karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua telah dipersiapkan
Sekitar jam 08.30 pagi Mas Angga menjemput ku ke rumah, Kebetulan aku sudah bersiap lebih dulu, tanpa menunggu waktu lama Aku langsung masuk kedalam mobil.
Mobil mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah keluarga ku, namun sepanjang perjalanan aku hanya diam, sebenarnya aku hanya sedang bingung dengan diriku sendiri.
Aku memutuskan diam karena kan takut perkataan ku bisa menyinggung perasaan mas Angga. Kalau harus jujur Aku tidak menyangka kalau inilah jalan jodoh yang sudah Allah siap kan untuk ku.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya mas Angga.
Yang saat itu mungkin merasa aku sedikit lain, karena jujur aku juga merasakan hal itu. Aku hanya tersenyum ke arah mas Angga. Seolah sedang meyakinkan dia kalau tidak ada apa-apa dengan diriku.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya mas Angga lagi.
Namun saat itu pandangannya masih lurus kedepan, hanya sebentar melirik ke arah ku.
"Tidak ada mas, semua baik-baik saja." jawab ku mencoba meyakinkan nya.
Dan kemudian semua nya Kembali hening, tak da lagi yang bicara, aku hanya fokus pada handphone ku, untuk membuat mas Angga berpikir ada apa-apa dengan diriku saat itu.
Setelah Sampit setengahnya jam dalam mobil ,akhirnya mas Angga memarkirkan mobilnya di sebuah butik ternama.
Setelah mobil berhenti dengan sempurna aku pun turun, aku terasa begitu lelah , karena berada didalam situasi yang seakan mengekang diriku.
aku dan mas Angga berjalan masuk kedalam butik, masih belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua.
Begitu di pintu masuk kami langsung disambut oleh pemilik butik, yang ternyata memang sudah menunggu kedatangan mas Angga.
Kami langsung dibawa ketempat dimana berbagai macam model baju pengantin sudah didesain dengan cantik.
Mas Angga terlihat mengambil posisi untuk duduk di kursi yang sudah disediakan disana. Pikirku saat itu ,mungkin dia lelah dengan acara semalam, apalagi persiapan pernikahan kami yang terkesan begitu mendadak.
"Mari mbak kita lihat-lihat dulu!" ajak seorang pelayan wanita di butik.
Aku Hanya mengangguk tanda setuju, dan mengikuti pelayan tersebut.
"Silahkan dilihat-lihat dulu, yang mana yang mbak suka modelnya."
Aku masih diam, jujur Aku sangat bingung. aku bahkan merasa tak bersemangat, ada apa dengan diriku ? Padahal aku lah yang telah setuju untuk menikah dengan mas Angga.
Mata ku mulai berkeliling, mencari gaun pengantin yang mana yang Aku sukai, namun aku tidak menemukannya.
"Apa ada mbak? Tanya pelayan butik.
"Maaf mbak, apa saya bisa melihat-lihat sendiri dulu?" tanya ku untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya tentu boleh."
Aku berjalan meninggalkan ruangan yang dipenuhi baju pengantin menuju ketempat dimana Amas Angga tadi duduk.
Aku berjalan mendekat ke arah mas Angga, aku berniat meminta mas Angga saja yang memilihkan gaunnya, karena mau tidak mau kami harus memilihnya, sudah tidak ada waktu lagi untuk membuat baju, karena kami akan menikah Minggu depan.
"apa sudah dapat?" tanya mas Angga.
Aku kembali menggelengkan kepala ku, mas Angga terlihat heran kenapa Aku sudah kembali padahal belum menemukan baju yang cocok untuk ku.
"Lalu ,kenapa tidak melihat-lihat dulu mana yang cocok?"
"kita lihatnya berdua , bisa kan mas?" tanya ku ragu-ragu.
Mas Angga yang saat itu sedang memainkan handphone nya pun, langsung bangun dan menyimpan handphone di saku jas nya.
Dan aku pun ikut berdiri disampingnya, Dan tanpa ragu Akau melihat mas Angga langsung meraih jemari ku dan menarik ku pelan untuk melihat-lihat baju pengantin.
"Mbak, berikan baju terbaik di butik ini!"
"Iya mas!" jawab pelayan butik.
Dan tak berapa lama dia sudah kembali dengan sepasang baju pengantin berwarna putih tulang, sangat bagus memang, namun aku masih diam belum Berani berkomentar.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya mas Angga kepada ku.
"Terserah mas saja, kalau ini bagus Icha suka." jawab ku.
"Ya sudah kami ambil yang ini."
"Dan tolong bawakan baju pernikahan untuk kami, karena akan dipakai untuk akad nikah." sambung mas Angga lagi.
"Iya baik , ditunggu sebentar ya."
