mereka adalah saudara. Begitulah Putri mendapatkan keluarga pertamanya.
"Dani.." Panggil Putri.
"Umm?" Jawab Dani sambil menjilati es krim ditangannya.
"I'm very sure that i'm not a chinese." Kata Putri.
"Aha..?"
"I think i'm an Indonesian, right?" Tanya Putri.
"So..?"
"Hey! Do you really hear me?!" Tanya Putri sambil menepuk kepala belakang Dani karena saking kesalnya.
"Akh! My ice cream! No..!!" Pekik Dani meratapi es krimnya yang jatuh ke tanah.
Karena kesal Putri menendang tulang kering Dani dengan kencang sampai Dani segera berjongkok dan memegangi kakinya yang baru saja ditendang Putri.
"Bodo'. Salahnya aku ngomong dari tadi gak didengerin." Gerutu Putri.
Putri pun ngeloyor pergi meninggalkan Dani yang masih berjongkok memegangi kakinya yang sakit.
Tak berapa lama Dani segera berlari mengejar Putri untuk membujuknya agar tidak marah padanya lagi. Setelah upaya pembujukan yang dilakukannya akhirnya Putri mengalah dan memaafkan Dani karena iming-iming akan membelikannya seafood untuk makan siangnya.
Sementara itu, Lin Fengyin tengah berada disebuah kafe bersama dengan seorang wanita seksi. Namun suasananya cukup tegang jika dilihat dari sikap si wanita yang tak lain adalah Chao Mingyan.
"Karena tidak ada yang perlu dibahas lagi, saya pergi. Masih ada pekerjaan yang harus saya urus." Kata Lin Fengyin cuek.
"Saya hampir tidak mengerti apa sebenarnya yang kurang dari saya. Saya cantik, modis, saya juga seksi. Ayah saya adalah orang yang berpengaruh. Tapi tidak pernah sekalipun anda melihat saya. Sebelumnya ada banyak pria yang mengantri untuk saya. Mereka bahkan siap melakukan apapun untuk saya. Tapi anda sungguh sudah membuat saya harus memohon kepada ayah saya hanya untuk bertemu dan meminum secangkir teh dengan anda. Dan anda masih mengabaikan saya?" Kata Mingyan dengan wajah memelasnya.
"Terima kasih karena telah bersedia merendahkan diri nona untuk saya, tapi saya benar-benar tidak ada minat dengan nona. Jika bukan karena permintaan ayah nona, saya tidak akan membuang-buang waktu saya disini. Jangan terlalu merendahkan diri anda seperti ini nona." Jawab Lin Fengyin dingin.
Tidak terima dengan perlakuan Lin Frngyin terhadapnya namun tidak bisa membalas, akhirnya Mingyan mengambik tasnya lalu pergi meninggalkan Lin Fengyin yang tidak merasa bersalah.
"Tuan, bukankah anda sudah sangat keterlaluan terhadap nona Chao?" Tanya Doni.
"Dia pantas mendapatkamnya. Toh saya tidak menyukai tipe wanita seperti dia. Kalau kau merasa kasihan, kau boleh menggantikanku." Jawab Lin cuek.
"Tidak tidak. Saya juga memiliki tipe saya sendiri untuk wanita, tuan." Jawab Doni tegas.
15 menit kemudian mereka sampai disebuah gedung perusahaan makanan dan minuman merek terkemuka didalam negeri. Lin datang untuk memimpin sebuah rapat didalamnya, karena perusahaan itu adalah perusahaan yang ia kelola. Hanya saja saat ini harus ia limpahkan pekerjaannya kepada anak buahnya karena ia harus memegang perrusahaan milik keluarganya yang sebelumnya dipegang oleh ayahnya.
Rapat berlangsung selama dua jam. Setelah melewati perdebatan dan pembahasan panjang akhirnya rapatpun usai. Lin Fengyin merapikan dokumen-dokumennya sebelum ia meninggalkan ruang rapat itu. Seorang pria paruh baya menghampirinya.
"Tuan Lin, saya dengar Hotel yang sedang anda bangun berjalan dengan lancar, saya ucapkam selamat untuk itu." Ujar pria bermarga Mu itu.
"Terima kasih atas oerhatian anda, tuan Mu. Maaf saya harus permisi." Jawab Lin tersenyum profesional.
Lin pun berdiri lalu melangkah menuju pintu meninggalkan beberapa orang yang masih ada didalam termasuk Mu Mudi yang melihat kepergian Lin dengan senyum liciknya.
