Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
*Aarrrggghh!!
Sangkala mengerang kesakitan dan memegangi telinganya.
Ia kemudian melepaskan mengambil sesuatu dan menyumpal telinganya.
"Dasar dukun keparat!" seru Sangkala melesat menghantamkan tinjunya kearah Rangga yang duduk bersemedi di sana.
"Dukun ganteng datang!!" seru Lingga menghalau serangan Sangakala
Keduanya kemudian saling serang, sementara itu Rangga langsung berdiri dan menghampiri Garra.
"Dimana Tiwi?" tanya Rangga
"Sangakala menyembunyikannya," sahut Garra
Rangga segera memejamkan matanya mencoba mencari gadis itu menggunakan mata batinnya.
"Dimana mahluk itu menyembunyikannya," ucap lelaki itu.
"Apa kau menemukannya?" tanya Garra
"Aku tidak bisa menemukannya, sepertinya makhluk itu tahu jika kita akan membantumu mencarinya hingga ia menyembunyikannya di tempat yang tidak bisa kami jangkau." Sahut Rangga
*Buughhh!!
"Awww, tolong bantu anakmu yang ganteng ini dad!" seru Lingga melambaikan tangannya kearah Rangga
"Lanjut aja dulu, Daddy lagi curhat bentar," sahut Rangga
"Astoge, dasar Daddy jahara!" seru Lingga langsung menghindari serangan Sangakala
*Buughhh!!
Kembali Lingga terhempas setelah terkena tendangan keras Sangakala.
"Everybody please help me!" seru Lingga melambaikan bendera putih kearah mereka
Ketiganya hanya menganga melihatnya.
"Dah biarkan saja, anggap aja dia sedang naik level, kuy lanjut lagi ngobrolnya," ujar Rangga
"Astoge, Ki Rangga!!" seru Lingga geram
Rangga terkekeh geli melihat kemarahan anak semata wayangnya.
"Hwaiting Lee Minho!" seru Rangga mengepalkan tangannya
"Anj*r, punya bapak kok gitu amat ya...apa jangan-jangan aku ini bukan anaknya, huaaa!" seru Lingga
"Bertahanlah sebentar lagi Le, Daddy sedang berusaha mendeteksi keberadaan Tiwi dengan telepati. No Baper, anggap saja kamu sedang ujian naik level untuk menjadi dukun milenial!" sahut Rangga
"Wookeh!" ucap Lingga
Pemuda itu kembali bangun dan bersiap menyerang Sangkala.
"Ya ampun, apa cuma gue satu-satunya dukun di dunia ini yang gak punya benda pusaka. Cuma ada paku," ucap Lingga ketika merogoh tas ajaibnya.
"Masa melawan Buto ijo pakai paku sih, emang dia sundel bolong yang bisa berubah cantik setelah kepalanya di paku," imbuhnya
"Matilah kau sekarang bocah tengik!" Seru Sangkala mengeluarkan gada besinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, majulah Buto ijo, biar ku Palu kepalamu agar berubah menjadi ganteng seperti Gong Yoo!" seru Lingga
Ia segera melesat dan menancapkan sebuah paku ke kepala mahluk itu.
Sangkala mengerang kesakitan dan menarik Lingga dan mencekiknya.
"Sekarang matilah kau!" Sangkala melemparkan tubuh Lingga ke angkasa dan ia meluncur menyusulnya dengan membawa gada di tangannya.
Ia langsung menggerakkan Gadanya kearah Lingga.
Tiba-tiba seekor kunang-kunang menghinggapi punggung Sangkala .
"Barra...apa kau ingin memberitahukan aku di mana keberadaan Tiwi," batin Rangga
Ia melihat sesuatu yang bersinar di punggung Sangkala.
"Akhirnya aku menemukanmu juga Tiwi, setelah satu jam lamanya aku mencari keberadaan mu menggunakan telepati ku," tukas Rangga
Ia segera melemparkan tongkat saktinya kearah Sangkala hingga mahluk itu langsung terjun dan menghantam tabah .
*Buughhh!!
Seketika tanah di disekitar tempat itu langsung berguncang hebat seperti ada gempa.
Sementara itu Lingga berusaha mengalihkan perhatiannya di Sangkala agar Ayahnya bisa beraksi.
Melihat Sangakala yang mulai kewalahan menghadapi Lingga dan Garra yang mulai membantunya, membuat Rangga kembali mengarahkan tongkat saktinya ke punggung mahluk itu.
*Aarrrggghh!!
Sangakala memekik kesakitan dan langsung melepaskan pukulannya kearah Rangga.