"Dan tak berpa lama, pelayan tadi datang dengan membawa setelan kebaya yang juga berwarna putih, dipenuhi oleh taburan permata didepannya.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya mas Angga.
"Ini rasa Icha apa tidak terlalu mewah mas?"
"Tentu saja tidak ini pasti cocok sama kamu "
"kalau begitu dicoba dulu bajunya mbak dan mas."
"Iya , terimakasih mbak." jawab ku singkat.
Dan Aku dan juga mas Angga ikut untuk mencoba baju pengantinnya, di ruangan yang berbeda.
Aku pun mencoba baju pengantin yang sudah dipilihkan mas Angga tadi, namun aku menolah saat akan diperlihatkan kepada mas Angga .
"Mbak, apa kita keluar dulu biar pengantin prianya bisa melihat?"
"Tidak usah mbak." jawab ku.
Setelah mencoba baju pengantin aku langsung keluar untuk bertemu mas Angga.
"Apa bajunya sudah dicoba?" tanya mas Angga.
"Sudah mas."
"Apa kamu tidak suka?"
"Bagus kok mas, nanti mas bisa lihat dihari pernikahan kita."
Setelah semua selesai, mas angga langsung membayar baju pengantin tadi dan kami pun meninggalkan butik tersebut.
Aku dan mas Angga menuju kesebuah hotel yang telah dipersiapkan untuk acara resepsi pernikahan kami.
Aku terus berjalan mengikuti ke mana arah kaki Mas Angga melangkah, dan akhirnya kami sampai disebuah ruangan ya sudah dihias dengan begitu indahnya.
"Apa kamu suka tempat ini?"
"Bagus mas, Icha suka."
"semua persiapan telah selesai, kamu jangan khawatir saya pasti akan memberikan yang terbaik untuk kamu."
"Terimakasih mas."
Aku melihat mas Angga saat itu tersenyum ke arahku, senyum yang hampir tidak pernah kulihat di wajah itu. senyum itu begitu menenangkan jiwa ku.
Setelah selesai melihat semua persiapan pernikahan kami, mas Angga dan Aku memutuskan untuk pulang.
"Icha, apa boleh kita singgah sebentar ke kantor?"
"Boleh mas "
"Maaf sebelumnya, tapi ada hal penting yang harus saya selesaikan dulu."
"Iya mas, enggak apa-apa."
"Aku dan mas Angga akhirnya singgah lebih dulu dikantor sebelum pulang, aku berjalan mengikuti mas Angga melewati banyak karyawan dan karyawati kantor.
Entah kenapa aku sedikit risih saat mereka menatap ke arah ku saat itu , Dan tanpa aku katakan apapun aku merasa mas Angga tau ketidak nyamanan ku saat itu .
Dia yang sedang bicara dengan sekretaris pun tiba-tiba meraih jemariku, dan menggenggam nya. Dan kami berjalan menuju ruangan mas Angga.
Ruangan kantor yang begitu sangat rapi, aku memutar pandangan melihat sekeliling ruangan itu, begitu rapi.
Aku dan mas Angga duduk disebuah Sofa yang ada disana, namun saat Ita mas Angga belum juga melepaskan genggaman tangan nya , padahal aku sangat ingin ke kamar mandi.
Perlahan aku mendekat kan wajah ku dan berbisik di telinga mas Angga.
"Mas, Icha ingin ke toilet." ucap ku pelan.
Mas Angga langsung menatap ke arah ku, namun belum juga melepaskan genggaman tangannya.
"Kita lanjutkan sebentar lagi." ucap mas Angga pada sekretaris nya.
Dan dia langsung bangun masih sambil menggenggam jemari ku.
"Mas mau kemana?" tanya ku lagi pelan.
Dia mengalihkan pandangan ke arahku.
"Tapi kamu ingin ke toilet."
"Iya mas."
"Ya sudah." jawab Mas Angga sampai menarik jalan tanganku.
"Tapi mas." aku mencoba menahan tangan mas Angga.
"Kenapa lagi Cha?" tanya nya dengan suara pelan.
"Aku tidak minta ditemani mas."
"Lalu?"
"Bagaimana Icha bisa ke toilet kalau ini." aku mengangkat tangan ku yang masih dalam genggaman mas Angga.
Sontak dia tersenyum saat itu, begitu juga dengan sekretaris mas Angga aku melihat dia menahan senyum.
Aku pun langsung pergi ke toilet ketika mas Angga reflek langsung melepas genggaman nya. Aku tersenyum sendiri sambil berlalu menuju toilet di ruangan mas Angga.
Dan tanpa sengaja disana aku melihat beberapa obat-obatan yang dibuang kedalam tong sampah. Tentu saja aku bertanya dalam hati obat apa ini? Dan siapa yang sedang sakit?