"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 // MBKCM
Ardan Arkatama duduk di atas kursi besi tanpa setelan jas formal ratusan juta rupiah miliknya. Hari ini, dia hanya mengenakan kaos oblong hitam polos dan jaket jins longgar, penyamaran darurat yang disiapkan oleh asistennya agar tidak memancing perhatian. Saat ini dia sedang berada di sebuah klinik kecil di pinggiran kota bandung, sebuah klinik yang sepi.
Bimo melangkah masuk ke dalam ruangan setelah memastikan area koridor depan benar-benar bersih. Wajahnya tampak tegang namun penuh kendali.
"Bagaimana, Bimo? Kamu sudah memastikan semuanya?" tanya Ardan, suaranya terdengar sangat parau, mencerminkan kegelisahan yang memuncak.
"Sudah, Pak Ardan," sahut Bimo sembari menutup pintu rapat-rapat. "Saya sudah memeriksa seluruh sudut klinik ini dan memverifikasi latar belakang dokter yang bertugas. Klinik ini murni milik swasta perorangan dan tidak memiliki afiliasi atau jaringan apa pun dengan rumah sakit besar di Jakarta. Saya jamin, tidak akan ada mata-mata atau musuh dalam selimut yang bisa mencium keberadaan Anda di sini. Kita aman dari manipulasi pihak mana pun."
Ardan mengangguk pelan, meskipun dadanya bergemuruh hebat. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang dokter paruh baya dengan kacamata tebal masuk membawa selembar kertas dokumen medis yang masih basah dari mesin cetak.
"Dengan Pak Ardan?" tanya dokter itu memastikan, menatap pria berkaos hitam yang tampak memiliki aura intimidasi meski berpakaian sangat sederhana.
"Benar, Dok. Bagaimana hasilnya?" Ardan langsung bangkit berdiri, suaranya bergetar samar.
Dokter itu mengernyitkan dahi, membaca ulang hasil laboratorium di tangannya lalu menatap Ardan dengan heran. "Dari sampel yang kami analisis secara menyeluruh, parameter sperma Anda berada di atas rata-rata normal, Pak. Jumlahnya, pergerakannya, hingga morfologinya semuanya sangat prima. Kesimpulannya, Anda sangat sehat dan seratus persen subur."
Deg.
Dunia seolah mendadak berhenti berputar bagi Ardan. Dia melangkah mundur hingga pinggulnya membentur kursi yang tadinya dia duduki. "T-Tunggu dulu, Dok. Anda pasti bercanda atau salah membaca dokumen. Tolong periksa sekali lagi. Saya... saya memiliki riwayat medis mandul dari rumah sakit internasional terkemuka!"
Dokter itu mendengus pelan, merasa kemampuannya sedikit diragukan. "Pak, mesin lab kami baru saja dikalibrasi minggu lalu. Dan untuk meyakinkan Anda, atas permintaan asisten Anda tadi, kami bahkan sudah melakukan pengujian sampel ini sampai tiga kali berturut-turut dengan metode yang berbeda. Hasilnya? Tetap sama tidak ada perubahan sedikit pun. Anda subur, tidak mandul."
"Tapi bagaimana bisa..."
Saking jengkelnya melihat pasien di hadapannya yang terus menyangkal fakta kesehatannya sendiri, dokter itu melipat berkasnya lalu berkata dengan nada ketus, "Pak, dengar saya baik-baik. Dengan kondisi sistem reproduksi Anda yang sangat prima seperti ini, Anda mau memiliki sepuluh anak sekaligus sekarang pun, jika Allah menghendaki, semuanya bisa terjadi dengan sangat mudah! Jadi berhenti meragukan hasil tes ini."
Ardan terpaku diam. Lembaran kertas hasil laboratorium itu kini berpindah ke tangannya. Sepasang mata elang yang biasanya memancarkan keangkuhan mutlak itu perlahan-lahan mulai berkaca-kaca. Setitik air mata penyesalan yang teramat sangat panas mengambang di pelupuk matanya, runtuh membasahi kertas putih di genggamannya.
