Seorang wanita bernama Tiara Indah Soraya yang merupakan wanita yang sukses dengan kariernya sebagai desainer dan pemilik butik terkenal.
Tapi dibalik kesuksesannya tidak sebanding dengan kisah cintanya. Diusianya yang sudah dipenghujung kepala 2 membuatnya selalu diteror oleh ibunya untuk segera menikah.
Setiap hari ibunya selalu bertanya tentang laki laki bahkan dia juga sering menjodohkannya dengan banyak laki laki tapi semuanya selalu berakhir dengan ketidakcocokan.
Hal itu membuat ibunya sangat frustasi karena di usianya yang sudah tua dia ingin sekali menimang cucu dari putri tunggalnya.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Rivan dan besoknya langsung diajak menikah tanpa mengetahui asal usul dari pria tersebut.
Bagaimana kehidupan Tiara setelah menikah dengan Rivan? apakah rumah tangga mereka akan bahagia atau malah sebaliknya.
yuk ikuti dan baca novel keduaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Setelah berpura pura menjadi pelanggan di butik 'Ara' Vani pulang, tidak lupa dia sebelumnya membeli satu baju dari butik tersebut agar tidak ada yang mencurigai dirinya yang pulang dengan tangan kosong.
Vani langsung pulang dengan melajukan mobilnya menuju restoran yang dia kelola sendiri. Nanti saja dia akan memberitahu ibunya tentang penyelidikannya kali ini. Rencananya sepulang dari restorannya dia akan mampir dulu ke rumah bundanya yang tidak jauh dari rumahnya.
*
*
*
Sementara itu Tiara yang sudah balik ke butiknya langsung berjalan menuju ruangannya. Dia duduk di kursinya lalu mengerjakan pekerjaannya kembali. Bahkan saat ini dia sudah sedikit lupa dengan kejadian pagi tadi, saat dirinya harus berdebat dengan ibunya tentang janjinya mencari pendamping hidupnya.
Saat dia sedang konsentrasi dengan pekerjaannya, tiba tiba dia menghentikan pekerjaannya dan teringat dengan pembicaraannya dengan Nita yang ingin memperkenalkan dirinya dengan Feri teman kantornya Doni. " Mungkin gak ada salahnya kalau aku coba berkenalan dulu dengan Feri" ucapnya lirih dengan punggung yang dia sandarkan pada kursi.
' Kriteria Nita sama Doni pasti bagus karena mengingat mereka adalah orang orang yang baik dan tidak pernah aneh aneh' gumamnya lagi dengan mengangguk anggukkan kepalanya seolah setuju dengan pemikirannya sendiri.
" Baiklah nanti saja aku akan bilang sama Nita kalau aku bersedia berkenalan dengan Feri" ucapnya lagi bermonolog sendirian.
Setelah melamun dengan pemikirannya sendiri, Tiara akan melanjutkan pekerjaannya. Tapi tiba tiba ponselnya berdering dan dia langsung mengambil ponselnya dan dilihat ayahnya yang menelpon. " Tumben jam segini ayah telpon aku" dengan alis yang berkerut tajam dia menerima panggilan telpon dari ayahnya.
" Ada apa yah?" tanya Tiara langsung tanpa basa basi begitu dia menggeser ikon telpon berwana hijau di ponselnya.
..............
" Apa!! ibu di rumah sakit!?" teriak Tiara dengan suara tinggi karena dia terkejut saat ayahnya memberitahukan bahwa ibunya sedang ada di rumah sakit.
.............
" Baiklah yah... Ara segera ke sana" jawab Ara mencoba tenang meskipun hatinya merasa takut dan khawatir akan kondisi ibunya yang baru saja tadi pagi berdebat dengannya.
Tiara langsung menutup telponnya setelah pak Hendra memberitahukan tempat rumah sakit dimana ibunya sedang dirawat. Tiara segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Dengan perasaan khawatir dan langkah terburu buru Tiara langsung keluar dari ruangannya.
Sebelum pergi Tiara berpamitan dulu pada Nita bahwa dia akan ke rumah sakit dan menitipkan butiknya pada Nita. Dan Nita sendiri sempat menawarkan bantuan untuk mengantarkan Tiara ke rumah sakit tapi Tiara menolaknya dan dia akan naik mobil online saja.
Tiara sudah memesan taksi dan tidak lama mobil yang dia pesan sudah sampai di depan butiknya. Dia langsung masuk ke dalam mobil dengan perasaan gelisah karena terlalu memikirkan keadaan ibunya. Padahal tadi pagi dia sempat berdebat dengan ibunya sebelum dia berangkat bekerja tadi.
' Apa penyakit ibu kambuh karena tadi pagi habis berdebat denganku?' tanya Tiara dalam hatinya saat mobil yang ditumpanginya menjauh dari butiknya.
' Seharusnya aku tidak boleh egois, bagaimanapun juga ibu seperti itu karena dia memikirkan diriku' merasa bersalah dengan sakit yang dialami ibunya.
