Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Brian*
"Aurora! Mama mau bicara dengan kalian berdua." tegur Nyonya Riyanti yang sedang duduk di sofa berdua dengan suaminya.
Aurora dan Edward saling memandang, mengangguk dan berjalan menghampiri mereka. Pikirnya ada masalah apa hingga malam malam begini dua orang tua itu memanggilnya. Tampaknya ingin membicarakan hal serius.
"Dari mana kalian berdua. Kenapa pulang selarut ini." tanya Nyonya Riyanti penuh selidik.
Edward membenarkan posisi duduknya. Baru saja ingin menjawab pertanyaan calon mertuanya, Aurora sudah menjawab lebih dulu.
"Kami habis kencan Mama. Bukankah tadi kami sudah minta izin?"
Nyonya Riyanti terdiam. Sebenarnya bukan hal itu yang ingin dia tanyakan. Wanita itu bingung bagaimana memulai pertanyaannya.
"Nak Edward. Apa Brian tahu jika dia anak angkat?" tanya Tuan Hardy to the poin.
Aurora menatap papanya dan Edward bergantian. Pikirnya kenapa Papanya menanyakan hal itu. Ada masalah apa.
"Saya tidak tahu. Sejauh ini saya belum memberitahu, tapi saya tidak tahu kalau tantenya. Mungkin saja dia sudah memberi tahu." jawab Edward sembari memandang Aurora saat mengatakan 'tante'.
"Siapa tantenya?" tanya Nyonya Riyanti cepat.
Edward tersenyum. "Selly. Dia orang kepercayaan di AR Programmer. Benarkan sayang?"
"Selly? Selly-nya Aurora?" Nyonya Riyanti terkejut mendengarnya.
Edward hanya tersenyum dan mengangguk. Aurora sebenarnya terkejut mendengar berita itu, tapi gadis itu tak menampakkan apapun diwajahnya. Selly hanya mengatakan jika sudah menemukan keluarganya, tak tahu jika Brian yang dia maksudkan.
Nyonya Riyanti menatap Aurora butuh penjelasan, tapi gadis itu hanya menggeleng lemah.
"Kalau begitu kenapa tak memberikan hak asuh padanya saja. Apa tidak kasian kalo Brian nanti tahu kebenarannya." tanya Nyonya Riyanti lagi.
Lagi-lagi Edward tersenyum. "Saya sudah terlanjur menyayanginya. Apa mama keberatan dengan kehadiran Brian?"
"Tentu saja tidak! Kami bahkan juga sangat menyayanginya. Iyakan Pa!" jawab Nyonya Riyanti sambil menepuk paha suaminya. Tuan Hardy hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana kabar pencarian ayahnya?" tanya Tuan Hardy.
Edward menghela nafasnya lalu menggeleng. Hasil penyelidikannya selama ini masih belum membuahkan hasil.
"Sebenarnya ada masalah apa." potong Aurora.
"Kami hanya merasa jika Brian tidak seperti anak pada umumnya. Apa kamu juga menyadarinya Nak Edward. Papa hanya ingin kamu menjaganya dengan baik. Papa yakin jika dia bukan dari keturunan orang biasa."
.
.
Pagi harinya.
Apa yang kau lakukan boy?!"
Aurora tercengang melihat apa yang sedang dilakukan Brian di taman belakang pagi itu. Mustahil bagi anak sekecil itu bisa melakukan hal itu.
Brian segera saja menutup notebook-nya dan berbalik menatap Aurora dengan wajah bersalah.
"Apa yang sedang kamu lakukan!" cerca Aurora.
"Bukan apa-apa. A..aku cu..ma mainan saja." jawab Brian terbata.
Aurora menggeleng. Dengan gerakan tak terbaca, Aurora segera meraih notebook dibelakang tubuh Brian. Ia sudah terlanjur penasaran dengan apa yang dilakukan bocah itu.
"Mom!" seru Brian.
"Maaf boy. Mom hanya ingin melihat sebentar. Duduk dan diam disitu." tegas Aurora.
"Matilah aku ..." gumam Brian.
Brian terduduk lemas dengan kepala menunduk kebawah. Giginya tampak menggigit bibir bawahnya.
"Mom, aku bisa jelaskan."
Aurora menghiraukan ucapan Brian. Gadis itu dengan cepat membuka notebook yang membuatnya penasaran. Pasalnya, tadi sekilas dirinya melihat kode kode rumit dalam benda itu.
"I..ni.." ucapan Aurora menggantung sembari menatap Brian penuh selidik.
"Apa ini perbuatanmu boy?"
"Yes mom." lirih Brian.
Aurora terbengong. Ia terlalu syok dengan ini semua.
"Bagaimana caramu bisa melakukan itu boy? Siapa yang sudah mengajarimu peretasan? Apa daddy-mu?"
Brian hanya menggeleng lemah.
"Lalu siapa!"
Brian diam dan menunduk.
"Katakan pada mom. Bagaimana caramu bisa melakukan hal yang mustahil dilakukan anak seusiamu. Bahkan sangat kecil orang yang bisa melakukannya. Bagaimana bisa kamu mengerti semua ini? Siapa yang mengajarimu!"
Brian semakin menunduk dalam. Tak mengerti harus bicara seperti apa pada Aurora.