"Jadi... selama ini aku ditipu? Aku sehat... aku subur..." batin Ardan menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan.
Hantaman kenyataan itu terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada tusukan pisau. Detik itu juga, Ardan menyadari sebuah kebenaran yang teramat sangat mengerikan, pria bajingan yang selama ini dia cari, pria brengsek yang dia tuduh telah meniduri Kiana demi harta, ternyata adalah dirinya sendiri. Kiana Mahira... wanita yang dia maki-maki sebagai wanita sampah di malam itu, ternyata sedang mengandung darah dagingnya sendiri. Dua anak kembar itu adalah anak-anaknya.
"Pak Ardan..." panggil Bimo lirih, menyentuh lengan bosnya yang bergetar hebat.
Ardan langsung mendongak, menghapus air matanya dengan gerakan kasar penuh tekad yang meledak-ledak. "Bimo! Siapkan mobil sekarang juga! Jangan buang waktu lagi! Antarkan aku ke ruko Twin's Florist sekarang!"
"Baik, Pak!" sahut Bimo sigap.
.
.
Jarum jam di dinding ruko Twin's Florist baru saja menunjukkan pukul sebelas siang. Suasana di dalam toko bunga itu terasa sangat tenang dan sunyi. Kiana sedang berdiri di balik meja konter kayu, dengan telaten memotong batang-batang bunga krisan putih untuk merangkai pesanan buket meja milik seorang pelanggan.
Hari ini Kiana hanya sendirian. Rio, masih belum datang karena masih sibuk di kampus dan jam kerjanya di mulai pukul 1 siang nanti. Sementara Saskia, sejak tadi pagi-pagi sekali sudah pamit untuk pulang sebentar ke rumah orang tuanya yang tidak begitu jauh dari sana setelah semalaman menginap menemani Kiana.
Tring...
Suara lenting lonceng kecil yang tergantung di atas pintu kaca ruko berbunyi pelan, menandakan seseorang baru saja mendorong pintu untuk masuk.
Kiana tidak langsung mendongak, tangannya masih sibuk mengikat pita. "Selamat siang, selamat datang di Twin's Florist. Ada yang bisa saya bantu untuk pesanannya?" ujar Kiana dengan nada suara yang sangat ramah khas seorang pelayan toko.
Namun, tidak ada jawaban dari arah pintu. Hanya terdengar langkah kaki yang berat, lambat, namun sarat akan keraguan yang berjalan mendekat ke arah meja konter. Rasa penasaran membuat Kiana akhirnya menghentikan aktivitas tangannya dan mendongak untuk melihat siapa sang pelanggan.
Begitu pandangan matanya tertuju pada sosok pria yang kini berdiri tegap di hadapannya, jemari Kiana seketika melemas hingga gunting bunga di tangannya terlepas dan jatuh ke atas meja dengan bunyi dentang yang cukup keras.
Pria itu... Ardan Arkatama. Dia berdiri di sana dengan kaos oblong hitam dan jaket jins sederhana, tanpa wibawa kemewahan jasnya, namun tatapan matanya yang merah dan berkaca-kaca menatap lurus ke arah Kiana dengan intensitas yang teramat sangat pekat.
Kiana seketika mencengkeram pinggiran meja konter kayu, wajahnya berubah pucat pasi dalam sekejap. Trauma dan rasa takut dari masa lalu mendadak kembali menyergap dadanya hingga dia merasa kesulitan untuk bernapas.
"M-Mau apa lagi...? Apa yang Anda lakukan di sini, Pak?" tanya Kiana, suaranya bergetar hebat penuh pertahanan diri.
Ardan tidak menjawab dengan kata-kata. Langkah kakinya perlahan memutari meja konter kayu, mendekati posisi tempat Kiana berdiri. Melihat kedatangan Ardan yang kian mendekat, Kiana mencoba melangkah mundur perlahan, namun punggungnya langsung membentur rak pajangan vas bunga di belakangnya. Dia terjebak.
