Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
Seakan mengerti dengan kondisi batin cewek yang sejam lalu menelfonnya dan kini sudah duduk di sampingnya. Rio tidak mengajaknya berbicara.
Belum ada satu kata pun yang mencuat dari mulut cowok itu. Rio terus membawa mobilnya membelah jalanan, dengan sebuah tujuan pasti dia membawa Indy ke suatu tempat yang mungkin bisa membuat gadis itu lebih tenang.
Melihat tubuh cewek itu masih terbalut seragam yang tadi siang dipakai saat dia menemuinya, Rio menghentikan mobilnya di sebuah toko pakaian wanita yang masih buka saat ini.
"Tunggu sebentar, dan jangan kemana-mana."
Begitu ucapnya sebelum turun dari mobil dan masuk ke dalam toko pakaian. Rio mengambil asal satu set pakaian kemudian membayarnya.
Cowok itu kembali dengan cepat ke dalam mobilnya. Melempar bungkusan baju yang tadi di belinya ke jok bagian tengah.
Mobil kembali membelah jalan raya. Rio memacu laju mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Dia tidak mau membuat Indy bosan terlalu lama berada dalam perjalanan.
Lepas dari hiruk-pikuk padatnya jalanan kota, mobil Rio memasuki jalan desa yang gelap dan sepi. Jalannya semakin kecil dan menanjak. Lewat sorot lampu mobil yang berpendar, bisa di lihat kanan dan kiri di sepanjang jalan ini hanya ada hutan pinus.
Rumah-rumah warga masih jarang dan jika pun ada jaraknya berjauh-jauhan. Tidak ada satupun kendaraan lain yang berpapasan dengan mereka hingga sampai di tujuan.
Mobil Rio berhenti di depan sebuah Vila yang nampak cukup besar. Kedatangan mereka di sambut dua orang yang bertugas sebagai penjaga Vila.
Ya, Vila itu memang milik keluarga Rio. Sehingga dirinya bebas berkunjung ke sana kapan saja sesuka hati.
Vila yang terletak di lereng gunung, di kelilingi banyak jenis pohon yang tumbuh subur. Membuat siapa saja yang berada di sana merasakan kesejukan alami.
Tak terkecuali dengan Indy, meski sudah terbalut jaket jeans, dia masih mengusap-usap lengannya akibat hawa dingin menembus ke kulitnya.
"Ayo, masuk," ajak Rio setelah mendapatkan kunci dari penjaga Vila.
Cewek itu hanya mengangguk dan kemudian mengikuti langkah Rio. Vila itu nampak sangat luas setelah semua lampu dinyalakan.
Rio membawa cewek itu duduk di depan TV. Membiarkannya duduk menunggu sambil menonton acara yang sedang tayang. Rio sengaja menyetel acara favorite gadis itu agar dia bisa menikmati dan melupakan konflik batinnya.
Cukup lama cowok itu memantau dari dapur yang letaknya tak jauh dari Indy menonton TV. Sambil tangannya sibuk mengaduk coklat hangat di dalam cangkir, matanya tetap mengawasi gadis yang menatap nanar TV di hadapannya.
Tatapannya kosong. Bahkan saat Rio sudah kembali duduk di sampingnya pun dia tidak menyadarinya. Dia terkejut saat Rio menepuk pundaknya, sebab sudah dua kali cowok itu memanggil namanya dan tidak ada respon.
"Jangan kebanyakan bengong di sini, nanti bisa kesurupan," ancam Rio.
"Apaan sih, tahayul banget, lo."
"Diminum tuh, biar dinginnya ilang."
"Di sini, ada mie instan, nggak?" ujarnya bertanya.
"Ada. Lo, laper? Mau gue masakin?" tawar Rio ramah sebagai tuan rumah.
"Gue masak sendiri aja."
Gadis itu melepas jaket meninggalkannya tergeletak di atas sofa. Ia menggulung seragamnya yang berlengan panjang ketika sudah menghadap kompor.
Rio mengikutinya dan membantu gadis yang sedang kesulitan mengambil mie instant di dalam laci yang tinggi. Tangan pendeknya tidak sampai untuk menyentuh mie instan yang berjajar rapih di sana.
"Kok, dua. Lo, laper juga?" tanyanya pada sang tuan rumah.
"Iya. Mumpung lo lagi rajin, nggak papa dong gue nitip sekalian masakin?" balas si tuan rumah.
"Boleh."
Indy nampak nyaman di sana. Buktinya dia berjalan ke sana kemari mencari sesuatu di dalam kulkas untuk menambahkannya pada mie agar lebih enak disantap.
Dia menemukan telur, sosis, dan kol. Dengan cekatan tangan mungilnya memotong bahan tambahan yang di temukannya, kemudian mencampurnya ke dalam rebusan mie.
"Bakalan enak, nih," ucap cowok itu yang tengah mengendus kepulan asap yang keluar dari air rebusan.
Indy menumpahkan banyak saus di atas mie-nya. Sedangkan Rio justru tidak menumpahkan sedikitpun saus di dalam mie-nya.
"Mules ntar, kebanyakan saus," protes cowok itu.
"Gue udah biasa, makan mie pedas, kayak gini."
Mereka fokus menyantap mie dalam mangkuk masing-masing hingga habis. Indy bahkan lebih cepat menghabiskannya dari Rio.
Malam makin larut, Rio akhirnya mulai mengajak Indy mengobrol. Soal kekecewaan yang tengah menjadi konflik terbesar dalam batinnya.
"Gue tahu, lo kecewa, lo terpukul, sama keputusan yang orang tua kita ambil tanpa persetujuan lo dan gue. Tapi kabur bukan solusi yang tepat, Ndy. Lo harus tetap kembali ke rumah. It's okay, lo boleh di sini sekarang. Gue tahu, lo butuh waktu. Tapi nggak buat selamanya lo sembunyi dan kabur."
Berbeda dengan Indy yang memilih lari dari masalah, Rio justru menyikapinya dengan pikiran yang dewasa untuk anak seusianya.
"Lo bener, gue gegabah. Padahal gue masih bisa omongin hal ini baik-baik sama Bapak. Nggak seharunya gue kabur kayak gini, Mama pasti khawatirin gue sekarang."
Wajah mamanya tiba-tiba tergambar dalam pikirannya, membuat gadis itu tertunduk dan berlinang air mata menyesali perbuatannya.
"Udahlah, Ndy. Lo nggak perlu nyesel. Semuanya udah terjadi, lo bisa minta maaf sama Mama lo besok," ucap Rio menenangkan.
Cowok itu mengelus pucuk kepala Indy. Mengusapnya untuk sedikit membantu gadis itu agar merasa lega.
"Besok kita temuin cewek lo, ya. Gue nggak mau kalian putus."
"Nggak usah lo pikirin. Kalau jodoh, nggak akan kemana," balas cowok itu dengan senyum menawannya.
Rio berjalan meninggalkan Indy yang masih mengusap air matanya. Sekembalinya dari pergi yang singkat itu, Rio membawa pakaian untuk gadis itu.
"Ganti gih, seragam lo."
"Baju tidur? Lo kok, punya baju tidur cewek?"
"Udah, pake aja. Kamar lo yang itu. Sebenarnya itu kamar gue. Tapi, lo boleh pake."
"Makasih," ucap gadis itu kemudian pergi ke kamar yang di tunjuk Rio tadi.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!