"Ckckckck Masih terlalu muda, wajar jika terlalu arogan dan sombong." Ujarnya dengan sinis.
"Tuan Mu, apa yang anda bicarakan?" Tanya tuan Ou yg langsung menghampiri Mu Mudi.
"Tidak, tidak.. Saya hanya menyayangkan, seorang pria muda yang seharusnya masih sibuk dengan asmara masa mudanya malah menyibukkan dirinya dengan pekerjaan berat seperti ini. Wajar jika kerjanya masih kurang kompeten. Tidak seharunya "beliau" menimpakan beban kepada bocah bau kencur seperti dia." Jawabnya sinis.
"Tuan Mu, bukankah perkataan anda ini sudah sangat keterlaluan?" Kata tuan Ou mengingatkan. "Biar begitu, beliau ini diatas kita." Tambahnya.
"Huh, hanya jabatan kosong. Kalau bukan karena memandang ayahnya, memangnya anda mau berada dibawahnya?" Sindir tuan Mu.
Malam harinya didalam kamar rawat Putri. Nampaknya Putri sedang mengalami kebosanan. Wajahnya tampak lesu sambil menekan-nekan tombol remot tv ditangannya sambil menggerutu.
"Apa-apaan ini? Bahasanya nggak tau. Cuma bisa liat gambar doang. Ini nih yang namanya bisa dengar tapi tuli." Gerutunya. "Bosan! Sangat sangat bosan!" Omelnya.
Sementara Putri menggerutu, Dani yang tidak memperduliknnya tengah asik sendiri dengan ponselnya. Merasa diacuhkan, Putri menghampiri Dani lalu memukulkan remot tv yang digenggamnya ke kepala Dani.
"Aww!! What are you doing?" Pekik Dani kaget sambil mengusap-usap keningnya.
"Give me your phone." Perintah Putri sambil mengulurkan tangannya.
"No." Jawab Dani sambil menyembunyikan ponelnya.
"Give me!" Bentak Putri.
"No. I am reading my favorite comic." Jawab Dani mempertahankan ponselnya.
Aksi saling merebut dan mempertahankanpun terjadi. Namun akhirnya Dani menyerah juga. Putri pun mulai sibuk membuka-buka isi ponsel Dani termasuk komik yang tadi sedang dibacanya.
"Hei.." Panggil putri kemudian.
"What?!" Tanya Dani kesal.
"Biasa aja dong, nyolot banget si!" Kata Putri sambil menendangkan kakinya ketubuh Dani
"Change it to Indonesian." Perintah Putri sambil menyodorkan ponsel milik Dani itu.
Setelah Dani merubah pengaturan bahasa, barulah Putri diam karena asik memainkan ponsel Dani. Namun belum berapa lama Putri menikmatinya, ponsel itu berdering karena seseorang meneleponnya. Akhirnya Putri mengembalikan ponsel tersebut kepada empunya.
Dani segera keluar kamar untuk menerima panggilan tersebut, nampaknya ia tidakningin Putri mendengar percakapannya dengan orang diseberang telepon itu.
"Ya.. Baik tuan, saya mengerti. Iya. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja..." Katanya pada si penelefon.
Setelah beberapa saat Dani kembali kedalam kamar dimana Putri tengah tertawa terkekeh-kekeh melihat acara komedi ditelevisi.
"What so funny, hah?" Tanya Dani keheranan.
"Dani, i want same snacks. Go and buy them for me." Kata Putri memerintah.
"Ya.." Jawab Dani pasrah.
10 Menit kemudian Dani sampai diminimarket tak jauh dari rumah sakit. Ia segera memilih beberapa snack dan minuman untuk nonanya itu. Saat ia sedang memilih beberapa camilan dirak, tanpa sengaja ia mendengar seseorang tengah berbicara ditelefon dibalik rak.
"Semuanya dalam kendali. Ya. Mereka melihat penjaganya keluar dari sana. Tentu. Saat ini dia pasti sedang sendiri. Anak buah saya sudah bergerak, tenang saja." Kata orang itu.
Mulanya Dani tidak menghiraukannya. Namun tiba-tiba orang tersebut menyebutkan kata yang mencurigakan.
"Gadis lemah seperti ini, apa bagusnya sampai harus dijaga oleh puddle yang merepotkan itu." Katanya.
Tentu kata-kata ini sangat berarti. Karena sudah pasti ditujukan untuknya yang berarti pembicaraannya di telefon tadi sedang membahas Putri yang tengah sendirian karena penjaganya (dia) sedang keluar.
Gawat, Putri dalam bahaya ...!!
Tunggu kelanjutannya ya..