Namun, hal yang terjadi berikutnya adalah hal yang sama sekali tidak pernah terlintas di dalam imajinasi terliar Kiana seumur hidupnya.
Ardan Arkatama, sang penguasa Arkatama Group, pria arogan yang memiliki harga diri setinggi langit dan tidak pernah tunduk pada siapa pun di dunia ini, perlahan-lahan menekuk kedua lututnya di atas lantai ruko. Dengan gerakan yang teramat sangat pasrah dan dipenuhi rasa bersalah yang mendalam, Ardan bertekuk lutut tepat di bawah kaki Kiana Mahira.
Kiana seketika membelalakkan matanya terkejut, mulutnya sedikit terbuka menatap pemandangan di bawahnya dengan jantung yang berdegup kencang. "P-Pak Ardan... Anda apa-apaan ini?! Berdiri!"
Ardan mendongak, menatap Kiana dengan air mata yang kini mengalir bebas membasahi pipinya yang tegas. Kedua tangannya yang bergetar perlahan terulur ke depan, mencoba memegang ujung gaun hamil Kiana dengan sangat hati-hati, seolah wanita di hadapannya ini adalah permata rapuh yang bisa hancur kapan saja.
"Kiana... maafkan aku... aku mohon maafkan aku..." lirih Ardan, suaranya terdengar sangat parau, hancur, dan sarat akan penderitaan batin. "Aku... aku mengaku salah, Kiana. Aku adalah pria bodoh yang terlalu mementingkan egoku sendiri. Aku... aku adalah monster jahat yang sudah sangat kejam menyakitimu dan menghancurkan harga dirimu sebagai seorang wanita."
Kiana mengepalkan tangannya kuat-kuat di samping tubuh, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dia bendung lagi mengingat kembali rasa sakit malam itu. "Penyesalan Anda sudah terlambat, Pak Ardan."
"Harusnya malam itu aku tidak pernah berkata sekasar itu padamu, Kiana," ratap Ardan lagi, dia menundukkan kepalanya hingga keningnya hampir menyentuh ujung kaki Kiana. "Harusnya aku melindungimu, bukan justru membuangmu... Kiana, aku mohon jawab jujur pertanyaanku kali ini... anak yang sedang kamu kandung di dalam perutmu saat ini... mereka berdua adalah anak-anakku, kan? Mereka darah dagingku sendiri, kan, Kiana?"
Mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir Ardan, hati Kiana mendadak terasa seperti dihantam oleh palu godam yang teramat sangat dingin. Rasa getir dan amarah yang selama tiga bulan ini dia kubur dalam-dalam seketika bangkit bergejolak di dalam dadanya.
Kiana menarik kakinya mundur satu langkah, memaksa cengkeraman tangan Ardan pada gaunnya terlepas. Dia menatap pria yang sedang berlutut di bawahnya itu dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh luka yang teramat sangat dalam.
"Bukan!" jawab Kiana dengan nada suara yang meninggi dan bergetar hebat di sela-sela tangisnya. "Anda salah, Pak Ardan! Ayah dari anak-anak yang saya kandung ini... sudah lama mati! Mereka bukan anak-anak Anda!"
Ardan mendongak dengan tatapan terluka. "Kiana, aku mohon jangan berbohong lagi..."
"Bukankah Anda sendiri yang dulu dengan sangat tegas bilang kepada saya kalau Anda mandul, hah?!" potong Kiana kejam, kalimatnya meluncur bagai anak panah yang langsung menusuk tepat di ulu hati Ardan. Kiana tertawa getir di tengah tangisnya, menunjuk wajah Ardan dengan jari yang gemetar. "Bukankah malam itu Anda menuduh saya sebagai wanita sampah yang tidur dengan pria lain hanya demi menguras harta Anda?! Lalu kenapa sekarang... setelah semua yang terjadi Anda justru datang kemari, berlutut, dan dengan tidak tahu malunya mengaku-ngaku sebagai ayah dari anak-anak yang aku kandung ini?! Di mana logika Anda, Pak Ardan Arkatama?!"