Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_29
Sheryl bertemu dengan seorang pria di cafe, dia memeluk pria itu sangat erat dan mencium pipinya. Pria yang lebih cocok seperti ayahnya itu memperlakukan Sheryl sangat mesra, bahkan pria tua itu yang ternyata Pak Alex tanpa sungkan meremas bokong Sheryl yang cuma di balas tepukan manja sama Sheryl.
Mika menemui Celi, mereka makan bakso di tempat Mang Jaka, tempat favorit mereka.
"Sumpah, gue kangen sama lu. Gila lu minggat gak ngsih tau gue," ujar Celi.
"Sorry, deh. Gue kesel banget waktu itu." Mika menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya.
"Tapi, bagus, sih. Ferguso jadi bisa lebih mikir. Akhirnya dia tau, kan perasaan dia yang sebenarnya. Dia nyariin lu, lucu tau muka dia, ampun gak ada ganteng-gantengnya. Pas gue nutup pintu kosan, dia cuma diem aja," ujar Celi sambil tertawa mengingat ekspresi Azka.
"Gue ngerasa jahat sama Fariz, Cel. Dia juga nyariin gue. Kenapa dia bisa segitunya, ya sama gue," keluh Mika.
"Lu, yang sabar, Mik. Lu gak salah, Fariz yang harusnya berhenti buat suka sama lu. Gimana juga kalian ipar sekarang, mungkin itu hanya obsesi aja, nanti juga bakal berhenti."
"Gak segampang itu, Cel. Dan gue juga gak bisa kalo harus tinggal di rumah yang sama dengan Fariz, rasa bersalah gue bakal makin menjadi," ujar Mika.
"Kenapa lu gak nyari rumah sendiri. Laki lu kaya, cuma buat beli rumah gak bikin dia bangkrut 'kan?"
"Gak segampang itu, Oma Diana gak bakal kasih ijin."
"Iya, sih. Terus rencana lu apa?"
"Sementara gue mau di rumah dulu, gue masih canggung kalo harus ketemu Fariz."
"Ya, itu lebih baik. Eh, gimana keponakan gue. Kapan launchingnya, gue udah gak sabar pengen gendong," ujar Celi sambil meraba perut Mika.
"Ini udah tujuh bulan, paling dua bulanan lagi," jawab Mika.
"Ih, senengnya. Lu udah beli perlengkapan buat anak lu?"
"Belum tau, deh kapan."
"Ayo, sekarang aja. Gue temenin," ajak Celi.
"Gue, pergi beli perlengkapan bayi sama lu? Mana bisa, emang lu tau beli apa aja? Gue aja masih keder," ucap Mika terkekeh.
"Hehe, iya juga. Kita gak ada pengalaman."
Mami Niar sedang mengadakan arisan bareng sosialitanya di sebuah cafe. Matanya tiba-tiba melihat Sheryl dengan seseorang yang sudah familiar. Ya, Sheryl nampak akrab dan gak canggung bermanja-manja dengan Pak Alex rekan bisnis suaminya. Mami Niar sangat geram dan menghampiri ke duanya.
"Mami ...!" seru Sheryl kaget dan melepaskan pelukan Pak Alex yang terkenal duda tajir.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mami Niar dingin.
"Mami, Om Alex udah anggap Sheryl anak sendiri, makanya dia seperti itu sama Sheryl," ujar Sheryl nyari alasan.
"Kamu pikir saya bodoh, yang kalian lakukan ini seperti orang pacaran."
"Emang, kenapa kalo kami pacaran," tanya Pak Alex sambil memeluk bahu Sheryl.
"Oh, begitu. Gak ada yang salah, karena memang saya yang terlalu bodoh percaya pada siluman ini. Jauhi anak saya, jangan pernah berani kamu nongol di hadapan saya!" tegas Mami Niar sambil pergi. Sheryl mengejar Mami Niar.
"Mi, ini gak seperti yang Mami pikirkan!" Sheryl masih mencoba berkelit.
"Jangan panggil saya Mami, jijik saya mendengarnya."
"Mi, tolong percaya, cuma Mami yang ngertiin Sheryl. Gimana bayi ini kalo Mami juga membenci Sheryl."
"Saya, tidak peduli. Dan sekarang saya juga yakin ini bukan anak Azka," tegas Mami Niar sambil berlalu keluar cafe. Sheryl masih mengejar.
Mika yang baru keluar dari warung bakso yang berada tepat di depan cafe. Melihat Mami dan Sheryl yang berantem.
