NovelToon NovelToon
Delima

Delima

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu-2

Adel

"Aku grogi nih." curhat Richard saat kami dalam perjalanan menuju rumah Papa di Cibubur.

"Aku juga." kataku mengakui.

Richard menepikan mobilku di toko kue langganannya. Apalagi kalau bukan Harvest.

"Kita beli cake dulu buat Papa dan Mama kamu ya." Richard memarkirkan mobil di depan toko kue tersebut. Di depan tempat parkir ada beberapa ojek online yang sedang menunggu pesanan. Ramai ternyata, membeli kue untuk dimakan saat kumpul dengan keluarga.

"Enggak usah, Cat." tolakku.

"Harus, Del. Aku enggak bisa ke rumah orang tanpa bawa buah tangan. Apalagi aku mau melamar anaknya, harus bawa untuk sekedar sopan santun. Kamu mau turun atau disini aja?"

"Aku ikut turun."

"Ya ampun, segitu posesifnya." ledek Richard.

Aku tersenyum mendengar penuturan konyolnya. "Udah ayo. Ngeledekkin aku aja nih!"

Richatd turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku lama-lama sudah terbiasa dengan sikapnya yang amat sopan padaku.

Setelah memesan kue dan menunggu kue disiapkan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami pun tiba di rumah Papa saat adzan maghrib berkumandang. Lumayan lama juga di jalan.

Papa yang sedang bersiap ke masjid melirik ke arahku yang datang tidak seorang diri, melainkan dengan Richard. Ia sampai memicingkan matanya tak percaya dengan apa yang Ia lihat.

"Kamu?" Papa menunjuk ke arah Richard yang baru saja keluar dari mobil.

"Assalamualaikum, Om." Richard menghampiri Papa dan mengulurkan tangannya meminta salim.

Papa menatap Richard dengan ragu, namun kemudian memberikan tangannya untuk Richars salim.

"Saya ikut ke masjid ya, Om."

Papa melihat Richard dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu menghela nafas pasrah.

"Del, ambilkan sarung di kamar Papa! Minta sama Mama sana!"

"Iya, Pa." aku masuk ke dalam dan meminta sarung bersih pada Mama. Mama bingung kenapa aku baru datang langsung meminta sarung.

"Disuruh Papa." jawabku singkat. Nanti saja jelasinnya. Mereka harus ke masjid segera.

Aku memberikan sarung yang kuambilkan pada Richard lalu kedua orang itu berjalan menuju masjid bersama-sama.

Aku masuk lagi ke dalam mobil dan mengeluarkan cake yang tadi Richard beli. Tak lupa mengeluarkan besek dan aneka kue pemberian keluarganya Maya. Calon keluargaku juga nantinya.

Agak kerepotan aku membawa semua makanan dengan dua tangan. Mama yang sejak tadi curiga kenapa Papa meminta sarung pun keluar kamar dan menatapku heran.

"Banyak banget kuenya, Del. Dari mana?" tanya Mama sambil mengecek kue yang aku taruh diatas meja makan.

"Ini dari keluarganya Maya." Aku menunjuk besek dan kue yang Maya berikan. "Dan ini cake dari Richard."

"Richard? Yang waktu itu datang kesini?" tanya Mama.

"Iya. Tadi juga sarungnya buat Richard."

"Hah? Yang bener kamu? Mau apa dia kesini lagi?" tanya Mama penasaran.

Aku membantu Mama merapihkan kue dan menyiapkan minuman untuk Richard nanti. Lebih enak minuman dingin. Agar bisa berbicara dengan kepala dingin.

"Nanti Mama dengar sendiri ya. Aku mau mandi dulu. Minum dan cemilan sudah aku siapkan di meja depan. Aku tinggal dulu ya Ma." aku meninggalkan Mama yang masih dilingkupi dengan kebingungan.

Cepat-cepat aku mandi dan mengganti baju dengan pakaian yang sopan. Badanku terasa lengket sekali. Dengan mandi, aku kembali segar dan seperti mendapat tenaga untuk bisa fight depan Papa.

****

Richard

Aku berjalan dalam diam dengan Om Hartono, Papanya Adel. Ternyata letak masjid tak jauh dari rumah Adel.

Saat berjalan, beberapa kali kami berpapasan dengan tetangga sekaligus jamaah masjid yang akrab dengan Om Hartono. Rupanya Om Hartoni rajin mengunjungi masjid ini.

"Assalamualaikum, Pak Jaksa!" sapa seorang pria berambut setengah beruban pada Om Hartono.

"Waalaikumsalam, Pak Hadi. Sehat Pak?" balas Om Hartono dengan ramah.