Tidak lama tubuh mahluk itu mengeluarkan asap. Rangga
Garra yang melihat Tiwi terikat di belakang tubuh Sangakala langsung menghampiri gadis itu dan melepaskan ikatannya.
"Kita apakan mahkluk ini?" tanya Lingga
"Aku akan membunuhnya!" seru Garra
Ia langsung melepaskan kilatan api kearah Sangkala hingga mahluk itu terbakar dan menghilang menjadi kepulan asap.
"Akhirnya kita berhasil juga mengalahkan mahluk itu!" seru Lingga
"Kau gak papa Neng nong?" tanya pemuda itu menghampiri Tiwi
"Aku baik-baik saja," jawab Tiwi
"Syukurlah," sahut Lingga langsung berusaha memeluk gadis itu, akan tetapi Garra langsung menarik kerah baju lelaki itu dan menahannya.
"Jangan pernah menyentuhnya!" seru Garra
"Yaelah, kamu jelous Gaga!" ucap Lingga
"Bukan begitu, aku hanya tidak mau kau akan membuat ia semakin kesakitan," jawab Garra guguo
"Aku cuma mau memenangkannya saja, bukan menyakitinya Gaga. Gua ini sudah mengangkat Tiwi seperti adik gue sendiri jadi No jelous and Baper," ucap Lingga sambil terkekeh
"Dasar anak laknat, bukannya menolong bapaknya malah rebutan cewek, ck, ck, ck!" tukas Rangga mencoba bangun dan berdiri.
"Maaf Daddy, biasalah naluri jomblo ku auto On kalau lihat cewek manis seperti Tiwi," jawab Lingga tersipu
"Diih munafik, tadi bilang hanya menganggap adik, tapi sekarang malah ngarepin Tiwi!" cibir Garra
"Boleh dong usaha sebelum janur kuning melengkung," sahut Lingga
"Sudahlah Garra biarkan saja mereka, lebih baik kau pulang ikut aku. Biarkan mereka yang akan mengurus gadis itu. Masih banyak yang harus ku tanyakan padamu," tukas Ki Darno
"Silakan aki duluan saja, aku akan mengantarkan Tiwi pulang dulu setelah itu aku akan menyusul mu," sahut Garra
"Arrgggghhh!!" tiba-tiba Tiwi memekik kesakitan sembari memegangi dada sebelah kirinya.
"Kamu kenapa Wi, Tiwi!" seru Garra begitu panik melihat Tiwi terus kesakitan,
"Baringkan tubuhnya, biar aku yang akan mengobatinya!" seru Rangga
Garra segera membaringkan tubu Tiwi di pangkuannya.
Apa kau benar-benar putri Tania dan Vito seperti yang ku lihat dalam mimpiku. Apa tongkat sakti itu adalah bukti bahwa kau memang putri mereka??.
Rangga duduk di samping gadis itu dan mengusap ubun-ubunya.
Ia kemudian memejamkan matanya sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh gadis itu untuk mengeluarkan tongkat sakti Ratu Iblis yang ada di dalam tubuh Tiwi.
Akan tetapi semakin Ki Rangga berusaha mengeluarkannya maka semaki keras gadis itu mengerang kesakitan.
"Sebenarnya ia kenapa Aki?" tanya Garra
"Ada sebuah benda pusaka dalam tubuhnya, dan benda pusaka itu minta di keluarkan dari dalam tubuhnya. Tapi apalah dayaku, kekuatan ku tidak cukup untuk mengeluarkan benda pusaka itu," sahut Rangga
Tongkat Ratu Iblis, bagaimana benda pusaka itu bisa ada di tubuh gadis itu
Ki Darno begitu terkejut melihat tubuh Tiwi yang bersinar dan memperlihatkan sebuah benda pusaka yang bersemayam di tubuhnya.
Apa dia benar-benar gadis yang akan membunuh Garra putraku, jika benar begitu aku harus mengeluarkan benda pusaka itu, agar gadis itu tidak bisa membunuh Garra.
"Bagaimana jika aku mencoba mengeluarkannya," tukas Ki Darno
"Silakan," Ki Rangga mempersilakan Ki Darno untuk mengeluarkan *********** untuk mengeluarkan tongkat Ratu Iblis dari tubuh Tiwi.
Baru saja lelaki itu menempelkan telapak tangannya ke ubun-ubun gadis itu, sebuah cahaya menghempaskan tubuhnya hingga ia terpental menjauh dari tubuh gadis itu.
"Guru!" Garra segera berlari menghampiri lelaki itu.