"Bukanya itu Mami?" tunjuk Mika.
"Iya, kok kaya lagi berantem?" ujar Celi
"Samperin, yuk," ajak Mika.
"Ngapain? Biar aja dua siluman itu berantem kita lihat aja siapa yang menang pasti seru," ucap Celi.
"Gila, lu. Ayo buruan." Mika menarik tangan Celi mendekati Mami dan Sheryl.
"Mami, jangan paksa aku berbuat kasar, gak seharusnya musuhin aku, harusnya Mami tetap jadi Mami yang sayang sama aku," ucap Sheryl yang tiba-tiba jadi menyeramkan.
"Jangan mengintimidasi saya. Saya tidak takut," ucap Mami Niar.
"Oh ya," ucap Shery sambil mendorong Mami Niar. Mami Niar terjatuh. Sheryl jongkok dan hendak menampar Mami Niar. Namun Mika menahannya.
"Lawan lu itu gue," ujar Mika sambil memelintir tangan Sheryl ke belakang. Celi membantu Mami berdiri.
"Wah, ternyata mantu yang gak di inginkan sekarang mau sok pahlawan," ketus Sheryl sambil mencoba melepaskan tangannya. Mika makin menekan tangan Sheryl. Dia meringis kesakitan namun masih terus melawan.
"Dan lu, baru jadi calon mantu udah di hempas," ujar Mika. Sheryl berhasil melepaskan pegangan Mika.
"Jangan terlalu yakin, selama Azka belum bisa ngsih bukti kalo ini bukan anaknya. Gue belum kalah," tegas Sheryl.
"Ck, bahkan gue udah gak peduli itu anak Azka apa bukan. Mending lu tobat, deh kasian anak lu kalo tau punya emak berhati iblis kaya lu," gertak Mika sambil pergi mengajak Mami dan Celi. Sheryl yang terlanjur kesal langsung mendorong Mika. Mika jatuh dalam posisi tengkurap.
"Mika ...!" Pekik Celi dan Mami Niar bersamaan. Mika memegangi perutnya Mika langsung pendarahan Celi yang geram menonjok muka Sheryl. Sheryl pucat dan langsung pergi.
"Udah, Celi ayo bawa Mika ke rumah sakit," titah Mami Niar. Celi dan Mami Niar langsung membawa Mika ke rumah sakit.
Dalam perjalanan ke rumah sakit Mami Niar terus menangis, dia merutuki kebodohannya yang terlalu percaya dengan Sheryl. Dan sekarang gara-gara Sheryl, Mika yang sedang mengandung cucunya malah kritis karena menolongnya.
"Mika, maafin Mami sayang. Mami jahat sama kamu," isak Mami Niar.
Azka bertemu Arya. Setelah sekian lama akhirnya dia bertemu dengan sahabatnya.
"Mika terakhir ketemu gue, minta di cariin CCTV kejadian pas lu di Surabaya. Ini, tolong kasih ke Mika," ucap Arya sambil menyerahkan flashdisk.
"Mika, lakuin itu?" tanya Azka yang emang gak tau kalo Mika ketemu Arya.
"Iya, waktu itu pas banget abis dia di kirimin foto lu yang lagi sama Sheryl di hotel, gue salut sama Mika bahkan dia bisa tenang liat foto lakinya lagi tidur sama mantannya," ledek Arya sambil tertawa.
"Sial, lu. Gue di jebak."
"Iya, makanya lu coba, deh liat. Pasti lu bakal kaget, kalo gue, sih biasa aja, ya. Soalnya gue udah tau siapa Sheryl," ujar Arya. Azka mengambil laptopnya, saat hendak memasukkan flashdisk ke laptop. HP-nya bunyi, dia tersenyum liat nama little wife di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, sayang ...," sapa Azka.
"Ferguso, buruan lu ke rumah sakit, Mika pendarahan dia kritis," ucap suara cempreng milik Celi. Azka shock banget dia langsung berdiri.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Arya yang melihat raut wajah Azka berubah cemas.
"Mika pendarahan gue harus segera ke rumah sakit," jawab Azka sambil berlari menuju kendaraaannya.
"Gue, biar gue yang nyetir. Lu kacau banget, Bro bahaya kalo nyetir sendiri." Arya menyambar kunci mobil milik Azka. Azka segera masuk ke dalam mobil,kemudian melaju menuju rumah sakit.
Bersambung.