"Sehat alhamdulillah. Pak Jaksa tinggal di Jakarta lagi? Sudah tidak ditugaskan di luar kota?" tanya bapak yang ternyata bernama Pak Hadi.

"Udah tidak. Sekarang balik lagi ke Jakarta." jawab Om Hartono.

Aku menundukkan kepalaku. Merasa tak enak hati. Om Hartono dipindahkan ke Surabaya juga karena membela aku agar tidak dipenjara dan mendapat rehab. Rasa bersalah mengusai hatiku.

"Wah syukurlah. Biar masjid ini bisa ramai lagi. Itu siapa Pak? Calon mantu?" tanya Pak Hadi.

"Oh ini temannya anak saya Adel. Ayo kita masuk. Sudah Iqomat!" aku mengikuti Om Hartono dan temannya masuk ke dalam masjid. Aku sudah wudhu tadi di dekat parkiran mobil. Jadi bisa langsung sholat.

Kami sholat berjamaah dengan dipimpin oleh Pak Ustadz yang biasa memimpin sholat berjamaah. Selepas sholat, Om Hartono tak langsung pulang. Ia mengajakku duduk di teras masjid.

"Duduk, Cat!"

Aku mengikuti apa yang Ia suruh. Duduk bersila di sampingnya.

"Kamu kenapa datang bersama Adel tadi?"

"Saya memang mau ke rumah Om. Mau ketemu Om." jawabku terus terang.

"Mau apa? Bukannya Adel sudah mengatakan kalau diantara kalian tidak ada hubungan apa-apa?" Om Hartono berbicara sambil menatap ke dalam mataku.

Cara bicaranya tenang. Tidak bernada menyudutkan apalagi membuat aku ketakutan. Mungkin karena terbiasa mengatasi para tersangka yang terbiasa memancing emosi. Beda memang kalau profesional.

"Om pasti tau. Niat saya sama seperti terakhir kali saya datang. Mau berhubungan serius dengan Adel." jawabku to the point.

Om Hartono mengangguk-angguk. "Om sudah duga."

"Jadi boleh, Om?" tanyaku penuh semangat.

Om Hartono tersenyum mendengarku bertanya penuh semangat seperti itu. "Dasar anak muda! Semangat sekali."

"Iya dong, Om. Niat baik kan harus disegerakan." jawabku penuh semangat lagi. Aku merasa jalanku kini terbuka lebar. Om Hartono sudah tidak semenyeramkan seperti saat pertama kali bertemu.

"Gimana waktu di rehab?" Om Hartono malah mengalihkan pertanyaan tentangku.

"Gimana apanya Om?" tanyaku bingung.

"Om dengar kamu sampai minta tambahan di rehab sekali lagi. Apa benar?"

Aku mengangguk. "Benar, Om."

"Boleh Om tahu alasannya apa?"

"Karena saya tidak siap menghadapi kenyataan, Om." jawabku jujur.

"Kenyataan apa?"

Aku menyandarkan tubuhku di tembok masjid yang dingin. Mataku menatap sinar bulan di langit yang cerah di malam ini.

"Seperti yang Om lihat di berita. Papa saya masuk penjara karena tuduhan suap. Mama saya menuntut cerai. Adik saya pun dituntut cerai. Dan keadaan saya tidak lebih baik dari mereka. Saya ditangkap saat sedang membeli narkoba. Saya merasa tempat saya rehab adalah tempat ternyaman saat itu." curhatku. Belum pernah aku menceritakan masalah ini pada siapapun. Dengan Leo pun aku hanya bilang mau belajar ilmu agama lebih dalam lagi. Aku menutupinya dengan rapat.

"Menghindar dari masalah gitu?" tanya Om Hartono.

Aku mengangguk. "Iya. Awalnya. Aku enggak punya teman yang baik, Om. Saat aku di rehab baru aku menyadari kalau teman-temanku semuanya palsu. Mereka justru meninggalkanku disaat aku terpuruk. Menertawakanku dan membicarakanku di belakang. Aku merasa para pekerja di tempat rehab malah sudah seperti temanku sendiri."

"Rehab enggak seburuk itu kan?" tanya Om Hartono sambil tersenyum. Mungkin menyadari kalau keputusan yang Ia ambil benar.

"Iya, Om. Justru saya banyak belajar tentang agama, tentang mengontrol agama dan berteman tentunya. Saat saya keluar rehab, orang pertama yang saya cari adalah Om Hartono loh."

Om Hartono agak sedikit terkejut dengan penuturanku. "Benarkah?"