"Boy..."
"Maaf mom."
"Ceritakan sama Mom."
Brian menggaruk rambutnya. Bingung bagaimana cara menjelaskan pada Aurora.
"Apa ini salah mom?" tanya Brian dengan wajah polosnya.
Aurora menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana pun yang dia hadapi saat ini hanyalah seorang anak kecil. Yang pikirnya belum mengerti mana yang benar dan salah.
"Tentu saja ini salah. Apalagi ini perusahaan ayahmu sendiri. Kau sudah membuat keributan disana. Apa kamu tidak berfikir bagaimana kalau Dad tahu hal ini? Apa kamu sudah pernah melihat dad marah?"
"Tidak mom. Tolong jangan katakan ini pada Dad." pinta Brian lesu.
"Oke. Kalau begitu ceritakan sama Mom."
"Aku belajar dari intelnet dan olang disekitalku. Lalu, di situs tidak resmi, ada orang misterius yang pernah buat kompetisi. Siapa pun yang bisa memecahkan kode rahasia itu, akan dihadiahi uang jutaan dolar. Aku iseng mendaftar."
"Lalu kamu menang?" Aurora melotot tak percaya.
Brian menggeleng lemah. "Ternyata susah sekali, tapi dari situ aku mulai semakin penasaran."
"Terus?"
"Pada akhirnya aku berhasil membobol kode rahasia itu dan aku mendapatkan banyak uang setelah lebih dari sebulan melakukan peretasan. Kemu..dian.. aku iseng membobol data perusahaan Dad dan yang lainnya. Ternyata milik mereka jauh lebih mudah dibandingkan milik orang misterius itu."
Aurora menggeleng lemah. "Kamu dalam bahaya boy."
"Tapi aku sudah mengamankan serverku!" jawab Brian cepat.
Aurora menatap lekat Brian. "Dengarkan Mom, jangan pernah tunjukkan kemampuanmu pada orang lain. Mom takut kamu dicelakai mereka. Kamu masih terlalu kecil untuk ini semua. Kamu mengerti?"
Brian mengangguk dan segera memeluk Aurora. Gadis itu jadi ingat perkataan papanya yang mengatakan jika Brian bukan keturunan orang biasa.
"Kalau keluarga Selly jelas saja dulu orang berada. Tapi apa Yuna sejenius itu? Ataukah ayahnya yang jenius?" batin Aurora.
"Segera bereskan kekacauan yang kamu buat. Nanti kita bicara lagi. Mom mau melihat Daddy-mu."
"Mom!"
"Tenang saja."
.
.
Ditempat lain,
Lukas sang asisten sedang mondar mandir mengamati progam komputer di ruang IT perusahaan GL.
"Tuan." ucap salah satu pegawai IT takut.
"Bagaimana sudah bisa diselesaikan?"
"Maaf kami sedari tadi kami belum ada yang bisa menghalau serangan itu Tuan. Data perusahaan juga belum kembali. Sebaiknya Tuan Lukas segera menghubungi Tuan Edward. Sepertinya orang ini lebih pandai dari kami tuan." ucapnya menunduk takut.
"Kalian ini bersepuluh, menghadapi satu orang saja tidak bisa! Apa apan ini, apa kalian makan gaji buta hah!" teriak Lukas emosi.
"Maafkan kami Tuan."
"Ah sudahlah, atasi dulu semampu kalian. Aku akan kembali ke ruanganku. Aku akan membicarakan dengan Tuan Edward."
Lukas bergegas kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel dan melakukan panggilan ke nomor Edward. Hatinya harap-harap cemas. Kena semprot pastinya. Bagaimana lagi, ini juga bukan kewenangannya.
"Tuan, gawat sistem perusahaan diserang!kami belum bisa memulihkan data perusahaan." ujar Lukas begitu Edward menyapa dari sambungan telepon.
Jangan tanya bagaimana raut wajah Edward saat ini. Tentu saja pria itu marah. Kejadian seperti ini belum pernah ada sejak dirinya menjabat sebagai direktur.
"Baik Tuan, saya kerjakan." Lukas menghela nafas setelah mendengar perintah Edward.
Edward segera mengambil tas kerja dan menyalakan laptopnya. Hari yang ia ingin habiskan bersama putranya harus tertunda karena masalah ini. Menyebalkan.
"Sial! siapa yang berani mengusikku." Gerutu Edward sambil memasukkan kode rumit untuk menyerang balik, jarinya dengan lincah menekan papan keyboard.
Waktu terus bergulir bahkan tak sadar Aurora telah sampai di belakang tubuhnya. Wanita itu tersenyum kecil.
"Sayang, katanya mau jalan-jalan sama Brian, lupa atau sengaja." sindir Aurora.
"Maaf, sebentar sayang, sistem perusahaan sedang diretas, tunggu sebentar ya." ucap Edward yang masih terlihat tegang. Matanya hanya melirik Aurora sekilas.
Aurora hanya tersenyum, tidak taukah jika yang melakukan adalah putranya sendiri.
"Ya sudah, aku tinggal ke bawah ya, aku ada di taman belakang bersama Brian." ucap Aurora sebelum berlalu pergi dengan senyumnya.
"Baiklah aku akan menyusul."
.
.
.
#####
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya