Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 28. Apa Kau Menikmatinya?
Hiruk pikuk di kota Jakarta. Kendaraan roda empat dan dua berlalu lalang melewati jalan raya. Suara klakson mobil dan motor terdengar nyaring di setiap penjuru kota. Hanya sebagian kecil dari orang yang berjalan kaki. Ada yang mengemis di lampu merah, ada pula yang menjadi pengamen.
Suara pengamen itu terdengar sangat merdu, hingga sampai ke indera pendengaran Marina dan Daren. Keduanya sedang berada di lampu merah menuju kantor.
Marina melihat pengamen yang berusia sekitar sepuluh tahun. Bocah itu bernyanyi sambil berjoget ria seakan tak memiliki beban hidup. Pakaiannya lusuh, wajahnya tak terawat, dan rambut hitam lebat. Entah anak siapa bocah itu.
Seketika Marina merasa iba pada bocah tersebut. Dalam hati Marina berucap syukur kepada Tuhan, karena di beri kehidupan yang lebih dari cukup.
Tak lama bocah pengamen itu mendekati Marina seakan ingin menghibur wanita tersebut agar di beri rejeki untuk membeli sesuap nasi.
Marina mengambil uang dalam dompetnya, dan mencabut selembar uang berwarna merah jambu gambar Sukarno untuk di berikan kepada bocah pengamen jalanan tersebut.
Betapa bahagianya bocah itu kala uang bergambar Sukarno bertengger manis dalam kotak musiknya. seketika mata pengamen jalanan itu berkaca-kaca, merasa terharu akan sosok wanita cantik berhati mulia memberinya selembar uang yang tak pernah seorang pun memberinya.
"Terimakasih Tante. Terimakasih, tapi ini terlalu banyak," tutur bocah yang tak di ketahui namanya itu dengan tulus.
"Itu karena kamu sudah menghibur saya dengan sangat baik. jadi akulah yang seharusnya berterimakasih padamu," balas Marina sungguh-sungguh.
Sekali lagi bocah itu mengucap syukur dalam hati. Merasa ada bidadari cantik berhati mulia memberinya rejeki yang tak terkira.
"Terimakasih Tante," ucap bocah itu tulus.
Sementara Daren yang mengendarai mobil dan tak bersuara sedari tadi, bertambah kagum pada sosok Marina. Wanita itu cantik luar dalam.
Setelah lampu merah berganti hijau, Daren memacu mobilnya meninggalkan pengamen jalanan tadi dalam keharuan.
"Mengapa kamu sangat baik pada bocah tadi?" ucap Daren dengan niat menguji Marina. Ya, Daren sekedar menguji Marina dengan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Aku tidak sebaik itu Daren, yang baik itu adalah Tuhan. DIA memberi kita kehidupan yang layak. Sementara anak tadi? dia hanyalah korban dari kelamnya dunia," jawab Marina tanpa melihat wajah Daren.
"Tapi bisa saja dia hanya berpura-pura menjadi pengemis atau pengamen. Biasanya orang seperti itu punya bos yang menyuruh mereka untuk mengamen dan mengemis," sangsi Daren.
"Tidakkah kau bisa melihat matanya yang polos dan tulus? jika mulut pandai bersilat lidah, maka tidak dengan mata, dan aku sudah melihat mata anak tadi," balas Marina sungguh-sungguh.
"Marina, kamu memang sangat berhati mulia. Aku jadi tidak sabar untuk menikahimu," batin Daren.
Tanpa pria itu ketahui, bahwa gadis yang di cintainya itu telah menikah.
**
Tiga puluh menit kemudian, Marina dan Daren telah tiba di kantor. Pria itu membukakan pintu mobil Marina selayaknya pangeran Kelantan. Marina hanya tersenyum melihat tingkah dari sahabatnya itu.
Sementara dari lantai 59, ada sepasang mata yang melihat keduanya dengan raut wajah tak terbaca. Dia adalah Aljav. Pria itu melihat Daren yang memperlakukan Marina dengan istimewa. Aljav berdiri depan jendela sedari tadi, seolah menanti kedatangan seseorang.
Puas melihat Marina dan Daren yang terlihat sangat akrab, Aljav kembali ke kursi kebesarannya. Memeriksa setiap laporan buku yang berhasil di revisi dan terbit. Menjadi seorang CEO bukanlah pekerjaan yang gampang. Terlebih lagi mudah bersenang-senang. Seorang CEO harus memastikan kesuksesan perusahaan yang di pimpinnya, dan tak lupa mensejahterakan seluruh karyawan.
Masih memeriksa laporan, tiba-tiba Dimas masuk ke dalam ruangan pria tersebut dengan berbagai macam kalimat tajam. Namun, berhasil di lumpuhkan oleh Aljav.
"Al, istrimu sudah datang bersama pria yang pernah kau sebut sebagai kekasihnya," tutur Dimas seolah memanas-manasi Aljav. Namun, Aljav tak berkutik sama sekali. Dia tetap fokus pada laporan yang menyita perhatiannya itu.
Melihat tak ada reaksi sama sekali, Dimas tak kehilangan akal untuk memanas-manasi Aljav. Dia terus berceloteh tentang Marina, hingga satu kalimat yang tercetus olehnya sukses menyita perhatian Aljav.
"Mereka jalan sambil bergandengan tangan Al. Romantis sekali," ucap Dimas dengan suara yang di buat-buat. Aljav menghentikan aktivitasnya. Lalu kemudian beralih melihat pria yang sedari tadi tak mau diam itu. Namun, raut wajah pria tersebut datar seakan tak terjadi apa-apa.
"Apakah kau sedang mengujiku?"
Deg,
Pertanyaan Aljav membuat jantung Dimas seakan berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Bagaimana bisa Aljav tahu, bahwa Dimas hanya memanas-manasi dirinya? apakah pria itu seorang dukun? atau dewa yang mampu mengetahui isi hati dan pikiran seseorang?
"Tentu saja tidak! untuk apa aku mengujimu? apakah kau merasa di uji?" balas Dimas canggung dengan sebuah pertanyaan pula di akhir kalimatnya.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu niatmu? kalau kamu kesini hanya untuk mengujiku tentang wanita body losion itu, sebaiknya simpan saja informasi tak bermutu itu. Aku sibuk!" tandas Aljav penuh penekanan.
Dimas berdecak kesal, mengira rencananya berhasil.
"Ck, kamu ini. Dia itu istrimu, bukan body losion yang bebas bergaul dengan siapa saja. Bagaimana kalau pria itu benar kekasihnya? apakah kamu mau istrimu memiliki kekasih lain?" uji Dimas sekali lagi.
"Aku tidak perduli. Aku menikahinya hanya karena Papa dan Mama. Jika tidak, aku tidak akan pernah mau menilahi wanita body losion itu," jawab Aljav penuh penekanan.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku paham. Apa alasan di balik pernikahanmu yang terkesan mendadak ini-," Dimas berdiri, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya, "semoga saja wanita body losion itu tak membuat kulit pria tadi menjadi harum," tutup Dimas. Lalu pria yang berprofesi sebagai sekretaris pribadi Aljav itu pun pergi meninggalkan Aljav yang sukses tertegun sejenak.
Membuat kulit pria lain harum? apakah dia bisa melakukan itu? sungguh mustahil. Pikir Aljav.
Pasca kepergian Dimas, Aljav terus mengingat kalimat terakhir sekretarisnya itu. Tanpa dia sadari, Marina sudah berdiri tepat di depannya dengan membawa sejumlah laporan.
"Permisi Tuan Aljav Alexander Gautam!" bentak Marina yang sedari tadi memanggil-manggil Aljav. Namun, pria itu larut dalam lamunan.
"Apakah kau tidak punya sopan santun? tidak bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk?" tutur Aljav dengan suara yang mulai meninggi.
"Maaf Tuan, tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi Tuan hanya diam saja. Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Marina.
"Bukan urusanmu!"
Sungguh pria sombong. Tidak bisakah dia berkata lemah lembut sekali saja pada Marina? mengapa selalu saja nada tinggi yang di gunakan pria itu? terkadang dia baik, kadang pula dia kasar. Dasar pria aneh. Pikir Marina.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Aljav akhirnya setelah beberapa saat kemudian.
"Saya membawa laporan buku yang akan di terbitkan besok dan minggu depan. Semua telah selesai di revisi," jawab Marina sembari meletakan map berwarna hitam di atas meja Aljav.
"Baiklah."
"Permisi."
Marina ingin pergi meninggalkan ruangan Aljav. Namun, pria angkuh itu menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
"Ada apa?" tanya Marina.
"Apa kau menikmatinya?" balas Aljav dengan pertanyaan pula. Kening Marina berkerut penuh tanya. Tak memahami maksud dari pertanyaan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
"Menikmati apa?" tanya Marina bingung.
"Bukan apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu, dan ingat, jangan pacaran di kantor ini! kami tidak mengizinkan sepasang kekasih kerja dalam satu perusahaan," tutup Aljav tanpa melihat wajah Marina.
Kening Marina semakin berkerut dalam. Dia masih gagal paham apa maksud dari ucapan suaminya itu.
"Jangan pacaran? siapa yang pacaran? dasar aneh!" gumam Marina seraya pergi meninggalkan ruangan Aljav.
To be continued.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