Aku mengangguk. "Aku dijemput Papa waktu itu. Aku minta diantar Papa ke tempat Om. Namun sayang, Om malah dipindahtugaskan karena aku. Aku merasa sangat bersalah pada Om. Eh ternyata kita ketemu lagi, Om. Kayak jodoh aja pasti bertemu." aku mengajak Om Hartono becanda sedikit agar suasana tidak terlalu tegang.

Om Hartono kembali tersenyum. Ternyata setelah diajak mengobrol, Ia tidak seseram yang dibayangkan. Memang orangnya tegas, tapi hatinya baik.

"Kamu tahu, kamu termasuk beruntung. Ada salah satu terdakwa yang saya dakwa dengan hukuman penjara 2 tahun. Ia tidak mungkin di rehab karena seorang bandar kampung. Sekeluarnya dari penjara, hidupnya lebih hancur lagi. Ibunya sakit keras dan Ia tak bisa bertemu Ibunya untuk yang terakhir kalinya. Lepas penjara tak punya pekerjaan, dan hampir tergoda untuk masuk jurang yang sama lagi,"

"Dia mendatangi saya. Meminta bantuan saya. Umurnya saat itu masih 24 tahun. Masa depannya masih bisa diperbaiki. Ia hanya bekerja serabutan yang penting digaji. Saya masukkan dia perusahaan teman saya. Alhamdulillah, sekarang hidupnya lebih baik,"

"Orang tuh terkadang hanya perlu diberi kesempatan, untuk berubah dan memperbaiki dirinya sendiri tentunya. Itu pula yang saya lakukan dulu saat melihat kamu. Anak yang salah pergaulan. Saya lihat kamu masih bisa diperbaiki, karena itu saya mengajukan rehab."

"Dan Om jadi dimutasi karena saya, huft.... Maaf ya Om. Saya udah banyak nyusahin Om." aku menunduk dan menyesali perbuatanku.

Om Hartono malah tertawa. "Udah takdir Om kayak gitu, Cat. Ya awalnya Om kesal juga. Apalagi pas ngeliat muka kamu ada di rumah Om. Makin sebal lah."

"Sekarang masih sebal enggak Om?" aku beranikan diri bertanya seperti ini.

Allahu akbar

Allahu akbar

Adzan Isya berkumandang. Percakapan kami pun terhenti. Mendengarkan suara adzan memanggil orang untuk menunaikan sholat.

"Kita sholat isya dulu." dan jawaban atas pertanyaanku pun tak dijawab.

Kami kembali sholat isya berjamaah. Kali ini Om Hartono meminta agar aku yang menjadi imam. Deg.... Mengimami calon mertua. Grogi pastinya.

Alhamdulillah aku saat di rehab yang kedua dipindahkan tempatnya oleh Leo, karena keputusan pengadilan aku rehab hanya satu tahun saja jadi tahun kedua terserah dari pihak keluarga.

Di tempat rehab yang kedua, aku lebih banyak diajarkan tentang ilmu agama. Belajar ngaji dan wajib sholat berjamaah. Aku juga sering diminta menjadi imam sholat berjamaah. Jadi, ini bukan pertama kalinya buatku.

Aku maju ke dekat mimbar dan berdiri di tempat imam memimpin sholat. Kupimpin sholat dengan khusyuk. Aku pun berdoa semoga dimudahkan untuk mendapat restu Om Hartono dan istri.

Selesai sholat, aku dan Om Hartono pulang ke rumah Adel. Mendengar suara aku dan Om Hartono yang mengobrol di depan pagar, Adel pun menghampiri.

"Kok sholatnya lama banget sih?" protes Adel. Ia sudah mandi ternyata dan sudah berganti baju juga.

Aku tersenyum mendengar protesnya. Tak sabaran rupanya dia. Mau tau apa yang aku dan Om Hartono omongi sejak tadi.

"Sekalian sholat isya. Tanggung banget. Kamu bukannya salim sama Papa, malah langsung portes saja!" omel Om Hartono.

"Iya, maaf." Adel mencium tangan Papanya dan saat hendak mencium tanganku, Om Hartono melarang.

"Nanti saja salimnya. Sekarang belum muhrim! Ayo masuk!"

Sambil cemberut Adel menuruti perintah Papanya. Aku pun ikut masuk ke dalam rumah. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu dengan tempat duduk yang sama seperti terakhir kali aku datang.

Sudah tersedia es sirup yang sudah mencair es batunya karena kelamaan menunggu kedatanganku dan Om Hartono dari masjid. Ada juga aneka cemilan. Lengkap.

"Kalian sudah pulang?" Mamanya Adel datang lalu salim pada suaminya.

Aku menjawabnya dengan mengangguk. Aku lalu salim pada Mamanya Adel.

