Sinopsis:
Aku Rendy Purnomo, seorang pria biasa yang mendapatkan aplikasi yang tidak diduga yaitu Aplikasi Oracle. Aplikasi ini adalah aplikasi chat yang bisa menjawab pertanyaan apapun yang kita ajukan.
Selain itu, aku juga terpilih menjadi Agen Oracle yang dimana aku akan mendapatkan hadiah poin yang bisa ditukarkan dengan aplikasi-aplikasi yang tidak masuk akal lainnya seperti Camera Indigo, sebuah aplikasi yang mampu melihat makhluk tak kasat mata dan masih banyak lainnya.
Aplikasi Oracle itu didapatkan olehku disaat aku dan sekeluarga mengalami kecelakaan namun dalam kecelakaan itu hanya aku yang selamat. Saat pemakaman, aku bertemu dengan paman Andika yang tinggal di Fukuoka, Jepang dan mengajak diriku untuk tinggal bersama di sana.
Aku pun menyetujuinya dan kembali ke rumah. Saat itulah, tiba-tiba ponsel pintar milik ibuku menyala sendiri dan muncul aplikasi Oracle. Setelah mempelajari aplikasi tersebut. Aku barulah tahu bahwa diriku telah mendapatkan System di dunia nyata seperti didalam novel atau Anime.
Dan inilah kehidupanku dengan adanya System di Smartphone milik Ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kupetik gitar dan Ku nyanyikan
Chapter 27. Kupetik gitar dan ku nyanyikan.
Aku Rendy Purnomo, saat ini aku sedang berjalan menuju rumah sakit tempat Adine dirawat dengan gitar yang berada di punggung ku karena dihari kemarin, aku telah berjanji untuk bermain gitar bersama Adine. Setibanya aku di ruang rawat, Adine pun sangat senang melihat kedatanganku.
“Wuaahh, Rendy. Kamu datang juga! Dan bawa gitar lagi!” ucap senang Adine sambil melihatku.
“Iya, seperti yang aku janjikan. Lalu, bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Adine sambil tersenyum lebar.
Lalu, aku pun duduk di kursi dekat kasur dan Adine menatapku dengan senyuman lebar. Aku pun menjadi sungkan dengan tatapan tersebut.
“Ada apa?”
“Kenapa kamu hanya duduk? Mainkan gitarmu!” seru Adine.
“Iya. Ya.”
Aku pun menuruti Adine dan mengambil gitar dari sarungnya.
“Mainkan satu lagu untukku!” seru Adine.
“Lagu apa?”
“Apapun yang kamu kuasai!” jawab Adine.
“Baiklah, satu lagu untuk temanku!”
Aku pun memulai memetik gitar dan memainkan sebuah lagu Indonesia, Dia dari Anji.
♪ Di suatu hari tanpa sengaja, kita bertemu. ♪
♪ Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta. ♪
♪ Hati ini kembali temukan senyum yang hilang, semua itu karena Dia. ♪
♪ Oh, Tuhan. Ku cinta Dia, kusayang Dia, rindu Dia, inginkan Dia. ♪
♪ Utuhkanlah! Rasa cinta di hati ku. Hanya pada nya, untuk dia. ♪
….
Aku pun mengakhiri lagu serta petikan gitarku dan Adine pun bertepuk tangan.
Plok! Plok!
“Wow, luar biasa! Suara kamu dan petikan gitarmu sangat bagus!” ucap pujian Adine kepadaku.
“Arigatou…” ucapku sambil menundukan kepala.
“Nee, kamu bisa nyanyikan lagu jepang?” tanya Adine dengan begitu bersemangat.
“Lagu apa memang?”
“Hmm, lagunya Miwa – Aoikuri,” jawab Adine.
“Hmm, maaf. Aku tidak tahu seperti apa memang?”
“Sungguh membosankan masa kamu tidak tahu,” ucap Adine.
“Hehe … begitulah,” ucapku sambil mengarukan kepala.
“Jika begitu, pinjam gitarmu!” seru Adine.
“Iya. Ya. Memang kamu bisa bermain gitar!”
“Cihh, kamu meremehkanku! Aku akan tunjukan,” jawab semangat Adine.
“Baiklah, kita lihat!” jawabku sambil memberikan gitarku kepadanya.
“Terima kasih dan lihatlah performa dari penerus Miwa!” teriak semangat Adine.
Plok! Plok!
“Yeee, ganbatte!” ucapku yang menyematinya.
Adine menoleh kearahku dan dia memulai memetik gitarnya.
♪ Sukidayo tte kimi no kotoba.♪
♪ Uso mitai ni ureshikute.♪
♪ Marude chiga-.
Adine pun menghentikan lagu dan petikan gitarnya serta dia melamun. Aku yang melihat itu menjadi penasaran.
“Adine, ada apa?”
Adine yang mendengar sapaanku, dia kembalikan lamunan.
“Tidak, bukan apa-apa! Dan ini gitarmu!” seru Adine yang langsung mengembalikan gitarku tanpa senyuman.
Aku berpikir bahwa dia sedang memikirkan atau mengingat sesuatu. Maka dari itu, aku tidak mempertanyakan lagi. Setelah itu, aku memainkan lagu lainnya.
Seusai aku memainkan dua lagu Indonesia, Adine pun meminta sesuatu kepadaku.
“Rendy, bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?”
“Meminta apa?”
“Nyanyikan lagu Aoikuri – Miwa yang aku belum selesaikan!”
“Baiklah, nanti aku akan memainkannya!”
“Terima kasih, Rendy!”
Sepulang dari menjenguk Adine, aku pun berlatih lagu yang diminta oleh Adine dikamar dengan bantuan musik yang aku unduh beserta kunci-kunci.
“Baiklah, aku akan coba.”
Aku pun memulai memetik gitar dan bernyanyi.
♪ Sukidayo tte kimi no kotoba.♪
♪ Uso mitai ni ureshikute.♪
♪ Marude Chigatte mieru.♪
♪ Itsumo miageru sora mo.♪
♪ Gita o -.
Krekkk!
Pintu pun terbuka membuatku menghentikan nyanyian serta petikan gitarku. Lalu, dari balik pintu masuklah Ryutaro dengan senyuman lebar.
“Luar biasa, Ren! Suaramu dan petikan gitarmu bisa pas dengan lagu itu,” ucap kagum.
“Tidak juga, ini saja aku baru belajar.”
“Aku putuskan!” ucap Ryutaro yang berlari kearahku lalu, dia duduk disampingku serta merangkulkan tangannya.
“Putuskan apa?”
“Ren, kita buat band! Lalu, kita tampil di festival pantai yang akan diadakan dua minggu yang akan datang. Bagaimana menurutmu?” ajak Ryutaro.
“Festival pantai? Sepertinya menarik!”
“Oiya, Ren! Ajak juga Adine karena ini festival yang meriah bahkan ibu dan ayah akan ikut serta dalam membuka stand disana!” seru senang Ryutaro.
Saat Ryutaro mengatakan itu, aku pun terpikir bahwa itu ide yang bagus dan aku ingin membuat kenangan yang indah untuk Adine.
“Baiklah, Ryu. Ayo kita tampil di panggung!”
“Yoshh, aku akan panggil teman-temanku yang lain!” ucap Ryutaro.
Aku yang mendengar itu hanya memberikan respon senyum lebar kepadanya dan aku harap bisa menampilkan terbaik diatas panggung.
biar mcnya dpt kekayaan juga
wiklworpp