Tidak lama Tiara telah sampai di rumah sakit yang diberitahukan ayahnya tempat ibunya dirawat. Dia terus berjalan mencari keberadaan ayahnya yang tadi sempat bilang bahwa ibunya sekarang ini masih berada di ruangan UGD. Suara ketukan sepatu Tiara terdengar sampai menggema di sepanjang lorong rumah sakit yang menandakan bahwa pemilik sepatu tersebut sedang dilanda kecemasan.
Dari jauh Tiara dapat melihat pria paruh baya yang sedang duduk di depan ruangan UGD dengan wajah cemasnya dan khawatir. Tiara mempercepat langkahnya untuk segera menghampiri pria tersebut yang tidak lain pak Hendra ayahnya.
" Ayah" panggil Tiara dengan suara serak, dengan terus berjalan mendekati ayahnya.
Pak Hendra langsung mengangkat kepalanya dan berdiri begitu melihat kedatangan putri semata wayangnya yang sudah ada di depannya. Lalu mereka berdua saling memeluk untuk menguatkan satu sama lain dengan keadaan yang menimpa bu Suci.
Selesai berpelukan, pak Hendra mengajak Tiara untuk duduk kembali di samping kursi yang tadi dia duduki.
" Bagaimana ini bisa terjadi yah? tadi pagi ibu sehat sehat saja kan?" tanya Tiara air mata yang sudah tidak dapat terbendung lagi.
" Ayah juga tidak tau nak, tadi ada salah satu tetangga yang mengabari ayah kalau ibu dibawa ke rumah sakit karena ibu pingsan di teras" jawab pak Hendra dengan raut wajah yang terlihat sedih. " Sudah jangan menangis" pak Hendra menenangkan putrinya dengan merangkul bahu Tiara dan membawa kepala Tiara bersandar di bahunya.
" Trus gimana kondisi ibu, yah?" tanya Tiara lagi dengan suara bergetar.
" Ayah juga belum tau, ayah juga baru sampai disini" jawab pak Hendra berusaha kuat tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan putrinya.
Dan tiba tiba ruangan UGD terbuka dan keluarlah dokter laki laki dengan jas putih yang sambil melepaskan masker yang menutupi wajahnya. Melihat dokter keluar Tiara dan pak Hendra langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut untuk bertanya mengenai kondisi ibu Suci.
" Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya pak Hendra dengan cepat karena tidak sabar ingin mengetahui kondisi istrinya.
" Syukurlah pasien sudah sadar dan keadaannya baik baik saja, mungkin dia terlalu banyak pikiran menyebabkan darah tingginya naik dan kepalanya pusing lalu pingsan" dokter memberitahukan kondisi bu Suci dan seketika Tiara dan pak Hendra langsung bisa bernafas lega.
" Jadi sebaiknya jangan memberi pasien terlalu banyak beban pikiran" nasehat sang dokter. "Pasien juga bisa langsung pulang tidak perlu dirawat disini" lanjut sang dokter dan diangguki oleh Tiara.
" Baik dok terima kasih, apa saya bisa melihat istri saya dok?" tanya pak Hendra yang sudah tidak sabar melihat keadaan istrinya.
" Iya silakan" jawab pak dokter lalu dia beranjak pergi meninggalkan Tiara dan pak Hendra.
" Ayo kita masuk nak" ajak pak Hendra
" Ayah masuk saja duluan aku mau mengurus administrasi kepulangan ibu dulu" tolak Tiara yang belum siap bertemu dengan ibunya karena rasa bersalahnya pad sang ibu.
" Ya sudah ayah masuk dulu" Tiara hanya mengangguk dan tersenyum melihat wajah ayahnya yang sudah tidak sedih tadi. Pak Hendra langsung masuk kedalam ruangan UGD dimana bu Suci sedang dirawat.
Sedangkan Tiara hanya bisa duduk kembali di kursi yang tadi dia duduki. Dia merasa sedih setelah mendengar penuturan dari dokter yang telah menangani ibunya. Dia merasa bersalah karena sudah membuat ibunya terlalu memikirkan dirinya yang belum menikah sampai sekarang.
' Ini semua karena ibu terlalu memikirkan diriku yang belum menikah sampai sekarang' batin Tiara dengan melamun karena dia merasa bersalah dengan air mata yang langsung mengalir di pipinya.
' Mungkin benar, aku harus menerima penawaran dari Nita untuk berkenalan dengan Feri' sambil menganggukkan kepalanya. ' mungkin saja kami berjodoh dan bisa menikah sehingga ibu tidak perlu memikirkan hidupku lagi' lanjutnya dengan menghela nafas panjang.
" Tiara...!" panggilan seseorang langsung membuyarkan lamunannya dan mencari sosok yang memanggilnya.
" Kamu...!" Tiara langsung terkejut dan membulatkan matanya saat dia melihat orang yang memanggilnya.
### Kira kira siapa yang manggil Tiara ya?