Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Sakral Khutbah Nikah
Suasana di dalam ruang utama kediaman Mwohan kian memadat oleh takzim ketika karpet beludru hijau zamrud digelar di tengah ruangan. Wewangian kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan mulai mengalun, bercampur dengan aroma melati segar yang dipasang merambat pada dekorasi latar monokrom minimalis.
Para kiai sepuh dari Jombang telah mengambil posisi duduk bersila membentuk lingkaran formal. Di tengah-tengah mereka, Gus Zayyad duduk dengan punggung tegap, menjabat tangan kanan Bapak Handoko yang terasa agak gemetar namun sarat akan keikhlasan seorang ayah. Di sebelah kiri Zayyad, Abah Kiai duduk memejamkan mata sembari memutar butiran tasbih kayu kokka-nya dengan ritme yang konstan.
"Zayyad, tenangkan hatimu. Semua badai semalam adalah ujian untuk memantaskan dirimu memimpin wanita shalihah," bisik Abah Kiai lembut tanpa membuka mata, namun suaranya sanggup mengunci debaran liar di dada bidang sang CEO.
Zayyad menarik napas dalam-dalam melalu hidungnya. Di balik kemeja koko putih linennya, perban simpul pita imut buatan Davika terasa sedikit menekan rusuknya yang memar. Sungguh sebuah ironi yang manis, seorang putra mahkota pesantren yang semalam melesat membelah malam Jakarta bagai buronan, kini berdiri di ambang gerbang sakral sebagai pria seutuhnya.
Dari balik tirai pembatas maksumah di lantai dua, Nara tampak duduk didampingi oleh beberapa kerabat dekat. Jemarinya yang berhiaskan ukiran henna putih halus mencengkeram kain gamis brokatnya erat-erat. Melalui celah ukiran kayu pembatas, matanya yang bulat jernih menatap ke bawah, lurus ke arah punggung lebar Gus Zayyad yang tampak begitu kokoh.
"Mbak Nara, tenang aja. Kalau Gus kaku sampai salah sebut nama Mbak, nanti Davik suruh Mas Gara putar balik pesawat kargonya buat nakut-nakutin Gus," celetuk Davika polos dari samping Nara. Gadis remaja itu kini duduk bersila sambil mengelus botol *skincare* barunya dari Shanghai, tetap menjadi sosok paling *random* dan degil di tengah atmosfer sakral ini.
Nara hanya bisa tersenyum tipis, menepuk dahi adiknya dengan gemas. "Davika, diamlah. Khutbah nikah sudah mau dimulai."
...****************...
Di sudut belakang ruangan, Kapten Sagara berdiri bersandar pada pilar marmer hitam dengan tangan bersedekap di dada. Jaket kulit hitamnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih kaptennya yang tampak licin dan gagah. Sorot mata elangnya tetap waspada, sesekali melirik layar jam tangan penerbangannya untuk memantau laporan perimeter dari Hendra secara berkala.
Bagi Sagara, upacara ini bukan sekadar penyatuan dua keluarga besar, melainkan pernyataan perang mutlak kepada siapa pun di luar sana bahwa keluarga Mwohan tidak lagi bisa disentuh oleh bayang-bayang masa lalu.
Kiai sepuh yang bertindak sebagai penghulu mulai berdeham, mikrofon kecil di depannya berbunyi *bzzzt* halus sebelum mengalirkan untaian ayat-ayat suci Al-Qur'an tentang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Seluruh ruangan seketika hening total. Hanya terdengar helaan napas takzim dari puluhan orang yang hadir.
"Saudara Muhammad Zayyad Al-Ghifari bin Kyai Anwar Muzakki," suara penghulu terdengar berat dan bergema di dalam ruangan mewah itu. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan..."
Zayyad mengetatkan cengkeramannya pada tangan Bapak Handoko. Matanya yang hitam kelam menajam, memancarkan aura maskulin yang sangat pekat. Seluruh fokus taktis yang biasa ia gunakan untuk mengendalikan puluhan armada kontainer hulu kini ia pusatkan seutuhnya pada satu tarikan napas maut ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya..."
...----------------...
"...Nara Rifky Agista Mwohan binti Handoko dengan mas kawin tersebut dan draf pranikah yang tertulis dibayar tunai!"
Suara bariton Gus Zayyad menggema tegas, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam satu tarikan napas yang bersih. Kekuatan vokalnya yang berwibawa memotong keheningan ruang utama kediaman Mwohan, menyapu bersih sisa-sisa keraguan yang sempat ditanamkan oleh kelicikan Kamil.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu dengan cepat.