"Diminum, Cat. Saya juga mau minum. Haus." Om Hartono mengambil es sirup miliknya dan meneguknya sampai habis.

Aku mengikuti apa yang Ia lakukan dan meminumnya tapi tidak sampai habis, sisakan sedikit kalau nanti aku butuh minum tak usah minta lagi.

"Richard sudah mengemukakan maksud dan tujuannya datang ke rumah ini. Yakni mau melamar Adel." Om Hartono membuka percakapan. "Kamu sudah tau kan Del?"

Adel mengangguk. "Iya, aku tahu Pa."

"Waktu itu Richard datang kesini dan kamu bilang kalau kamu dan Richard hanya berteman saja, padahal Richard mau meminta kamu pada Papa dan Mama baik-baik. Sekarang Richard datang untuk kedua kalinya apakah kamu akan menganggapnya sebagai teman lagi atau kamu sudah menerima lamaran Richard?" Om Hartono seperti sedang menyidang Adel.

"Aku.... Aku sama Richard memang temenan. Maksudnya.... Sebelumnya. Tapi sekarang aku... Aku sama Richard. Aku..." Adel berkata dengan gugup. Sepertinya Adel sangat takut disidang seperti ini.

"Kamu jangan aku aku aku terus toh Del. Ngomong yang jelas!" omel Mamanya Adel.

"I...Iya, Ma. Aku mau bilang kalau aku... Udah nerima lamaran Richard. Tinggal... Menunggu restu Papa dan Mama aja." akhirnya Adel berani mengungkapkan isi hatinya. Dan yang pasti Adel sudah bilang kalau Ia menerimaku. Yess! Setidaknya Adel mengakuiku bukan hanya sekedar teman di mata kedua orang tuanya.

Om Handoko menghela nafas. "Akhirnya kamu jujur juga Del. Kamu yakin dengan keputusan kamu?"

"Ya yakin lah, Pa. Adel pasti udah memikirkannya matang-matang, iya kan Del?" Mamanya Adel terlihat amat bersemangat mengetahui Adel menerima lamaranku. Apa mungkin Mamanya Adel kini mendukungku?

"Papa nanya sama Adel, Ma. Bukan sama Mama. Kamu yakin enggak dengan keputusan kamu Del?" Om Hartono kembali menanyakan pendapat Adel.

"Aku... Aku yakin, Pa. Aku yakin Richard laki-laki yang baik dan mencintaiku." jawab Adel. Kini Adel bahkan berani menatap mata Papanya.

"Dengan semua kekurangan dan masa lalu yang Richard miliki?" tanya Om Hartono lagi, memastikan keteguhan hati Adel.

"Iya. Adel siap menerimanya." jawab Adel yakin tanpa gugup sedikitpun.

Om Hartono lalu terdiam. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Sepertinya sudah mendapat keputusan. "Baiklah kalau kamu memang ingin menikah dengan Richard. Papa merestui."

Senyumku yang baru mengembang langsung hilang ketika Om Hartono berkata, "Tapi Papa tidak bisa menikahkan kalian."

*****

Yes... Digantung lagi.... Yes...

Yes... Makin penasaran.... Yes...

Yes... Vote yang banyak... Yes...

Yes... Jangan lupa IG: Mizzly_ .... Yes....

Yes... Jangan lupa senyum... Yes....

1
Tika Gemoy
mewekkk lagii😭
Tika Gemoy
tiap kali baca ,masih nangis juga😭😭
Hani Hani
uda baca ini 5x tamat tapi ttp ngakak sm kelakuan richard🤣🤣
Ida Rodiah
Luar biasa
martini
luar biasa
Evi Yolanda
thor buat lah Ndut bucin secepatnya 🤣🤣🤣🤣
Evi Yolanda
jd gedek SM adel .. gendut mang siadel
Ning Fifi
👍👍👍
Ernawati💕
luar biasa
💐Tari Nyonya Sibuea💐
dsr jalang murahan🤮🤮
Ran Aulia
poor Babang Icad 😭😭😭
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
✨️ɛ.
lika liku perjalanan Kakanda dalam menaklukkan hati Neng Adel..
Ei_AldeguerGhazali
Jaksa dan terdakwa wkwk jadi ngakak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Ei_AldeguerGhazali
Ikut mesem aku del🤣
Ei_AldeguerGhazali
Beneran sengklek sih maya🤣
Ei_AldeguerGhazali
Bang icad udah beneran taubat mah ini🤣🤣👍🏻
Ei_AldeguerGhazali
Ngakak 🤣 bener bgt ya bang icad
Ei_AldeguerGhazali
Gercep bgt dah
ani surani
ngietrin mall 7 lt 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!