"Sah!"
"Alhamdulillah, sah!"
Suara sahutan serempak dari para kyai sepuh Jombang bergaung riuh, disusul oleh gemuruh doa yang dipimpin langsung oleh Abah Kiai. Tangan-tangan ditadahkan ke atas, memohon berkah langit untuk sepasang anak manusia yang takdirnya baru saja dikunci rapat oleh kalimat sakral.
Di balik tirai pembatas lantai dua, air mata Nara spontan luruh membasahi pipinya yang polos. Ia menunduk khusyuk, mengaminkan setiap bait doa dengan dada yang bergetar hebat karena kelegaan yang luar biasa masif. Di sampingnya, Davika mendadak berhenti mengelus botol skincarenya. Sepasang mata green-gray langka milik gadis remaja itu berkedip beberapa kali, menatap ke bawah dengan senyuman tipis yang sangat manis.
"Wah, sekali sentak langsung gol ya, Mbak. Gus kaku kalau lagi mode ijab kabul ternyata suaranya boleh juga, mirip narator film dokumenter militer," celetuk Davika polos, merusak atmosfer haru Nara dengan kedegilannya yang tiada tara.
Nara tertawa kecil di sela tangisnya, mencubit pelan lengan Davika yang terbalut *oversized hoodie* merah muda. "Davika, kamu ini benar-benar tidak bisa romantis sedikit, ya?"
Beberapa menit kemudian, Nara dibimbing turun melintasi tangga marmer utama, didampingi oleh Davika yang berjalan di belakangnya sambil memegang ujung gaun brokat putih sang kakak agar tidak tersandung. Penampilan Nara yang begitu anggun dan bersahaja langsung menyita perhatian seluruh ruangan saat ia melangkah mendekati meja akad.
Gus Zayyad berdiri dari posisi duduknya untuk menyambut sang istri. Saat Nara berdiri tepat di hadapannya, Zayyad tertegun sejenak. Sorot mata dingin sang CEO melunak seutuhnya melihat keteduhan yang memancar dari wajah Nara.
Nara meraih tangan besar Zayyad, lalu membungkuk khusyuk untuk mencium punggung tangan suaminya untuk pertama kali. Di saat yang sama, Zayyad meletakkan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubun kepala Nara, merapalkan doa perlindungan yang dalam dan penuh komitmen maskulin.
Namun, momen romantis yang sarat akan muruah pesantren itu sedikit terganggu ketika Zayyad merasakan sepasang mata menatapnya dengan intens dari arah samping bawah. Ia melirik sekilas dan menemukan Davika sedang berdiri satu meter di dekat mereka, menopang dagunya dengan tangan super kecil sembari menaik-turunkan alisnya secara jenaka. Gadis ceriwis itu dengan sengaja menunjuk-nunjuk bibir Zayyad sendiri, seolah mengingatkan tentang sisa noda *liptint peach* malam kemarin yang kini sudah bersih.
Zayyad refleks berdeham kaku, menyembunyikan rasa canggung yang mendadak merayap di tengkuknya. Rahang tegasnya mengetat, namun ada kilat kehangatan yang asing yang kembali berdegup di dadanya setiap kali melihat tingkah *random* adik ipar bungsunya itu.
Dari sudut belakang, Kapten Sagara yang masih bersandar di pilar marmer hitam hanya menarik sudut bibirnya tipis. Ia melangkah maju mendekati barisan keluarga, menjabat tangan Zayyad dengan cengkeraman pria yang sangat kuat.
"Selamat datang di keluarga Mwohan, Gus Zayyad," ucap Sagara rendah, suara baritonnya sedingin es namun sarat akan penerimaan penuh hormat. "Bidak kita di atas papan catur sudah menang mutlak. Sekarang, giliran Anda yang memimpin armada ini di darat."
Zayyad membalas jabat tangan sang kapten dengan kekuatan yang setara. "Terima kasih, Kapten Sagara. Amanah ini akan saya jaga dengan seluruh muruah saya."
Di bawah siraman cahaya matahari siang Jakarta yang benderang dan aman, lembaran baru penuh kemuliaan resmi dimulai untuk dinasti logistik Al-Anwar dan benteng pertahanan keluarga Mwohan. Badai dua benua telah berlalu, menyisakan akhir yang sempurna bagi mereka yang bertaruh nyawa demi sebuah kehormatan.
selalu bilangnya kitab😄😄😄